Parenting Story, Mom's Life, Tips

Selamat #HariGuru - Karena Kita Semua adalah Guru

|
Semenjak pagi, clang cling, WAG terus berbunyi. Saya baru sempat cek gadget sekitar jam 8 pagi, setelah mengantar Najwa, dan membuat Najib tenang dengan mainannya. Ratusan pesan di 2 grup WA, dan semuanya berisi senada, ucapan Selamat #HariGuru. 


Kebetulan dua grup WA tersebut memang dekat dengan dunia pendidikan. Satu grup WA sekolah Najwa, dan satu lagi grup alumni tempat kerja saya dulu.  Islamic International School - PSM, sekolah  yang didanai dan dirikan oleh Dahlan Iskan. Iya, yang mantan Dirut PLN itu, yang mantan Menteri BUMN, yang juga mantan CEO JAWA POS itu.  Beliau mendirikan sekolah di sebuah kota kecil, kampung halaman saya, di Magetan. Lain kali saya akan ceritakan tentang sekolah Pak Dis tersebut, tunggu ya :).

Balik lagi soal #HariGuru. Buat saya dan mungkin juga teman-teman semua, profesi guru akan selalu mulia dan terhormat, setuju, kan? Bayangkan saja, berkat  ilmu yang beliau bekalkan dan didikkan untuk muridnya, terlahirlah aneka profesi di dunia ini. Seorang guru akan tetap menjadi guru, atau pensiunan guru. Tapi seorang murid, bisa jadi hari ini telah menjadi presiden, direktur, artis terkenal, atau seiman kenamaan.

Bukannya saya mengesampingkan peran orangtua. Tapi, bukankah orangtua juga merupakan seorang guru? Guru pertama malahan, bagi anak-anaknya. Akur? Namun, saya agak miris juga ya, dengan banyaknya berita terkait penghinaan terhadap guru. Yang dilaporin ke polisi lah, yang rambutnya dipotong sama wali murid. Duhh prihatin, berat nian menjadi seorang guru di jaman ini.

Sebaliknya, banyak juga orang yang mengaku dirinya guru, tapi justru melakukan hal-hal yang tidak layak untuk dicontohkan seorang guru. Pencabulan contohnya. Bayangkan, betapa bengisnya makhluk yang melakukan hal itu.Layakkah disebut guru?

Ada apa sebenarnya dengan dunia ini? 

Sering saya merasa rindu pada masa-masa sekolah dulu. Saat dimana seorang guru begitu dihargai, dihormati, didengar dan diteladani. Saat nasihat seorang guru ibarat mantra, bahkan aji-aji (senjata). Bagi saya, guru itu ya orangtua saya ketika di sekolah. Adakalanya dididik, diingatkan, dimarahi, sampai sesekali dihukum. Yang pasti itu semua karena kebangetannya saya. Mungkin orangtua saya pun akan melakukan hal serupa jika saya melakukan hal yang tidak benar. 


Tapi, apakah kami mendendam? Justru, sekarang memori itu sungguh manis untuk dikenang. Saya merasa beruntung karena merasakan semua itu. Buat saya, saat itu adalah saat kami belajar ditempa. Nyatanya, tempaan hidup yang sebenarnya, jauh lebih berat dari hanya sekedar hukuman dari guru.

Begitu pun sebaliknya, guru-guru di jaman saya sekolah dulu. Entah mengapa selalu terlihat santun, bersahaja, ramah, dan kharismatik. Saya nggak bilang kalau guru jaman sekarang tidak meiliki standart itu. Kenyataannya teman-teman saya yang guru, lekat dengan label tersebut. Lalu? Mengapa sekarang ini banyak sekali permasalahan terkait murid dan guru?

Mungkin, sudah waktunya kita kembali menengok rumah. Karena rumah adalah sekolah yang pertama dan orangtua adalah guru yang utama. Seorang murid dilahirkan dari rumah, begitu pun seorang guru, tumbuh dan dibesarkan dalam lingkungan rumah. Sistem pendidikan di rumah selalu menjadi dasar dan mengawal proses pendidikan dalam berbagai ruang, waktu dan skala yang  jauh lebih besar.
 
