Parenting Story, Mom's Life, Tips

[Resensi[ Mengenal Bumi melalui Buku Seri "Dunia Kita"

|

Di planet mana kita tinggal?

Mengapa harus bumi dan bukan mars?

Di bumi ada apa saja, sih, Buk?

Bumi itu luas nggak?

Siapa saja yang ada di bumi? Alien nggak ada, ya?



Pertanyaan-pertanyaan semacam itu pasti pernah teman-teman dengar dari mulut anak-anak? Benar, kan? Saya pun sedang menghadapinya. Rasanya seperti sedang menghadapi ujian, loh! Sekalinya dapat pertanyaan, kayaknyawajib banget menggali informasi untuk mendapatkan jawaban yang tepat.


Apalagi anak-anak sekarang semakin kritis. Sekali dia mendengar sebuah informasi, berkali-kali mereka menyerang kita minta penjelasan yang detil dan tentu saja mudah diterima logikanya.


Dulu, saat masih bekerja di sekolah. Saya sering mendengar teman-teman pengajar curhat tentang “unik” dan “ajaibnya” pertanyaan dari siswa. Kini, saya mengalami sendiri di rumah. Menjadi orang tua tak hanya harus berhadapan dengan pertanyaan-pertanyaan “ajaib” tapi juga memaksa kami menjadi “kamus berjalan” anak. Bahkan kalau bisa menjadi perpustakaan pertama. Hem …


Sempat mencari bahan dari internet untuk menjawab pertanyaan DuoNaj. Menunjukkan gambar miniatur bumi tempat tinggal kita, menunjukkan kekayaan alam yang tersimpan di dalamnya. Bahkan kami membawa si kecil mengunjungi beberapa tempat untuk memberikan pengalaman nyata. Seperti ke sawah, untuk hasil alam yang berupa hasil panen sayur, buah dan padi sebagai bahan makanan pokok.


Tapi nampaknya anak-anak masih kurang puas. Mereka butuh bahan bacaan yang bisa mereka “sambangi” sewaktu-waktu untuk melihat-lihat kembali. Dan tentu saja  buku bacaan dengan tampilan visual menarik yang mereka butuhkan.



Tentang Buku Seri “Dunia Kita”





Kebetulan sekali, pada saat itu penulis buku  Seri “ Dunia Kita” sedang mempromosikan buku terbarunya. Saya memang salah satu follower D.K. Wardhani, karena selalu menunggu update buku dan informasi terbaru serta tips dan trik dari beliau yang saya rasa sangat bermanfaat. 


Tanpa berpikir panjang, begitu ada informasi preorder disertai gambaran singkat tentang “Dunia Kita”, saya pun langsung memesannya. Dan tidak disangka  harus menunggu restock  karena stok awal langsung ludes terjual.


Seri Dunia Kita adalah buku bergenre nonfiksi anak. Bukunya tidak terlalu tebal, namun sangat komunikatif dan menyajikan visual yang tentu saja memanjakan mata. Saya saja senang melihat dan membacanya, apalagi anak-anak.





Dalam satu seri, terdapat 4 judul yang terbagi dalam 4 buku yang berbeda. Yaitu:

1. Bumi dan Penghuninya .

2. Bumi Penyedia Kebutuhan Kita

3. Bumi Sumber Daya Kita

4. Bumi Tempat tinggal Kita


Buku ini pas banget untuk menjawab pertanyaan “ajaib” anak-anak. Karena mereka tidak hanya akan mencari tahu mengapa kita tinggal di bumi dan bukan mars? Tapi juga, mereka akan tahu  di dalam perut bumi itu ada apa saja, sih?


Buku yang rata-rata setebal 36 halaman ini dicetak dengan kualitas print yang sangat baik. Full color dan tentu saja penuh gambar. Penjelasannya singkat namun mudah dipahami anak-anak. Dilengkapi dengan glosarium dan fakta seru yang membuat anak-anak lebih mudah mengingat hal-hal yang dirasa penting.

Sumber Gambar : D.K. Wardhani


Selain itu, Seri “Dunia Kita" juga dilengkapi dengan halaman aktivitas untuk anak. Misalnya pada buku yang berjudul “Bumi Tempat Tinggal Kita”, anak-anak akan diajak melengkapi titik-titik pada proses siklus air. Sehingga anak tidak hanya membaca, namun mengaplikasikan pengetahun baru yang mereka serap dalam kegiatan. Aktivitas ini bisa juga orang tua gunakan sebagai bahan kuis dengan anak.  Sehingga anak lebih bersemangat dalam membaca dan mendiskusikannya.


