Parenting Story, Mom's Life, Tips

Kulit Wajah Segar, Cerah dan Kencang dengan Face Peeling Gel dan Peel Off Mask Lemon by Mustika Ratu

|

Holiday is always be my busy day. Apalagi liburan kali ini pas puasa, pas musim daftarin anak sekolah, pas musti siap-siap mudik juga. Lengkap sudah! Urusan domestik mau tak mau memakan waktu paling banyak. Terutama urusan momong duo kinestetik yang bakalan teriak-teriak kalau nggak dikasih kegiatan.

Biasanya, jam-jam sekolah Najwa adalah jeda buat saya. Apalagi kalau Najib lagi anteng sama mainannya. Saya bisa agak leluasa dengan urusan saya sendiri. Baca buku, nulis atau selonjoran sambil nonton AFC lumayan buat refreshing otak, sekaligus mengistirahatkan badan.

Sedangkan liburan kali ini sedikit beda, rasanya super panjang karena kegiatan di sekolah Najwa sudah benar-benar non-aktif sejak akhir bulan lalu. Tambah lagi, karena Ramadan saya harus bangun pagi untuk menyiapkan makan sahur. Berharap kembali memeluk guling selepas sholat subuh sepertinya sedikit mustahil untuk saya. Karena DuoNaj selalu bangun dan memulai aksinya. Seolah tak pernah kehabisan bahan bakar, adaa saja yang mereka kerjakan hingga malam datang kembali. Beuh … BukNaj lelah kalau sudah begini. *pijatkening

Dalam kondisi tubuh capek dan otak terus bekerja dengan semua printilan rumah tangga plus sampingan yang sedang saya kerjakan. Kok ya saya ngerasa muka tambah kusam, kulit mulai nggak segar dan kendur di beberapa bagian. Saya memang merasa, akhir-akhir ini pola hidup sedang sangat tidak seimbang. Jadwal tidur nggak teratur dan sangat kurang. Alhasil mata panda juga semakin susah disembunyikan.

Kadang pengen juga ya, escape from my daily routine gitu. Nggak usah muluk-muluk lah. Kayaknya tambah nggak mungkin kalau ke tempat perawatan yang antriannya bisa bikin bête duluan. Ke salon muslimah deket rumah aja saya udah bersyukur banget. Tapi ya, gitu deh. Belum nemu jadwal yang cocok sama waktu longgar suami. Maksudnya biar bisa gantian momong gitu. Hehe … Karena nggak mungkin juga bawa-bawa baby Najib ke salon walaupun cuma mau facial biasa aja.

Akhirnya, saya memutuskan memulai perawatan di rumah. Selain karena alarm kulit wajah yang nggak bisa dihindari lagi (semakin kusam). Saya pikir, kalau nunggu perawatan di luar pasti keburu muncul flek di mana-mana. Saking susahnya dapat momen yang pas dan belum tentu bisa rutin ke depannya.*ngeriii

Pas banget ketemu sama duo kuning yang mungil ini di toko waralaba dekat rumah. Yang satu Face Peeling Gel, satunya lagi Peel Off Mask. Dua produk perawatan berkala yang sekarang mulai rutin saya gunakan. Keduanya adalah produk perawatan wajah terbaru dari brand kosmetik lokal. Tahu kan, Mustika Ratu? Ya, kosmetik zaman ibu-ibu kita dulu. Saking udah seniornya brand ini, saya jadi ngerasa langsung percaya aja. Begitu lihat di rak kosmetik, langsung saya comot dan bawa ke kasir.

Sampai blog post ini di-publish, saya sudah mencoba perawatan dengan kedua produk ini sebanyak 2 kali.  Karena kondisi kulit sedikit lebih kering dari biasanya, maka sesuai anjuran saya hanya memakainya sekali dalam seminggu. Nah,  untuk lebih detilnya. Saya akan coba tuliskan review-nya satu persatu.


1. Face Peeling Gel Lemon, by Mustika Ratu





Face Peeling Gel berukuran mini, yaitu hanya 60 gram ini diklaim melembabkan, melembutkan dan membuat kulit tampak lebih cerah. Kandungan Lemon dalam produk bekerja sebagai pencerah, sedangkan Lidah Buaya memberikan efek lembut dan lembab pada kulit wajah. 

Peeling gel ini juga mengandung butiran scrub yang lembut dan sangat mudah hancur. Pengalaman saya, begitu dituang di telapak tangan butiran scrubnya langsung hancur dan menyebar. Juga mudah dibasuk dengan air untuk membersihkan.

