Parenting Story, Mom's Life, Tips

[ Review] Sariayu Duo Lip Color

|




Hai.. Hai.. Hai.. Jumpa lagi sama BukNaj *winkwink. Kali ini saya mau me-review lipstik yang lagi jadi favorit saya. Bukan barang baru sih, saya beli sekitar November tahun lalu. Baru sekarang aja niat banget bikin postingannya karena butuh waktu untuk mengumpulkan kepercayaan diri, minder euy! Ya, tapi sayang juga ya, punya produk kesayangan nggak dijembrengin di sini. Hehehe ...

Sebenarnya saya termasuk jarang pakai lipstik, meskipun hobi banget beli-beli. Kayaknya bener juga nih, kalau lipstik itu termasuk racun buat wanita. Apalagi brand kosmetik sekarang bener-bener berkompetisi untuk menghadirkan produk jagoan. Semakin inovatif baik dari segi kandungan juga tampilan. Begitu keluar satu varian baru, brand yang lain kayak nggak mau ketinggalan gitu. Langsung bikin varian sejenis dengan keunggulan masing-masing. Kalau sudah begitu, wajar donk kalau kadar pengen coba-coba saya meningkat. Hehehe ...

Awal mula saya beli lipstik ini karena baca review di blog Racun Warna-Warni. Teman-teman pasti tahu kan? Blog milik Beauty Blogger yang super kondang itu. Berbekal review dan swatch di situ, saya putuskan membeli Sariayu Duo Lip Color untuk menghadiahi diri sendiri.

Ngomongin soal Sariayu, teman-teman pasti setuju ya, kalau brand lokal yang satu ini recomended banget. Mulai ibu-ibu kita dulu, sampai ganti generasi, kayaknya kalau ngomongin lipstik lokal, Sariayu ini nggak pernah terlewat. Udah kayak warisan turun temurun gitu. 

Nah, sekarang pas lagi trendnya lip cream, Sariayu pun nggak ketinggalan meluncurkan produk andalannya yaitu Sariayu Duo Lip Color. Mengapa Duo Lip Color? Karena dalam satu  kemasannya terdapat dua varian sekaligus, yaitu matte dan glossy.  

Nggak tanggung-tanggung Sariayu ngeluarin 12 swatches, loh. Wow banget kan? Mana warnanya cantik-cantik banget,  temen-temen yang beauty enthusiast pasti udah ngoleksi semua warnanya nih. Kalau buat saya yang masih taraf coba-coba pakai lipstik, seri DLC-07 yang jadi favorit. Sejenis warna sejuta umat gitu lah, warna aman, jatuhnya peach kecoklatan.

Nah,  biar  nggak kelamaan, langsung saja kita bahas satu persatu ya.

Packaging 




 

Pertama soal kemasan, Sariayu DLC ini dikemas dalam tube plastik dengan 2 sisi. Pada plastik kemasannya ada keterangan nomor seri warna lipstik di bagian tengah. Kemudian, di sisi kiri dan kanannya terdapat keterangan glossy or matte. Sayangnya keterangan ini cuma di print di plastiknya aja, jadi begitu plastiknya sobek, keterangannya pun bakalan hilang. So, mending diinget-inget aja, yang kiri glossy, sedangkan kanan matte.

Ingrendients

Untuk kandungannya, seperti yang saya kutip dari website resminya. Sariayu DLC diklaim mengandung Mineral Amethys Powder dan Vitamin E yang bekerja sebagai antioxidant, kemudian UV Filter sebagai pelindung dari efek buruk sinar matahari, dan natural moisturizer yang membantu menjaga kelembaban bibir. Sehingga tampilan warna lebih perfect dan long lasting.



Texture and Pigmentation

Menurut saya, yang nggak terlalu sering pakai lipstik. Tekstur Sariayu DLC ini ringan banget di bibir. Bahkan bagian matte yang terlihat pekat pun nggak terlalu kental, jadi jatuhnya nyaman. Selain itu, tekstur matte-nya juga nggak bikin bibir kering, meskipun tanpa mengoleskan lipbalm sebelumnya.
Pigmentasi? Absolutely pigmented, even yang bagian glossy, dia bakalan menutup sempurna. Nggak cuman kayak pakai lipgloss gitu. Selain itu bagian glossy-nya juga nggak lengket plus nggak terlalu mengkilap, Jadi kesan glossynya nggak norak gitu.





Sariayu DLC-07 (matte)



Sariayu DLC-07 (matte)



Price
Untuk ukuran lipstik lokal, ya nggak murah-murah amat, sih. Sariayu DLC dibanderol Rp.99.000 Menurut saya lumayan terjangkau dan sesuai dengan kualitasnya. Apalagi kita bisa dapat 2 varian sekaligus dalam satu kemasan. Kalau kata saya mah, harga nggak bohong.