Menurut saya pribadi, buku ini sangat relevan untuk dibacakan pada anak-anak bahkan untuk batita. Karena sekecil apapun informasi yang mereka serap, kenyataannya dapat meninggalkan kesan dan pesan pada diri anak. Perpaduan antara buku dengan tampilan visual menarik dan komunikatif, ditambah gaya penyampaian orang tua yang atraktif. Maka dijamin pesan yang ingin disampaikan lebih mudah "tertinggal" pada memori anak.






Untuk anak-anak yang baru belajar membaca, jenis buku seperti Seri “Dunia Kita” juga sangat cocok untuk memantik minat baca. Kalimatnya pendek-pendek, tulisannya besar dan  disandingkan berbagai gambar berwarna, membuat mereka tak mudah bosan dan menyerah untuk menyusuri halaman demi halaman.


Tentang Penulis


D.K Wardhani adalah seorang homeschooler, author buku anak dan seorang illustrator. Pendiri komunitas Sahabat Alam Cilik ini begitu concern dengan isu terkait pelestarian alam untuk menjaga kelangsungan kehidupan umat manusia di masa depan.


Salah satu karyanya yang bertema lingkungan adalah “Komik Muslim Cilik Sayangi Bumi”. Tentu saja sudah tak terhitung buku dan ilustrasi yang dibuatnya untuk mengkampanyekan isu-isu pelestarian bumi dan lingkungan.


Penulis dapat dijumpai di FB : “Dini” Dian Kusuma Wardhani atau IG @dkwardhani. Ada banyak info seputar recycle life, kampanye pelestarian alam, tips-tips menarik dan informatif. Serta tentu saja aneka buku karya sang penulis.


Secara keseluruhan, saya puas dan merekomendasikan buku ini sebagai salah satu koleksi untuk anak. Sebagai media belajar, Seri “Dunia Kita” sangat informatif. Sebagai bahan bacaan, buku ini sangat menarik dan membuat anak tak bosan untuk melihat-lihat gambar di dalamnya.


Pembelian buku ini bisa dilakukan secara online. Teman-teman bisa langsung add social media penulis untuk memperoleh informasi yang lebih mendetil perihal cara pemesanan dan promo yang mungkin ditawarkan.


Bravo, Mbak D.K. Wardhani!😊😘



Seri “Dunia Kita”

1. Bumi dan Penghuninya .

2.  Bumi Penyedia Kebutuhan Kita

3. Bumi Sumber Daya Kita

4. Bumi Tempat tinggal Kita

Penulis : D.K. wardhani

Ilustrator: InnerChild Studio

Penerbit: Tiga Ananda, creative imprint of Tiga Serangkai

Cetakan pertama : Mei 2017

Jumlah halaman : Rata-rata 36 halaman

Harga : Rp. 90.000/ 4 buku



#ODOP
#day3
#bloggermuslimahindonesia


Tips Toilet Training untuk Anak Laki-laki

|


Toilet training bisa jadi lebih mudah bagi bayi perempuan. Setidaknya itu yang saya alami bersama Najwa. Menjelang usia 2 tahun, Najwa sudah siap berpisah dengan diapersnya. Dimulai dengan melepasnya pada siang hari, berlanjut saat jam tidur malam, dan puncak keberhasilannya saat dia pergi ke play group tanpa diapers. Bravo, Najwa!


Seingat saya pun Najwa lebih cepat memberikan sinyal ketika ingin pipis atau pup. Malam hari sebelum tidur juga selalu mudah diajak ke kamar mandi untuk mencuci tangan, kaki, muka dan membuang hajat kecilnya.


Beda anak beda juga ceritanya. Kalau sama namanya bukan tantangan, donk! My baby boy Najib Arya Djati ini dari kecil nggak cuma jago nenen, tapi juga jago “beser”. Saya ingat banget, pas awal-awal lahir, sehari dia bisa pipis sampai 18 kali. Setiap habis minum ASI, pasti popoknya langsung basah. Begitu terus entah siang atau malam. Untuk urusan pup pun sama. Bahkan sampai sekarang dia rutin pup 2 kali dalam sehari.



Kapan Mulai Toilet Training?


Babycentre.com


Saya nggak ingat betul kapan pastinya. Tapi kalau nggak salah, sejak usia 18 bulan saya sudah mengurangi penggunaan popok sekali pakai pada siang hari. Tapi, karena si kecil tidak pernah menunjukkan tanda-tanda yang berarti. Jadilah dia ngompol di sana-sini.


Umumnya, jika menjelang tidur atau setelah bangun diajak buang air, anak-anak jarang sekali ngompol lagi. Kalaupun kepengen pipis, ortu bisa nandain setiap satu jam sekali.