Sekarang, setelah menjadi orangtua. Saya merasakan betul, bahwa kita semua sebenarnya adalah guru. Dan memiliki tanggung jawab yang sama dalam hal mendidik. Sebagai orangtua, jelas sudah kewajiban kita mendidik anak-anak. Maka dari itu kita disebut madrasah utama, sekolah pertama, atau apalah istilah lainnya.  Begitu pun dalam lingkungan bermasyarakat. Pendidikan tidak hanya menjadi tanggung jawab guru atau orang yang berkompeten di bidang pendidikan.

Sejatinya kita semua adalah guru dan memiliki tanggung jawab yang sama dalam hal mendidik. Karena pendidikan itu bukan hanya belajar di bangku sekolah. Bukan sekedar menulis atau membaca, dan tidak serumit matematika atau IPA. Terkadang, hal sesederhana berkata sopan kepada orangtua, menghormati lawan bicara, membuang sampah pada tempatnya, atau menjaga perasaan orang lain sering disepelekan. Padahal di situ tersirat dasar-dasar pendidikan dalam bermasyarakat.

Saya sangat mendukung kampanye  pendidikan dari rumah, apapun bentuknya. Sejurus dengan itu, saya sangat mengapresiasi orang-orang yang peduli dan merasa bertanggung jawab dengan pendidikan dalam masyarakat. Sungguh, mereka pun layak disebut guru.

Karena kita semua adalah guru, maka, sekecil apapun mari melibatkan diri  dalam proses pendidikan bangsa ini. Dimulai dari diri sendiri, keluarga dan lingkungan. Mari mendidik dalam hal yang kita kuasai, dalam bidang yang kita cintai, dan dalam lingkungan tempat kita dinaungi. 

Selamat #HariGuru untuk para Guru di negeri ini. Teruslah berkarya, untuk teman-teman yang memilih mendidik dalam "sunyi".




Tahapan Anak Belajar Membaca

|
Bagi kami, lebih penting membentuk ketertarikannya terhadap aktivitas membaca, yang kemudian menjadi salah satu rutinitasnya. Jadi, tidak masalah jika anak belum lancar membaca seperti teman-temannya. Seiring berjalannya waktu, semua anak pasti BISA membaca. Tapi belum tentu semua SUKA membaca.


Hai, semua. November terasa cepet banget ya, tau-tau udah mau ganti bulan aja. Itu artinya BukNaj musti siap-siap mendampingi si Kakak yang mau ada tes di sekolahnya. Hehehe.. kayak anak kelas berapa aja ya, pakek ada tes segala.

Kenyataannya emang ada tes buat anak saya yang baru sekolah di bangku TK. Ya, tes ringan aja sih sebenarnya. Untuk mengetahui tingkat pemahamannya saja. Tapi, kalau saya lihat jadwal tesnya, bisa keder juga ibunya. Jadwalnya lima hari dengan dua sampai tiga materi perharinya. Artinya, ada sekitar 15 materi yang bakalan diuji. Hahahaha.. pucing pala mboknya



Anyway, ngomongin soal anak mbarep saya, si Najwa. Kalau saya perhatikan, dia cenderung tipe pembelajar auditory, jiahhh... kayak ahli psikologi aja ibunya.  Masih menebak-nebak sih, sambil saya amati terus gaya belajarnya. Najwa itu memang cenderung suka bertanya dalam segala hal, suka ngebanyol juga. Beberapa waktu yang lalu, dia demen banget ngelucu al-ala stand up comedy gitu. Lha kalau sekarang, dia lagi suka lawakan ala-ala tukang sulap. Nah, kayak di teorinya auditory learner kan? heheheh..

Trus, kata gurunya juga, di kelas dia hobinya ngobrol terus. Sampai bolak balik dipindah tempat duduk dan teman sebangkunya. Eee.. tetep aja. Bawaan orok kali ya. Kalau belajar, dia cenderung lebih suka mendengarkan, jadi saya yang ngoceh, dia dengerin dengan anteng. Habis itu dia akan terus-terusan tanya ini dan itu.



Najwa, yang menurut saya cenderung Auditory Learner


Nah, balik lagi ke soalan materi tes Najwa. Dari hasil pemantauan saya sih, sejauh ini Najwa cenderung cepat mempelajari hal-hal yang dia dengar. Semisal hafalan do'a, hadist, kosakata bahasa Inggris atau Arab, trus surat-surat pendek. Dia bisa lebih cepet diajarin yang kayak-kayak gitu. 

