Parenting Story, Mom's Life, Tips

Bagaimana Doa Bisa Terkabul? Begini Cara Najwa Memahaminya

|


Salah satu hal yang membuat acara ngobrol dengan Najwa itu gayeng dan membekas buat saya adalah ilmu yang tanpa sengaja saya serap darinya. Bagaimana dalam kepolosan ucapannya, Najwa sering mengingatkan banyak hal yang terlupa, atau terlalu rumit bagi orang dewasa untuk memahaminya. 


Misalnya dalam hal terkabulnya doa. Terkadang saya sudah tidak memikirkan kapan doa itu terkabul, bahkan entah dikabulkan atau tidak. Yawis, pokoknya berdoa saja, masalah dikabulkan atau enggak itu haknya Yang Maha Kuasa.  Saya percaya cara seperti ini yang paling tepat untuk meyakini bahwa Allah selalu mendengar doa-doa hamba-Nya.  Berserah dengan sepenuhnya.




Baru kemudian saya belajar dari Najwa tentang cara Allah mengabulkan doa-doa umat-Nya. Ceritanya begini, siang itu langit sedikit gelap, angin dingin dan mendung berarak menutupi matahari. Lah, malah jadi puitis gini. Hehehe … Segera saya memasukkan cucian dan menutup jendela serta pintu. Kemudian saya duduk menemani anak-anak bermain, sambil menyesap secangkir kopi hitam. Selanjutnya dimulailah obrolan antara saya dan Najwa.


“Ya Allah, mudah-mudahan siang ini hujan, biar udaranya lebih adem,” begitu ucap saya.


Kemudian saya pun melanjutkan bermain dengan anak-anak. Beberapa saat kemudian si adik minta diambilkan roti sama susu, sedangkan kakak minta dikupaskan mangga. Segera saya berjalan ke arah dapur untuk menyiapkan request mereka. 


Tak lama, saya pun kembali bersama anak-anak. Sambil terus bermain, anak-anak nampak asyik menikmati makanan masing-masing. Tiba-tiba guntur menggelegar, dan hujan turun dengan lebatnya. Secara spontan saya langsung mengucap “Alhamdulillah, akhirnya turun hujan.”  Dan tak berapa lama, bibir tipis Najwa mulai berkomentar.


“Buk, apakah ini tanda Allah sudah mengabulkan doa-doa Ibuk?”


Mulut saya terkunci, bingung mau jawab apa. Tapi kemudian saya jawab, “Iya, Kak, Insya Allah doa ibuk sudah dikabulkan.”


“Ooo, jadi begitu, ya? Kalau kita ingin dikabulkan doanya, maka kita harus berbuat baik?”


“Maksudnya?”


“Ya, kan, tadi Ibuk sudah berbuat baik. Menyiapkan susu sama roti untuk adek. Lalu mengupas mangga untuk aku. Lalu mengangkat jemuran dari atas, menemani aku bermain. Karena ibu berbuat baik, maka Allah langsung mengabulkan doa ibuk. Dan dikasihlah kita hujan.”


Duh, speachless saya. Sebenarnya saya mau menjelaskan karena memang Ibuk sudah melihat tanda-tanda mau hujan, makanya ibuk berdoa semoga turun hujan. Tapi mendengar cara Najwa memaknai kebaikan dan terkabulnya doa-doa, saya merasa sayang untuk tidak meng-iya-kan pendapatnya.


Akhirnya saya jawab, “Emm … Insya Allah, mungkin ini salah satu cara Allah mengabulkan doa-doa hambanya. Mungkin juga dengan cara yang lain. Kita nggak pernah tahu rahasia Allah.”


“Ok! Jadi, kalau aku pengen doanya terkabul, aku harus banyak berbuat baik. Nanti Allah pasti kabulkan doanya anak baik.”


Duh, kembeng-kembeng mata saya. Udah pengen nangis aja. Peristiwanya sepele saja, tapi buat saya, cara Najwa memaknainya terlalu istimewa. Saya saja malah nggak kepikiran gitu-gitu, Nduk. Kok, sekali lagi Ibuk kamu ingatkan, kamu ajari. Saya pun mengacungkan 2 jempol  untuknya. Saya bilang, “Kakak hebat!” 


Kemudian saya menambahkan sedikit nasihat padanya, bahwa tidak semua doa dikabulkan seperti yang kita inginkan. Ada kalanya Allah memberikan yang berbeda dari harapan umat-Nya. Tapi, Najwa harus yakin, PILIHAN ALLAH selalu YANG TERBAIK. Najwa pun mengangguk, dan kami kembali bermain sambil menghabiskan beberapa potong mangga yang tersisa di piring. 