Karena butiran scrubnya lembut, saya merasa lebih aman saat menggunakannya untuk memijat area kulit wajah yang sedikit sensitif dan berjerawat. Hasilnya pun terasa maksimal. Kotoran terangkat dan bagian kasar pada kulit seperti dagu atau hidung terasa lebih halus, kulit pun jadi lebih moist.


Kandungan

Aqua, Carbomer, Ethyl Ascorbic Acid, Dimethicone, Glycerin, 
Aloe Barbadensis, Leaf Juice Powder, Tocopheryl Acetate, 
Phenoxyethanol, Butylene Glycol, Cetearyl Dimethicone Crosspolymer, 
Diazolidinyl Urea, Lactose, Fragrance, Cellulose, Allantoin, 
Citrus Limon (Lemon) Fruit Extract, Sodium Hyaluronate, 
Hydroxypropyl Methylcellulose, Cl 77491, Cl 77492



2. Peel Off Mask Lemon by Mustika Ratu





Sedangkan produk yang kedua, Peel Off Mask Lemon. Produk dengan kandungan ekstrak Lemon dan vitamin C ini diklaim mampu mengencangkan dan mencerahkan kulit wajah. Kemasannya sama mungilnya dengan produk yang pertama, yaitu hanya 60 gram kemasan tube plastic berwarna putih dan kuning.


Kandungan

Aqua, Alcohol, Polyvinyl Alcohol, Ethyl Ascorbic Acid, 
Glycerin, Hexylene Glycol, Propylene Glycol, PEG 40 Hydrogenated 
Castor Oil, Butylene Glycol, Chamomilla Recutita (Matricaria), 
Flower Water, Imidazolidinyl Urea, Triethanolamine, Fructose, 
Glucose, Allantoin, Citrus Limon (Lemon) Fruit Extract, Fragrance, 
Polysorbate 80, Urea, Bisabol, Dextrin, Sucrose, Alanine, Aspartic Acid, 
Glutamic Acid, Hexyl Nicotinate.



Cara penggunaannya :

Langkah pertama
Sesuai dengan petunjuk penggunaan produk yang tertera dalam kemasan, sebelum menggunakan produk ini, saya terlebih dahulu menggunakan pelembab dan toner untuk membersihkan wajah. Selanjutnya saya oleskan sedikit peeling gel lemon, kemudian pijat lembut selama 3 – 5 menit. Setelah pemijatan, penggunaan air hangat untuk membersihkan sangat dianjurkan.

Nah,  untuk teman-teman yang berjenis kulit berminyak. Produk ini bisa digunakan dua kali dalam seminggu agar mendapatkan hasil maksimal. Sedangkan untuk pemilik kulit kering, sekali dalam seminggu sudah cukup menutrisi dan mengangkat kotoran dalam wajah.
Langkah kedua
Setelah kulit dalam kondisi bersih dan dikeringkan, segera oleskan Peel Off Mask Lemon secara merata pada wajah. Sekali lagi, hindari daerah mulut dan area mata. Biarkan masker selama beberapa saat hingga kering dan dapat dikelupas.
Sekali lagi, teman-teman bisa menggunakan air hangat untuk membersihkan sisa masker pada wajah. Kemudian dikeringkan kembali dengan handuk secara lembut tanpa perlu menggosok area wajah.






Overall saya suka kedua produk mungil ini. Karena hasilnya langsung terasa sejak penggunaan yang pertama. Kulit saya yang  cenderung sensitif pun tidak mengalami masalah setelah penggunaan produk ini selama dua kali berturut-turut. Ditambah lagi harganya sangat ekonomis. Di tempat saya beli hanya dibanderol 30K lebih sedikit per produk. Lumayan banget kan, buat kantong IRT? Bisa sisihin sedikit dari uang belanja bulanan.


Teman-teman juga musti cobain nih. Karena produk lokal, biasanya cenderung cocok dengan kondisi kulit kita. Yang lebih penting lagi ekonomisnya itu, loh. Kulit tetap terawat tanpa perlu budget membengkak. Ya nggak sih?


















Reward Puasa untuk Anak, Yay or Nay?

|
Mengajarkan puasa pada anak merupakan salah satu cara melatih kejujuran dan ikhlas pada diri mereka

Rewards puasa untuk anak
www.damaraisyah.com


Tadinya saya  berpikir untuk memberikan reward puasa untuk Najwa. Ya, itung-itung biar dia  termotivasi dan bangga dengan usahanya meskipun masih dalam tahap belajar. Belum saya sampaikan sama anaknya, sih. Jadi baru ide saja.