Sebaliknya, kalau urusan disuruh menyalin tulisan atau mewarnai. Doi bakalan lama trus ogah-ogahan. Kecenderungan itu sudah agak lama sepengamatan saya. Untuk mewarnai sih, udah banyak kemajuan. Kalau dulu nggak tuntas, sekarang hampir selalu tuntas. Tapi menyalin masih ogah-ogahan. Oh iya, just info, Najwa sekolah di TK Islam, jadi materi keagamaan lumayan banyak di sekolah. But, that's fine. She is enjoy it.


Salah satu materi tes, yang cenderung jadi momok bagi orangtua adalah calistung. Sampai-sampai nih, orangtua udah mulai ngursusin anak-anaknya. Katanya sekalian buat persiapan masuk SD juga.

Mak dheg, saya. Lha gimana, wong Najwa juga membacanya masih terbata-bata, masih pelan, mengeja persuku kata. Lucunya lagi kalau pas belajar saya yang disuruh baca, dia cuma dengerin aja.  Nah loh, gimana ntar pas di tes gurunya? Hihihi...

Suatu hari, saya tanya dia, "Kakak, temen-temen pada kursus membaca, Najwa mau kursus apa?" Jawabnya nggak mau kursus apa-apa. Katanya sudah cukup belajar di rumah sama Ayah Ibu saja. Ya akhirnya saya nggak ngelesin, nggak berusaha ngerayu dan santai-santai aja meskipun 6 bulan lagi persiapan SD juga. Ahhhh... Emak pede pokoknya.

Tapi, bukan berarti saya nggak berusaha bikin dia tertarik untuk belajar ya, terutama membaca. Wajib hukumnya bagi saya untuk membuatnya tertarik dalam banyak hal, bukan hanya membaca. Ya, dengan cara mengenalkan lalu menjelaskan, gitu- gitu pokoknya.

Dalam hal ini, saya yang kebetulan lebih sering bersama Najwa, ketimbang Ayahnya. Secara otomatis juga selalu mengamati perkembangannya. Dari mulai nggak pernah mau, even cuman baca huruf A - Z, trus udah mulai tertarik, sampai akhirnya sekarang mengeja tulisan apa saja yang ditemuinya. "SOTO AYAM", "SATE AYAM", "LELE BAKAR", ES JERUK", tulisan apa aja pokoknya dibaca, meskipun masih pelan-pelan.

Usia 2 tahun mulai tertarik sama B - O - B - O


But, perlu digaris bawahi, ya. Ketidak tertarikan Najwa di sini dalam hal kemampuan membaca, bukan dalam hal menyukai buku bacaan. Karena, jauh sebelum saya mengenalkan huruf pun, Najwa sudah suka dibacakan dan menyukai buku bacaan.

Nah, kalau sampai akhirnya saya curhat di  blogpost ini, dan mencari berbagai penjelasan terkait kemampuan membaca anak. Ya mungkin karena saya menyimpan sedikit kekhawatiran mengenai kesiapan Najwa di bangku SD nanti. 

Usia Najwa memang baru 6 tahun 3 bulan, pas bulan Juli nanti belum genap 7 tahun, usia yang dipersyaratkan untuk melanjutkan ke SD. Tapi, kami sebagai orangtuanya pun, belum mempertimbangkan kemungkinan mengulang TK lagi. Mengingat dia sudah hampir 2 tahun di TK dan  kalau memerhatikan faktor psikologis,  anaknya sudah mulai bosan,  ingin segera jadi anak SD katanya.

Kemudian, saya pun menemukan satu bacaan yang menarik dan sedikit melegakan. Sebuah artikel dari website KelurgaKita, mengenai tahapan anak belajar membaca. Sebelumnya, orangtua perlu memahami, bahwa setiap anak memiliki tahapan yang berbeda. Meskipun berada dalam rentang usia yang sama. Satu lagi, kemampuan anak akan maksimal pada setiap tahapannya, hanya jika diberikan fasilitas yang tepat oleh orang terdekatnya. Siapa lagi, ya pastinya orangtua.

