Parenting Story, Mom's Life, Tips

Piknik Alal DuoNaj #1 - Nonton Air Force Show 2017

|

Halo, Temans! Berhubung DuoNaj lagi seneng-senengnya diajak jalan. So, BukNaj mulai bikin dokumentasi acara jalan-jalan mereka. Lumayan nih, bisa buat bahan bacaan sekaligus dokumentasi DuoNaj kelak. Dan yang pasti bisa  nambahin bahan ngeblog Ibunya. Hehehe .. klop!!

Nah, kali ini di Piknik Ala DuoNaj #1, BukNaj mau berbagi keseruan selama menonton Air Force Show 2017 yang berlangsung minggu lalu. Tepatnya pada tanggal 9 April 2017, dalam rangka perayaan HUT TNI AU ke 71. Sebenarnya ini bukan kali pertama kami menonton pertunjukan serupa. Tahun lalu kami telah menonton Air Force Show juga. Bedanya mungkin di cuaca ya, karena tahun ini panasnya jauh lebih menyengat. Kekeke ... Malah curhat.

Seperti biasa, 3 sampai 4 hari sebelum hari H. TNI AU sudah menggelar latihan dan gladi resik secara rutin, dengan menerbangkan pesawat dan penerjun yang akan mengambil bagian dalam acara tersebut. Tahun ini pun, begitu rupanya. Beberapa hari sebelumnya anak-anak sudah heboh nungguin pesawat setiap paginya. Bersyukur tempat kami tinggal lumayan dekat dengan Laud Halim Perdana Kusuma. Sehingga anak-anak bisa melihat dengan jelas selama latihan menuju hari H.

Saking senengnya, si Najib sampai ngelindur nonton pesawat tempur. Dua hari berturut-turut setiap tengah malam nangis minta "onton awat empurr", begitu katanya. Hehehe... Tapi memang anak-anak saya seneng banget diajak pergi ke acara-acara kayak gitu. Padahal capeknya luar biasa, belum juga panas dan macetnya. Ya, tapi mereka terlanjur enjoy diajak berkegiatan seperti itu. Cuma ibunya aja kayaknya butuh krim  yang siap menangkal noda di wajah. Kikiki ... ujung-ujungnya.



Pagi itu kami berangkat ke Lanud Halim PK sekitar pukul 7 pagi. Agak kesiangan dibanding tahun sebelumnya. Tapi nggak sampai ketinggalan acara, hanya saja jadi rebutan saat mencari tempat parkirnya. Perlengkapan mulai kacamata hitam, air minum sampai camilan sudah kami kemas sedemikian rupa. Sayang, payung yang sudah disiapkan malah tertinggal di rumah.

Setibanya di Halim, kami langsung mencari area parkir yang sudah disediakan. Dan, benar saja, parkiran sudah sangat penuh saat kami tiba. Acara seperti ini nampaknya selalu diminati masyarakat ibukota. Bahkan kendaraan berplat nomor tetangga sudah banyak berjajar duluan. 

Setelah memarkir kendaraan, kami pun segera berjalan mengikuti petunjuk arah yang telah disediakan. Tahun ini kami mengambil jalan pintas, tidak melalui pintu utama lapangan. Tapi melewati jalan kecil di sebelah perkantoran, yang sengaja dibuka untuk akses ke lapangan utama, tempat Air Force Show digelar. Lebih dekat, sih. Sayangnya tidak melewati area PKL, jadi terlewat belanja-belanji ala BukNaj. *pengiritan



Kurang lebih pukul  9 lewat sekain menit saat upacara militer selesai dilakukan. Atraksi pun segera digelar, diawali dengan puluhan pesawat tempur dan helikopter yang lepas landas dari lapangan udara. Untuk segera mengambil ancang-ancang sebelum atraksi dimulai.

Acara ini diikuti tidak hanya oleh pesawat yang berada di Lanud Halim Perdana Kusuma. Tapi juga beberapa pesawat dari Lanud Iswahyudi, yang berlokasi di Maospati, Magetan. Kota kelahiran saya.

Beberapa pesawat itu di antaranya Sukhoi Su 27/30, Super Tucano, Hawk 100/200, Golden T501, serta beberapa pesawat pendukung lainnya.  Terus terang kami bangga, dan terharu dengan kemampuan pasukan TNI meskipun sering kali dianggap jauh dari kemampuan pasukan asing. Buat kami sekeluarga, satu kata tentang pertunjukan ini. Hebat!




Anak-anak sangat gembira, dan tidak nampak rasa capek ataupun kepanasan. Sepanjang acara mereka berteriak dan melambaikan tangan sambil berucap, "dada pesawat, bye ... See u". Hahaha ... dasar anak-anak. Mereka happy-happy saja meskipun muka sudah mulai menghitam.

Dua kali menonton Air Force Show dalam rangka HUT TNI AU. Najwa masih sangat interest dan bercita-cita menjadi "Bu Penerbang" Sedangkan Najib yang tahun lalu masih sangat kecil untuk menunjukkan ketertarikannya. Sekarang sudah mulai bertingkah layaknya Pak Tentara, pegang pistol dan memakai topi bermotif army. Satu-satunya mainan pesawat kecil pun urung dilepasnya.



Najwa pun mulai mampu berdecak kagum dan mengapresiasi keahlian pilot dan para penerjun payung. Semoga ini menjadi awal dari wujud kecintaannya pada tanah air dan perjuangan generasi bangsa untuk mengisi kemerdekaan.

