Parenting Story, Mom's Life, Tips

3 Permasalahan Kulit Akibat Pola Hidup yang Tak Seimbang

|

Coba penyesalan itu datangnya di awal, nggak akan ada orang yang nangis sesenggukan di depan cermin gara-gara mukanya beruntusan.  Apalagi penyesalan itu biasanya untuk hal-hal yang “enak” di awal, tapi “nggak enak” banget pada akhirnya. Ya, iyalah, kalau udah nggak enak di awal, siapa juga yang mau coba-coba. Ya, nggak sih?

Ceritanya saya mau tsurhat, nih. Barangkali nantinya pengalaman saya ini bakal bermanfaat buat teman-teman juga. Jadi gini ceritanya, pasca libur lebaran selama kurang lebih satu bulan ini, kulit wajah saya sukses beruntusan, gatal dan nggak enak banget buat dilihat, apalagi dielus. 
Padahal, beberapa bulan terakhir saya lagi seneng-senengnya sama pipi yang kenyal, kulit yang bersih dan segar. Nggak berubah jadi putih sih, karena memang dari sononya warna kulit saya sudah gelap. Ditambah saya nggak pakai produk pemutih instan. Tapi jadi seger aja, nggak kusam trus komedo plus pori-pori terlihat lebih bersahabat. 
Kalau ditanya produk perawatan wajah apa yang saya pakai. Sebenarnya sih produk lokal aja, pembersih dan penyegar zaman ibu-ibu kita. Ditambah pelembab dan krim malam dari salah satu produk kosmetik yang saya beli secara online. Lain kali akan saya tulis reviewnya di sini.

Baca juga :  Kulit Wajah Segar, Cerah dan Kencang dengan Face Peeling dan Peel Off Mask Mustika Ratu
Tapi, saya sadar betul bahwa pola hidup yang mulai seimbanglah yang banyak membantu regenerasi kulit wajah.  Sejak resolusi awal tahun 2017 lalu saya ikrarkan. Sebisa mungkin saya meluangkan waktu untuk komit melakukan perubahan-perubahan ke arah yang lebih baik pada diri saya. Salah satunya dalam hal kesehatan dan pola hidup seimbang.
Stretching ringan di sela-sela kesibukan rumah tangga. Konsumsi air putih tidak kurang dari 2,5 liter per hari. Memperbanyak serat baik dalam bentuk sayur atau buah dalam setiap porsi makan. Dan yang paling penting istirahat cukup, kurangi kebiasaan begadang dan marah-marah. Hehe … Maksudnya lebih rileks menghadapi anak-anak. Lebih  berdamai dengan diri sendiri dan segala keterbatasannya. Merdeka! Hihihi …

Baca juga: Berdamai dengan Diri Sendiri 

Efek yang mulai terasa dari kebiasaan baik ini adalah tubuh yang terasa mulai ringan. Sakit kepala dan tegang di bagian leher semakin berkurang. Dan belakangan, saya mulai senang berlama-lama di depan cermin untuk mengamati bekas jerawat di pipi kanan yang mulai memudar. Pipi pun rasanya lebih kenyal.
Apalagi selama Ramadan, pola makan yang teratur dan waktu yang terbatas membuat saya tak sempat mengunyah camilan di luar makanan utama. Hikmahnya saya hanya fokus pada protein, serat dan vitamin yang berasal dari sayur dan buah. Serta konsumsi air putih lebih optimal karena tidak tersisa waktu untuk mengonsumsi aneka jenis minuman lainnya. FYI, selama Ramadan saya berhasil mengonsumsi 3 liter air per harinya. Angka yang tidak pernah bisa saya capai saat hari biasa.
Namun begitu lebaran tiba, aneka camilan dan kuliner khas “ndeso” membuat saya tak bisa berhenti mengunyah. “Ahh … nggak setiap hari ini,” begitu saya berkelakar. Mulai opor, sayur lodeh, rendang, bakso, es buah sampai camilan manis lainnya sukses masuk ke perut. Saya masih mencoba untuk boosting asupan sayur dengan mengonsumsi pecel. Tapi ya sama saja, lha wong lauknya gorengan 5 biji. Belum kalau ada yang nawarin penutup jenang campur plus kolak pisangnya. Duh, nggak tahan saya. Kapan lagi kalau nggak pas mudik ke Magetan?
Tubuh saya memang nggak bisa dibohongi begitu saja. Begitu ada asupan yang kurang, atau justru berlebihan, “alarm” tubuh akan langsung berbunyi. Contohnya ya gangguan kesehatan dan kulit seperti yang saya sebutkan di atas tadi. Sedangkan yang lebih parah adalah kenaikan berat badan. Selama puasa berat badan saya normal cenderung turun. Begitu lebaran,  Mak! Bergeserlah jarum timbangan ke arah kanan.
Tapi yang paling terasa memang di bagian kulit wajah. Memang perubahan cuaca antara Magetan dan Jakarta lumayan signifikan. Di Magetan sangat sulit untuk bisa berkeringat, karena anginnya dingin dan kering, tapi matahari bersinar terang. Kondisi ini membuat kulit terasa kering dan mbesisik kalau orang Jawa bilang. Tapi tetap ya, faktor dari dalam lebih mendominasi. 