Nah, berikut penjelasannya, ya :

1. Preconventional
Pada tahap ini bayi dan anak di bawah usia 2 (dua) tahun terlihat suka memegang, menggigit dan membawa buku, menyentuh gambar, menunjuk objek dan membalik buku dengan bantuan.

2. Early emergent
Anak mulai menunjukkan ketertarikan pada buku dan menyadari bahwa buku memiliki cerita.  Anak juga suka mendengar cerita dan mulai memilih cerita tertentu untuk dibacakan.

3. Emergent literacy
Anak mulai membaca beberapa kata, menulis huruf dan memahami bahwa gambar mempunyai makna. Anak juga mulai menyadari ada hubungan antara bahasa yang diucapkan dan yang dituliskan.

4. Developing literacy
Anak mulai melakukan decoding, yaitu menghubungkan bunyi huruf yang sudah diketahui dengan kata yang tertulis.  Anak juga sudah memahami cerita yang bergambar dan dapat menggabungkan beberapa kata menjadi sebuah kalimat.

5. Independent literacy
Anak mulai tertarik membaca dan mencari informasi. Di tahap ini anak juga mulai merasakan pengalaman baru melalui buku yang dibacanya.

6. Expanding literacy
Anak membaca untuk mendapatkan informasi dan berpikir kritis atas apa yang dibacanya. Anak dapat menganalisa, menimbang dan menilai isi bacaan.

Sumber : KeluargaKita(dot)com


Kalau dilihat dari penjelasan ini sih, sepertinya Najwa sudah masuk di tahap 4, dan bersiap menuju tahap 5. Najwa memang belum lancar membaca, namun sudah mulai mengeja dan menggabungkan beberapa kata menjadi sebuah kalimat. Untuk ketertarikan membaca, dia sudah mulai mengarah ke sana. Ini ditunjukkannya dengan menyukai beberapa buku untuk dibaca sampai tuntas.
 
Untuk memfasilitasi tahap perkembangannya, saya mulai mengeluarkan kembali koleksi buku lama. Yang ternyata masih relevan untuk Najwa, dan cocok untuk adiknya juga. Sebenarnya, akhir-akhir ini kami sudah mulai membeli buku dengan cerita agak panjang. Tapi, demi melancarkan kemampuan membacanya, jenis buku cerita yang lebih menonjolkan gambar, warna dan tulisan besar yang kami gunakan.Kosakaanya pun masih tergolong mudah, seperti "aku" "kamu" "coba" "bisa" "tali" pokoknya masih sederhana, sesuai kemampuannya saja. 

Ternyata, cara ini efektif meningkatkan minat dan kepercayaan diri Najwa. Setelah tamat 1 buku dan berhasil membacakan adiknya, dia mulai tertantang untuk mencari buku-buku yang lain. Dengan kesulitan berbeda. Ahhh... bisa dibayangkan, betapa leganya saya. Jadi benar bahwa tahapan anak memang berbeda-beda. Setelah menuntaskan satu tahapannya, maka anak akan semakin mantap untuk melangkah.


Najwa mampu membaca kalimat sederhana






Sekarang, Najwa mulai bertanya banyak hal, mengenai apa yang dibacanya. Mungkin ini yang dimaksud dalam tahap ke-5, yaitu mulai mencari informasi. Meskipun sejak dulu dia selalu bertanya tenang apa saja yang kami bacakan, kali ini berbeda, karena Najwa sendiri yang membacanya.

Ya, mungkin Najwa belum lancar membaca, tapi kemauannya besar. Nah, bagian itu yang harus saya pupuk dan kembangkan. Enam bulan memang bukan waktu yang lama untuk terus melatihnya, tapi bukan tidak mungkin juga kan? 




Bagi kami sebagai orangtua, bukan hanya seberapa cepat dia bisa membaca. Tapi lebih dari itu, seberapa besar ketertarikannya untuk membaca. Karena, membaca harus menyenangkan dan menjadi suatu kesenangan. Sehingga, prosesnya pun harus menarik dan jauh dari memaksakan.Teman-teman, setuju kan? 












Mencapai Puncak Kedewasaan di Usia Cantik

|

Saya : Mbak, piye yen profilmu tak tulis kanggo melu lomba blog #UsiaCantik?
(Mbak, misal profilmu kutulis untuk lomba blog #UsiaCantik, gimana?