Kami, sebagai orang tua tentu saja senang dengan cara anak-anak merespon pertunjukan ini. Pengalaman seperti ini merupakan salah satu upaya memberikan pengalaman yang mengkristal bagi anak. Harapan kami, DuoNaj dapat menyimpannya sebagai memori masa kecil yang berkesan. Atau bahkan memberikan dorongan atau perspektif masa depan bagi keduanya.



Kami memang belum banyak mengajak mereka melakukan traveling ke tempat-tempat populer di dalam atau bahkan luar negeri.  Bahkan ke pertunjukkan pun tidak selalu rutin dilakukan. Tapi, jika kami berusaha tidak melewatkan acara seperti Air Force Show ini. Selain murah meriah, kami yakin acara seperti ini mengandung segudang manfaat.

Selesai acara kami berpisah dengan ayahnya anak-anak di tengah jalan. Saya dan DuoNaj melanjutkan perjalanan pulang dengan menumpang angkot jurusan Klender. Sedangkan suami melanjutkan perjalanan menuju Blok M untuk lembur di akhir pekan. Lelah? Sudah pasti, tapi semua terbayar dengan perasaan gembira dan puas yang ditunjukkan DuoNaj. 

Ahh ... Rasanya kami sudah tak sabar menunggu Air Force Show tahun depan. Lain kali kita janjian yuk!







Bagaimana Membangun Komunikasi dengan Sekolah Anak

|
Credit picture: www.clipartgram.com
 
Halo Temans, long time no see... Hampir 2 minggu BukNaj terkapar di tempat tidur. Alasan yang tepat sebenarnya untuk beristirahat total. Tapi apa daya, jika penyebabnya karena terserang tifus, jadi nggak nikmat lagi istirahatnya. Tapi memang salah saya juga sih, karena kurang pandai mengatur waktu. Kalau lagi kerja, full semuanya saya kerjain. Begitu badan minta jatah, langsung drop yang didapet.

Selama sakit, otomatis banyak hal terlewat. Apalagi ditunjang saya harus bedrest dan nggak bisa kemana-mana. Biasanya kalau demam biasa atau batuk pilek saja, saya masih ke sana kemari bersama DuoNaj. Tapi kali ini, full di rumah, bahkan urusan antar jemput Najwa pun saya serahkan pada ahlinya. Bang Niko, tukang ojek langganan keponakan-keponakan saya.

Selama itu pula komunikasi dengan pihak sekolah Najwa, baik guru maupun staff lebih banyak saya lakukan via WA. Agak sedih juga, karena beberapa kali mendapat kabar bu Guru di sekolah sakit gantian. Sehingga sering kekurangan jumlah pengajar dan kegiatan tambahan seperti les pun, beberapa kali ditiadakan.

Ya, saya sih bisa memaklumi. Karena mengajar anak pada usia 0-7 tahun atau pada usia TK memang butuh energi besar. Lebih banyak melakukan aktivitas ketimbang duduk diam. Sehingga kondisi tubuh pun harus selalu prima. Tapi yang namanya manusia, sudah pasti ada masanya kondisi turun karena kelelahan.


Pengalaman Bekerja di Sekolah

Saya jadi ingat, masa-masa 4 tahun silam, ketika masih bekerja di sekolah. Dulu, kondisi seperti ini bahkan kerap kami alami. Selain karena harus mengajar dengan model pembelajaran based on activities. Baik pengajar maupun tenaga administrasi di sekolah tempat saya kerja dulu masih harus dilibatkan dalam berbagai agenda harian sekolah. Seperti English Club, Daily Hadith, Staff Meeting, Department Meeting dan beberapa agenda dadakan yang biasanya selalu ada setelah jam kerja.

Selain itu, karena model sekolahnya full day, dari jam 06.30 sampai dengan 15.00, maka mau tak mau seluruh staff harus stand by di sekolah minimal dari jam 06.00 sampai dengan 16.00, itu jam kerja normalnya. Bisa jadi sampai dengan Maghrib jika ada agenda tambahan seperti yang saya sebutkan di atas. Kalau dibilang lelah, sebenarnya ya lelah yang fun. Tapi namanya manusia, ada limitnya juga kan kadang kala badan drop barengan.

Nah, kendala seperti ini sering kali mengganggu proses belajar mengajar. Pernah pas kami sakitnya barengan, kelabakan juga akhirnya di sekolah. Karena harus mengurus sekian anak dengan jumlah staff yang terbatas. Tak jarang, komentar pedas pun harus kami terima dari pihak orang tua. Wajar, sih. Karena mereka udah bayar mahal, pastinya ingin yang terbaik untuk anak-anaknya.

Dalam banyak hal, kami sering menerima kritikan. Alasannya pun kadang-kadang bukan karena standart dari sekolah yang kurang maksimal. Tapi standart kepuasan per personal. Nah, kan. Jadi susah kalau kita ngurusi standar kepuasan per personal. Lha padahal muridnya ada ratusan, so pasti standart kepuasannya ratusan juga kan? Pusing donk, pala BukNaj yang waktu itu di bagian Head of Administration. Tempat curahan hati orang tua dan guru bermuara dari dua arah. Ciyehhh ...

Saat Science Day tahun 2009, acara lembur seperti ini hampir pasti kami lakukan saat ada agenda khusus di sekolah.

Berbekal pengalaman menjadi orang yang sering dikomplain, meskipun juga tak sedikit yang mengacungkan jempol untuk kinerja kami di sekolah. Saya membuat semacam batasan untuk diri saya sendiri. Ingat-ingat saya juga bakalan jadi ortu kan? (eh udah dink). Maka mau tak mau saya pasti akan berada dalam situasi berlawanan dengan kondisi saya dulu. Mau tak mau saya harus menyekolahkan anak  dengan berbagai hal yang mungkin pada akhirnya bermuara pada standart kepuasan personal. Ya to? 