Sampai menjelang hari ke-7 Ramadan, Najwanya masih lumayan kooperatif. Awalnya, saya berencana melatihnya makan sahur bersama. Itung-itung biar belajar bangun pagi, sekaligus membentuk rutinitasnya. Tapi nampaknya ia belum siap, karena Najwa masih susah dibangunkan saat jam sahur tiba.

Akhirnya kami pun menyepakati pengganti makan sahur di jadwal sarapan seperti biasa, yaitu sekitar pukul 7 pagi. Setelah itu ia pun lumayan bisa menahan diri sampai jam 10 atau 11-an. Maksudnya menahan untuk nggak makan, karena Najwa tetap minum air putih setiap satu jam. Kembali lagi ini masih tahap belajar. Selain itu saya mempertimbangkan aktivitas fisiknya yang cenderung tinggi, ditunjang dengan suhu udara Jakarta yang lumayan bikin keringat bercucuran.

Rewards puasa untuk anak

Setelah minum, biasanya Najwa akan berpuasa lagi sampai zuhur atau beberapa saat sebelumnya. Tergantung kondisi juga sebenarnya, kalau lagi ada kegiatan yang bisa mengalihkan rasa laparnya, Najwa bisa tahan sampai zuhur. api kalau nggak sebelum jam 12 ia sudah tak tahan.

Selepas zuhur, biasanya dia akan lebih banyak bermain atau sesekali tidur kalau pas ayahnya lagi di rumah. Nah, kalau siang hari biasanya ia bisa bertahan agak lama. Pernah sampai magrib, tapi biasanya sekitar jam 5-an atau sepulang dari TPA Najwa udah kehausan. Akhirnya saya pun memberikan izin untuk minum secukupnya.

Prinsipnya memang melatih bukan mewajibkan. Jadi ya nggak pakek acara paksa-memaksa. Pelan tapi terus diingatkan sambil  dicontohkan sama orangtuanya. Saya sering bilang sama Najwa,”Puasa itu memang lapar dan haus, tapi itu hanya kalau dipikirin terus. Kalau Kakak tetap beraktivitas seperti biasa nggak akan keras, kok. Ee … Tahu-tahu udah mau magrib aja.”


Reward Puasa untuk Anak

Untungnya saya belum sempat ngomong ke Najwa bakaln kasih reward kalau dia mau berlatih puasa. Karena pagi ini, saya nonton video dari KeluargaKita.com. Salah satu komunitas parenting dan pemerhati pendidikan yang digawangi Mbak Ela (Najelaa Shihab) sebagai foundernya. 

Video yang saya tonton ini pas banget untuk saya jadikan pertimbangan mengenai reward puasa untuk anak. Karena di dalam vidio tersebut, "Abi" begitu Mbak Ela biasa memanggil Habib Quraish Shihab, memberikan penjelasan mengenai hikmah puasa dan anjuran tentang menyogok anak untuk  berpuasa.


Apakah Boleh Menyogok Anak untuk Berpuasa?

Rewards puasa untuk anak
Credit Pict by: isigood.com

Menggunakan kata reward sebagai pengganti istilah hadiah atau menyogok, menurut beliau hampir sama saja maksudnya. Karena orientasinya tetap pemberian dalam bentuk materi.  Dalam hal melatih anak berpuasa, memang masih banyak keluarga muslim yang menggunakan sistem reward atau menyogok untuk memotivasi anak-anak. Begitu pun halnya dengan saya yang masih menganggap cara ini sangat efektif untuk digunakan. 

Harapannya, kebiasaan ini akan menghilang seiring bertambahnya usia anak dan semakin matangnya pemahaman mereka tentang makna puasa. Tapi, menurut Habib, hal ini sebisa mungkin dihindari karena mengurangi makna dan esensi dari ibadah puasa itu sendiri. Misalnya,

Bahwa puasa itu mengandung keikhlasan bukan tuntutan materi

Kenikmatan bagi seseorang yang menjalankan puasa setidaknya ada dua. Pertama, ketika tiba waktu berbuka puasa. Sedangkan yang kedua ketika bertemu dengan Rabbnya. Dua hal ini mengajarkan orangtua, bahwa kenikmatan dalam hal puasa seharusnya menjadi kenikmatan yang berasal dari dalam diri, bukan karena adanya faktor dari luar. 