Kulit Wajah Kusam Tak Bersinar

Sumber gambar : feminina(dot)com

Belum sampai glowing maksimal, tapi saya merasakan kulit wajah  lebih segar saat mulai berkomitmen merubah pola hidup. Terutama perihal asupan dan menjaga kecukupan waktu istirahat. Belakangan waktu berlibur yang sangat sempit membuat kami lebih banyak mobile ke tempat saudara dan teman. Malam hari pun lebih banyak untuk ngobrol dan jalan-jalan keluar dengan saudara dan keponakan. 

Akibatnya jam istirahat memang sangat kurang. Apalagi acara keluarga padat setiap harinya. Hari ini ngapaian di rumah mertua, besok sudah ada acara di rumah orang tua saya. Hampir begitu setiap hari sehingga untuk mendapatkan tidur berkualitas pun sangat sulit. Sekali lagi sayang kalau nggak dimanfaatkan sebaik-baiknya. Kapan lagi bisa kumpul sama saudara?
Seperti biasa begitu tidak mendapatkan cukup tidur atau kelelahan, lingkaran hitam di bawah mata mulai nampak. Kali ini disusul dengan tampilan wajah yang mulai kusam dan terlihat layu, lelah. Saya pikir ini hanya sementara, setelah jam biologis kembali normal semuanya akan pulih dengan cepat.
Tapi, ternyata nggak semudah yang saya pikirkan, karena kondisi serupa masih terjadi pada kulit saya hingga hari ini. 


Daerah “T” Kembali Berminyak, tapi Kering di Bagian Pipi

Sumber gambar: Bintangt(dot)com

Salah satu yang paling bikin bete adalah minyak di wajah. Terutama di daerah “T” yang sangat mengganggu hasil akhir riasan. Saya paling sebal kalau habis pakai bedak, trus menumpuk di daerah hidung dan dahi karena area di situ lebih berminyak.
Setelah berbulan-bulan terlepas dari tampilan seperti itu, saya kembali harus menghadapinya. Kali ini ditambah kulit bagian pipi yang lebih kering dan sedikit bersisik. Untuk sementara waktu saya memilih meninggalkan bedak tabur. Daripada harus keluar rumah dengan wajah belang-belang. Bedak nggak nempel di bagian kulit yang kering tapi menumpuk di area “T”. 


Komedo dan Jerawat Datang Bebarengan

Sumber gambar: Dokter sehat(dot)com

Dua ini yang paling tak diundang. Eee lha kok malah datang bebarengan. Hidung terasa kasar dan jerawat kecil-kecil berwarna putih mulai muncul di pipi dan dagu. Huff! … Bete banget saya sama yang dua ini. Kalau jerawat sudah keluar, itu artinya sudah harus segera berbenah. Karena bagi saya, pemulihan setelah berjerawat bisa jadi tidak mudah. Saya sudah terlalu akrab dengan masalah kulit ini sejak di bangku kuliah.
Nggak ada alasan lagi untuk menunda. Harus segera kembali ke pola hidup yang selama 6 bulan sangat membantu memperbaiki kondisi kesehatan dan kulit saya. Untuk sementara saya menghindari begadang yang secara otomatis memengaruhi produktivitas dalam menulis. Tapi tak apalah, hanya sementara saja sampai semua berjalan normal. Saat libur sekolah usai maka saya akan lebih leluasa beraktivitas di siang hari.
Asupan air putih kembali 3 liter per hari, rutin membersihkan wajah pada pagi dan malam hari. Mengaplikasikan masker dan peeling dua kali dalam seminggu, pelembab dan serum wajah nggak boleh lupa lagi. Dan yang terpenting kembali membatasi minyak dan gula dalam makanan. Sebagai gantinya, sayur dan buah sudah mulai memenuhi isi kulkas dan meja makan.