Nah, itulah kenapa saya perlu terus menekankan diri sendiri. Bahwa berkomunikasi dengan sekolah anak itu ada aturannya. Nggak semua hal yang nggak sesuai standart kita harus dikomplain. Nggak semua-semua dituntut harus "oke" dari pihak sekolah. Tetap ya, semua ada limit-nya. Justru seharusnya sebagai orang tua, peran kita mendukung agar kegiatan di sekolah berjalan dengan maksimal. Maka menjalin kerja sama yang apik kudu diutamakan.


Memahami Beratnya Tugas Seorang Guru





Sebelum ngomong lebih banyak tentang bagaimana menjalin komunikasi dengan sekolah. Ada baiknya dari awal kita pahami dulu, bahwa tugas seorang guru itu tidak ringan. Bayangkan saja jika Temans ada di posisi mereka, mendidik sekaligus mengasuh sekian anak dan dituntut hasil sempurna. Apakah mudah? Tentu tidak. Saya yakin ada beban yang harus mereka tanggung atas nama kesuksesan anak didiknya. 

Contoh sederhana saja, kita-kita yang yang udah jadi ortu.  Ketika anak kita tidak maksimal dalam satu hal, atau cenderung lambat dalam menguasai sebuah materi. Meskipun sedikit, pernah kan terbersit rasa khawatir yang kadang membebani pikiran. Lha ini baru anak kita sendiri, yang emang asli turunan kita. Kalau guru di sekolah harus menghadapi sekian anak yang berasal dari sekian keluarga. Dengan berbagai background dan model pengasuhan yang pastinya juga beragam. Wajar donk, kalau agak-agak puyeng juga? Hehehe ...

Itu baru dari satu sisi penguasaan materi atau akademis. Belum juga dari sisi pengendalian emosi. Yang namanya guru juga ada pasang surutnya, kan. Kita aja yang ngadepin anak sendiri, ada kalanya terpancing. Balik lagi, seorang guru harus menghadapi sekian karakter yang pastinya menuntut penanganan yang berbeda. Belum juga mungkin sedang memiliki permasalahan pribadi. Wajar kan kalau lelah?

Menurut saya sih, selama masih dalam batas wajar dan manusiawi. Nggak perlu lah, terlalu sering komplain sama sekolah hanya karena beberapa hal yang kurang sesuai dengan ekspektasi kita. Kecuali jika ditemukan permasalahan yang patut dipertanyakan lebih serius. Dalam hal ini pun sebaiknya melalui forum diskusi, bukan asal komplain.


Bagaimana Menjalin Komunikasi dengan Sekolah?

Credit picture dailysocial.org

Orang bilang, di rumah kita adalah orang tuanya anak-anak. Di sekolah, guru dan seluruh staff lah orang tuanya. Artinya penting banget untuk bekerja sama dengan pihak sekolah. Saling support dan mencari solusi bersama atas permasalahan yang dialami anak-anak .


Menghadiri Forum Rapat

Diskusi merupakan jalan paling aman dan tepat untuk membicarakan hal-hal terkait sekolah. Sebisa mungkin, usahakan menghadiri forum rapat di sekolah sebagai media diskusi secara terbuka. Pada kesempatan ini, orang tua juga dapat mendengarkan secara langsung progres dan program sekolah. Sehingga tidak perlu mencari tahu dari pihak lain atau dari sesama orang tua jika khawatir mendapatkan info yang kurang relevan.

Kecuali Temans memiliki keluhan atau info yang tidak bisa dishare dalam forum besar. Maka diskusi tersendiri bisa dilakukan dengan pihak sekolah. Intinya, apapun masalahnya mending langsung didiskusikan secara langsung dengan pihak yang kompeten. Sehingga komunikasi lebih lancar, penyelesaiannya pun lebih terarah dan tuntas.

Hindari Bergunjing di "Belakang"

Biasanya nih, kalau ada yang kurang sreg sama sekolah. Alih-alih orang tua berdiskusi dengan sekolah, tapi malah ngedumel ngomong di "belakang". Kejadian kayak gini yang sering saya temui, baik dulu sebagai staff, maupun sekarang sebagai orang tua.

Ya, boleh-boleh aja sih, kan nggak ada aturannya juga. Tapi, sebaiknya dihindari saja. Mendingan kalau ada yang kurang sreg langsung aja dikonfirmasi ke pihak sekolah. Bukan apa-apa, khawatirnya justru info yang diterima simpang siur. Belum juga pemahaman orang tua nggak selalu seragam, kan. Trus, kalau itu berkembang ke orang tua yang lain malah jadi nggak tepat infonya.

Penyampaian informasi yang kurang tepat, ditambah perspektif orang tua yang beragam bisa jadi malah memperkeruh masalah. Yang harusnya bisa diselesaikan dengan diskusi ringan, nantinya malah melebar ke mana-mana tanpa solusi yang tepat.

Jadi Temans, kalau bisa hindari banget kebiasaan yang satu ini, ya.


Memaksimalkan Peran Komite Sekolah

Nah, kalau memang kurang nyaman untuk berkomunikasi secara langsung dengan pihak sekolah. Temans bisa memaksimalkan peran Komite Sekolah. Karena Komite sekolah memang dibentuk untuk menjembatani kepentingan orang tua dan sekolah, begitu pun sebaliknya.