Secara garis besar, berikut kelebihan dan kekurangan Sariayu DLC menurut saya:
Kelebihan :
  • Nyaman di bibir, tekstur ringan nggak terlalu pekat.
  • Nggak bikin bibir kering, meski tanpa lipbalm. 
  • Glossy-nya juga nggak terlalu mengkilap plus nggak lengket di bibir.
  • Pigmented banget, baik bagian matte ataupun glossy-nya.
  • Tersedia dalam 12 warna yang super cantik dan kekinian
  • Harga sepadan sama kualitas
  • Mudah didapat karena brand lokal
  • Aromanya kayak permen vanila, saya suka.
  • Awet di bibir.
Kekurangan :
  • Kemasannya, terutama karena pattern-nya cuma di print di plastiknya aja. Begitu plastik sobek, hilang sudah semua keterangannya.
  • Setiap warna nggak dikasih nama, cuma nomor saja. So, lumayan susah buat nginget-ngingetnya.
  • Lumayan butuh waktu buat nge-set di bibir, meskipun kalau udah jadi lumayan long lasting.

Secara keseluruhan saya puas banget sama Sariayu Duo Lip Color ini, khususnya swatch yang saya pilih yaitu DLC-07. Soal repurchase? Yo'ilah, karena udah mupeng sama swatch yang lain. Hehehe ...

Sariayu DLC - 07 (glossy)



Tips Hemat Belanja Bulanan

|




Masih awal bulan, apalagi mendekati weekend. Boleh ya, sesekali ngomongin soal belanja bulanan? Kesempatan nih, jalan-jalan akhir pekan kali ini rencananya mau saya manfaatkan untuk pergi berbelanja bulanan. Berhubung suami lagi ke luar kota, jadi saya sama anak-anak cari alternatif kegiatan di deket-deket rumah saja. Maka kami merencanakan pergi ke supermarket dekat rumah.

Sebenarnya belanja bulanan ke supermarket bukan merupakan rutinitas wajib bagi saya. Biasanya, saya hanya melakukannya jika butuh saja. Misal saat semua persediaan bulanan benar-benar habis dan tidak dapat kami penuhi dengan berbelanja di pasar atau toko sembako di dekat rumah. Atau, jika  kami merencanakan pergi ke pusat-pusat perbelanjaan untuk mencari produk yang hanya tersedia di sana. Misalnya, membeli sepatu atau perlengkapan kerja suami. Barulah dalam kondisi seperti itu, saya sekaligus membuat perencanaan berbelanja di supermarket atau swalayan.

Nah, ngomongin soal belanja, saya sebenarnya termasuk yang "miskin iman" menghadapi serangan "barang lucu" dan diskon di pusat-pusat perbelanjaan. Kalau dituruti, saya bisa membeli stationary atau peralatan dapur yang sebenarnya nggak penting-penting amat hanya karena alasan lucu *tutupmuka. Belum lagi kalau ketemu material crafting atau paper wrap yang unik. Dompet musti dikekepin bener biar nggak salah alamat. Hehehe ...

Karena sangat memahami gaya belanja dan godaan yang mungkin mengacaukan cash flow rumah tangga. Maka mulailah saya membekali diri dengan beberapa tips menyangkut belanja bulanan. Ya, biarpun belanja ke supermarketnya jarang-jarang, tapi tips ini lumayan bermanfaat juga saat saya terapkan untuk berbelanja di pasar, toko sembako dekat rumah atau mini market sejuta umat macam alfamart atau indomaret. Nah, langsung kepoin satu-persatu aja, ya.




7 Tips Hemat Belanja Bulanan ala BukNaj


1. Buat catatan kebutuhan bulanan




Saya yakin teman-teman sudah lebih dulu melakukan tips no. 1 ini. Ya, saya memang termasuk orang yang tidak terlalu detil dan malas mencatat. Jadi, selama ini kebutuhan bulanan hanya saya ingat-ingat saja. Mana yang butuh, mana yang habis, mana yang nggak perlu beli lagi. Semua hanya ada dalam memori otak  saja. Dan, cara ini sungguh sangat tidak efektif. Karena keterbatasan saya dalam mengingat banyak hal dalam waktu yang bersamaan, tentu saja beberapa hal sering terlewat atau terjadi salah informasi.

Akhirnya mulailah saya berbenah. Setiap bulan saya buat catatan kebutuhan bulanan. Dari situ saya bisa cek mana yang masih ada stock, mana yang habis, mana yang perlu ditambah (means. saya akan beli dalam kemasan kecil), mana yang hanya butuh refill, dan lain sebagainya. 