Stay healthy and happy ya, Temans! Cheating sih boleh, asal jangan kebablasan kayak saya. Ingat selalu pemulihannya butuh kerja ekstra. Ya kan? Ya kan? ...







Mengajarkan Anak Cara Mengalokasikan Uang Angpau Lebaran

|
Lebaran benar-benar membawa berkah bagi anak-anak. Eh, tapi bukan berarti kita-kita yang udah nggak imut ini nggak ikutan dapat berkahnya, loh. Cuma beda aja jenis keberkahannya. Kalau anak-anak kan lebih riil bentuknya, hehehe ... Matre banget saya. 

Ya, apalagi kalau bukan uang angpau lebaran. Hampir semua anak menunggunya. Kalau sudah ramadan, yang ditunggu pasti lebaran dan amplop warna-warni berisi lembaran uang baru, kan? Sudah tradisi, dan hampir setiap anak menyukainya. 




Saking kepengennya bikin anak-anak semakin senang. Ibu saya sampai bela-belain bikin tas kain mungil buat 4 cucu perempuannya yang masih kanak-kanak. Semacam ada keyakinan cucu-cucunya ini bakalan repot kalau harus salaman sambil menggenggam amplop-amplop itu. Jadi, setiap habis salim, dapat amplop, langsung deh, cuss … Masuk ke tas kain mungil yang terselempang di pundak. So, mereka bisa bebas banget nyemil ini itu tanpa harus pegang-pegang amplop.


Hikmahnya juga anak-anak gak harus setor ke orang tuanya buat bantuin nyimpen. Mereka bisa simpan sendiri dan tentunya “lebih aman” dari intervensi  ibu-ibu macam saya. Yang suka khilaf pinjam duit anaknya, hihi … *tutupmuka


Lebaran ini tahun ke-6 buat Najwa, sedangkan Najib baru dua kali eksis ikut silaturahmi dari rumah ke rumah. Ya, karena lebaran pertamanya harus dilalui dengan sakit dan sempat opname di Yogya. Jadi saya sedikit protektif dan nggak mengajaknya keluar untuk bertemu orang-orang pada waktu itu.


Tahun-tahun sebelumnya, Najwa selalu menyerahkan uang angpaunya untuk disimpan saya. Biasanya, saya akan tabung atau belikan benda yang sedang diinginkannya. Misalnya dua tahun yang lalu saya belikan sepeda mini roda dua warna pink yang sekarang jadi kesayangannya. Lumayan sih, waktu itu kami hanya menambah 100 ribu sama ongkos bajaj dari Jatinegara sampai rumah. Selebihnya dibeli dengan uang angpaunya.


Pernah juga kami membantu menyimpan sementara. Untuk kemudian dibelikan sepatu, mainan atau digunakan sebagai uang saku saat liburan akhir tahun yang biasanya selalu rutin kami lakukan.


Beda dengan tahun ini. Karena Najwa sendiri yang menyimpan, dan dia sudah mulai paham dengan kepemilikan. Najwa nggak mau lagi saya atur-atur. Misalnya saya bantu simpan atau tabungkan di rekening saya. Dia langsung buka sendiri amplopnya, keluarkan isinya dan tumpuk sesuai pecahan yang sama. Setelah saya bantu hitung, dia langsung simpan di dalam tas dan lemarinya. Hahaha … Semacam ingin menyembunyikan dari saya.


Ayah Najwa yang melihat tingkah menggemaskan anak perempuannya langsung saja bersikap reaktif. Menanyakan akan digunakan untuk apa uang yang dimilikinya. Najwa bilang mau dipakai beli baju princess, beli mainan yang banyak dan buat jajan. Oh, No!! Baju princess buat apa to, Nduk? 😌


Kemudian kami tanya, apakah barang-barang itu memang penting dan dibutuhkan? Tentu saja Najwa paham pertanyaan kami, maka dari itu dia tidak benar-benar menjawabnya. Sebagai gantinya, dia berkata seperti ini, “Tapi aku kepengen, kan ini duitku sendiri, ya terserah aku, donk!”


Si ayah tak mau terlalu lama berkompromi dengan jawaban anaknya, dan langsung menegaskan bahwa barang-barang itu kurang penting. Karena baju baru lebaran saja sebagian belum dipakai. Lebaran ini memang Najwa dapat beberapa stel baju dari budhe-budhe dan tantenya. Mainan juga masih banyak, jajan apalagi. Jadi, mau tidak mau kami mengintervensi peruntukan uang lebaran yang tidak sedikit itu.