Najib memang agak ajaib dalam urusan yang satu ini. Misalnya ketika bangun tidur saya bawa ke kamar mandi untuk pipis, 15 menit kemudian dia sudah ngompol lagi. Biasanya dalam satu jam dia bisa ngompol 3 sampai 4 kali. Lumayan susah juga menandai kapan waktunya.  Karena kadang-kadang saat diajak ke kamar mandi anaknya malah nggak kepengin. 

Tapi, tepat setelah usianya genap dua tahun, saya mulai menerapkan toilet training secara konsisten.  Meskipun tantangannya  masih sama --- ngompol di mana-mana --- tapi, perlahan mulai teratur dan berkurang volumenya. 


Sampai hari ini pun kami belum berhasil 100%. Kadang-kadang, pas siang hari anaknya minta pakai diapers. Katanya biar nggak ngompol. Atau pas lagi diajak pergi gitu, sesekali masih ngompol karena nggak kuat nahan atau nggak ngomong kalau udah kebelet.  Saya tetap bersyukur karena progress-nya sudah berjalan sekitar 60%. Cuman masalah pup yang masih suka sembunyi-sembunyi di belakang pintu. Dan tentu saja ini kembali menjadi tantangan bagi saya.


Well, sekecil apapun progres yang ditunjukkan, sebaiknya tak perlu menunda untuk melakukan toilet training pada anak. Terlebih untuk anak laki-laki, yang menurut saya lebih lama dan lebih besar tantangannya.  Segera setelah mereka terbiasa dengan kebiasaan baru yang orang tua terapkan, maka  anak pun akan semakin siap dan menunjukkan perkembangannya.

Iklan dulu ya 😃 : Najib dan Tumbuh Kembangnya Pasca Disapih


Tips Toilet Training untuk Anak Laki-laki 


1. Mengurangi penggunaan diapers


Hal pertama yang saya lakukan untuk melihat kapan dan seberapa sering frekuensi kencing anak adalah dengan mengurangi penggunaan diaper. Siang hari saat anak bermain, saya melepaskan diapernya hingga sore hari. Namun, setelah mandi sore hingga malam hari masih saya gunakan. Hal itu berjalan sekitar 6 bulan. Mulai si kecil berusia 18 hingga 24 bulan.


Setelah usia 24 bulan atau 2 tahun, perlahan saya mulai kurangi penggunaan pada malam hari. Dengan catatan, sebelum tidur saya  mengajak anak buang air kecil terlebih dahulu. Dan jika memungkinkan membangunkannya pada malam hari.  Cara ini lumayan membantu membentuk kebiasaan baru untuk anak. Meskipun ngompol di kasur masih jadi resiko yang harus dihadapi.


Penggunaan diaper saat bepergian masih saya lakukan hingga 6 bulan setelah ulang tahunnya yang kedua. Untuk sekarang pun, jika bepergian dengan jarak relatif jauh  saya masih pakaikan. Buat jaga-jaga saja, daripada kenak marah orang.  Sebenarnya, sejak Najib mulai lancar ngomong, dia pun mulai rajin minta ke kamar mandi atau toilet. Ya, tapi demi keamanan aja, khusus saat bepergian jarak jauh masih saya gunakan diaper.


babycentre.com



2. Mengajarkan buang air dengan cara duduk baru berdiri.


Meskipun pada anak laki-laki, saya tetap mengajarkan cara buang air kecil dengan duduk. Mengapa? Karena hal ini penting untuk membiasakannya buang air besar.  FYI, Najib masih suka berdiri sambil sembunyi saat kepengen pup. Walhasil, pup selalu di celana. Kecuali kami lebih dulu melihat sinyal darinya dan langsung mendudukkannya di potty seat.

3. Menyediakan perlengkapan toilet training



Amazon.com



Berbeda dengan Najwa yang sama sekali tidak menggunakan perlengkapan toilet training. Sengaja kami membelikan potty seat untuk Najib. Hal ini dikarenakan closet kami yang lumayan tinggi dan memang bukan ukuran anak-anak. Sehingga kurang nyaman terlebih untuk balita.


Awalnya si kecil tetap menolak meskipun kami telah membeli potty seat sesuai pilihannya. Namun lambat laun dipakai juga. Tapi hanya saat buang air besar saja digunakan. Saat pipis, Najib lebih memilih langsung di lantai kamar mandi. Mungkin sudah kebelet banget. Hehe …


Saat membeli perlengkapan toilet training pastikan yang aman dan nyaman untuk anak. Sebisa mungkin, usahakan juga anak ikut saat membeli, sehingga bisa memilih dan mendengarkan cara penggunaannya dari penjaga toko.