Pernyataan ini sejalan dengan sebuah materi dalam ilmu Psikologi Pendidikan. Bahwa keberhasilan mengatasi pantangan itu sejatinya berasal dari dalam diri, tanpa adanya campur tangan dari luar.

Bahwa kenikmatan puasa itu karena berhasil melawan dan mengendalikan hawa nafsu dari dalam.

Bukan karena sogokan yang berupa materi, atau reward dalam bentuk yang lain. Karena kenikmatan puasa adalah ketika mampu mengendalikan diri dan melawan hawa nafsunya.

Kesimpulannya, menyogok atau memberikan reward puasa sebaiknya dihindari. Biarkan anak belajar secara bertahap. Perlahan, seiring bertambahnya usia dan kekuatan fisik. Mereka akan memahami bahwa mampu menjalankan ibadah puasa secara penuh adalah sebuah kenikmatan yang berujung menang di hari raya.

Selain itu, tiga hal berikut dapat dijadikan pertimbangan sebelum memutuskan memberikan reward pada anak:

  • Bertentangan dengan esesnsi dari puasa itu sendiri yaitu pengendalian diri.
  • Membiasakan hal buruk pada anak. Ya, karena anak adalah peniru dan pengingat ulung. Apapun yang orangtua ajarkan padanya, pasti menjadi sebuah teladan yang terus diingatnya hingga dewasa.
  • Mengurangi nilai keikhlasan pada diri anak.

Hmm ... lumayan jleb, sih. Dan mungkin sebagian besar orangtua kurang setuju dengan materi dalam vidio ini.. Saya pun jadi teringat masa kecil saya yang jangankan mendapat hadiah, reward, sogokan atau apapun istilahnya. Ibu selalu menekankan bahwa puasa itu urusan keikhlasan dan kejujuran kita sama Allah. Kalau mau belajar jujur dan ikhlas, maka puasa adalah salah satu sarananya.

Saya ingat betul, bagaimana mengawali berlatih puasa pada usia 6 tahun, persis seperti usia Najwa saat ini. Memulainya dari puasa jam 10 pagi, kemudian jam 12, jam 2 hingga akhirnya puasa penuh pada usia 8 tahun. Itupun kadang-kadang saya sembunyi-sembunyi menelan air wudlu saat siang hari, hehe … *pengakuandosa

Tapi memang benar, tanpa reward, hadiah atau sogokan apapun rasanya nikmat sekali saat azan magrib berkumandang. Kalau boleh lebay nih, segelas air putih pun cukup untuk membasuh dahaga di tenggorokan. Hehe ... *soalnyagakadaesbuah
Akhirnya, saya putuskan untuk mengurungkan niat awal saya memberikan reward puasa untuk Najwa. Biarlah Najwa berproses dengan keikhlasan sehingga dapat meraih nikmat yang sesungguhnya. Terlepas keputusan ini terpengaruh pencerahan dari Habib Quraish Shihab atau tidak, yang pasti saya sudah mempertimbangkannya dengan matang.

Nah, buat Temans yang kepengin nonton vidionya juga. Langsung klik link di bawah ini, ya. Yakin deh, banyak ilmu yang bisa diteladani dari beliau berdua.


Akhirnya, terlepas dari memberikan reward atau tidak, setiap orangtua dan keluarga pasti memiliki cara sendiri dalam mendidik anak-anaknya. Di sini tidak ada benar atau salah, hanya masalah niat dan kondisi setiap keluarga yang butuh treatment yang berbeda. Setuju, ya?

Kalau Temans sendiri, apa pendapatnya tentang reward puasa untuk anak? Yay or nay? Sharing, yuk!





Diary BukNaj #1 - ASI Lancar selama Puasa? Bisa!

|

Salah satu kekhawatiran ibu menysui saat menjalankan ibadah puasa adalah menyusutnya pasokan ASI untuk buah hati tercinta. Apalagi, jika si kecil berusia kurang dari 6 bulan, sehingga kebutuhan ASI masih penuh tanpa support dari MPASI sebagai tambahan.

Rupanya, kekhawatiran serupa sedang dialami seorang Teman yang  masih menyusui bayinya yang baru berusia 3 bulan. Menurut cerita teman saya ini, kebutuhan ASI bayi laki-lakinya lumayan banyak. Dalam satu hari, frekuensi menyusunya bisa lebih dari 15 kali. Wajar jika akhirnya Teman saya merasa khawatir si kecil bakal kurang asupan karena pasokan ASI ibunya menurun selama puasa.