Sebagai gantinya, kami memberikan ide bagaimana jika dibelikan seragam sekolah saja. Oh ya, sekedar info bahwa Najwa sudah diterima di SD Negeri dekat rumah. Lumayan mepet umurnya, tapi lolos juga di gelombang kedua meskipun urutannya sudah mepet bawah.


Balik lagi ke ide beli seragam. Tentu saja Najwa menolak, dan beranggapan membeli seragam adalah tugas ayah ibunya, tentunya bukan dengan uang yang dia punya. Nah, ini nih. Jawaban kayak gini sudah saya duga bakalan keluar dari mulut mungilnya. So, si Ayah langsung mengambil inisiatif mengajaknya berdiskusi. Digelarlah rapat kecil keluarga, jiah … *kibasjilbab


Memberi Pengertian pada Anak






Kami pun memulai dengan menanyakan pada Najwa berapa jumlah uang yang diterima. Setelah najwa menyebutkan angkanya, kami mulai mengkonversi dengan kebutuhan yang mungkin dipenuhinya dengan uang tersebut.  Najwa masih berkilah, bahwa uang Najwa ya untuk Najwa. Kalau kebutuhan Najwa ya Ayah yang harusnya belikan. 


Kemudian secara bergantian kami menyampaikan, bahwa dalam keluarga kami tidak ada istilah uangku ya uangku. Ayah, ibu atau bahkan adik tak boleh ikut memiliki. Pemahaman seperti itu tidak berlaku untuk keluarga kecil kami. Terlebih menyangkut kepemilikan uang.


Mengapa? Karena kami sedang membiasakan anak-anak untuk mensupport satu sama lain. Tidak bersikap pelit dan harus saling membantu saat ada yang memiliki rezeki tambahan.  Caranya? Ya dengan menggunakan uang yang dimiliki untuk memenuhi kebutuhan pribadinya, sehingga meringankan pengeluaran keluarga. Kami menekankan pada kata dibutuhkan, bukan diinginkan. Karena seringkali barang-barang yang dibeli sebenarnya tak terlalu dibutuhkan. Hanya karena azas ingin atau tergoda dengan barang lucu berwarna pink hula-hula. Hahaha …kalau itu penyakit ibunya.


Membuat Skala Prioritas Berdasarkan Kebutuhan




Selanjutnya, kami pun mengajak Najwa mendata barang-barang yang dibutuhkannya. Selain seragam sekolah SD, ternyata Najwa harus membeli sepatu baru, terkait peraturan sekolah yang mewajibkan siswa-siswinya memakai sepatu dengan model khusus. 


Budget sepatu ini sebenarnya tidak masuk dalam daftar kebutuhan tahun ajaran baru. Karena kami tidak merencanakan perlengkapan sekolah baru di luar buku, peralatan tulis dan seragam. Tapi, apa mau dikata. Peraturan tetaplah peraturan yang harus ditaati oleh siswanya. So, sepatu baru mendapat prioritas kedua setelah seragam. Disusul kemudian alat tulis dan buku. 



Mengalokasikan Sebagian Kecil untuk Keinginannya





Nah, untuk membuat Najwa tetap senang. Kami menyetujui sebagian uang dialokasikan untuk membeli barang kesenangannya, dengan catatan harus bermanfaat. Dari sekian banyak list keinginan yang disampaikannya, Najwa memilih mainan ketimbang baju princess atau aksesories lucu. Tentu saja kami mengiyakan, karena mainan yang dipilihnya adalah Lego Block. Sangat cocok untuk melatih kesabaran, ketelitian, imajinasi dan sarana yang pas untuk berkegiatan bersama kami, orang tuanya.


Ternyata setelah seluruh pos-pos kebutuhan pribadinya terpenuhi, uang lebaran Najwa masih tersisa sekian ratus ribu. Tentu saja dia sangat girang karena berpikir akan menghabiskannya untuk jajan atau membeli apapun yang diinginkan. 

Eits … Tapi hal itu tidak berlangsung lama. Segera kami ingatkan tentang rencana berkunjung ke Sky World untuk yang kedua kalinya. Juga rencana menginap pada liburan sekolah semester pertama.