4. Demonstrasikan penggunaan perlengkapan toilet training anak


Parent Magazine.com

Si kecil pasti memiliki boneka, robot atau miniatur binatang kesayangan, bukan? Nah, cobalah untuk mendemonstrasikan penggunaan potty seat dengan mainan kesukaannya tersebut. Orang tua bisa menyampaikan bahwa teman-teman si kecil juga pipis di tempat yang sama. Dengan begitu, anak akan lebih termotivasi untuk menggunakannya.


Jika memungkinkan, carilah mainan lain yang dapat digunakan sebagai potty seat atau closet untuk mainan anak. Sehingga si kecil memiliki kesempatan untuk duduk berlama-lama di kamar mandi untuk buang "hajat" bersama mainan kesukaannya. Hehe … Ribet, ya? But, it works for my son.


5. Belikan pakaian dalam yang menarik


Si Najib sedang senang-senangnya dengan spiderman dan segala hal yang berbau alat transportasi. Untuk itu saya membelikan celana dalam bergambar tokoh atau benda favoritnya. Cara ini sangat membantu, karena dengan sendirinya si kecil lebih memilih memakai  celana dalam ketimbang diapers.


Meskipun bergambar, saya tetap memilih model celana dalam layaknya milik pria dewasa. Hal ini untuk menunjukkan kepada si kecil bahwa dia sudah besar dan sudah memakai celana dalam seperti ayahnya. Sehingga, cara dan tempat buang airnya pun sudah bisa sama dengan ayah.


6. Tetapkan jadwal ke toilet


Sedikit melelahkan di awal, tapi dengan cara ini anak lebih cepat mengenali hasrat ingin buang air. Segera setelah anak terbiasa dengan jadwalnya, maka mereka akan menyampaikan kapan ingin pipis atau pup. Cara ini juga sangat membantu pengasuh baik di rumah maupun di day care karena anak sudah dapat mengkomunikasikan kebiasaan yang dibentuk orang tua.

Baca juga yang ini : Lika-liku Menyapih Anak


7. Berproses


Menurut pengalaman saya, anak perempuan cenderung lebih cepat dalam proses toilet training. Tapi, hal ini tidak selalu sama pada setiap anak. Nikmati prosesnya dan hindari terlalu memaksa pada anak, karena dikhawatirkan justru anak akan mengalami trauma.


Pada kondisi normal, menginjak usia 3 tahun seorang anak baik laki-laki maupun perempuan sudah sangat siap bahkan pada sebagian anak berhasil melakukan toilet training. Namun  kembali lagi, tergantung kondisi anak dan tentu saja seberapa besar dukungan dari orang tua.


Menginjak usia 2 tahun 10 bulan, anak laki-laki saya, Najib sudah semakin jarang ngompol.  Baik siang maupun malam. Jadwal buang air kecil dan besar sudah semakin teratur dan yang terpenting hampir selalu bilang kalau merasa ingin pipis.  Urusan buang air besar memang masih menjadi pekerjaan rumah. Tapi kami yakin ini tidak akan lama. 

Memang butuh effort lebih besar dibanding kakaknya dulu. Tapi beginilah seninya jadi orang tua. Kalau mulus-mulus saja, nggak asyik, kan? Hehehe …




#ODOP
#day2
#bloggermuslimahindonesia

Miliki 2 Hal Ini agar Resolusi Menjadi Momblogger Tak Sebatas Impian

|
Ngomongin soal resolusi, saya masih inget banget awal tahun 2017 lalu bikin satu blog post khusus tentang hal ini. Dan dari beberapa resolusi yang saya tuliskan, sebenarnya ada satu yang lumayan ngeri-ngeri syedep. Yaitu ingin produktif di dunia menulis. Ya, kalau mau blak-blakan sih, saya bermimpi menjadi momblogger . Ciyeh … lagaknya. Boleh, donk! Namanya juga cita-cita. Nggak bayar ini, butuh usaha aja untuk menggapainya. And trust me, itu nggak seenteng yang saya tuliskan.