Permasalahan inilah yang pada akhirnya menghubungkan kami dalam sebuah obrolan mengenai tips menjaga ASI tetap lancar selama berpuasa. Saya sendiri yang telah melalui 4 kali ramadan sebagai busui, sempat mengalami kekhawatiran serupa saat menyusui anak kedua. Hal ini lebih dikarenakan pengalaman gagal saat menyusui anak mbarep yang terus membekas dalam ingatan saya.

Memang benar Islam telah memberikan keringanan bagi ibu menyusui dalam hal menjalankan ibadah puasa. Sepetti halnya keringanan yang diberikan pada ibu hamil atau orang yang sedang sakit. Tapi, mengingat begitu istimewanya bulan suci ini. Sebagian besar ibu tetap berusaha menjalankan ibadah puasa meskipun pada masa-masa menyusui balita.

Menurut sharing ringan bersama beberapa teman sesama busui, juga pengalaman saya sendiri saat menyusui anak kedua. Sebenarnya bukan hal yang mustahil saat seorang ibu tetap berpuasa meskipun sedang menyusui anaknya. Sudah banyak teman-teman saya yang berhasil, bahkan bayi-bayi mereka pun tidak mengalami gangguan apapun selama masa-masa itu.

Baca juga : Permasalahan yang Kerap Dialami Ibu saat Menyapih Anak

Tapi balik lagi ya, kondisi setiap ibu dan bayi tidak bisa disamakan. Sehingga, keberhasilan seorang ibu tidak perlu dijadikan patokan ketika Temans berniat menjalankan rencana serupa. Pahami dulu kondisi ibu dan balita, baru kemudian buatlah keputusan yang seharusnya juga tidak perlu terlalu kaku selama menjalankannya.

Melalui 4 kali ramadan sebagai busui tentu saja banyak suka dukanya. Masa-masa bersma Najwa bisa dibilang jauh lebih berat ketimbang 42 bulan berikutnya mengawali puasa bersama Najib. Selain masalah volume ASI yang memang agak seret sejak awal menyusui. Faktor emosi dan kesiapan diri sebagai busui turut menentukan berhasil atau tidaknya. 

Hal inilah yang kemudian mengajarkan saya bahwa pada dasarnya semua ibu BISA. Hanya saja, faktor masalah yang berbeda, tapi sering kali penanganannya disamaratakan. Sehingga bukan solusi yang didapat, tapi perasaan tidak mampu karena merasa telah mencoba berbagai cara namun tak kunjung ada hasilnya.

Pada beberapa kasus, seperti juga yang saya alami bersama Najwa. Kondisi anak yang menjadi lebih rewel daripada biasanya seolah meng-aminkan pendapat bahwa kualitas ASI selama puasa menjadi kurang prima. Begitu pun angka kecukupannya dianggap kurang, sehingga si kecil menjadi rewel karena lapar. 

Berdasarkan pengalaman tersebut, ada baiknya mencari tahu dulu penyebab anak menjadi lebih rewel dari biasanya. Bukan langsung men-judge  ada masalah dengan ASI ibunya. Karena secara tidak langsung, judge yang dialamatkan bagi seorang ibu sangat memengaruhi kondisi psikisnya. Nah, justru pada kondisi psikis yang tidak stabil inilah gangguan pada ASI bisa dengan mudah terjadi.

Berbekal cerita drama kurang berhasil dalam puasa dan menyusui anak pertama. Saya pun gencar memelajari beberapa tips sukses memberi ASI pada saat puasa. Bekal inilah yang akhirnya sangat membantu saat harus menjadi busui pada tahun ketiga ramadan, bersama anak kedua. 

Selain telah menemukan tips-tipsnya, saya merasa lebih ringan saat menyusui anak kedua karena dari segi usia bayi juga lebih tua ketimbang semasa ramadan dengan anak pertama. Dan lagi pasokan ASI saat melahirkan anak kedua memang jauh lebih lancar dibandingkan saat menyusui Najwa.

Berbagai tips agar ASI tetap lancar selama puasa sebenarnya sudah banyak diposting di berbagai media online, baik blog maupun portal berita khusus wanita. Tapi nggak pa pa lah ya, akan saya tulis ulang berdasarkan pengalaman yang telah saya lakukan sebagai ibu yang pernah mengalami gagal sekaligus berhasil menjadi busui selama ramadan.