Beberapa keputusan yang dibuat sekolah, terlebih yang menyangkut orang tua. Sedikit banyak biasanya sudah dikomunikasikan dengan Komite Sekolah sebagai perwakilan dari pihak orang tua. Jadi, info yang dimiliki Komite Sekolah bisa dibilang lebih akurat ya, ketimbang kita ngomong "di belakang".

Mensupport, jangan Sekedar Membandingkan

Ini juga penting nih, jangan bisanya cuma membandingkan dengan sekolah lain ketika ada hal yang kurang sreg menurut orang tua. Tunjukkan perhatian kita dalam bentuk support kepada sekolah. Kalau ada hal-hal yang dirasa bisa diperbaiki bersama, usulkan! minimal melalui komite sekolah.

Nggak bisa dipungkiri ya, yang namanya institusi juga pasti ada kekurangannya. Kalau kekurangan itu bisa ditambal bersama, apa salahnya? Toh, anak-anak juga yang merasakan hasilnya.

Saya rasa semua lebih mudah, jika komunikasi dengan pihak sekolah bisa dilakukan dengan baik dan terbuka. Meskipun pihak sekolah juga sebaiknya tidak menutup diri. Sehingga memungkinkan terjadinya komunikasi dua arah. 

Memang, tidak semua masukan harus ditindak lanjuti. Tapi menanggapi dengan cara-cara yang baik, menampung dan jika memungkinkan membicarakannya dalam lingkungan intern sekolah juga bukan yang hal yang sulit untuk dilakukan.

Sering kali sekolah yang berhasil justru yang mampu membuka dirinya dan memberikan peluang kepada orang tua untuk turut mensupport segala kebijakan sekolah. Tentu saja ini hanya mungkin terjadi jika komunikasi keduanya berjalan dengan baik dan lancar bukan? Dan tentunya mengarah pada hal-hal yang positif.

Nah, Temans. Yuk! Jadi ortu yang bijak dan komunikatif dengan sekolah anak. Agar semua berjalan dengan lancar, dan anak-anak nyaman berada di lingkungan yang full support dari orang tua. 





Kado Cinta untuk Sahabat Bunda

|
"Aku nggak mau nginep-nginep lagi sama Ayah. Soalnya aku sedih di sana. Aku kepikiran Ibuk, udah lagi sakit, ditinggal di rumah sendiri. Kalau ibuk kenapa-napa, aku pasti sedih banget."


Cesss ... Mendengar Najwa ngomong begitu, rasanya kayak habis minum es buah yang sudah saya idamkan sejak beberapa minggu yang lalu. Adem, haru, senang tapi juga sedikit khawatir. Karena saya nggak pengen Najwa terlalu tergantung sama saya. Sampai segitu worry-nya pas harus pergi sama ayahnya tanpa saya.

Ceritanya nih, weekend kemarin, karena saya lagi drop-dropnya terserang tifus. Jadi saya nggak ngikut acara nginep sama temen-temen suami yang agaknya mulai rutin digalakkan. Waktu itu, tanpa ba-bi-bu, suami saya langsung memutuskan mengajak anak-anak, tanpa perlu saya ikut serta. Saya sih terlalu khawatir enggak, karena saya pikir suami juga pasti bisa. Tapi  sempat kepikiran, anak-anak bakalan nyari saya apa enggak ya? Soalnya kan mereka terbiasa 24 jam sama saya. Mungkin kalau situasinya di rumah, trus saya yang nggak ada, mereka bakalan tenang. Tapi, karena harus menginap di tempat baru, mau tak mau saya jadi kepikiran juga.

Parahnya, yang namanya perasaan BukNaj ini langsung tembus bagai tak berbatas dengan anak-anaknya. Meskipun nih, muka saya udah saya manis-manisin pas mereka berangkat. Tetap saja si Najwa, anak perempuan saya sedih selama perjalanan. "Aku kepikiran Ibuk terus", begitu katanya.

Drama tak berhenti sampai di situ. Minggu sore pas anak dan suami sampai di rumah dari Puncak, Bogor. DuoNaj yang baru saja mengucap salam dan membuka pintu rumah langsung menghambur menuju saya. Keduanya minta dipeluk sambil terus menciumi saya. Saya sempat menolak karena agak takut anak-anak tertular. Tapi, akhirnya saya luluh juga karena Najwa terus memaksa dan kemudian menangis terisak.

"Najwa kangennnnn ... " Begitu teriaknya.

Saya sempat merasa Najwa terlalu berlebihan. Mungkin karena saya sedang sakit saja, dia jadi over begitu. Etapi, sampai 3 hari berlalu dia masih terus mengatakan nggak mau lagi ninggalin ibuk sendirian. Pokoknya, kalau pergi harus lengkap sekeluarga. Kalau enggak, biar ayah pergi sendiri tanpa kita-kita. Kejam, jenderal! Hehe... tersenyum juga saya dibuatnya.








Ada Apa dengan Ibu dan Najwa?

Ngomongin soal Najwa, gimana ya, saya sama dia emang deket banget. Udah nggak kayak ibu sama anak saja, tapi kadang udah kayak anak kembar. Dia tuh paling suka nyerewetin saya, tentu saja saya pun sama. Kami sering bertengkar, tapi tak berapa lama berpelukan, ciuman, pokonya udah kayak orang nggak berjumpa berbulan-bulan.

Dalam banyak hal kami juga cocok untuk beraktivitas bersama. Misalnya saat saya ajak dia ke salon, dia bakalan betah dan sabar banget nemenin saya. Ya, tentunya karena dia pun minta jatah keramas atau creambath. Atau pas saya ajak belanja, dia bakalan setia nungguin saya dengan keranjang belanjanya sendiri. Yang berbuah pemborosan jatah bulanan. Hahaha ...