Buat IRT tanpa ART yang sok sibuk kayak saya. Meluangkan waktu untuk rutin menulis setiap hari benar-benar challenging. Ada saja alasan yang bikin pilih bantal ketimbang keyboard. Pilih sofa ketimbang meja kerja. Atau ngadep tipi ketimbang monitor lappy


Yang capeklah, ngantuk, anak ngajak main, nemenin belajar, cucian menggunung. Pokoknya ada aja yang bikin aktivitas menulis cuma kebagian sisa-sisa tenaga dan tentu saja waktu. Honestly, saya sebenarnya nggak suka bikin pengakuan kayak gini. Kok kayaknya momblogger lain itu nggak serepot saya. Padahal nih, saya yakin mereka jauh lebih banyak deadline dibanding saya yang baru menekuni dunia blogging. Tapi, soal produktivitas jangan ditanya. Hari ini reportase, malam itu juga mereka publish blog post terbaru. Ck … Ck … Ck *kagum


Well, apapun kendala yang dihadapi, sudah tanggung jawab kita untuk mencari solusi. Mau sampai kapan resolusi demi resolusi hanya menjadi target awal tahun saja? Tanpa realisasi apalagi pencapaian yang berarti. Dalam hal blogging, saya rasa dua hal ini berikut lumayan memompa semangat saya untuk merealisasikan resolusi momblogger wanna be



Miliki Mentor


Adanya mentor sangat membantu saya memelajari blogging dari nol. Dulu, dulu banget memang saya sudah belajar ngeblog. Tapi, ya gitu deh. Sampai passwordnya saja saya lupa, saking rajinnya nggak nengokin blog. 


Nah, begitu saya mulai lagi awal tahun ini. Saya putuskan langsung memiliki mentor. Belajar step by stepnya, hingga bagaimana peluang untuk blog saya dimonetize. Untungnya saya punya mentor yang “kompor api biru". Jadi  gampang banget semangat darinya menular ke saya.


Mbak Widyanti Yuliandari, adalah blogger sekaligus mentor blogging pertama saya. Beliau yang pertama kali mengenalkan banyak hal terkait peluang berpenghasilan dari blog. Juga bagaimana beretika di dunia blogging. Tidak hanya itu, printilan ngeblog dan ngereview juga saya pelajari dari beliau. Karena memang Mbak Wid ini Mentor Blogging di salah satu agensi training yang sering saya ikuti.


Sedangkan dalam perjalanan ngeblog, tak bisa disebut berapa banyak blogger dan momblogger yang menjadi role model sekaligus menginspirasi saya. Sehingga blogwalking tidak sekedar meninggalkan komen, menyerap info dari blog post mereka. Tapi sekaligus memelajari banyak hal seperti lay out, gaya penulisan, sudut pandang dan teknik pengambilan gambar.
 


Berkomunitas


Nah, yang kedua ini juga tidak bisa disepelekan. Berkomunitas membuka banyak info terkait dunia blogging. Mulai tawaran job, info lomba, hingga challenge-challenge.


Untuk saat ini, saya memang tidak sedang mengikuti banyak komunitas. Dan Blogger Muslimah Indonesia adalah salah satu komunitas tempat saya bernaung bersama teman-teman blogger yang lain. Kebetulan saat ini kami sedang dalam periode pertama challenge ODOP, One Day One Post. Kebayang kan, betapa menantangnya challenge ini?


Ya, selain menantang disiplin diri dari seorang blogger. Challenge ini juga sangat bermanfaat untuk boosting trafik blog, sekaligus mengasah keterampilan menulis calon momblogger. *uhuk. Maka dari itu saya putuskan menerima tantangan ODOP, dan rutin menulis satu blog post setiap hari.


Hopefully, ini adalah awal bagi saya untuk merealisasikan salah satu mimpi. Karena bagi saya, ngeblog tidak hanya bertujuan mendapatkan job, tapi mengumpulkan materi, kenangan, rumah untuk berbagi informasi, sekaligus media untuk melatih kelenturan bahasa tulisan. Boleh, donk, suatu hari beresolusi bikin buku solo. Nah, rencana saya dari blog ini saya mulai merealisasikannya.


Well, semoga challenge ODOP dari Blogger Muslimah Indonesia ini dapat saya ikuti dengan lancar hingga 30 hari ke depan, Amin. Yang tak kalah penting, semoga saya dapat mengambil hikmah dari mengikuti challenge seperti ini. Ganbaroo!!





#ODOP
#day1
#bloggermuslimahindonesia

Menumbuhkan Konsep BUTUH Beribadah pada Anak

|






Kali ini saya bikin blog post tentang cerita bahagia yang sebenarnya agak "receh". Hehe.. Tapi saking senengnya, saya merasa sayang aja kalau nggak diabadikan di "rumah" yang ini. 