Memastikan Kondisi Psikis Ibu Stabil

Sumber gambar : Pixabay
Temans pasti sudah sering mendengar, bahwa kondisi psikis seorang ibu sangat menentukan keberhasilan pemberian ASI pada bayinya. Dan menurut saya sih, super bener banget statement ini. Karena apapaun yang kita lakukan dengan hati bahagia pasti berujung maksimal hasilnya.

Dalam hal memberi ASI, rasa senang atau bahagia pada seorang ibu dapat memicu produksi hormon oksitosin. Hormon yang biasa disebut "hormon cinta" ini dapat merangsang keluarnya ASI, yang sebelumnya telah dirangsang produksinya oleh hormon prolaktin.

Temans bisa mengamati cara kerja oksitosin pada saat bayi mengisap payudara kita. Payudara yang mengerut seperti diperas, menunjukkan ASI yang telah diproduksi mulai mengalir dari pabrik susu menuju gudangnya. Kedua hormon ini, baik oksitosin maupun prolaktin saling mendukung satu sama lain untuk dapat menjaga pasokan ASI tetap lancar selama puasa. Dan, untuk memastikan keduanya bekerja secara maksimal, maka kondisi psikis ibu harus stabil bahkan usahakan selalu bahagia. 

Baca juga : Lika-liku Menyapih Anak


Konsumsi Sayur, Buah dan Protein dalam Jumlah Cukup

Sumber gambar : Pixabay

Banyak yang mengatakan bahwa sugesti dari ibu sangat menentukan banyak sedikitnya ASI yang dihasilkan. Hal ini juga berlaku untuk jenis-jenis makanan yang dikonsumsi selama menjadi busui. Maksudnya, makan apa saja asal sugesti kita oke, ya hasilnya bakalan oke.

Nggak salah juga sih, karena sudah banyak yang membuktikannya. Tapi, buat saya pribadi jenis makanan seperti sayur , buah dan protein baik hewani maupun nabati sangat membantu menjaga pasokan dan kualitas ASI. Justru yang saya rasakan, konsumsi karbohidrat dalam jumlah besar tidak terlalu memberi efek yang signifikan.


Konsumsi Air Putih Jangan Sampai Kurang dari 3 Liter per Hari

Sumber gambar: Pixabay

Meskipun bulan puasa, konsumsi air putih harus tetap dijaga ya. Usahakan selalu mendahulukan air putih ketimbang minuman manis lainnya. Kolak Pisang atau Es Buah memang segar dan menimbulkan efek senang saat berbuka. Tapi jangan sampai konsumsinya berlebihan sehingga tidak menyisakan ruang utnuk air putihnya.

Temans bisa mengkalkulasi sendiri manajemen air putih yang sesuai dengan kondisi tubuhnya. Kalau saya, 1 liter pertama saya konsumsi mulai dari berbuka hingga selesai waktu magrib. 1 liter lagi mulai isya hingga menjelang tidur. Nah, sisa 1 liter mulai sebelum sahur hingga imsak.


Konsumsi ASI Booster jika Dirasa Perlu

Sumber gambar: Pixabay

Kalau sekarang jauh lebih mudah menemukan ASI Booster karena sudah banyak dijual dalam bentuk kemasan, baik di apotik maupun toko perlengkapan bayi. Tapi, kalau saya sendiri sudah merasa cocok dengan Susu Kedelai tawar booster ASInya. Kebetulan kami punya langganan tukang Susu Kedelai yang bener-bener masih fresh saat diantar. Masih hangat dan belum ditambahkan perasa apapun di dalamnya.

Mungkin faktor sugesti juga ya, saya ngerasa payudara selalu penuh saat mengonsumsi Susu Kedelai pada waktu makan sahur atau menjelang tidur. Kelenjar ASI pun terasa kencang hingga menyembur saat disusukan pada si kecil. 

Temans boleh tentukan sendiri booster ASI yang dirasa cocok untuk dirinya. Itupun hanya jika Temans merasa perlu untuk menjaga pasokan ASI tetap lancar.

Istirahat Cukup

Sumber gambar : Family Share

Yang namanya ramadan nih, memang biasanya waktu istirahat kita jadi berkurang. Selain karena harus bangun pagi untuk mempersiapkan sahur. Rasanya sayang juga ya kalau tidak memanfaatkan bulan ini untuk memperbanyak ibadah sunah.

