Parenting Story, Mom's Life, Tips

Tomoe Gakuen, Mr. Kobayashi dan Hasil Pendidikan yang Membentuk Karakter Totto Chan

|
"Serahkan mereka kepada alam, jangan patahkan ambisi mereka. Cita-cita mereka lebih tinggi daripada cita-cita kalian" - Sosaku Kobayashi.



Suasana peringatan Hari Pendidikan Nasional masih hangat terasa. Banyak kalangan baik aktivis  maupun pemerhati pendidikan masih terus menyuarakan visi dan misinya tentang bagaimana seharusnya pendidikan di negeri ini. 

Bertepatan dengan hal itu, para pelajar berseragam “putih biru” terlihat mengadu nasib di meja ujian. Ya, peringatan Hardiknas tahun ini bebarengan dengan ujian nasional untuk siswa siswi tingkat SMP. 

Sebagai orang tua, pengalaman saya memang masih minim terkait serba-serbi bangku sekolah anak. Baru tahun ini berencana mendaftarkan Najwa ke sekolah SD. Pilihan kami pun terbatas di SD negeri dan swasta yang paling dekat dengan rumah. Memang batasan itu kami sendiri yang membuat, mengingat kami tinggal di Jakarta dan sangat menghindari menyekolahkan anak di tempat yang jaraknya relatif jauh dari rumah.


Dalam hal mendidik anak, saya setuju bahwa orang tua tetap mengambil porsi terbesar. Ibaratnya, sekolah hanyalah tempat bersosialisasi, menambah pengalaman nyata dan mengambil materi. Namun dalam penjabaran dan pengaplikasiannya. Rumah dan orang tua harus mendominasi. Memberikan pondasi yang akan dijadikan sebagai pijakan bagi mereka kelak.


Berbicara tentang sekolah dan pendidikan, saya kembali teringat dengan Tomoe Gakuen. Sebuah sekolah di Jepang yang berdiri pada zaman perang Asia-Pasifik. Teman-teman yang memiliki koleksi buku “Totto Chan, Gadis Cilik di Jendela” pasti sudah tidak asing lagi dengan nama sekolah ini. Ya, karena buku memoar Totto Chan begitu terkenal.Tidak hanya di Jepang, negara yang menjadi saksi bisu keberhasilan model pendidikan Tomoe Gakuen. Buku Totto Chan bahkan telah diterjemahkan ke dalam beberapa bahasa, termasuk bahasa Indonesia. 

Sempat menjadi best seller di zamannya, dan dibaca oleh para pemerhati pendidikan. Sekilas mungkin Temans penasaran dengan apa yang terjadi dalam sistem pendidikan di Tomoe Gakuen. Sekolah yang bisa dibilang “biasa” saja pada saat itu. Bukan sekolah pemerintah yang penuh dengan fasilitas. Tapi mereka memiliki model pendekatan dan pembelajaran yang “tidak biasa”. Yang akhirnya melahirkan anak-anak yang “luar biasa”. 

Adalah Sosaku Kobayashi, seorang pendidik sejati yang memiliki gagasan tentang Tomoe Gakuen. Kecintaannya pada anak, dan pemahamannya tentang karakter dasar anak tidak perlu diragukan lagi. Pada dasarnya, semua anak memiliki karakter baik. Orang dewasa dan lingkunganlah yang kemudian merusaknya. Entah secara sengaja atau tanpa disadari.


Sikap terbuka yang ditunjukkannya pada siswa siswi Tomoe Gakuen, mau tak mau membuat anak-anak nyaman berbagi apapun dengannya. Pendekatan model inilah yang memungkinkan seorang guru menanam dan menumbuhkan hal baik pada anak.


Tomoe Gakuen bukan model sekolah mutakhir dengan jadwal pelajaran padat dan beragam ekstrakurikuler. Tapi model sekolah sederhana, dengan beragam cara untuk menumbuhkan minat dan kecintaan anak pada bidang yang disukainya. Kegiatan yang biasa disebut ekstrakurikuler pun terlalu berlebihan. Tapi, banyak hal dilakukan sebagai bentuk pembiasaan pada anak. Sebagai sarana membentuk rutinitas dan memasukkan nilai-nilai untuk ditanamkan pada jiwa-jiwa yang masih polos dan suci.