Ceritanya tentang kebiasaan ngobrol ngalor ngidul sama Najwa. Jadi, ternyata, nih. Kebiasaan ngobrol dengan Najwa ini  membawa hikmah dan model pembelajaran baru buat saya. Misalnya ketika ingin menerapkan konsep ibadah kepadanya. Saya justru mendapatkan ide dari obrolan panjang lebar dengannya yang bisa terjadi di mana saja. Misalnya dari obrolan berikut ini:
 
Suatu ketika Najwa saya ajak besuk tetangga yang sedang opname di rumah sakit. Di angkot, saat perjalanan pulang. Dialog seperti ini terjadi antara kami

Najwa : “Buk, kenapa Mbah tadi hidungnya dipasang selang?”  

Ibu : “Itu untuk membantu bernapas.”

Najwa : “Memangnya kalau tidak dibantu Mbahnya nggak bisa bernapas gitu?”

Ibu : Bisa, tapi susah. Karena sakitnya sudah parah, jadi napasnya sudah sesak, pasokan oksigennya sudah berkurang.” (hahaha … saya jawab sekenanya.)

Najwa: “Ohh … Trus itu selangnya ada udaranya untuk bernapas?”

Ibu: “Iya, selang tadi mengalirkan udara dari tabung oksigen yang ada di sebelah tempat tidur. Nah, udara yang bisa dihirup manusia namanya oksigen.”

Najwa: “Oo … Itu bayar, Buk?”

Ibu: “Iya, donk. Di rumah sakit nggak ada yang gratis, makanya kita harus menjaga kesehatan.”

Najwa: “Kalau kita bernapas gratis ya, Buk?”

Ibu: “Betul, kita bisa bernafas sepuasnya dan gratis. Siapa yang ngasih?”

Najwa: “Allah.”

Ibu: “Kalau dikasih sesuatu, kita harus gimana?”

Najwa: “Berterima kasih, donk!”

Ibu: “Kakak sudah berterima kasih sama Allah?”

Najwa: “Sudah, aku dah bilang ‘terima kasih Ya Alloh’”

Ibu: “Gitu doang?”

Najwa: “Emang gimana lagi?”

Ibu: “ Dengan beribadah, menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya. Misalnya salat dan berdoa.”

Najwa: “ Jadi salat itu salah satu fungsinya untuk berterima kasih sama Allah ya, Buk?”

Ibu: “Iya, karena Allah sudah Maha Mengasihi dan Menyayangi kita. Semua dikasih gratis, mulai oksigen, mata, mulut, tangan, kaki, semua diberikan Allah kepada kakak. Allah nggak minta apa-apa, cuma minta kakak beribadah. Salah satunya dengan salat dan berdoa.”

Najwa: “Ohh gitu, jadi nanti kalau aku mau berterima kasih, setiap salat aku bisa ngomong sama Allah, ya?”

Ibu: “Yup …”

Terdengar bertele-tele, bukan? Ya, saya akui. Apalagi anak saya ini memang ceriwis banget. Apaaa aja maunya dibahas. Kadang saya pun nggak sabaran. Tapi, saya belajar banyak dari dia. Rasa ingin tahunya membuka peluang bagi saya dan suami untuk “memasukkan” banyak pengetahuan baru untuknya. Memang tipe anak berbeda-beda. Tapi untuk tipe anak seperti Najwa, cara ini saya rasa lumayan ampuh.

Dari satu obrolan tersebut, saya mulai menyederhanakan konsep ibadah sebagai “kebutuhan berterimakasih kepada Allah”. Tanpa menyinggung  pahala, surga atau neraka. Obrolannya bisa kelamaan kalau sama Najwa, belum kalau merembet ke sana dan kemari. Jiah! Bisa pusing BukNaj. Hehe ... Lebih tepatnya, sih. Mungkin belum waktunya. Bertahap saja, step by step.

Dan ternyata, dari obrolan tadi pun Najwa jadi menyimpan memori tentang oksigen. Hingga suatu ketika obrolan tentang oksigen berlanjut pada karbondioksida, fotosintesis dan lain sebagainya. Lumayanlah, jadi lebih mudah menjelaskannya. Hehehe …

Balik lagi ke masalah ibadah tadi. Ternyata momen dan konsep yang pas,  sangat membantu saya saat mengingatkan Najwa perihal ibadah. Misalnya, dalam suatu obrolan berikut ini:

Najwa: “ Buk, aku nggak salat Magrib, ya, capek!”

Ibuk: “ Kakak mau tidur?”

Najwa: “ Enggak, mau duduk aja istirahat.”

Ibuk: Ya, salat dulu sebentar, habis itu istirahat.”

Najwa: “Sekali aja, deh.”

Ibu: “ Jadi, kakak nggak pengen berterima kasih, nih?”

Najwa: “ Sama yang udah ngasih oksigen ya, Buk?”