Bermodal catatan tersebut, terasa banget belanja bulanan menjadi lebih efisien dan tidak berlebihan. Karena semua jadi lebih terukur dan dibeli dalam takaran yang "pas" dengan kebutuhan keluarga kecil kami.


2. Membeli dalam kemasan besar atau cukup sampai tiba waktu belanja lagi

Memang tidak semua produk saya beli dalam kemasan besar. Misalnya sabun cair atau shampoo. Alasan saya karena anak-anak lebih boros jika disediakan kemasan yang besar. Mereka tahunya banyak, jadi suka dimain-mainin. Begitu pula untuk lotion badan, saya kurang suka membeli kemasan besar, dengan alasan lebih suka habis pakai dalam waktu sebulan kemudian beli lagi yang baru. Jadi tidak terlalu lama dalam kondisi buka tutup.

Khusus untuk produk seperti pasta gigi, deterjen, cairan pembersih lantai, pengharum cucian, diapers dan susu, saya lebih memilih kemasan besar. Karena memang jauh lebih murah ketimbang kemasan yang kecil. Pembelian produk dalam kemasan besar juga memperkecil peluang bolak-balik ke mini market untuk menambal kebutuhan yang habis di tengah bulan. Biasanya, acara bolak-balik ini turut menyumbang banyak pengeluaran di luar budget belanja bulanan. Kalau dihitung-hitung, jumlahnya lumayan juga buat ditabung.


3. Menggunakan uang cash untuk pembayaran



Kebetulan saya dan suami memang tidak memiliki kartu kredit. Dan belum memiliki niatan untuk mengajukan aplikasi, meskipun sudah puluhan yang menawarkan. Cara ini kami anggap sebagai salah satu bentuk penghematan dan perencanaan keuangan yang lebih riil

Sejauh ini, uang cash tetap menjadi alat pembayaran yang utama. Meskipun, dalam kondisi tertentu penggunaan debit ATM juga kerap dilakukan.

Nah, pembayaran dengan uang cash ternyata sangat mendukung program penghematan. Mengapa? Karena pengeluaran kita jadi lebih terkontrol. Beda ketika  berniat membayar dengan debit misalnya, belanja jauh lebih tidak terkontrol karena tidak memiliki acuan uang  yang ada di tangan. jadi keterusan, dech. Apa saja masuk ke keranjang belanjaan.


4. Memanfaatkan voucher belanja 



Voucher belanja juga lumayan membantu membatasi pengeluaran . Dengan begitu saya akan membuat perkiraan harga dan menomor satukan  produk yang benar-benar dibutuhkan, sehingga total pembelanjaan tidak melampaui voucher yang dimiliki.


5. Memanfaatkan promo

Beberapa produk biasanya rajin mengeluarkan promo beli 1 gratis 1, atau beli 2 gratis produk lain. Saya tidak akan melewatkan kesempatan ini, terlebih jika produk yang ditawarkan memang biasa saya gunakan dan benar-benar dibutuhkan. Jika bukan produk yang biasa digunakan atau tidak benar-benar butuh, ya saya akan lewati begitu saja.


6. Mengutamakan kebutuhan pokok rumah tangga

Biasanya nih, yang namanya belanja di supermarket pasti sekalian window shoping. Boleh dong, asal tidak sampai salah fokus. Untuk itu, utamakan memenuhi kebutuhan pokok rumah tangga. Nah, selebihnya silakan melihat-lihat. Cara ini sering saya lakukan terutama untuk melihat harga produk yang saya inginkan. Sehingga bisa membuat perencanaan saat ingin membelinya pada kesempatan berbelanja yang lain.


7. Tidak mudah tergiur diskon



Lain halnya dengan promo, untuk tawaran produk diskon biasanya saya lebih selektif. Selain memperhitungkan urgensinya, saya akan hitung ulang apakah harga diskon tersebut jatuhnya benar-benar ekonomis atau hanya terpaut  sekian rupiah dari harga normal. Karena beberapa produk cenderung mensyaratkan jumlah pembelian atau menaikkan harga jual sebelum memberikan diskon atau potongan harga.

Nah, kurang lebih 7 tips di atas yang biasa saya lakukan untuk menghemat belanja bulanan. Teman-teman juga pasti punya jurus jitunya bukan? Share, yuk!

 

Bakmi Mewah Mix with Raw Veggies, Cara Seimbang Menikmati Makanan Instan

|
Sudah lumayan lama sih,  sejak terakhir kali saya menikmati hangatnya semangkuk mie instan. Semenjak beranak dua, saya berusaha menahan keinginan mengonsumsi makanan instan, terutama mie yang sempat jadi favorit semasa kuliah. Eh, tapi saya nggak bilang takut gemuk lho, ya. Tipe badan saya memang subur dari sononya. Jadi gampang banget melar.  Urusan mengurangi konsumsi makanan instan lebih karena ingin kulit lebih segar saja. Jadi, cenderung memperbanyak makanan mentah di setiap porsi makan. 