Sebagai pengingat, untuk teman-teman yang sudah dan akan menjadi orang tua, termasuk juga saya. Banyak hal tak terduga dalam pikiran anak-anak. Maka jangan sekali-kali menyepelekan mereka. Ketika muncul hal positif dalam dirinya, maka tugas orang tualah untuk terus menumbuhkannya. Jangan pernah lelah menikmati setiap detik menjadi orang tua.


Untuk Najwa, sekali lagi ibuk berhutang, dan akan terus berhutang. I Love You.


-DNA-


#ODOP
#Day19
#bloggermuslimahindonesia

Memaknai Kemerdekaan dari Waktu ke Waktu

|
Dulu, Hari Kemerdekaan adalah saat di mana anak-anak panen hadiah dari aneka perlombaan yang digelar untuk memeriahkannya.  Makan Kerupuk, Balap Karung, Sendok Kelereng dan Memecah Air hanyalah sebagian lomba yang  dilakukan setiap tahun. Bahkan setiap RT di kampung saya rutin melombakannya. 


Saya paling jago di lomba Memecah Air. Karena untuk menang di lomba Makan Kerupuk terlalu berat bagi saya. Gigi banyak yang ompong yang tersisa pun bolong semua. Susah mengalahkan teman-teman yang giginya masih sempurna. 


Dulu juga, saya langganan ikut jalan santai keliling kampung sebagai puncak perayaan 17-an. Tapi jangan tanya door prize-nya, karena nampaknya keberuntungan tak terlalu berpihak pada saya dalam hal door prize. Itung-itung sehat sajalah.


Sumber gambar: Fotografer.net


Kemerdekaan adalah kebahagiaan atas segala kemeriahan untuk memeringatinya. Hadiah, berkumpul dengan teman-teman, sekolah sering pulang pagi karena banyak kegiatan di luar kegiatan belajar mengajar. Yang tak kalah penting nonton panggung hiburan yang menampilkan teman-teman yang memiliki talenta di bidang seni. 


Ketika duduk di bangku SMP dan mulai aktif di kegiatan Marching Band, Hari Kemerdekaan bagi saya adalah pressure. Ya, mulai sebulan sebelumnya kami terus berlatih untuk pertunjukan 17-an. Mengiringi saat upacara di sekolah, unjuk gelar pada acara pengibaran bendera di kabupaten, karnaval, bahkan pernah juga kami disewa kecamatan lain sebagai pembuka arak-arakan karnaval budaya daerah mereka.


Menjelang Hari Kemerdekaan adalah saat-saat yang melelahkan. Sering meninggalkan jam pelajaran tapi pulang selalu telat. Menghafal berlembar-lembar notasi angka karena biasanya pelatih menambah materi untuk bekal pertunjukkan. Belum juga harus berlatih display dan konfigurasi di lapangan dengan panas terik menyengat. 


Kemerdekaan adalah kesiapan diri menjadi lebih tahan banting, tahan uji. Siap mengejar ketinggalan materi di kelas dan siap dengan kulit “gosong” akibat dijemur berhari-hari oleh pelatih.


Sempat melewati perayaan kemerdekaan yang “biasa saja”. Saat di bangku kuliah dan kemudian bekerja,  secara personal saya merasa tak ada yang istimewa dengan perayaan kemerdekaan. Ya, karena tak terlibat dalam hal apapun.  Dan lagi, makna kemerdekaan sudah bergeser dari sekedar hiruk pikuk dan perayaan. Tapi lebih pada memaknai kebebasan diri sebagai lajang yang tak ingin ditekan dengan segala aturan.


Kemerdekaan adalah kebebasan menjadi diri sendiri dan melakukan apa yang disukai.  Merdeka tanpa khawatir dengan stigma negatif sebagai perempuan lajang yang tak kunjung menikah. Merdeka berorganisasi dalam kegiatan sosial yang mau tak mau menyita sebagian besar waktu saya. Merdeka tanpa terkekang oleh aturan menjadi istri dan dibatasi oleh makhluk yang bernama suami.


Waktu terus bergeser, hingga sampailah saya pada memaknai kemerdekaan dengan cara yang lebih manusiawi. Menjadi orang tua dan menghadapi kerasnya kehidupan di ibukota, mengajarkan saya banyak hal tentang kemerdekaan dalam makna yang lebih luas. 
Kemerdekaan yang telah dibayar dengan darah dan air mata para pahlawan ini telah memberikan banyak kesempatan bagi seluruh rakyat negeri ini.


Dalam segala keberagaman yang ada di sekitar saya,  penghormatan atas kemerdekaan setiap individu telah menyatukan kami dalam kerjasama, saling memberikan ruang dan kesempatan untuk bertumbuh dan menunaikan hajat hidupnya. 


Tak bisa dipungkiri, kemerdekaan jugalah yang akhirnya memberikan ketenangan dalam beribadah, berekspresi sebagai manusia dengan segala keunikan, serta bergaul dan menjalin komunikasi tanpa memilah–milah golongannya.