Bagi Mr. Kobayashi, belajar tidak selalu duduk rapi di dalam kelas, tidak harus mengikuti jadwal berurutan yang ditentukan oleh pihak sekolah, dan tidak sebatas pelajaran bahasa, hitungan atau menghafal.


Berjalan-jalan di lingkungan sekitar sekolah adalah bagian dari memelajari ilmu alam. Makan siang bersama adalah saatnya berbagi dan mengenal aneka bahan makanan yang berasal dari gunung dan laut. Jam olahraga adalah saatnya membentuk kepercayaan diri dan menghilangkan perbedaan antara sesamanya.


Model pembelajaran di Tomoe Gakuen terlihat spontan dan alamiah. Tapi saya yakin Mr. Kobayashi dengan pemahamannya yang tinggi tentang sifat dasar anak telah merencanakannya dengan sedemikian rupa. Boleh jadi anak-anak menganggap mereka hanya bermain-main di sekolah. Namun sang kepala sekolah sudah paham betul. Materi apa saja yang diselipkan di antara kesenangan-kesenangan itu.


Dalam banyak kesempatan, Mr.Kobayashi selalu berkata, “Kau benar-benar anak baik”. Ucapan ini terus ditujukan kepada anak didiknya dan memberikan efek positif terhadap perkembangan karakter anak.  Mendengar orang lain menyebutnya “anak baik”, alam bawah sadarnya akan merekam dan menjadikannya ingatan masa kecil yang mendasari perkembangan jiwa anak.


Hal ini pulalah yang membuat seorang anak yang pernah dikeluarkan dari sekolahnya, Totto Chan. Tumbuh menjadi pribadi yang memesona. Totto Chan terus mengingat kata-kata Mr. Kobayashi, bahwa dia adalah anak yang baik. Kata-kata sederhana yang mampu menjadi "rem" dalam setiap tindakannya. Dan pendorong baginya untuk memberi arti dalam kehidupan ini.




Tidak hanya dibiasakan untuk berbuat baik dan menyayangi sesama makhluk Tuhan. Totto Chan dan kawan-kawan dibiasakan untuk menghargai perbedaan dan tidak menjadikannya sebagai sebuah permasalahan. Mereka juga didukung untuk terus mengasah empati, meluapkan rasa ingin tahunya terhadap suatu permasalahan, dibiarkan mencari solusi dan diberikan tanggung jawab atas hal-hal yang telah dilakukannya.


Semua ini tentu saja tidak hanya dilakukan melalui teori-teori dalam kelas. Tapi dalam berbagai kegiatan dan kesempatan. Bahkan permasalahan yang sengaja dirancang untuk memantik kecerdasan berpikir dan bertindak bagi anak.


Bagi saya, Tomoe Gakuen adalah sekolah “luar biasa”. Sekolah yang mampu membuat anak-anak betah setelah bel pulang berbunyi. Atau membuat anak-anak tak tahan untuk segera ke sekolah saat bangun di pagi hari.


Mungkin, model sekolah dengan pembelajaran seperti di Tomoe Gakuen bisa menjadi angin segar di dunia pendidikan. Terlebih bagi orang tua yang memiliki anak-anak kritis dan cenderung susah diajak duduk berlama-lama di kelas. Atau mengikuti banyak ekstrakurikuler dan les sebagai pengisi kegiatan di luar jam sekolah.


Apalagi jika sekolah bisa menjadi jembatan, yang mengantarkan anak memahami sifat baik pada dirinya melalui pembiasaan sehari-hari. Sehingga pendidikan karakter tak lagi butuh untuk dijabarkan dalam berlembar-lembar kurikulum pendidikan yang minim pengalaman nyata.


Ah... Sepertinya ini hanyalah impian dan curhatan BukNaj yang sedang mencari sekolah untuk Najwa. Meskipun kadang impian tak seindah kenyataan, tapi memiliki sebuah pegangan sebagai role model wajib hukumnya. Sehingga, sebagai orang tua kami bisa membantu memenuhi kebutuhannya akan ilmu dan pengalaman yang tak didapatnya di bangku sekolah formal. Semoga ...













Personal Branding For Stay at Home Mom, Yay or Nay?

|




Personal Branding is about being authentic, true, and yourself 
~ Artha Julie Nava ~

Gambar: Pixabay

Pertanyaan ini sudah lama melintas dalam benak saya. Sebagai ibu rumah tangga, perlukah saya membranding diri untuk suatu hal? 