Tapi, yang namanya urusan lidah kadang nggak bisa ditawar juga. Apalagi pas lagi hujan, trus lihat suami bawa semangkuk mie instan hangat ditambah cabe rawit merah. Slurupp!! *elapiler.  Bisa ditebak kan, apa yang terjadi selanjutnya? Yak, betul!! Saya pun langsung melipir ke dapur sambil membawa sekotak Bakmi Mewah. Hahaha... Mupeng!!

Nah,  karena sudah terbiasa makan gaya embek aka selalu ada yang mentah di dalam piring. Maka rasanya ada yang kurang, kalau cuma makan mie instan tanpa ada yang hijau-hijau di dalam mangkuknya. 

Nggak kurang akal, saya pun mencoba Bakmi Mewah yang saya mix sama sayuran mentah. Wah, jadi nggak instan lagi donk, karena lama masaknya? Tenang, ini simple banget koq. Caranya sama persis kayak masak mie instan biasa, cuma ada sedikit tambahan sayurnya. Mau tahu kan? 

Bakmi Mewah Mix with Raw Veggies


Taraaaa!!  Begini penampilan Bakmi Mewah Mix with Raw Veggies ala saya. Kali ini saya hanya menambahkan 3 jenis sayuran mentah plus sedikit kecap manis. Untuk membuat kesan basah, saya tidak meniriskan mienya terlalu lama. Jadi sisa air rebusan masih ada yang terbawa masuk ke mangkuk penyajian. 

Untuk step by stepnya sebagai berikut ya :

1.  Siapkan semua bahan. Sekotak Bakmi Mewah, sayuran mentah ( Selada, Tauge, Wortel, masing-masing setengah genggam), satu sendok kecap manis dan cabai rawit biar hohah, hehehe.

2. Seperti biasa, didihkan air kemudian masak mienya kurang lebih 2-3 menit saja, tergantung selera.

3. Sementara menunggu mie matang, kupas, potong dan cuci sayuran mentah. Tiriskan.

4. Angkat mie keriting, tiriskan sebentar saja sehingga mie masih basah.

5. Masukkan semua bahan ke dalam mangkuk. urutannya seperti di bawah ini:
  • Buka kemasan, tuang minyak wijen dan kecap asin ke dalam mangkuk.
  • Masukkan mie keriting, lalu campurkan dengan minyak dan kecap asin.
  • Masukkan sayuran mentah dan cabai yang dipotong kecil-kecil, campur kembali dengan mie yang telah tercampur rata dengan minyak dan kecap asin .
  • Tambahkan daun bawang kering bawaan Bakmi Mewah, dan saus sambal di bagian atas. Aduk kembali hingga rata.
  • Terakhir, tambahkan daging ayam dan jamur di bagian atas sama sedikit kecap manis jika suka. 


Step by step how to make

Hem... Yummy pokoknya. Aromanya langsung tercium saat mie keriting hangat disiram dengan bumbu ayam jamurnya. Selain itu, tekstur mie keritingnya yang kenyal cocok banget sama raw veggies kesukaan saya. Jadi semakin kemriyuk di mulut. Ahhh.. Nggak tahan saya, pengen segera memamah. Hahaha... sapi kali, memamah biak.

Nah, kalau makan mie instannya macam begini, saya merasa lebih aman aja, lebih seimbang asupannya. Tapi teman-teman nggak perlu khawatir, Bakmi Mewah ini memang non MSG. So, nggak perlu heran kalau rasanya soft banget kayak masakan rumah dan pastinya  aman buat dikonsumsi bumil juga busui. Anak-anak juga bolehlah sesekali saja.

Teman-teman juga bisa loh, bikin kreasi seperti ini. Karena basicnya, Bakmi Mewah ini udah enak, menurut saya sih  mau diapain aja juga tetep oke. Suerr!!

Oh ya, kreasi ini untuk mengikuti challenge dari Indonesian Foodblogger join with Bakmi Mewah ya. Untuk lebih jelasnya teman-teman bisa meluncur ke link di atas. Hadiahnya itu lho, kereeennn banget, kamera mirrorless idaman sejuta penggila kamera, uhuk!! Pengen!! So, wish me luck ya ^_^





Bika Bogor - Legitnya Serasi dengan Secangkir Kopi Pahit

|
Bika Bogor Mini
Beberapa waktu yang lalu, secara nggak sengaja saya jalan-jalan ke blog teman saya, Mbak Anita. Sebenarnya sih bukan tidak sengaja juga, tapi karena tertarik dengan foto postingannya yang sedikit menggoda.