Tapi tetep ya,  harus pandai-pandai atur waktu agar tidak sampai kekurangan jatah istirahat. Meskipun ramadan, kegiatan sehari-hari sebagai ibu pastinya tidak berkurang, kan? Tapi justru malah bertambah. Untuk itu, manajemen waktu istirahat harus diatur sedemikian rupa. 

Dulu, waktu masih bekerja, saya selalu sempatkan sekitar 30 menit berdiam diri di mushola kantor. Ya, meskipun nggak benar-benar tidur. Setidaknya saya memiliki cukup waktu untuk menenangkan pikiran dan mengistirahatkan mata.

Begitu jadi ibu rumah tangga, saya selalu mengambil jatah tidur siang bersama si kecil. Meskipun hanya 30 menit juga, tapi lumayanlah. Karena sisa waktu selama si kecil tertidur harus saya manfaatkan untuk beberes dan melakukan pekerjaan rumah lainnya.

Baca juga : Najib dan Tumbuh Kembangnya setelah Disapih

Pada dasarnya sih, untuk urusan capek baik IRT maupun ibu bekerja sama saja. Hanya faktor kebebasan waktu yang membedakan. Toh, di manapun tempatnya semua ibu pada akhirnya menjadi ibu bekerja, kok. Hehehe … 

Selama menyusui anak kedua saya termasuk rajin mempraktikkan tips-tips di atas. Dari segi hasil memang jauh berbeda dengan anak pertama. Selain ASI lancar puasa pun bisa jalan barengan sama seluruh kegiatan momong 2 bocah dan beresin printilan di rumah.  

Nah, buat teman-teman yang masih galau dengan ASInya, apalagi sekarang sudah menjelang akhir 10 hari pertama. Yuk, buang dulu galaunya! Setelah itu, cobain deh tips sederhana dari saya. Ya, barangkali ada yang cucok gitu kan jadi seneng juga sayanya. Hihi … 

Meskipun bukan the expert dalam hal perASIan, pernah gagal juga, tapi saya dukung banget buat Temans yang terus berjuang untuk mengASI sambil berpuasa. 

Happy breastfeeding , Temans!






Ramadhan - Tradisi Boleh Beragam tapi Makna Tetap Seragam

|


Ramadhan selalu menghadirkan rindu. Rindu akan segala keistimewaan yang menjadikannya berbeda dengan sebelas bulan lainnya. Rindu dengan suasana religi yang begitu kental, terlebih karena kita hidup di negara yang mayoritas penduduknya memeluk agama Islam. Rindu dengan segala tradisi yang acap kali berbeda antara satu dan lain tempat. Rindu akan keluarga besar, masa kecil, sahabat dan makanan kampung yang berasa beda meskipun resep keluarga telah “diboyong” ke ibukota.

 

Ya, begitulah Ramadhan. Kalau tak beda maka tak perlu  menyebutnya istimewa sehingga sangat dinantikan seluruh umat di seluruh penjuru dunia. Bahkan adzan Magrib yang menggema saat senja mulai berubah warna, menjadi sebuah perantara akan memori masa kecil yang tak sekedar berharga. Namun sarat dengan nilai moral dan pendidikan dalam kehidupan nyata. 

Dulu, sore hari sebelum Magrib terakhir menjelang Ramadhan. Orang-orang tua selalu mengingatkan kami untuk mandi keramas sebagai simbol menyucikan diri. Padusan, sebuah tradisi membersihkan diri tidak hanya dari kotoran ataupun najis yang menempel di badan, namun tradisi ini lebih pada simbol untuk membasuh segala hal buruk yang melekat dalam diri, terlebih hati. Sehingga jasmani dan rohani bersih ketika melalui bulan suci.

Beberapa hari sebelum bulan suci ini tiba, warga nampak berduyun-duyun menyambangi makam keluarganya. Tak hanya mengirimkan doa sebagai inti dari ziarah kubur yang dilakukan. Besik kubur adalah tradisi lain yang urung dilewatkan. Membersihkan kotoran atau bahkan sampah. Menyapu sekitar area makam, membersihkan nisan dengan lap kain basah, memotong rumput yang terlalu tinggi dan mengganggu peziarah. 

Tak lupa kembang tujuh rupa ditaburkan serta menyiram air di bagian atas nisan. Meskipun kebiasaan ini sudah mulai ditinggalkan sebagian umat Islam. Tapi di kampungku, hal serupa masih melekat erat dan selalu dilakukan peziarah yang datang. Mungkin juga di kampung teman-teman.