Mbak: Eh, opo e iku?
(Eh, apaan tuh?)

Saya: Lomba blog, temane usia cantik, rentang usia sing ditulis kisahe antara 35 -45. Aku sik kurang, rung cantik. hihihi)
(Lomba blog, temanya usia cantik, rentang usia profil yang ditulis kisahnya 34-45. Aku masih kurang cantik. hihihihi)

Mbak: Ooo, ngono. Oke deh. Wah, kudu omong Pakne ki, usiaku cuantik berarti tibake)
(Ooo, gitu. Oke deh. Wah, kudu ngomong sama Pakne nih, usiaku cuantik banget ternyata)

Saya : Hahaha ... Trims ya


Begitu kira-kira, sepenggal obrolan saya dengan Kakak, beberapa hari yang lalu. Kami memang rutin berkomunikasi melalui WA. Namanya juga dulur wedok, adaaa saja yang dibahas. Masalah Sambel Teri, atau berapa jumlah telur untuk satu resep brownies kukus pun. Ngobrolnya bisa ngalor ngidol gak ada habis-habisnya. 

Nah, tentunya bukan tanpa alasan pula, jika akhirnya saya memutuskan untuk menulis tentang  usia cantiknya. Lha, mau gimana lagi? Wong usia saya sendiri masih nanggung untuk dibilang cantik. Kagok dan masih gojak-gajek, kalau menurut orang Jawa, hahahaha...

Kakak saya ini memang paling pas, jadi obyek cerita saya. Karena memang dalam banyak hal, saya bisa merasakan aura positif darinya. Terlebih, secara fisik dia masih terlihat awet muda, meskipun sudah beranak gadis kelas 3 SMA, dan usianya pun sudah berkepala 4. Jadi ya cocok lah kalau dibilang lagi anget-angetnya di usia matang, cantik meskipun tidak lagi muda.



Mbak Yanti atau Simbak, begitu kami biasa memanggilnya. Simbak ini, Ibaratnya konsultan pernikahan buat kami, adik-adiknya. Kebetulan, kami empat bersaudara perempuan semua. Sehingga, obrolan selalu nyambung, enak dan betah berlama-lama. Tapi, kalau pada akhirnya Simbak yang harus jadi juru konselingnya, ya wajarlah Karena memang usia pernikahannya sudah paling senior. Sudah hampir 20 tahun mengarungi bahtera rumah tangga. Manis, asin, asemnya pernikahan sudah dirasakannya, persis kayak makan permen nano-nano. Bahkan pahitnya pun, mungkin sudah ditelennya tanpa sepengetahuan kami semua.


Dibesarkan dalam keluarga single parent memang bukan hal yang mudah buat kami, dan juga buat Simbak tentunya. Apalagi dia anak pertama, harus lebih banyak mengalah. Dulu,  saat almarhum Papah meninggal, Simbak baru berusia 14 tahun. Sedang dalam masa peralihan menjadi remaja yang identik galau dalam pencarian jati dirinya. Mau nggak mau, situasi pada saat itu memaksanya menjadi dewasa sebelum usianya. Saat seharusnya banyak mendapatkan rangkulan  dan wejangan dari ibu, Simbak harus merelakan “hak” nya direnggut oleh adik-adiknya. Dan juga oleh kesibukan yang terpaksa harus dilakukan Ibu, untuk mencukupi kehidupan kami.

Tapi, bukan Mbakyu saya kalau dia menyerah, atau nglokro begitu saja. Simbak bisa dibilang masih teguh dengan prinsip dan cita-citanya. Secara akademis, dia tetap bersinar,  dan masih aktif berkegiatan. Baik di lingkungan masyarakat maupun di sekolah. Ya, Simbak memang terbilang berotak encer dan pandai bergaul. Sejak dulu, dia jagonya Matematika, Biologi sama Bahasa Inggris. Mungkin kalau sekarang sudah nggak lagi. Tapi sepertinya, keahlian itu nurun sama anak-anaknya. 