Tapi beneran nih, kalau ngomongin soal bounding, kami memang lengket banget. Sejak dulu, saat dia masih bayi sampai sekarang. Mungkin karena dia anak pertama juga ya, jadi bersama Najwa saya banyak belajar dan berjuang menjadi ibu. Meskipun, itu bukan berarti saya tidak dekat dan menyayangi anak kedua saya. Tidak, saya sangat menyayanginya. Bahkan menurut suami, saya terlalu memanjakan Najib, anak kedua saya. Tapi cara saya berinteraksi dengannya berbeda, tidak seperti saya dan Najwa. Entah, mungkin karena kami sama-sama perempuan.







Cerita bersama Najwa

7 tahun yang lalu, saya hamil anak pertama di Magetan. Jauh dari suami yang baru merintis kerier di Jakarta. Kehamilan inipun cenderung tidak terlalu terencana. Saya dan suami yang belum lama kenal, memutuskan untuk segera menikah. Dan tanpa menunggu lama dikaruniai kehamilan anak pertama. Nggak sempat blong istilah orang Jawa. Bulan ini nikah, bulan depan sudah hamil satu bulan.

Tentu saja kehamilan ini sempat membuat kami terkejut. Karena sebagai pengantin baru, kami belum banyak menghabiskan wkatu bersama. Menikah kemudian berpisah di hari ketiga karena tugas kantor. Kemudian bertemu kembali hanya beberapa hari untuk selanjutnya terpisah kota lagi.

Kondisi ini sempat memengaruhi psikis saya. Merasa belum siap dan minim perhatian, saya sempat drop dan menjalani kehamilan dengan emosi yang kurang stabil. 

Kondisi ini kemudian membaik setelah trimester pertama. Namun pada trimester ketiga, menjelang hari perkiraan lahir. Saya kembali diserang perasaan tidak tenang. Beban kerja di tepat kantor, ditambah usia kehamilan yang semakin tua dan berat. Mau tak mau membuat saya mudah terpengaruh secara emosional. Sering menangis tanpa sebab.

Kelahiran Najwa pun tak kalah dramatisnya. 12 jam setelah suami berangkat ke Jakarta, saya merasakan kontraksi pertama yang diikuti flek dari jalan lahir. Ah ... rasanya nggak karuan. Yang namanya kelahiran pertama ya pengennya saya ditemani suami saat melahirkan. Tapi apa daya, semuanya hanya tinggal di angan-angan.

Akhirnya Najwa pun lahir tanpa ditemani ayahnya. Saya bersyukur dapat melahirkan dengan selamat, tanpa kurang suatu apapun. Meskipun pada akhirnya harus menjalani operasi setelah kesakitan selama lebih dari 12 jam. Tak apalah, yang penting kami selamat.




Najwa Bukan Hanya Anak, tapi Sahabat

Perjalanan menjadi orangtua tak semudah yang saya bayangkan. Meskipun sudah banyak teori yang rajin saya kunyah, kenyataannya begitu berbeda. Saya kembali meraba-raba dalam mengasuh Najwa. Maka dari itu, saya lebih nyaman menganggapnya sebagai teman, bukan sekedar anak. Teman dalam belajar dan berjuang. Teman saat jatuh untuk kemudian bangkit bersama. Karena sebenarnya, saya merasa belum pantas disebut sebagai orangtua pada saat itu.

Mungkin begitulah awalnya, hingga kedekatan kami menjadi "unik" dan tidak biasa. Dalam banyak hal, saya melibatkannya dalam berbagai aktivitas saya sebagai partner. Termasuk dalam mengajak ngobrol, berdiskusi suatu hal atau dalam menasihatinya.

Itu juga yang kadang membuat Najwa terkesan "berani" pada saya. Karena dia merasa menjadi partner yang bisa sewaktu-waktu mengkritik saya. Ya, adakalanya saya nggak tahan juga diperlakukan seperti itu sama anak usia 6 tahun. Tapi apa daya, kami terlanjur sama-sama nyaman dengan model hubungan ini. Maka ada kalanya saya memainkan peran tegas sebagai orangtua. Meskipun lebih banyak berperan sebagai kakak, atau bahkan teman.


Kado untuk Najwa

Belakangan ini Najwa pun mulai mengikuti kegiatan saya, menulis. Terlebih setelah saya belikan diary baru warna pink bergambar Little Pony. Najwa semakin rajin menulis. Memang masih tulisan-tulisan sederhana, seperti Najwa Love Ibu, atau Ayah Love Ibu.  Terkadang dia juga menulis surat kepada kakek neneknya di kampung, atau teman-temannya di sekolah. Apa saja mulai ditulisnya di buku diary warna pink itu.




Kami tentu saja sangat mendukung kesenangannya. Selain untuk meluweskan tangan, karena Najwa memang belum lama bisa menulis. Kami berharap hobi baru ini bisa menjadi salah satu passionnya di masa depan. Who knows?

Masalahnya, kami selalu berebut meja untuk menulis. Satu meja kecil yang biasa saya gunakan untuk mengetik di atas laptop selalu diambil alihnya duluan. Kalau sudah begitu, terpaksa saya harus menulis di lantai atau bahkan di atas kasur di kamar.

Belum juga buku pelajaran dan buku bacaan koleksinya yang mulai memenuhi rak buku kami di rumah. Najwa sudah dapat menentukan sendiri rak buku mana yang akan dipakainya. Kalau sudah begitu, buku-buku saya biasanya yang harus kena gusur. Pindah tempat atau ditumpuk begitu saja dengan barang-barang lain di meja.