Bagi saya pribadi, berziarah kubur tidak hanya tentang mengingat kematian. Kerinduan akan sosok almarhum papa sering kali menghadirkannya dalam mimpi-mimpi. Maka mengunjungi “rumah barunya” menjadi sarana berkomunikasi, meskipun hanya melalui lantunan ayat suci.

Selain dua tradisi di atas, Megengan merupakan ritual lain yang sayang jika dilewatkan. Kini, setelah tinggal di Jakarta dan menjadi orang tua. Saya sering membayangkan alangkah senangnya  jika DuoNaj memiliki kesempatan membawa pulang nasi lengkap dengan lauk pauknya dalam kotak kardus nasi.

Sepaket nasi putih atau Nasi Gurih dengan Sayur Lodeh Kentang, Mi Goreng, Tempe Tahu Bumbu Rujak, Telur rebus, Kerupuk Udang, Pisang dan Apem sungguh nikmat jika dimakan bersama dengan teman-teman di masjid. Dulu, sebelum ada kotak kardus nasi. Ibu selalu menggunakan Tebok atau nampan bulat dari anyaman bambu yang dialasi daun pisang sebagai tempatnya. 

Seiring perkembangan zaman, penggunaan besek atau kotak anyaman bambu kecil mulai digunakan meskipun tak berlangsung lama. Maraknya produk keranjang nasi dari plastik dan kemudian kotak kardus telah menggeser segala keunikan masa lalu. Menggantinya dengan dunia baru yang serba praktis dan katanya lebih higienis.

Segala tradisi itu hanyalah segelintir kenangan masa kecil akan Ramadhan yang terlalu lekat dalam hati. Buka bersama di masjid, berebut tempat dekat jendela saat tarawih.  Menelan sebagian air mentah saat mengambil air wudlu atau mandi menjadi cerita tersendiri bagi saya saat mulai menjalankan ibadah di bulan Ramadhan.

Waktu berlalu, kehidupan baru sebagai warga di ibukota membawa segudang cerita yang sungguh berbeda. Tak ada lagi tawa ceria dan kenakalan anak-anak kampung di masjid. Sebagai ibu, saya harus melihat DuoNaj melalui Ramadhan biasa-biasa saja. Hampir tak ada tradisi khusus yang kami lalui selama Ramadhan. Jakarta tetap “serba cepat” dan panas seperti hari biasa.

Tradisi Ramadhan ala kampung boleh jadi terlewat bagi kami yang di kota. Tapi nilai dan bagaimana memaknai Ramadhan harusnya bisa seragam bagi seluruh umat Islam. Puasa bukan hanya tentang lapar dan haus selama seharian. Untuk kemudian berpesta dengan aneka hidangan yang kerap kali berlebihan. Menuruti rasa “ingin” di lidah dan otak. Bukan kebutuhan tubuh yang sebenarnya tak banyak berbeda dengan hari biasa.

Ramadhan adalah momentum pengendalian. Mengendalikan jiwa dan juga raga. Mengendalikan diri untuk melawan hawa nafsu yang bisa jadi lebih dari sekedar untuk menyeruput segelas kopi di pagi hari karena sudah terlanjur menjadi kebiasaan. Tapi mengendalikan hati, pikiran, mata, mulut dan tangan yang sering kali lebih tajam dari ucapan lisan. 

Sungguh bahagia apabila diri mampu menuntaskan bulan ini dengan kemenangan. Bukan semata-mata karena gegap gempita hari raya di ujung pergantian bulan. Namun karena nilai, makna dan kemampuan mengendalikan diri yang harusnya tertinggal bagi setiap muslim selama melalui ujian Ramadhan.

Nilai-nilai yang membawa umat pada tujuan yang sama dalam kebaikan, kedamaian dan ketentraman. Tanpa perlu mencari tahu tradisi seperti apa yang biasa dilakukan. Besik, Padusan atau Megengan hanyalah simbol saja. Tanpa mengurangi kaidah kita sebagai manusia yang berhijrah menuju kebaikan.

Selamat menjalankan ibadah puasa, Temans! Semoga Ramadhan kali ini membawa ketentraman yang selama ini mulai terusik. Dan menjadi awal baru dalam kehidupan ini (lagi). Happy Ramadhan!



Custom Post Signature

Custom Post Signature