Najwa berbinar mendengar kami mengingatkan kembali tentang rencana-rencananya. Dan dia pun setuju untuk menyimpan sisa uang lebaran yang masih dimilikinya.


Akhirnya, seluruh uang itu tetap menjadi hak Najwa tanpa kami kurangi jumlahnya. Hanya saja kami ikut membantu mengarahkan peruntukannya. Najwa pun mulai memahami dan tidak keberatan dengan semua yang telah disepakati.


Kini, dengan bangga Najwa bisa berkata bahwa perlengkapan sekolahnya yang baru dibeli dengan uangnya sendiri.  Tentu saja hal ini sangat positif untuknya. Karena dia menjadi lebih semangat dan antusias untuk segera kembali ke sekolah. Lebih tepatnya ke sekolah barunya.


Mungkin kami terlalu konvensional sebagai orang tua. Tapi begitulah kami belajar  dari berbagai momen penting bersama anak. Bukankah tak ada satupun sekolah menjadi orang tua? Dan tak ada satu teori pun yang memberi garansi pasti berhasil untuk diterapkan dalam sebuah keluarga?  Maka bereksperimen adalah cara yang tak bisa kami hindari untuk menemukan formula yang tepat.






D.I.Y. - Membuat Mainan Anak dari Bahan Bekas di Rumah

|


"Bermain adalah dunianya, tempat bermain menjadi istananya, sedangkan anak-anak ibarat raja dan ratu penguasanya." 


“Ibuk, astonot ntu apa? Adik au adi astonot!” (“Ibuk, Astronot itu apa? Adik mau jadi astronot!”). Belasan kali kalimat itu terucap dari mulut kecil Najib. Hingga saya mulai kewalahan menjelaskan tentang astronot dan berbagai hal yang ada di ruang angkasa. Tentu saja perasaan kewalahan ini  muncul, karena untuk menjelaskan hal serumit ini kepada seorang batita memerlukan trik dan kalimat sederhana agar mudah dipahaminya.


Belum lagi kalau penjelasan itu tidak sesuai dengan imajinasi kakak Najwa yang sudah lebih tahu tentang hal-hal yang berkaitan dengan tata surya kita. Bukan cuma dikomplain, berulang kali saya harus menerima interupsi di tengah keasyikan mengobrol bersama sang bujang.


Hampir dua bulan sejak Najwa dan Najib semakin excited dengan segala hal yang berkaitan dengan ruang angkasa. Semua itu bermula sejak saya dan suami mengajak mereka berkunjung ke Sky World. Salah satu wahana di TMII Jakarta yang menyajikan segala hal yang berkaitan dengan kehidupan ruang angkasa, serta berbagai fenomena yang terjadi di alam.

 DuoNaj goes to Sky World, TMII, Jakarta.


DuoNaj goes to Sky World, TMII, Jakarta.






Semenjak hari itu, rasa ingin tahu mereka tentang planet, bulan, matahari dan tentu saja astronot semakin membuncah. Walaupun sebenarnya cerita-cerita tentang kehidupan ruang angkasa sudah lebih dulu saya perkenalkan melalui majalah Bobo yang selama 2 tahun terakhir ini menjadi salah satu koleksi bahan bacaan di rumah.


Seolah khawatir kehabisan ide berdiskusi dengan DuoNaj yang semakin bergairah dengan rasa ingin tahunya. Saya pun meminjam satu buku berjudul “Drama Ruang Angkasa” dari keponakan saya yang kebetulan memiliki kesenangan serupa. 


Buku Seri Penjelajah Ruang Angkasa ini tidak hanya membantu saya mendapatkan ide untuk bercerita, berdiskusi bahkan bermain dengan kedua bocah kinestetik di rumah. Tapi buku ini semakin melambungkan daya imajinasi mereka dengan segala hal yang ada di dalamnya. 


Begitulah awalnya hingga pertanyaan-pertanyaan baru seperti, “Bagaimana kalau astronot kebelet pipis di ruang angkasa?”  “Apakah Alien itu benar-benar ada?” “Bagaimana kalau kita dipindah ke planet Mars?” Bahkan pertanyaan tentang apa yang terjadi jika pesawat ulang alik tidak bisa kembali ke bumi, meluncur dengan lancar dari mulut kecil DuoNaj..