Nah, kebetulan nih, Najwa baru saja berulang tahun yang ke-6. Tepatnya akhir bulan Maret kemarin. Dan baik saya maupun suami belum membelikan kado sebagai hadiah untuknya. Tadinya, saya berencana membelikan kado ketika Najwa lulus TK, sekalian sebagai hadiah kelulusan. Tapi, sepertinya rencana ini harus saya percepat. Membelikannya meja belajar sebagai kado ulang tahun, saya pikir adalah hadiah yang paling tepat untuk saat sekarang.

Pas banget, beberapa hari yang lalu Najwa baru saja bilang lagi. Pengen punya meja belajar gambar Frozen yang pernah kami lihat promonya secara online. Tentu saja di Elevenia, salah satu e-commerce yang sudah terpercaya. Iseng-iseng, saya pun mulai browsing ulang, untuk meyakinkan tidak salah pilih barang yang lagi jadi wish list-nya Najwa.

Dan, ternyata benar. Meja belajar yang selama ini diinginkan Najwa memang ada di salah satu kategori produk belanja di Elevenia. Saya cukup klik di kategori HOME/GARDEN, kemudian search MEJA BELAJAR ANAK. Dan, TARA!!! Meja Belajar Anak Frozen Nodric KP sudah terpampang dengan jelas, lengkap dengan spesifikasi, berat, harga, ongkos kirim, waktu dan kota pengiriman. 







Wah, ini tentu saja sangat membantu saya. Selain lebih mudah dalam berbelanja, saya juga tidak perlu repot-repot sembunyi dari Najwa untuk membeli kejutan untuknya. Karena setelah melakukan transaksi, transfer sesuai harga jual dan ongkir, maka pemesanan akan segera diproses. 

Enaknya lagi,  customer bakalan dapat notifikasi progres pemesanan.  Jadi nggak perlu repot bolak-balik buka web-nya. 

Hem ... Kayaknya bakal jejeritan si Najwa pas barangnya datang. 



Ah, sepertinya saya tidak mau berlama-lama lagi. Semoga hadiah ini  benar-benar pas buat Najwa. Can't wait to see your smile baby.



Cerita ini diikut sertakan dalam lomba blog "Cerita Hepi Elevenia"






















#MemesonaItu Being A Woman of Strength

|
"A Woman of Strength, they know how to survive, how to be happy among their sadness, how to accept herself, and how to face reality."



Sepuluh tahun yang lalu,  sebuah pesona bagiku adalah wujud kesempurnaan. Perempuan dengan kondisi fisik menarik meskipun tidak dianugerahi kecantikan dengan persepsi ideal menurut publik, namun berupaya untuk dapat disebut menarik.

Bagiku juga, yang kala itu masih menikmati hidup sebagai aku dan bukan kita. Pesona tercermin dalam kemandirian utuh dari seorang perempuan. Bebas mengekspresikan diri,  mampu melalui hari dengan berani, kuat menghadapi segala rintangan yang tak jarang menjadi penghalang.

Itulah aku, dan sebuah pesona yang kuupayakan menjadi bagian dari penciptaanku. Menjadi anak manusia yang dilahirkan dengan segala keterbatasan sebagai kaumnya Hawa, namun mampu mendeskripsikan dirinya sebagai Perempuan yang kuat,  Strong Woman.

Hingga suatu ketika, sampailah masa ketika kegundahan datang melanda. Tak mampu lagi mengkategorikan diri dalam definisi pesona yang telah saya buat. Setelah berulang kali "jatuh", ketika menghadapi pergolakan batin pasca menikah dan menjadi ibu,  saya menyadari sepenuhnya bahwa I am not a strong woman.

Kenyataan yang sempat membuat diri menjadi rapuh,  dan sulit untuk melihat segala kelebihan yang dimiliki.  Membuat langkah menjadi berat,  tertatih untuk melalui dunia yang terasa semakin fana. Sedangkan masalah dan keterbatasan diri adalah dua hal yang tidak dapat dihindari.

Namun,  begitulah awalnya hingga muncul pemahaman baru tentang pesona bagi seorang perempuan.  Ya, bukan menjadi Strong Woman,  tapi,  #MemesonaItu Being A Woman of Strength, menjadi Perempuan Berkekuatan.  


Lahir sebagai perempuan, kita ditakdirkan sebagai makhluk yang lemah. Berasal dari rusuk sang Adam. Tapi, tak pernah terbayangkan,  betapa kompetensi yang dimiliki perempuan tak sekedar luar biasa, namun kerap kali tak masuk di akal. 


Bagi perempuan, hidup bukanlah kehidupannya saja.  Tapi ada kehidupan anak, partner dalam pernikahan, orangtua, saudara, bahkan teman dan lingkungan yang sering kali menjadikannya sebagai tempat berbagi permasalahan.





A Woman of Strength,  mereka memahami betul kelemahan dan kekurangan dalam dirinya.  Ada kalanya dia menangis. Takut karena merasa tak mampu, tapi di situlah dia menemukan keberanian untuk melangkah.  Karena yakin,  kasih sayang mengiringi setiap langkah. 

Perempuan Berkekuatan, mereka menyadari bahwa kecantikannya tak mungkin abadi bak bidadari surga, tapi mereka memiliki keyakinan. Bahwa menundukkan hati dalam sujud panjangnya memberikan kecantikan abadi yang tercermin dalam jiwa.

A Woman of Strength,  mereka tahu adakalanya salah dalam bertindak bahkan berucap,  namun dia menemukan kesadaran. Bahwa ada hikmah dalam setiap kesalahan yang pada akhirnya bernama guru kehidupan.