Yang sama sekali nggak berubah itu, hobi membacanya. Dulu,  jaman kacamata masih langka di desa saya, Simbak ini sudah minus 3. Jaman dulu, apalagi di kampung, orang pakai kacamata pasti dikira gaya. Atau nggak biar keliatan pinter. Kenyataannya, Simbak memang pintar dan sangat suka membaca, malahan sejak kecil kata ibu saya. Dia bisa tahan berhari-hari di dalam rumah, asalkan ada stok buku bacaan.
 
  
Jer Basuki Mawa Beya”

Dulu, pada jaman kelulusan Simbak, karena informasi beasiswa belum terlalu banyak seperti sekarang. Atau mungkin juga karena keluarga kami yang kurang lincah mencari informasi untuknya. Simbak pun harus pasrah dengan keadaan, melanjutkan pendidikan sampai jenjang diploma saja. Biaya pendidikan yang harus dibagi untuk 4 orang anak, membuat Ibu memutuskan, mengambil jalur pendidikan yang paling cepat. Biar bisa gantian sama adik-adiknya. Mungkin, begitu maksud Ibu saya.

Syukur, Alhamdulillah, kuliah diploma pun, dia bisa lulus dengan hasil memuaskan. Namun tak serta merta membuatnya mudah memasuki peluang yang tinggal selangkah lagi baginya. Setelah menjalani seluruh tes, ujian tulis serta interview dengan hasil di atas rata-rata, pada rekrutmen karyawan di sebuah bank milik BUMN. Simbak tak lantas bisa diterima begitu saja.  Lagi-lagi, kami harus dihadapkan dengan kesulitan keuangan. Pada saat itu ibu ditanya tentang kesanggupannya mengisi “amplop” . Ya, pada saat itu, kami tak merasa heran dengan hal-hal seperti itu. Kami sangat mahfum, maka dengan berbesar hati Simbak pun mundur.

Menikah pada usia muda

Rupanya, Allah memang sudah menggariskan baginya harus hijrah ke Yogyakarta. Di tempat kerjanya itulah Simbak bertemu dengan suami, yang sekarang menjadi Bapak dari ketiga anaknya. Bukan kebetulan juga, jika seorang mahasiswa yang masih terdaftar di fakultas Teknik, UGM, menjadi teknisi komputer di kantornya. Ya, gak usah tanya kenapa. Lha, memang begitulah cara Allah mempertemukan Simbak dengan jodohnya. Witeng Tresno, Jalaran Soko Sering Ketemu, Ngobrol, Trus Surat-surat. Hahahahah.....

Umumnya, bagi sebagian orangtua tunggal. Melepas anak gadis berusia 21 tahun untuk menikah dengan seorang mahasiswa, harusnya tidak mudah. Lha jangankan mapan, kakak ipar saya itu. wisuda saja belum, kerja juga masih freelance. Koq berani-beraninya ngelamar anak orang. Tapi, karena memang Ibu saya itu tipe orangnya sangat visioner. Jadi ya yakin saja. Bahwa hidup akn berpihak untuk mereka yang berjuang. Jadilah Ibu memberikan restunya, atas pinangan untuk Simbak.

Dengan mengucap Bismillah, akhirnya Simbak pun menikah. Kami menangis haru sekaligus bahagia. Haru karena harus menikahkan anak pertama tanpa suami dan ayah. Bahagia karena telah mengantarkan seorang anak dan kakak ke gerbang kehidupan yang sebenarnya. Khawatir? Untungnya itu bukan sifat Ibu kami. “ Rezeki sudah diatur, asal mau usaha, pasti menjadi jatahnya”


Simbak saat usia 20an, setelah melahirkan anak kedua (kiri)


19 tahun menjadi Ibu Rumah Tangga

Naik turun kehidupan rumah tangga telah dialaminya. Sembilan belas (19) tahun mendedikasikan diri untuk keluarga, tentu saja bukan hal yang mudah. Masalah demi masalah datang silih berganti. Untungnya, semua itu tak sedikit pun meninggalkan keraguan baginya, untuk terus melanjutkan komitmennya sebagai Ibu Rumah Tangga. 
 
Semenjak awal pernikahan, Simbak dan suami memang telah berkomitmen untuk membagi peran dalam rumah tangga. Jika yang satu bekerja di luar, yang lain harus berada di rumah. Komitmen ini seolah menjadi energi tersendiri baginya dikala harus menghadapi berbagai cobaan.Tentu ada masanya ketika mengalami labil secara emosi. Wajarlah, namanya juga manusia. Namun, seiring bertambahnya usia, Simbak terlihat semakin menarik secara kepribadian. Karakternya pun semakin kuat. 