Ya tentu saja menggoda, karena waktu itu, si empunya blog lagi posting artikel makanan. Jiwa ngemilable saya udah nggak bisa nahan untuk nggak tanya. Jadilah saya kirim messenger ke Beliaunya, perihal di mana belinya? Bisa delivery atau nggak? Yang paling penting, berapa harganya?
Mengapa saya tanya delivery? Karena makanan yang dipamerin mbakyu Anita di blognya waktu itu adalah oleh-oleh khas Bogor. Yang sepertinya baru tersedia di kota asalnya. Berhubung waktu itu sudah mendekati hari masuk sekolah, jadi kecil kemungkinan saya bisa bertandang langsung ke gerainya di Bogor.

Nah, yang namanya rezeki, memang nggak pernah tertukar ya. Apalagi rezekinya istri salihah, hehehe.. Amin.. Ibarat ngidam, rasanya plonggg bener, pas tahu apa yang kita pengenin kesampaian. Tapi saya nggak lagi ngidam loh, cuma saking penasaran aja sama kue mungil warna-warni yang ada di postingan Mbak Anita. 

Pas saya tanya bisa delivery or not, eee... Mbak Anita malah menawarkan diri untuk membelikan kue mungil yang bikin saya mupeng tadi. Kata Beliau akan dibantu sekalian dikirim via salah satu ekspedisi langganan. Ahh.. Mana bisa saya menolak, kepala langsung ngangguk-ngangguk di depan HP, tanda setuju. Jadilan satu box Bika Bogor Talubi terbang ke Jakarta via mas kurir langganan.

Urusan main ke Bogor, sebenarnya saya salah satu orang yang sering banget singgah ke sana di akhir pekan. Sekedar memberi makan rusa di Istana Bogor, ngadem ke Kebun Raya, atau singgah buat jajan aja. Berhubung anak-anak lumayan hobi naik commuter line. Jadi kami selalu ber-KRL ria, yaa, itung-itung refreshing, sekaligus menikmati pengapnya KRL jurusan Jakarta-Bogor. Hehehe.. 

Pastilah pengap, karena KRL jurusan dari dan ke Bogor bisa dibilang selalu penuh sesak. Jarang-jarang bisa duduk santai, kecuali jam 9 malam ke atas. Tapi karena ngefans banget sama moda transportasi yang satu ini, anak-anak saya selalu enjoy abis. Biasanya sih mereka lebih suka nyanyi-nyanyi atau becanda satu sama lain selama perjalanan yang kurang lebih memakan waktu 1 jam. 

Commuter Line, moda transportasi andalan

Beruntunglah saya, si Ibu dengan 2 anak. Karena sepenuh apapun KRL selalu dapat tempat duduk prioritas. Jadi nggak terlalu worry. Kebalikannya, suami selalu saja kebagian apesnya, kalau nggak full berdiri dari Jakarta-Bogor, paling-paling 2 stasiun menjelang  turun baru dapat tempat. Nasib bapak-bapak, kudu kuat.

Balik lagi soal Bogor. Selama ini, oleh-oleh khas Bogor itu ya nggak jauh-jauh dari Asinan, Ubi Talas mentah, Pisang Tanduk dan sesekali Bolu Talas kalau pas anak-anak kepengen aja. Nah, ternyata ada varian oleh-oleh baru yang jujur ya, saya bener-bener baru ngeh. Dari tampilannya yang eye catching, wajar saja kalau saya langsung tertarik untuk mencoba.


Satu kotak berisi 10 biji Bika Mini dengan 3 varian rasa

Keesokan paginya, sekotak Bika Bogor Mini mendarat dengan selamat di rumah kami. Karena sehari sebelumnya kami sudah melihat penampakannya dari blog mbak Anita, juga  di instagram, maka anak-anak pun nggak sabar untuk mencoba. 

Tampilan yang mungil  dengan tiga warna yang cerah, serta 3 varian rasa yang berbeda, tentu saja sangat menarik bagi mereka. Tanpa perlu menunggu lama, 7 buah Bika Bogor kandas hanya dalam  satu jam saja. *tepokjidat

Untungnya, saya masih sempat menyisakan 3 biji, sebagai teman minum kopi bersama suami. 

Nah, teman-teman pasti penasaran kan, bagaimana cita rasa Bika Bogor Talas Ubi ini? 


Maknyus!!