Perempuan Berkekuatan, mereka tahu bagaimana berdamai dengan diri sendiri. Maka tak jarang keanggunan yang terpancar dari dirinya.  Pesona yang berasal dari hati dan kepribadiannya.

A Woman of Strength,  they know how to survive,  how to be happy among their sadness. Mereka yakin,  ada kekuatan Tuhan yang akan mendukungnya. Memberikan kemampuan untuk bangkit dari keterpurukan.

For Women of Strength, pesona adalah sebuah penerimaan diri secara alamiah, tanpa perlu mengingkari segala keterbatasan.  Tapi tak lelah berproses menuju kebanggaan.

Ketika mampu memaknai sebuah pesona baru dalam diri, perempuan seolah terlahir kembali. Menemukan dirinya sebagai makhluk yang lebih berarti. Lepas dari himpitan keterbatasan yang acap kali melabeli. 

Perempuan terlahir dalam wujud lemah raganya, tapi kekuatannya untuk bertahan tak perlu diragukan lagi. Sedangkan intuisinya? Siapa yang berani mengingkari bahwa tak jarang menjadi petunjuk atas sebuah kebenaran?.

Memang tidak mudah mendeskripsikan sebuah pesona. Karena memesona kerap kali dikaitkan dengan segala kelebihan, unggul bahkan tak menyisakan cela. Tapi, jangan sebut dirimu perempuan jika tak mampu mengupayakan arti memesona menurut versimu. Karena kita tahu, sudah menjadi kehendakNya bahwa perempuan dilahirkan dengan berjuta kemampuan.

Perempuan selalu punya cara untuk mengupayakan perbaikan pada dirinya. Tentu saja melalui serangkaian proses yang memperkaya batin dan jiwa. Namun, memang begitulah seharusnya manusia bermetamorfosa sempurna. Agar kupu-kupu tak hanya indah warna sayapnya, tapi juga mengepak dengan kencang sehingga mampu menerbangkan harapan.





Keyakinan pada Tuhan

Kehidupan religi dan keyakinan yang utuh terhadap Tuhan menjadi sebuah pembeda. Bagaimana seorang perempuan menjalin komunikasi dengan penciptaNya, mau tak mau memberikan efek yang sangat besar terhadap penerimaan dirinya sebagai manusia.

Menyadari bahwa diri diciptakan sebagai salah satu "masterpiece", tentu saja Tuhan memberikan segala keunggulan, kebaikan dalam diri kita. Segala kekurangan atau halangan yang kerap menjadi teman dalam kehidupan hanyalah sebuah "pelajaran'.

Bahwa Tuhan sedang menunjukkan ciptaanNya selalu memesona. Mampu menghadapi dan mencari solusi, karena mereka percaya ada Tuhan yang selalu mendampingi.


Merawat diri sebagai bentuk syukur

Merawat diri bukan hanya tentang keindahan atau kecantikan. Merawat diri merupakan wujud rasa syukur atas nikmat yang telah dikaruniakan.

Merawat diri juga tidak sekedar bersolek atau menjaga bentuk tubuh selalu ideal. Tapi menjaga pola hidup seimbang, mengontrol kesehatan jiwa dan raga, sehingga memiliki kehidupan yang berkualitas.


Positif Thinking

Hanya dengan menjaga pikiran selalu positif, maka segala upaya dapat menemukan jalannya.  Berpikiran positif tidak hanya menghindarkan diri dari penyakit hati dan kegelisahan,  namun memungkinkan menjadi pribadi yang lebih peka.

Dengan pikiran positif maka energi tak terbuang untuk prasangka tanpa sebab. Hidup pun jadi lebih tentram,  dan aura kedamaian terpancar baik dari wajah maupun perilaku keseharian.


Open minded

Berpikiran terbuka,  memperluas wawasan dan cara pandang memungkinkan perempuan melihat sebuah masalah dari beberapa sudut pandang.  Sehingga lebih mudah untuk bangkit dan mencari problem solving.

Terkadang kita tidak perlu terlalu cerdas atau pintar untuk dapat memesona. Namun keluasan cara pandang dan pola pikir membuat kita selangkah lebih maju. Mampu melihat suatu keadaan dari perspektif yang tidak biasa.





Bahagia

Apapun upayanya,  pastikan selalu bahagia. Karena bahagia selalu kita pinta, tapi acap kali lupa memaknainya.

Bahagia tidak sebatas tentang pencapaian seseorang.  Bukan sekedar kebebasan dan keberlimpahan materi.  Namun bahagia tentang menerima diri sebagai pribadi yang unik dan tak mudah dilemahkan,  tentang memberi tanpa menunggu imbal balik,  tentang mencintai sebagai kebutuhan dari hati.

Percayalah, menjadi perempuan dengan sejuta pesona bukan sekedar harapan untuk dikabulkan Ibu Peri yang baik hatinya. Namun mampu diupayakan oleh oleh setiap Perempuan Berkekuatan.  Karena #MemesonaItu Being A Woman of Strength. 





Perempuan Berkebaya Biru

|
"Wong wedok gak kudu neko-neko, tapi kudu sembodo."



Subuh belum berkumandang, saat aku mulai sibuk dengan beberapa stofmap dan file kabinet di tangan. Lama sudah aku mencari selembar kertas pengganti akta kelahiran, yang seingatku masih kusimpan sebagai salah satu kenangan masa kecilku. Aku ingat betul saat menyimpannya dalam amplop bersama akta kelahiran baru, setelah perubahan tanggal lahirku. Dan beberapa foto saat usiaku belum juga genap 1 tahun.