Mungkin, inilah yang dimaksud usia cantik bagi seorang wanita. Tak lagi muda, namun kecantikannya semakin terpancar, dalam wujud kepribadian yang menawan.

Memaknai kecantikan, saat usia tak lagi muda

Pernah suatu ketika Saya bertanya kepadanya.  

"Mbak, nggak kepengen balik masa-masa muda lagi, po? Pas masih cantik kinyis-kinyis?
"Nggak, lah!" begitu mantap dia menjawabnya.
  
Wajarlah, Simbak sudah merasakan nyamannya sebuah kecantikan dalam kematangan emosi dan tindakan. Kalau harus balik muda lagi, artinya harus melalui masa-masa labil itu kembali. Nggak banget, katanya. 

Menurutnya, yang sedang berada di puncak kedewasaan. Kecantikan seorang wanita  tidak hanya dilihat dari kadar fisiknya. Namun harus dilihat dari personalitynya secara keseluruhan. Akhlak, karakter, kemampuan membawa diri, kecerdasan emosi dan juga isi di dalam otaknya. Sangat menentukan kecantikan wanita dewasa.

Kalaupun tidak berdandan dalam arti merias diri. Menjaga kecantikan tetap harus  dilakukan oleh seorang wanita. Baik merawat yang di dalam (ruhnya) juga yang diluar (kulit, kondisi badan, kesehatan dan sebagainya). Intinya, kecantikan seorang wanita harus dipandang secara menyeluruh, jangan hanya dari segi fisik saja. Begitu pula dalam hal merawatnya, harus menyeluruh juga. Sehingga merawat akhlak dan kecantikan fisik adalah satu kesatuan bagi seorang wanita. Ahh .. Ademnya hatiku.
Semakin produktif saat anak-anak beranjak remaja

Tahun ini, Simbak genap berusia 40 tahun. Selain lebih matang secara emosi, Simbak terlihat semakin percaya diri. Lha, koq bisa? Menurutnya, ada beberapa hal yang memengaruhi itu semua. Diantaranya:
  1. Merasa semakin kaya pengalaman. 
  2. Lebih bisa menerima diri dan tahu kondisi terbaiknya. 
  3. Sedang sangat menikmati peran strategisnya sebagai Ibu Rumah Tangga, 
  4. Lebih mudah berdamai dengan keadaan. 
  5. Semakin pandai mengatur waktu, sehingga aktualisasi diri cukup terpenuhi.

Untuk mengisi hari-harinya yang lebih banyak sendiri pada siang hari. Simbak mulai memberanikan diri untuk mengambil peran di luar rumah. Selain aktif mengurusi komite sekolah tempat belajar anaknya. Dia juga aktif berkegiatan di pengajian, serta mengkoordinir Taman Pengajian Quran di  komplek perumahannya.
Tentu saja dia tidak setengah-setengah melakukannya. Karena memang tipenya selalu total dalam menjaga amanah. Seperti halnya dalam menjalankan peran strategisnya di rumah

Aktif di kegiatan komite sekolah dan pengajian



Kedewasaan secara emosi, memengaruhi prioritas seorang Ibu dalam membentuk karakter anak

Menjadi madrasah pertama bagi ketiga anaknya, tentu saja mendorongnya untuk tak malas dalam mengupdate informasi yang sedang berkembang. Tidak bisa dipungkiri memang, menjadi orangtua pada jaman yang serba digital ini, otomatis menuntut orangtua melek gadget, socmed dan harus update trend terkini

Simbak pun tak mau tertinggal, demi tetap menjaga posisinya sebagai teman terbaik anak-anaknya. Dia tak pernah malu, apalagi segan untuk sekedar minta diajari teknologi terbaru oleh anaknya. Namun, untuk urusan pendidikan karakter. Dia tegas dan tak mau tawar menawar. Setelah urusan agama yang dijadikan prioritas utama, masalah akhlaq, tata krama, keterampilan dan kemudian akademis yang menjadi konsennya terhadap anak. 