Ibuk:  “Iyalah, mana bisa kakak main sampai kecapekan kalau nggak ada oksigen?”

Najwa : langsung berdiri ambil wudlu.

Subhanalloh, saya sebenarnya terharu, tapi berusaha nggak lebay. Hihihi … Biar anaknya merasa bahwa salat adalah kebutuhan. Jadi nggak perlu nunggu diapresiasi.

Di kesempatan lain, Najwa pun berceloteh lucu tentang Allah . Katanya seperti ini,

Najwa: “ Buk, kalau Allah itu kan Maha Pengasih, Maha Menyayangi kita, Maha Baik, Maha Kaya, Yang Punya segalanya, Yang Selalu menolong kita. Nah, kalau setan, aku tahu dia itu pasti Maha Kejahatan.”

Kemudian kami pun tertawa bersama. Hehehe …



Bagi orang tua yang lebih paham tentang agama, pasti cara saya ini terdengar receh banget, hihihi … no prob. Tapi bagi saya, menemukan konsep paling sederhana untuk membuat anak-anak merasa BUTUH beribadah  itu sesuatu banget. Maklumlah, saya juga masih belajar dalam hal agama, teori parenting pun masih meraba-raba.  Beberapa cara sudah saya coba, termasuk memberi teladan dan menggunakan muhasabah book, tetep kurang ngena. Nah, begitu ketemu yang sreg rasanya langsung mak cless.

Sekarang, Najwa selalu bilang salat itu berterima kasih sama Allah. Kadang dia juga ngomong sendiri, "Aku salat 10 menit udah selesai, padahal kalau main sampai berjam-jam. Udah banyak banget udara yang aku hirup. Jadi aku harus rajin berterima kasih." 

Hiks ... Hiks ... Ibunya jadi super melow *usapingus eh *usapairmata

Ternyata rasa BUTUH yang harus ditumbuhkan pada Najwa. Begitu  bagian itu “kena”, maka bersyukurlah kami sebagai orang tua. Ahh … Sekali lagi saya belajar dari Najwa, setiap malas mau salat, saya selalu kepikiran “butuh berterima kasih”. Ahh .. Jadi melow lagi, ternyata saya nggak ada apa-apanya sebagai ibu. 

Jadi benar, ya. Menjadi orang tua itu kita justru belajar sama anak. Mereka yang membuat kita banyak berhutang. Benar juga nggak ada sekolah menjadi orang tua. Karena kita terus belajar selama membesarkan mereka. Matur nuwun Gusti Alloh, saya sudah dikasih kesempatan berharga itu. 

Ini cerita bahagiaku Temans, mana cerita kalian?




[Resensi] Smart Mom Happy Mom - Karena Semua Ibu Berhak Bahagia

|


Tak ada pujian kuharap

Ataupun bayaran kudamba

Hanya senyum tulus dan pelukan hangat

Sebagai gantinya …

Semua kulakukan

Semua kuberikan

Karena aku adalah IBU 

(Bety Kristianto)



Sepenggal puisi di atas hanyalah sebagian dari keseluruhan isi buku yang benar-benar mewakili isi hati saya sebagai seorang Ibu.  Membaca Smart Mom Happy Mom, saya seperti sedang membaca buku diary yang selalu saya simpan rapat di antara tumpukan baju di lemari kamar. Bahkan, berkali-kali saya berpikir, “Kok, Simbok ngertii wae karo uneg-unegku."

Tentang Penulis

Ya, Bety Kristianto, atau Simbok, begitu kami biasa memanggilnya di salah satu grup menulis tempat saya berkenalan dengan beliau.  Seorang ibu multitalenta. Jangan tanya apa saja keahliannya. Sebagai mantan  ibu bekerja, Mbak Bety tidak hanya lihai meramu kata-kata. Tapi berbagai macam bahan dapur, selalu sukses diramunya menjadi aneka sajian bergizi dan tentu saja lezat.

Pribadinya yang ramah, ramai cerdas dan cekatan sangat mewakili sosok Smart Mom Happy Mom. Maka tak perlu heran jika buku ini terasa sangat bernyawa. Karena Mbak Bety menulis tanpa mengada-ada.  Saya yakin beliau sedang curhat, berbagi pengalaman atas suka duka yang dialaminya sebagai ibu dalam buku setebal 138 halaman ini.