Kuambil kembali sebuah amplop coklat yang warnanya mulai kusam. Kubuka dan pilah satu-persatu seluruh dokumen yang ada di dalamnya. Huff ... Lenyap! Tak selembar pun kertas tua yang kucari ada di sana.

Kubereskan seluruh isi amplop yang telah kumuntahkan. Namun, beberapa saat kemudian perhatianku teralihkan oleh selembar foto usang yang terselip di antara foto-foto masa  kecilku. " Itu aku, ..." gumamku dalam hati.

Bayi mungil berbaju merah, lengkap dengan kaos kaki dan topi berwarna senada, dalam gendongan perempuan berkebaya biru. Seketika kuambil foto itu dan bersihkan debu yang menempel di permukannya. Perempuan itu, entah berapa lama aku telah melupakannya. Bahkan dalam doa-doa pun, aku kerap kali melupakannya.

Perempuan itu Mbah Uti, Ibu dari ayahku. Parasnya ayu, berkulit putih bersih tanpa sentuhan bedak apalagi gincu. Rambutnya panjang, lurus dengan sedikit ikal di bagian bawah. Tapi tak terlalu kentara karena konde kecil selalu menjadi pilihan gaya rambutnya. Seingatku warna rambutnya selalu hitam. Tapi itu dulu, atas nama usia hampir separuhnya telah berubah menjadi putih kelabu.

Dalam sebagian memori masa kecilku, aku mengingatnya sebagai sosok yang halus dalam bertutur. Cocok dengan lakunya yang sopan dan tabiatnya yang khas perempuan zaman dulu, nggak neko-neko. Menurut cerita ibuku, Mbah Uti adalah sosok perempuan penjaga. Beliau bukan hanya mampu menjaga kehormatan suaminya. Namun sebagai istri, ibu, wanita dan seorang anak, ia mampu menjaga kehormatan keluarganya. 

Sifatnya memang pendiam, mungkin memang begitulah caranya untuk menahan godaan ber-ghibah atau mengelola amarah. Semasa hidupnya, Mbah Uti selalu tunduk pada suami. Bahkan sampai Mbah Kakung meninggal pun, tak sedikit nasihat dan larangannya masih diugemi Mbah Uti.

Gaya hidupnya datar dan sederhana. Tak pernah berhutang, namun tak juga berlebihan dalam membelanjakan harta. Suatu ketika, jika hasil panen sedikit melimpah, beliau tak lantas berfoya-foya. Pun saat sawah tak memberikan hasil yang sepadan, maka hasil kebun menjadi bahan konsumsi harian, atau dijadikan sebagai alat barter di pasar.

Laku hidup seperti itu telah ditularkannya pada ibuku. Hingga akhirnya beliau pun mampu mengentaskan kami berempat tanpa bermodal pensiun, apalagi warisan dari almarhum Papa. Sungguh laku hidup yang pantas untuk ditiru. Meskipun aku tahu, tak mudah untuk menerapkannya di zamanku.

Dalam banyak hal, Mbah Uti telah menyumbangkan inspirasi bagi kami, empat anak perempuan yang kini telah bergelar ibu. Meskipun tak mengenyam pendidikan tinggi di bangku sekolah formal. Namun semangatnya untuk berilmu tak lekang oleh waktu. Kembali hangat dalam ingatanku, saat kacamata tebal berframe hitam yang dikenakannya mulai melorot hingga tengah tulang hidung. Pemandangan seperti itu sungguh sangat familiar bagiku.

Pagi hari menjelang siang, atau petang saat maghrib telah berkumandang. Selain buku atau majalah bekas, maka Al-Quran adalah bacaan wajib yang selalu menjadi teman menghalau segala kesepian. Dan tanpa merasa diberikan komando olehnya, kebiasaan seperti itu hampir menjadi rutinitas baru bagi kami yang setiap hari mengamati kebiasaannya.

"Wong wedok gak kudu neko-neko, tapi kudu sembodo." Jadi wanita nggak harus aneh-aneh, tapi harus berkemampuan. Begitu setidaknya warisan berharga yang ditinggalkannya bagi kami para cucu.

Aku sadar, di zamanku yang serba mudah, namun tak kurang juga yang namanya masalah. Prinsip hidup seperti yang diajarkan Mbah Uti tak sepenuhnya dapat kuteladani. Tapi, caranya bersikap terhadap suami, keteguhannya menjaga kehormatan diri, sikap pasrah namun tak menyerah dan selalu obah (bergerak/berkarya). Mengajarkanku bahwa pada dasarnya perempuan itu tangguh. Makhluk tangguh hanya saja kerap jasmaninya rapuh, namun niat dan tekadnya untuk berjuang selalu utuh.

Ahh ... Aku merasa beruntung, lahir dan dibesarkan dalam dominasi perempuan pejuang. Bahkan sejak sebelum usiaku menginjak 6 tahun, hanya sosok perempuan-perempuan tangguhlah yang menjadi pelindungku. Mengisi setiap relung jiwaku untuk terus maju, berilmu dan bergerak menuju peradaban baru.

"Bund, wis ketemu?"

Suara suami dari balik pintu membuyarkan lamunanku. Perempuan berkebaya biru, tiba-tiba aku merindukanmu. Maka subuh ini kuhadiahkan Al-Fatihah untukmu.

Dedicated to Alm. Mbah Uti Aminatun. Terima kasih sudah menjadi penjaga bagi kami dan ibu setelah kepergian Papa 27 tahun yang lalu.




Custom Post Signature

Custom Post Signature