Mungkin lebih mudah ketika saya masih bekerja kantoran. Atau saat  masih menjalankan bisnis retail baju muslim dan souvenir pernikahan. Atau, barangkali sebagian besar teman- teman baik di dunia nyata maupun maya terlanjur mengenal saya sebagai pebisnis MLM produk kosmetik luar. Hem … Tak terasa, banyak juga yang sudah saya lakoni sembari menjalankan tugas utama sebagai istri dan ibu dari dua bocah.


Belakangan ini, kurang lebih 3 tahun terakhir sejak 2014. Saya sempat kebingungan menentukan arah dan tujuan saya nanti di masa depan. Mengasuh dan membesarkan anak-anak dengan tangan saya sendiri, itu sudah pasti. Itu sebabnya saya memilih menjadi stay at home mom. Atau menjadi pendamping yang se-frekuensi dengan suami, yang itu pun tak perlu saya jelaskan lagi. 

Baca juga: Sharing is Caring

Keduanya merupakan tujuan utama saya sebagai seorang wanita yang menjatuhkan pilihan hidupnya untuk menikah dan berumah tangga.


Tapi, secara pribadi sebagai perempuan. Tentu saya memiliki cita-cita yang terus saya genggam dengan erat. Bukan hanya tentang pengakuan, tapi semacam tanggung jawab pada kehidupan dan nilai yang selalu ditanamkan oleh orang tua saya. Sebagai manusia kita harus bermanfaat bagi yang lain, bukan hanya diri sendiri.


Dalam salah satu artikel personal branding yang ditulis oleh coach Artha Julie Nava. Artikel yang berjudul “Ibu Rumah Tangga, Perlu Personal Branding juga?” di www.arthajulienava.com. Beliau berpendapat bahwa ibu rumah tangga, atau stay at home mom, PERLU untuk membangun branding dirinya. 


Saya pun mengamini pendapat coach Artha, karena menurut saya personal branding bukan sekedar penanda sebagai siapa kita ingin dikenal. Tapi agar arah dan tujuan kita di masa depan semakin jelas, fokus dan memungkinkan menjadi expert di bidangnya.


Personal Branding adalah tentang bagaimana Anda melakukan redesigning for self image, dengan melakukan sesuatu hal yang memiliki nilai unique dan special yang tidak dimiliki oleh orang lain. (Dwiarko Susanto)


Gambar : Pixabay


Bagi ibu rumah tangga, atau saya lebih nyaman menyebutnya stay at home mom untuk ibu-ibu yang tidak bekerja di luar rumah. Tentu bukan perkara mudah untuk menentukan arah yang akan dituju terkait dengan branding dirinya. Benar kata Coach Artha, kebiasaan menjadi pribadi yang multi tasking mau tak mau membuat saya merasa “mampu” melakukan banyak hal.



Dalam hal pekerjaan rumah tangga, tentu saja saya “mampu”. Karena sebenarnya, kondisilah yang membuat kami para perempuan mampu untuk melakukan ini dan itu dalam waktu bersamaan. Selain karena cara kerja otak perempuan memang memiliki kemampuan berpindah dengan cepat. Dari bagian satu ke bagian lainnya, yang memungkinkan mereka bisa melakukan beberapa pekerjaan secara bersamaan.



Tapi, kebiasaan ini pun ternyata membawa efek samping bagi sebagian besar stay at home mom. Karena terbiasa melakukan aneka peran, maka Supermom Syndrome lekat pada diri mereka. Ingin memelajari banyak hal, merasa mampu membagi waktu dengan cermat. Semuanya ingin dilakukan dan dimiliki dalam waktu bersamaan.



Mengenai hal ini, suami saya sudah sangat sering mengingatkan. Bahwa sebagai manusia, kemampuan kita memang tidak terbatas, asalkan kita mau mengembangkannya. Tapi kita tidak bisa memungkiri, bahwa waktu, tenaga dan biaya adalah tiga hal yang tidak bisa dinafikkan akan menjadi pembatas utama.

Saya pun sempat mengalami Supermom Syndrome, ketika anak pertama lepas masa batita. Sempat kewalahan karena belajar menjahit, baking sekaligus tata rias, ditambah obsesi saya untuk dapat mengaplikasikan teori montessori rumahan pada Najwa. Saya yakinkan diri sendiri bahwa dengan 24 jam berada di rumah, seharusnya saya lebih leluasa mengatur waktu untuk memelajari banyak hal.