Ini semua dilakukannya semata-mata karena menyadari, bahwa membekali anak dengan ilmu agama, kemudian mengolah ruhnya. Menjadi pertanggung jawaban utama baginya di hari akhir kelak. Sedangkan kemampuan untuk membawa diri, pengendalian emosi, dan keterampilan sesuai dengan passion mereka, merupakan hal yang jauh lebih penting ketimbang hanya mementingkan kemampuan akademisnya.

Bersama anak ketiga




Menyikapi #UsiaCantik

Bagi semua wanita, begitu pula Simbak. Yang namanya umur semakin bertambah, pastinya kondisi fisik mengalami penurunan. Itu manusiawi, bukan? Begitu pun yang dirasakannya. Menjelang usia 40, Simbak merasakan energinya sudah tidak seperti dulu lagi. Untuk itulah dia merasa butuh untuk teratur berolahraga, mengonsumsi makanan sehat dan istirahat harus cukup

Selain itu, permasalahan kulit yang kerap menjadi momok wanita, juga dialaminya. Seperti jerawat dewasa, flek, kerutan, dan berkurangnya elastisitas kulit wajah. Untuk mengatasi permasalahan itu, Simbak rutin membersihkan wajah dan selalu memakai pelembab untuk menjaga kulitnya agar terlindung dan terhidrasi

Meskipun sederhana, perawatan wajah dan tubuh dari luar terbukti membantu menjaga kulit sehat. Tapi, akan lebih maksimal jika ditunjang dengan asupan dan pola hidup yang sehat. 

Faktor psikis juga sangat membantu menjaga seseorang awet muda. Apalagi, jika dapat menyikapi pertambahan usia ini secara positif dan penuh rasa syukur. Yang terjadi justru masa indah dan bahagia terjadi pada saat #usiacantik. Saat tak lagi muda, namun hatinya semakin mempesona.
"Secara fisik, mungkin memang aku lebih cantik saat berada di usia 20an. Masa-masa menjadi ibu muda yang sedang mencari pola. Masalah kulit dan kesehatan pun, hampir tidak ada. Tapi, justru sekarang aku merasa di puncak kepercayaan diri. Saat umurku sudah sampai di angka 40. Aku merasa cantik, muda, enerjik dan aktif. Mungkin terdengar naif, tapi that's true!. Tunggu saja usia cantikmu, dan rasakan betapa hidup memang baru dimulai saat usia mencapai 40."
Hahahahaha... dan saya pun membayangkan hari di mana usia saya 40 tahun.
Bersama suami (paling kanan) dan anak kedua(tengah)


Pesan untuk mereka yang sedang berada di #UsiaCantik

Memasuki usia cantik, sering dimaknai berbeda dari usia lainnya, Ada reaksi fisik dan psikologis yang mungkin akan mengiringi usia ini. Reaksi yang diambil sangat bergantung pada pemahaman seseorang terhadap kehidupannya. 

Jika banyak bersyukur, maka kita akan menyadari bahwa kebahagiaan sejati datangnya dari hati yang bahagia dan penuh syukur pada Tuhannya.

Tetap mengembangkan diri, karena memandang bahwa kehidupan ini sebagai suatu masa untuk tumbuh dan menjadi dewasa.

Berbagi kebahagiaan dengan orang lain, serta mencintai diri sendiri. Merupakan self healing yang tidak ada tandingannya.

Menjaga gaya hidup sehat,  agar sisa usia tetap produktif dan bermanfaat untuk diri sendiri, keluarga dan orang lain.

Saat ini, Simbak memang sedang berada pada puncak kedewasaannya sebagai wanita. Tenang dalam bertindak, matang dalam mengambil keputusan, dan memiliki lebih banyak waktu untuk mengaktualisasi diri. Di usai yang tidak lagi muda,  dia telah menemukan kecantikan yang tidak hanya sekedar penilaian fisik saja. Maka, tidak salah jika Simbak menolak kembali muda. Karena di #usiacantik ini, hidupnya sedang dalam kebahagiaan yang sesungguhnya.
 


“Lomba blog ini diselenggarakan oleh BP Network dan disponsori oleh 
L’Oreal Revitalift Dermalift.”




Custom Post Signature

Custom Post Signature