Tak jarang saya terkesima dengan kecepatannya menulis artikel di sela-sela mengurus dua anak bujang.  Pada kesempatan lain, saat saya masih berkutat dengan artikel yang belum genap 2, Mbak Bety sudah menyelesaikan adonan pizza atau roti tawarnya setelah merampungkan artikel ke-4 atau bahkan ke-5. “Gendeng, pangananmu opo to, Mbok?”, begitu saya sering membatinnya. Semoga Simbok nggak kecokot-cokot pas makan. Hehehe ...

Sosok Bety Kristianto merepresentasikan buku Smart Mom Happy Mom. Seorang ibu rumah tangga, mantan wanita karier, writer, buzzer, and I am sure she is a good chef at home. Honestly, kita semua para ibu sebenarnya memiliki kesempatan serupa. But, being a smart and happy mom is a choice. Tergantung bagaimana kita menyikapi  masalah dan mensyukuri setiap pemberian dalam kehidupan. Dan yang tidak kalah penting adalah mengenali potensi dan mampu berdamai dengan diri sendiri.




Smart Mom Happy Mom Ibarat Buku Diary

Menelusuri halaman demi halaman dalam buku ini, saya merasa tidak sedang digurui, atau bahkan membaca buku teori . Seperti yang saya tuliskan di atas, Smart Mom Happy Mom seperti buku diary bagi sebagian besar wanita yang telah menjadi ibu pada umumnya. Khususnya bagi saya pribadi, yang telah melalui fase menjadi ibu bekerja kemudian memutuskan untuk stay at home saja. Begitu juga ketika pada akhirnya saya berusaha  productive from home, tanpa meninggalkan tugas utama sebagai ibu dan pendamping bagi suami. Adaa saja tantangan yang harus dihadapi, seperti yang telah dikupas penulis dalam karyanya.

Setiap momen bahagia dan masalah yang disajikan dalam buku ini mau tak mau membuat saya mengangguk tanda setuju. Bahkan tertawa karena merasa penulis sedang menceritakan kegalauan saya setelah menyandang predikat orang tua, IBU.

Pergulatan batin, perasaan tak mampu, merasa tidak mendapatkan ruang untuk mengapresiasi diri. Semua diulas lengkap dengan solusi yang sangat rasional. Bahkan sederhana untuk diaplikasikan. Good Job! Mbak Bety.



Smart Mom Happy Mom adalah Tools 

“This book is a tool kit book, for all future mothers and new mothers in this modern era.” ( Elizabeth Santosa)

Yep!! Saya sangat setuju dengan pendapat Elizabeth Santosa. Membaca Smart Mom Happy Mom seperti sedang tidak membaca buku. Tapi layaknya disuguhi serangkaian tools untuk melakukan ini dan itu. Sekali lagi, tanpa terkesan menggururi karena penulis menuturkannya berdasarkan pengalaman yang telah dilalui. Tentu saja sudah lulus uji. Tapi jika nantinya ada 1 atau 2 poin yang sekiranya tidak sesuai dengan kondisi kita, tinggal modifikasi saja. Simple, kan? 

This book  is very recommended for new mothers . Bisa dijadikan pegangan saat kondisi kurang bersahabat. Ya, yang namanya berumah tangga pasti ada naik turunnya. Terlebih setelah menambah gelar sebagai ibu. Semakin besar tantangan yang harus dihadapi, semakin tak terhitung pula nikmat yang patut disyukuri. 

Penulis memaparkan secara gamblang dan blak-blakan hal-hal yang terkait problematika menjadi seorang ibu.  Ibu bekerja di luar maupun stay at home mom. Saya yakin, hampir setiap ibu pernah mengalaminya.  Tips yang diberikan juga sangat realistis, nggak muluk-muluk dan mudah dipahami.  Cara bertututnya sederhana, renyah, khas gaya bahasa ibu-ibu masa kini.


Banyak buku bertema sejenis, tapi Smart Mom Happy Mom benar-benar tak membuat saya bosan. Overall saya suka. Dan merekomendasikannya untuk semua ibu dan calon ibu dengan segala tantangan yang harus dihadapinya. Sekali lagi, well done, Mbak Bety!! You did it!

Berminat buku serupa? Teman-teman bisa langsung kontak ke penulis keceh satu ini untuk mendapatkan buku bergenre non fiksi terbitan Penerbit Andi. Silakan add and follow sosial media penulis di FB : Bety Sulistyorini Kristianto IG : @betykristianto
 
Finally, keep writing and inspiring us, Mbok! 👌😍😍
  

Judul Buku : Smart Mom Happy Mom
Penulis : Bety Kristianto
Penerbit :Penerbit Andi
Tahun : 2017  
Tebal buku : 138 halaman 
Genre : Non fiksi - Parenting & Family
Harga : Rp55.000,-


Custom Post Signature

Custom Post Signature