Kenyataannya? Semua tidak bertahan lama. Kalau orang bilang, “anget-anget tai ayam”. Nggak ada satu pun yang membuat saya memiliki komitmen tinggi untuk terus melakukannya.



Sempat menghasilkan beberapa potong baju dan mukena untuk Najwa. Tapi saya mulai menyerah saat salah membuat pola atau kesulitan menjahit bagian kerah baju. Akhirnya, mesin jahit portable yang saya beli di tahun terakhir bekerja. Saya serahkan juga pada ibu saya yang jauh lebih mumpuni dalam bidang jahit-menjahit.



Beberapa kali membuat kue rumahan bersama Najwa. Bahkan kue kering untuk lebaran tahun lalu pun tak luput saya coba. Hasilnya lumayan, tidak mengecewakan untuk kelas pemula. Sempat berfikir untuk mengambil kursus dan melengkapi peralatan baking di rumah. Tapi lagi-lagi saya ter-distraksi dengan hal baru yang terlihat menyenangkan, tata rias!



Saya sempat kelelahan, karena merasa tidak ada yang masimal. Tidak ada yang saya lakukan secara konsisten dengan komitmen yang tinggi. Lalu, saya pun mulai berpikir untuk menekuni dunia blogging. Menulis, dunia yang pernah saya sukai, tapi menguap setelah saya tinggalkan begitu saja.





Sampai hari ini, hampir satu tahun  saya konsisten dalam menekuni aktivitas menulis. Tidak seperti kegiatan-kegiatan saya sebelumnya, saya lebih konsisten dan hampir tidak melewatkan satu hari pun kesempatan menulis. Kecuali sedang berhalangan seperti sakit.



Saya mulai berpikir untuk membranding diri saya sebagai seorang bloger. Ya, profesi ini memang cenderung seperti hobi saja. Tapi, seiring berkembangnya era informasi, bloger telah menjadi salah satu profesi yang layak untuk diperhitungkan dalam menghasilkan rupiah. Bahkan banyak peluang terus berdatangan bagi mereka yang telah mengikrarkan diri sebagai professional blogger.



Bagi saya yang sepak terjangnya masih jauh dari panggang. Tentu saja belum layak untuk menyebut diri sebagai full time blogger. Sedangkan sebagai freelance blogger saja saya masih meraba. Pelan dan banyak yang harus saya pelajari dari awal.



Mungkin saya memang menunggu saat yang “tepat”. Saat di mana anak-anak lebih mandiri dan saya bisa lebih leluasa dalam bergerak. Saya yakin waktunya akan tiba, karena seorang perempuan memang memiliki masanya masing-masing. Tapi saya memulainya dari sekarang. Perlahan membranding diri sebagai seorang bloger dan penulis, sebagai salah satu tujuan di masa depan.



Keputusan ini membuat saya lebih mudah dalam menentukan arah dan fokus mengatur energi serta pencapaian. Saya pun cenderung lebih mudah menentukan keterampilan apa yang harus saya pelajari dan tingkatkan. Sehingga mendukung tujuan saya di masa depan.



Kalaupun pada akhirnya saya kembali tertarik pada dunia baking atau menjahit. Mungkin sifatnya hanya hobi saja, untuk bersenang-senang saat butuh hibura. Dan sebisa mungkin bisa menjadi salah satu bahan untuk saya menulis.  Hem … siapa tahu bisa menulis satu buku berbekal sampingan tersebut, who knows?



Jadi, klop ya dengan pendapat coach Artha. Bahwa bagi saya, stay at home mom pun butuh mambangun branding dirinya. Mungkin bukan sekarang, tapi Temans bisa mempersiapkannya untuk menghadapi masa depan. Tapi, apa salahnya jika bisa dimulai hari ini?








Piknik Ala DuoNaj #2 - Outing Class di Kebun Wisata Pasirmukti

|
Halo,Temans! Sudah hampir 2 minggu sejak postingan Piknik Ala DuoNaj #1. Sekarang saatnya BukNaj lanjut lagi dengan #2. Nah, kali ini BukNaj ingin berbagi cerita tentang outing class di sekolah Najwa, yang dilakukan sekitar pertengahan bulan ini. Tepatnya tanggal 12 April 2017, pas hari Rabu menjelang long weekend peringatan Paskah yang lalu.