Rentetan pertanyaan seperti itu memang lebih sering muncul dari rasa penasaran Najwa yang kemudian diikuti adiknya. Najwa memang sudah lebih banyak menyerap informasi mengenai segala hal yang kami baca atau ceritakan di setiap ada kesempatan. Tapi, jangan salah. Adik Najib yang baru berusia 2,5 tahun pun tak mau ketinggalan dengan dunia imajinasinya sendiri sebagai seorang astronot. Hingga akhirnya, kami harus mencari berbagai video yang berkaitan dengan misi pengiriman pesawat ulang alik ke bulan. Lengkap dengan penampakan para astronot dengan baju khusus dan perlengkapannya.


Seketika itu, kami sebagai orang tua harus belajar banyak hal untuk memuaskan rasa ingin tahu anak-anak.  Tidak hanya menggunakan media video atau membaca buku cerita, kami pun mulai bermain peran dengan mereka. Bermain role play dengan memeragakan kehidupan di ruang angkasa tak luput membuat saya mengambil salah satu peran. Ya, tentu saja peran sebagai alien yang saya dapatkan. Karena anak-anak sudah memutuskan ingin menjadi astronot yang mereka anggap hebat.


Tak disangka, melalui permainan role play ketertarikan anak-anak terhadap suatu hal semakin mendalam. Misalnya ketika saya mendemonstrasikan bagaimana seorang astronot berjalan. Si Najwa malah bertanya, “Apakah baju astronot itu berat?”


Hal ini dikarenakan saya mendemonstrasikan cara berjalan astronot dengan sangat pelan dan berhati-hati. Sehingga anak-anak menyimpulkan baju astronot itu sangat berat. Haha … Kenyataannya memang benar, bahwa baju astronot itu berat.  Begitu setidaknya yang saya baca dalam salah satu sumber bacaan.


Belum puas dengan permainan role play yang menggambarkan kondisi seorang astronot dalam misi ruang angkasa. Adik malah merengek minta dibelikan helm dan tas ransel astronot. Hem ... mungkin perlengkapan yang ada dipunggung astronot yang dimaksudkannya. Berulang kali dia meminta, sampai-sampai menelepon ayahnya hanya karena menyampaikan keinginan serupa.


Waduh! Yang ini sempat membuat saya uring-uringan, karena Najib agak susah dialihkan kalau sudah memiliki keinginan. Dia terus bilang mau jadi astronot dan terbang ke bulan. Minta baju dan juga helmnya. “ Ya Allah, Dik. Mana ada juga yang jualan bau astronot. Kalaupun ada juga pasti harganya mihil. Duh ... Sayang bingit", begitu gumam mak irit dalam hati.

Karena tidak tahan dengan rengekan Najib yang berlangsung selama berhari-hari, saya pun berpikir untuk mencari tutorial D.I.Y. perlengkapan astronot untuk anak. Ahai! Saya pun gembira bukan kepalang saat  menemukan satu tutorial yang lumayan mudah untuk kami praktikkan. Terlebih bahan-bahannya pun murah karena hanya menggunakan barang bekas yang ada di rumah.


Saya tak mau melewatkan kesempatan mengajak Najwa dalam proyek pembuatan perlengkapan astronot adiknya. Untuk itu, saya memintanya membantu menyiapkan beberapa bahan dan mengerjakan bersama. Saya pikir, proyek ini bukan hanya menyenangkan untuk adik. Tapi bagi kakak, keterlibatannya dalam membuat permainan dari bahan bekas dapat menjadi stimulasi untuk memantik daya kreasi dan imajinasinya. Dan tentu saja memberikan kebanggaan tersendiri atas hasil karyanya.


Nah, teman-teman di rumah bisa ikuti step by step berikut jika ingin membuat mainan serupa. Tapi jangan lupa siapkan terlebih dahulu seluruh bahannnya.


Step by step membuat mainan perlengkapan astronot



Alat dan Bahan



1. Helm kecil milik anak. Boleh helm untuk berkendara motor, atau helm sepeda.
2. 2 buah botol bekas minuman ringan.
3. Kardus bekas susu atau sereal
4. Kertas warna putih. (saya memakai kertas HVS bekas nge-print)
5. isolasi bening.
6. Kertas krep atau kertas pewarna merah.
7. Tali rafia secukupnya.
8. Gunting kertas.