Pada gigitan pertama, teman-teman akan langsung merasakan betapa empuknya kudapan yang satu ini, Maknyuss! (meminjam istilah Pak Bondan Winarno) . Ditambah serat-serat bikanya juga nggak terlalu besar dan nggak kaku, jadi lembut di mulut. Selain itu kudapan ini juga nggak terlalu berminyak. Beda dengan bika jenis lain yang biasanya agak basah. Kalau istilah orang Jawa sih, Bika Bogor lebih keset.

Untuk varian Bika Mini, ukurannya memang pas untuk dijadikan kudapan. Nggak terlalu besar atau kekecilan, jadi nggak langsung kekenyangan. Anak saya yang usia 2 tahun saja, sekali makan langsung nyaplok 2 biji. Katanya enyak, anis (enak , manis). 

Nah, kalau si Kakak beda lagi. Dia malah tertarik sama warna-warni kue ini. Jadi sekali makan dia langsung ambil tiga warna yang berbeda, ungu, hijau dan kuning. Katanya lucu, mungil, imut warna-warni. Boneka kali yak, pakai acara imut-imut. Hahaha...


Legit, cocok dengan kopi pahit



Kalau buat saya dan suami, yang kopi pahit addict. Bika Bogor ini cocok banget buat mengimbangi rasa pahit dari secangkir kopi hitam kami. Apalagi kami memang jarang mengudap kue-kue manis, bisa dibilang Bika Bogor ini cenderung legit. Jadi pas banget kalau ketemu sama pahitnya kopi.

Rasa talasnya pun menurut kami tidak terlalu menonjol, jadi nyaman-nyaman saja di mulut. Kenapa saya bilang nyaman? Karena memang buat sebagian orang, mencoba cita rasa penganan jenis baru dengan bahan yang terbilang unik, Bisa jadi kurang nyaman di lidah. 


Oh ya, karena dibuat dari bahan alami, yaitu Talas dan Ubi. Maka kudapan ini memang tidak bertahan lama, maksimal 4 hari saja. Tapi nggak perlu khawatir, yakin deh, kue ini nggak bakalan tahan 4 hari. Di rumah saya saja langsung kandas dalam satu jam. *tutupmuka  *rakus

Talas Bogor, bahan baku Bika Bogor Talubi

Varian  rasa dan harga

Berdasarkan info yang saya terima dari, Mbak Anita. Sebenarnya ada beberapa varian lain dari Bika Bogor kalau kita datang langsung ke counternya. Berhubung saya cuma delivery, ya.. sedapatnya aja. Tapi jangan khawatir teman, berikut saya lampirkan hasil investigasi saya mengenai varian rasa Bika Bogor ini :


Credit pict to Instagram Bika Bogor
  • Kue Bika Bogor Talas :  dominan talas asli, warna ungu dari pewarna alami talas
  • Kue Bika Bogor Coco Pandan : aroma pandan, warna hijau khas daun pandan
  • Kue Bika Bogor Nangka : aroma & rasa buah nangka dengan warna khas nangka kekuningan
  • Kue Bika Bogor Ubi Madu : dominan Ubi Madu, rasa khas Ubi dan berwarna kekuningan
Soal harga, menurut saya sangat terjangkau. So, teman-teman nggak perlu khawatir. Satu box Bika Bogor berukuran kotak, yang biasanya dipotong-potong, dihargai Rp35.000,- Sedangkan Bika Mini seperti yang saya beli, hanya Rp29.000,- terdiri dari 10 buah Bika mungil. Murah banget, kan?


Di mana counternya?

Merasa kurang dengan sekotak oleh-oleh khas Bogor yang satu ini. Kami pun langsung searching di mana lokasi gerai Bika Bogor Talubi. Barangkali aja akhir pekan ini suami nggak ada tugas keluar, kami akan langsung angkat mini backpack menuju Bogor.*cusssGujesGujes

Nah, buat teman yang minat pengen nyoba juga, kalian bisa dateng ke sini ya Jalan Padjajaran No.20 M Bogor

Semakin penasaran kan? Yuk, segera merapat! Jangan lupa beli oleh-olehnya. Eh tapi yang penting, oleh-oleh khas Bogor, ya  Bika Bogor Talubi.
See you there!

Berdamai dengan Diri Sendiri

|
"No one is going to love you
If you don't love yourself"



Ngomongin soal  pencapaian, saya yakin setiap orang pasti punya target berbeda. karena kita semua punya prioritas yang lain-lain juga. Sama halnya dengan ke arah mana kita membawa kehidupan ini. Jalan mana yang kita pilih bersama keluarga, atau mau diarahkan ke mana passion anak-anak. Setiap keluarga pasti memiliki standart dan pola tersendiri untuk mencapainya

Untuk  yang sifatnya standart umum, mungkin bisa lebih seragam, ya. Seperti hal yang berkaitan dengan pencapaian di tempat kerja, bisnis atau perkembangan anak secara umum. 