Tahun lalu, saat Najwa masih duduk di bangku kelas A, Sekolah Al Faizin juga melakukan rihlah serupa. Tapi pada waktu itu acaranya rekreasi ke Taman Safari Bogor. Kali ini, sekolah mengambil konsep yang berbeda, maka outbond menjadi pilihannya.


Pagi-pagi, sekitar pukul 07.00, BukNaj bersama duo mautnya, yaitu Najwa dan Najib, plus Mbah Uti Mama yang kebetulan lagi holiday di Jakarta. Berangkat menuju tempat berkumpul yang sudah ditentukan pihak sekolah. Kami pun tidak terlalu tergesa, karena sudah sejak pagi mempersiapkan perlengkapan yang butuh untuk dibawa.


Sesampainya di tempat berkumpul, saya langsung absen dan mengambil jatah goodie bag. Sedangkan DuoNaj dan Utinya hanya menunggu di dekat bis 2, di mana kami mendapatkan jatah tempat duduk untuk berempat.


Si Najib yang memang kepengen banget naik bis, sudah tak sabar untuk segera masuk dan menuju tempat duduknya. Sudah agak lama sejak Najib selalu bilang, “Naik bis Buk, naik, bis.” Begitu katanya tiap kali melihat gambar bis di buku atau di TV.


Tepat pukul 07.30, bis pun melaju menuju Kota Hujan. Oh ya, lokasi outbond kali ini di Kebun Wisata Pasirmukti, yang terletak di desa Pasirmukti, Citeurep, Bogor. 


Selama perjalanan, baik Najib, Najwa maupun anak-anak lainnya. Mereka sangat excited dengan suara klakson bis yang fenomenal itu. Berkali-kali mereka bilang, “Om tolelot, Om…”  Persis riuhnya suasana jalan raya setahun yang lalu,  saat kami dalam perjalanan mudik ke Magetan.

Satu Setengah jam Kemudian ...



 

Sekitar 1 jam 30 menit, kami sampai di lokasi yang dituju. Areanya sangat luas, hijau, tapi udaranya tidak terasa dingin, meskipun terletak di daerah Bogor dan dekat dengan pegunungan.


Anak-anak segera menuju tempat yang disediakan untuk beristirahat dan mendapatkan pengarahan dari pemandu outbond. Kami pun disambut dengan snack dan welcome drink yang berupa sirup markisa, yang buahnya diambil dari kebun buah di Pasirmukti. Sedangkan Teh Manis hangat disediakan bagi yang kurang suka minuman dingin.


Sekitar 30 menit beristirahat sambil mendengarkan pengarahan dari Kakak-kakak pemandu . Sebagian orang tua pun memanfaatkannya untuk membuka potluck untuk  sarapan kedua, pergi ke kamar mandi, atau sekedar berjalan keliling untuk melihat lokasinya seperti yang saya lakukan.


Awalnya saya agak khawatir, karena beberapa area sangat licin dan berlumpur. Bukan takut anak-anak kotor, tapi saya khawatir mereka terpeleset. Di area kamar mandi pun sama halnya, sangat licin dan berlumut di beberapa tempat. 



Kesenangan Pun, Dimulai 


Tepat pukul 09.30, kegiatan pun dimulai. Anak-anak dibagi menjadi 2 kelompok, putra dan putri. Karena Najib saya daftarkan untuk mengikuti seluruh kegiatan outbond. Maka Najwa dan Najib berada dalam dua kelompok yang berbeda. Saya sih, oke-oke saja. Sampai setelah permainan yang pertama, saya baru sadar harusnya bilang, “tidak”. Pengen tahu kan, kenapa harusnya saya bilang tidak? Saya lanjut dulu ceritanya.


Permainan pertama untuk kelompok putra adalah menghias topi  bambu atau biasa disebut "Capil" Anak-anak tentu saja senang, meskipun menggambar di Capil tak semudah yang mereka bayangkan. Hasilnya? Mayoritas dari mereka membuat lukisan abstrak tak beraturan. Khas anak-anak.


Begitu pun halnya dengan Najib, dia malah mencampur semua warna yang disediakan. Hahaha … Ya namanya juga bocil 2 tahunan. Saya biarkan saja agar dia berkreasi sesukanya.







Di tengah permainan, saya tinggalkan Najib sebentar untuk melihat Najwa. Saya naik tangga berbatu, melewati kolam ikan yang super licin, melewati taman dan menyeberang lewat jembatan batu. Dan saya capek super sesampainya di lokasi tempat permainan Najwa, yaitu menangkap ikan. Bahkan saya terlewat karena saking jauhnya, sehingga tak bisa mengambil gambar.