Cara membuat

  1.  Bungkus helm anak dengan kertas warna putih. 
  2. Bungkus setiap botol bekas dengan kertas warna putih.
  3.  Bungkus kardus susu/ sereal dengan kertas warna putih. 
  4. Rekatkan 2 botol bekas minuman ringan yang telah dibebat kertas warna silver  dengan dobel tape atau isolasi bening biasa pada kedua sisi kardus susu.
  5.  Pasang kertas krep atau kertas pewarna merah sebagai ornament api. 
  6. Pasang tali rafia di bagian kardus bekas yang menempel di punggung dengan isolasi. Fungsi rafia sebagai tali untuk menggendong mainan di punggung anak. 
  7. Foila! Si kecil pun siap menjadi astronot kebanggan orang tua.





Kami cukup puas dengan hasil akhirnya. Terlebih, karena Najwa mengambil peran dominan dalam proyek membuat mainan untuk adiknya. Secara tidak langsung pengalaman ini meninggalkan banyak kesan baginya. Nah, berikut adalah beberapa manfaat melibatkan anak dalam proyek-proyek sederhana bersama orang tua:


Manfaat Melibatkan Anak dalam Project Orang Tua


1. Meningkatkan kepercayaan dirinya.

Anak akan merasa mampu dan diperhitungkan keberadaannya dalam pekerjaan orang tua. Serta meningkatkan kepercayaan dirinya atas keterampilan yang dimilikinya.


2. Mengasah kreativitas.

Membuat permainan atau apapun jenis kerajinan yang diajarkan pada anak secara tidak langsung mengasah kreatifitas mereka untuk mengeluarkan ide yang ada di kepalanya.


3. Mengembangkan imajinasi dan kemampuan berpikir.

Membuat suatu proyek atau kerajinan yang berawal dari suatu hal yang hanya mereka lihat dalam bahan bacaan, tanpa pernah menyentuh atau melihatnya secara langsung. Mau tak mau akan mengembangkan imajinasi anak terhadap benda-benda tersebut. Cara ini dapat mengoptimalkan kemampuan berpikir anak mengenai suatu hal dan permasalahan yang harus dihadapi dalam proses pengerjaannya.


4. Menumbuhkan kebanggaan pada diri anak.

Menumbuhkan kebanggan diri pada anak tidak melulu dengan prestasi akademis atau menjadi juara dalam perlombaan. Membuatnya merasa mampu melakukan suatu hal untuk orang lain hanyalah satu dari sekian banyak cara yang dapat digunakan orang tua sebagai perantara menumbuhkan kebanggaan pada diri anak.


5. Memberikan pengalaman yang mengkristal pada diri anak.
Bahwa anak-anak akan menyimpan suatu hal sebagai kenangan dalam hidupnya, kita semua pasti sudah mengetahuinya. Tapi, pengalaman manakah yang nantinya dapat memengaruhi keseluruhan hidupnya, tentu saja orang tua tak dapat memastikannya.

6. Melatih motorik halus dan kasar.
Aktivitas menggunting, menempel dan melipat sangat baik untuk menstimulus motorik halus dan kasar anak. kemampuan ini harus dioptimalkan sebelum anak memasuki jenjang pendidikan dasar. Sehingga lebih mudah ketika harus mulai untuk belajar menulis atau menggambar.
 
Mengajak anak berkegiatan positif merupakan salah satu usaha memberikan pengalaman yang mengkristal pada diri mereka. Kita tak pernah tahu, bisa saja suatu saat mereka memiliki satu impian untuk masa depannya berkat pengalaman-pengalaman positif yang difasilitasi orang tua.



Sedangkan bagi saya sebagai orang tua, bermain dan melakukan proyek sederhana dengan anak tidak hanya menjadi sarana mempererat bonding. Namun dari kegiatan ini, saya bisa memasukkan nilai-nilai positif untuk mengiringi tumbuh kembangnya.


Tidak hanya saya dan Najwa, Najib pun sangat gembira dengan mainan barunya. Bahkan dia sudah tak sabar untuk segera menuju bulan dengan segala khayalan dalam dunia imajinasinya.


Proyek seperti ini sebenarnya bukan pertama kalinya saya lakukan bersama Najwa. Sebelumnya, kami sudah terlebih dulu membuat mobil-mobilan untuk Najib dari kardus bekas. Masih ingat betul dalam ingatan saya, saat itu si adik sedang senang-senangnya belajar tentang alat transportasi. Maka dari itu kami putuskan membuat sendiri mainan mobil-mobilan bermodal kardus bekas di rumah.





Bersyukur memiliki dua anak dengan kecenderungan kecerdasan kinestetik yang sudah mulai tampak sejak awal. Untuk kakak memang sempat agak sulit mendeteksi ciri-cirinya, karena pada usia 1 hingga 2 tahun, justru kecerdasan visual yang dominan. 