Tapi kalau sudah masuk di bagian yang lebih detil. Seperti passion, pola pengasuhan, kehidupan beragama atau pencapaian rumah tangga, boleh beda dong. Karena tidak semua hal yang baik menurut standart umum, cocok untuk keluarga kita. it's okay, toh setiap orang dan keluarga pasti punya batasan, rambu-rambu atau apapun istilahnya.

Tulisan ini sebenarnya terinspirasi oleh pengalaman pribadi. Jadi izinkan BukNaj tsurhat kali in. Heheheh.. Teman-teman pasti mulai menebak apa yang mau saya curhatin. Dari judul aja sudah jelas, kan? Ya, Saya merasa butuh saja untuk menuliskannya. Karena saya yakin, sebagian teman juga mengalami hal yang sama. 

Yup, ini tentang pencapaian pribadi. Tahun  2017 masih super anget, jadi masih layak kalau saya ngomongin soal target  dan pencapaian satu tahun ke depan. Cerita ini berawal dari sharing di salah satu grup penulis, di mana saya menjadi salah satu anggotanya. 

Grup kami ini memang sangat dinamis. Selain jumlah anggota yang selalu bertambah, pencapaian teman-teman di grup ini juga selalu membuat berdebar. Jadilah anggota junior seperti saya ini sering merasa tertinggal di sana-sini. Tapi kodisi ini sebenarnya malah sangat memotivasi. Ya, asal kita nggak terbawa dengan situasi dan tetap fokus dengan pencapaian pribadi.

Rumput tetangga memang selalu lebih hijau, wajar, begitulah manusia. Yang penting, jangan lupa 'menyirami rumput' di pekarangan sendiri sendiri. Jangan karena terlalu fokus dengan target dan pencapaian orang lain, kita malah lupa dengan pencapaian pribadi. Begitulah yang sedang saya tekankan pada diri sendiri.

Bayangkan saja, teman-teman di grup saya ini luar biasa pencapaiannya. Ada yang sudah menerbitkan beberapa buku, rutin ngeblog dan nggak sepi job, ada yang hampir tiap bulan menang challenge penulisan, ada juga yang super duper produktif menghasilkan karya. 

Misalnya nih, dalam satu hari, salah satu teman saya di grup penulis Emakpintar.asia bisa menulis 15 judul dengan jumlah kata sekitar 500 setiap judulnya. Itu pun masih ditambah menulis di komunitas lain, dan menyelesaikan novel fiksinya. WOW, banget kan? Saya saja sampai mau pengsan dengernya. Sudah gitu, beliau ini masih mendampingi homeschooling anaknya. Bisa kalian bayangkan betapa bapernya saya. Hiks.. Hiks *lemes*



Sebelum ini saja, saya sudah lumayan baper sama teman-teman di grup yang lain. Yang begitu telaten membuat sendiri mainan dan media belajar anaknya. Ada juga yang aktif sebagai volunteer di kegiatan pemberdayaan wanita, meskipun masih sambil momong tiga anak tanpa ART pula. Ahh.. Kalau saya sebutkan semua yang ada malah kebaperan saya meningkat tajam. Malah nggak fokus dan dapat solusi dengan pencapaian saya sendiri.

Harus diakui, tingkat keterlibatan perempuan dalam ranah publik dan domestik memang tidak bisa disepelekan. Perempuan selalu saja menemukan cara bagi dirinya untuk berkembang dan memberikan kontribusi, meskipun istilah keterbatasan sering kali disandangkan baginya. 

Sayangnya, masih banyak perempuan, termasuk juga saya, yang sering terfokus dengan kondisi yang dilihatnya (orang lain), bukan kondisi yang sedang dihadapinya. Ya, nggak usah nyalahin sosial media lah kalau cuman mau bilang gara-gara mupeng liat instagram tetangga. Intinya bagaimana kita mengenali kemampuan diri, kemauan dan realistis dengan keadaan.

Kondisi ini juga kali ya, yang sering menjadi 'penyakit' di  dalam rumah tangga. Si Ibu maunya ABC, lha padahal masih ada D sampai Z yang nggak bisa dibiarkan begitu saja. Akhirnya kondisi rumah tangga tidak stabil. Ya kalau bisa saling menyadari lalu bekerja sama sih, it's okay. Yang namanya berkeluarga pasti ada pasang surutnya. Kalau kekeuh sama idealisme masing-masing? Ini yang bisa jadi bahaya.