Dalam bayangan saya, lokasi antara satu permainan dan yang lainnya tidak sejauh ini. Sehingga saya bisa kesana dan kemari untuk mengambil gambar keduanya. OMG! Ternyata alamak jauhnya. Saya langsung kebayang betapa capeknya anak-anak nanti. Dan inilah yang menjadi alasan bagi saya, seharusnya saya bilang “tidak” saat DuoNaj dipisah dalam dua kelompok yang berbeda. Karena bisa bengkak kaki Emak.


Kegiatan terus berlanjut, dan lokasi keduanya selalu berjauhan. Saya sampai lelah, dan terbayang anak-anak pun sangat lelah. Area outbond Pasirmukti memang sangat luas, tapi saya tidak membayangkan mereka akan mengatur lokasi permainan terlalu berjauhan satu dan yang lainnya. Kalau anak-anak SMA sih mungkin oke-oke saja. Lah, kalau anak TK ya lumayan banget capeknya.


Oh ya, berikut ini kegiatan yang diikuti anak-anak:

1. MelukisC

2. Menangkap ikan

3. Menanam tanaman

4. Memberi makan bebek

5. Memetik sayur

6. Menyiram tanaman

7. Membajak sawah

8. Menanam padi

9. Memberi makan kelinci







Untuk usia anak-anak, permainan yang ditawarkan menurut saya terlalu banyak. Mengapa? Karena lokasinya yang terlalu berjauhan dan medan yang tidak mudah. Naik turun tangga berbatu dan curam, melewati tanah licin dan berlumpur, dan waktunya sudah terlalu siang. Sehingga panasnya sangat menyengat.


Beberapa permainan juga tidak memenuhi ekspektasi kami. Saya dan anak-anak maksudnya. Karena sebelum outbond, terlebih dulu saya membuka website Pasirmukti. Dan sepertinya, kami terlalu tinggi ber-ekspektasi.


Misalnya, saat memberi makan kelinci. Dalam bayangan kami, kelinci-kelinci itu dilepas dalam kandang besar sehingga anak-anak bisa melihat kelinci berlarian dalam jumlah banyak. Ternyata, kelinci hanya ditempatkan dalam kandang kecil dan berjumlah beberapa ekor saja. Itu pun banyak yang tidur sehingga tidak ada interaksi dengan pengunjung.


Kami juga membayangkan akan memberi susu anak kambing. Tapi ternyata kambing yang ada dilepas bebas dan jumlahnya hanya beberapa. Sehingga susah bagi anak-anak untuk memegangnya. 


Karena berkejaran dengan waktu, setiap permainan pun dilakukan dengan tergesa. Ya,karena untuk mencapai lokasi yang lainnya juga tidak sebentar. Dan setiap sampai di satu lokasi, anak-anak butuh istirahat untuk minum dan melemaskan otot-otot kaki. Menurut saya sih, anak hanya melakukan permainan, tapi kurang mendapatkan muatan pesan moral di dalamnya.


Overall, anak-anak senang meskipun ada beberapa permainan yang tidak semua anak mau melakukannya. Capek? Sudah pastilah. Tapi begitu masuk di permainan menanam padi, saya rasa semua rasa lelah itu hilang seketika. Karena memang sangat menyenangkan.


Oh ya, kebetulan TK Al Faizin mendapatkan jatah waktu menanam padi bersamaan dengan Sekolah Internasional Perancis. Sehingga area menanam sangat penuh dan ramai saat itu.

Bagi DuoNaj, khususnya Najib. Permainan membajak sawah merupakan favoritnya. Sedangkan Najwa, menanam padi yang paling disukainya.





Mari Pulang Marilah Pulang


Kami pun pulang ke Jakarta dengan sangat lelah, meskipun tak menyurutkan semangat anak-anak untuk terus bernyanyi selama perjalanan. Sedikit terlambat sampai di rumah, karena terjebak macet di daerah Jatinegara. Tapi, tepat pukul 17.30, kami pun kembali menginjakkan kaki di Rumah Matahari. Rumah tempat Najwa dan Najib membesarkan seluruh mimpi-mimpinya.


Nah, Temans! Apa cerita jalan-jalan kalian bulan ini? Sharing, Yuk. Buat tambahan referensi.




Custom Post Signature

Custom Post Signature