Memilih Jenis Permainan untuk Anak 


Menjadi orang tua dari dua anak yang memiliki pola belajar dengan beraktivititas atau bergerak, mau tak mau membuat saya harus menyediakan energi ekstra untuk mendampingi mereka. Apalagi kami hanya tinggal berempat dengan suami yang tingkat kesibukannya di luar rumah lumayan tinggi. Sehingga sebagian besar waktu bermain dan beraktivitas anak lebih banyak dihabiskan dengan saya.


Dalam memilih permainan, saya cenderung mengarahkan mereka pada jenis permainan yang aman tapi merangsang komunikasi dan daya imajinasi anak. Permainan role play merupakan permainan yang paling sering kami lakukan. Meskipun tak jarang si adik lebih memilih berlari dan lompat-lompat di atas kasur yang menurutnya menyenangkan.


Ya, saya tak dapat mengesampingkan manfaat permainan fisik bagi anak. Maka dari itu porsi untuk melakukan permainan jenis itu tetap kami sediakan. Tentunya dalam pengawasan orang tua sehingga dapat dipantau keamanannya.


Dalam permainan apapun, faktor keamanan dan kenyamanan selalu menjadi pertimbangan utama. Maka dari itu saya berusaha untuk selalu mendampinginya, sehingga dapat memastikan anak-anak tidak melakukan permainan yang membahayakan keselamatannya. Dan yang tidak kalah penting mereka nyaman dan betah berlama-lama dengan kesenangan kecil yang mereka ciptakan dalam dunia imajinasinya.

Waspada dengan perubahan kondisi anak


Sebenarnya, dalam setiap permainan yang dilakukannya, anak sedang mengeksplorasi dan belajar banyak hal baru dalam kehidupannya. Tapi terkadang mereka lupa dengan kondisi tubuh yang bisa saja menurun karena faktor kelelahan. 


Untuk itu, saya berusaha waspada dan awas dengan perubahan kondisi tubuh dan psikologis anak. Ketika si kecil sudah terlihat lemah dan tidak bersemangat. Segera saja saya mencari tahu kemungkinan gangguan tubuh yang menyerang mereka.


Biasanya saat kondisi tubuh mereka menurun, maka gangguan panas atau demam yang paling mudah dideteksi secara manual. Oleh karenanya, saya selalu sedia thermometer untuk mendeteksi perubahan suhu tubuh anak dan obat penurun panas jika dirasa perlu sebagai pertolongan pertama.


Khusus untuk obat penurun panas, saya sudah memilih Tempra sejak pertama kali menjadi orang tua. Tempra merupakan obat warisan dalam keluarga besar saya, karena kami telah menggunakannya secara turun temurun sejak belasan tahun yang lalu.






Tahun lalu, Tempra Drops dan Tempra Syrup masih menjadi persediaan obat-obatan di rumah. Namun sejak si adik berusia 2 tahun, kami hanya menyediakan varian Tempra Syrup untuk menurunkan panas atau nyeri yang bisa sewaktu-waktu menyerang anak-anak.


Produk dari PT. Taisho ini tidak hanya ampuh menurunkan panas dan deman pada anak, tapi ketika mereka mengalami nyeri akibat pertumbuhan gigi, Tempra sangat membantu mengurangi rasa tidak nyaman yang dapat ditimbulkan. 

Obat penurun panas ini sangat saya rekomendasikan untuk orang tua yang masih memiliki anak balita atau menjelang usia sekolah. Karena pada usia tersebut, anak-anak masih sangat rentan terserang gejala panas akibat kelelahan atau nyeri akibat pertumbuhan pada giginya.

Memiliki anak dengan tingkat aktivitas tinggi mau tak mau membuat kita harus lebih waspada, dan terlibat dalam permainan-permainannya. Usahakan untuk tidak membatasi anak dalam mengeksplor segala hal yang ingin diketahuinya melalui permaian. Tapi selalu pastikan bahwa permainan mereka aman dan membuat anak nyaman untuk berlama-lama dalam dunia imajinasinya.


Artikel ini diikutsertakan dalam lomba blog Tempra yang diselenggarakan oleh Blogger Perempuan Network dan Taisho. Artikel ditulis berdasarkan pengalaman dan opini pribadi. Artikel ini tidak dapat menggantikan hasil konsultasi dengan tenaga kesehatan profesional.















Custom Post Signature

Custom Post Signature