Support each other, that's the main of relationship

Well, situasi seperti inilah yang akhirnya bikin saya nekat kepengen sehat jiwa raga. Karena keduanya nggak bisa dipisahin begitu saja, sehat jiwa raganya sakit-sakitan ya nggak maksimal. Sehata raganya tapi otak negatif mulu, ya malah nggak sehat jadinya.

Nah, kalau mau didetilkan lagi soal kesehatan jiwa. Salah satunya ya bisa berdamai dengan situasi yang dihadapi. Atau lebih tepatnya bisa berdamai dengan diri sendiri. 

Salah seorang mentor saya pernah bilang, perempuan itu bisa bahagia, asalkan bisa memanage beberapa hal di dalam dirinya. Ok, biar temen nggak pada bosen, saya jembrengin satu-satu ya.

1. Pandai me-manage waktu

Mau diapaian juga, yang namanya sehari itu ya cuma 24 jam. Mau leyeh-leyeh seharian, atau punya hutang setumpuk deadline-an, nggak ngaruhlah. Jatahnya sama saja, nggak berubah atau beda. Yang beda cuma cara managenya. 
So, nggak usah sirik kalau ada yang produktifff banget, sampek kayaknya nggak punya waktu buat bengong bermenit-menit di depan instagram, eh itu mah saya lagi mantengin lapak orang, hehehhe... 
Tanya diri sendiri, sudah pandai mengatur waktu atau belum. Kalau belum ya nggak usah nangis di pojok kamar belajar lagi. Yakinlah semua hal itu bisa dipelajari, asal kitanya mau. Masalah trial and erorr itu sudah biasa, namanya juga manusia. Yang penting mau belajar dari kegagalan untuk menyonsong keberhasilan, Setuju kan? Iyain sendiri, beres!

So, mau ngapain aja dalam 24 jam ke depan? 


2. Terima diri apa adanya
Berdamai dengan diri sendiri artinya bisa menerima diri kita apa adanya. Terima segala kekurangan, karena manusia memang tak ada yang sempurna.  Fokus pada kelebihan, yakinlah setiap manusia diciptakan sebaik-baik penciptaan. Jadi pasti punya kelebihan.  
Masalahnya seringkali kita tidak menyadari kelebihan diri, dan malah terfokus dengan kelebihan yang dimiliki orang lain. Boleh saja kita mengagumi, tapi jangan kelamaan ya. Ntar malah  " Ku Terlenaaaaa", *jogedIkeNurjanah*
Jadi, sudahkah kita bersahabat dengan diri sendiri?


3. Bahagia itu sederhana

Standar kebahagiaan seseorang memang tidak selalu sama. Bisa jadi bahagiaku, bukanlah bahagiamu. Meskipun sejatinya bahagia itu sangat sederhana.
Mensyukuri hidup dan segala hal di dalamnya merupakan cara termudah menemukan kebahagiaan. Tapi sebagian besar orang justru melupakannya, saya pun sering mengalaminya. 

Kerap kali kita terjebak  kerumitan dalam menemukan kebahagiaan. Kemudian, ketika bertemu masalah, kita berkata Tuhan tidak adil pada hambaNya. Padahal kita sendiri yang terlalu repot memaknainya.

Hem.. Sudahkah kita merasa bahagia hari ini?


4.  Berdamai dengan keadaan
Nah, ini juga penting banget. Buat saya yang sedikit ngeyel, agak susah memang ketika harus menghadapi kondisi yang tidak saya harapkan, atau tidak sesuai perencanaan. Terlebih semenjak menjadi stay at home mom, trus sama Allah dikasih anak-anak lucu, ngegemesin, aktif dan energinya full charge terus. Syukur alhamdulillah.

Kerap kali aktivitas atau mood anak-anak berubah begitu saja. Kalau kondisi sudah seperti itu, biasanya saya agak uring-uringan. Karena TDL yang sudah saya susun rapi pasti akan jadi berantakan.
Penerimaan terhadap perubahan situasi seperti ini juga sangat penting untuk menjaga diri dalam kondisi 'waras'. Karena dalam kondisi uring-uringan, perempuan cenderung mudah menyakiti atau berteriak. *pengakuaandosa
 
Meskipun katanya "sabar itu ada batasnya", tapi kita nggak bisa nolak juga, karena hanya dengan bersikap sabar, maka otak bisa berpikir dengan benar.
Secara teori memang sepertinya mudah, meskipun butuh kemauan dan usaha yang besar untuk merealisasikannya. Tapi percayalah, keyakinan akan kemampuan diri akan mengantarkan kita pada tujuan yang ingin dicapai. 




Yang penting damai, damai dan damai sama diri sendiri dulu. Lalu realistis dengan keadaan. Maka biarkan alam bekerja. 

Custom Post Signature

Custom Post Signature