Peringatan Hari Kemerdekaan harusnya menjadi pengingat, khususnya bagi saya. Bahwa apa yang dinikmati rakyat Indonesia pada hari ini bukan hanya buah dari cita-cita luhur, semangat membangun dan perjuangan dari segolongan atau segelintir manusia saja. Tanpa melihat apa yang disebut perbedaan, mereka bersatu untuk merebut dan kemudian mengisinya melalui pembangunan.


Kenyataan yang membuka lebar mata saya. Bahwa kemerdekaan tak sekedar kebebasan bagi diri sendiri. Tak sebatas terlepas dari kekangan penjajah seperti halnya yang terjadi pada masa-masa perjuangan. Tapi kemerdekaan adalah penghargaan bagi setiap insan, toleransi dan memberikan hak serta kesempatan bagi setiap individu untuk berkembang. Kemerdekaan dalam beribadah, berilmu dan mengemukakan pendapatnya dalam perilaku dan ucapan. 


Kemerdekaan menjadi sangat luas makna dan cakupannya. Tapi atas nama itu semua, kemerdekaan yang hakiki harus dimulai dari pikiran. Membebaskan diri dari penjajahan komentar yang dapat menurunkan nilai kemerdekaan diri. Merdekakakan dulu pikiran kita. Maka raga akan bergerak mewujudkan kemerdekaan bagi sesamanya.


Dirgahayu Indonesia, Merdeka!!





-DNA-






#ODOP

#Day17

#bloggermuslimahindonesia


Don't Judge The Book by It's Cover

|


Tahun 2013 awal masuk Jakarta dan langsung bergelar stay at home mom. Sehari-hari saya banyak bergaul dengan Mbak-mbak komplek karena Najwa main barengan sama anak-anak majikan mereka. Awalnya sempat shock pas salah satu nenek dari teman si kecil mengira saya Mbak baru di komplek itu. “Mbaknya masih baru? Momong anaknya siapa?", begitu tanyanya pada saat itu. Saya cuma diam dan tersenyum, karena dia pun berlalu begitu saja yang menandakan pertanyaannya cuma basa-basi.

Pernah juga saya disangka Mbak yang momong anaknya suami. Duh … jadi ribetkan bahasanya. Intinya saya dikira Mbaknya anak saya. Malahan ada yang tanya pas ke sini sudah lulus SMA apa belum. What?? Segitu imutkah saya waktu itu? Hehehe … Malah narsis.

Jilbab TPA andalan

Acara sangka –menyangka sebagai Mbak ini terus berlanjut sampai Najwa masuk PAUD di kelurahan tetangga. Saya yang biasa berpenampilan minimalis, agak kaget juga pas lihat Mbak-mbak di sana dandannya cihui punya. Mulai jilbab aneka rupa, baju, celana trendi sampai lipstick merah menyala. Untungnya si Bunda PAUD nggak nyangkain saya Mbak juga. Waktu itu saya langsung memperkenalkan diri sebagai Ibu Najwa. Ya, satu-satunya pemilik panggilan Ibu di antara Mamah, Bunda dan Ummi pada saat itu. Panggilan Ibu ini juga yang akhirnya membuat Bunda PAUD lebih mudah mengingat saya.

Beberapa bulan berlalu, saya semakin santai dikira Mbak baru. Cuek ajalah, selama mereka nggak menghina atau mencederai harga diri saya. Lagian Mbak-mbak itu juga bukan sembarangan orang, kok. Mereka pinter-pinter momongnya, terlebih masaknya. Saya ngaku kalah. 

Tapi kalau dipikir-pikir nggak salah juga kalau orang-orang ngirain saya Mbak baru. Lha dari segi tampilan memang saya too minimize. Paling cuma atasan kaos atau blus polos, celana panjang kain sama jilbab model rabbani atau jilbab TPA (jilbab tali yang bagian mukanya ada renda). Kalau jauhlah sama Mbak-mbak yang sudah malang melintang di ibukota. Trend baju terbaru mereka buru. Setiap keluar model baru, mereka pun tak mau ketinggalan.

Sedangkan saya, dalam urusan fashion lebih suka model dan warna yang selalu up to date. Misalnya polos, atau bermotif minimalis. Modelnya pun itu-itu saja, dengan alasan yang membuat saya nyaman dan tidak terlalu mencolok secara penampilan. Jilbab jangan ditanya lagi, kalau bukan jilbab instan model rabbani atau TPA yang tadi saya sebut, pasti jilbab “taplak” segiempat dengan satu pin kecil di bawah dagu.

Kalau dilihat-lihat, saya memang kucel, wkwkwk ...


Kosmetik lebih kalah lagi. Saya sering nggak sempet atau lebih tepatnya malas bedakan apalagi lipstick-an. Yang penting udah pakai pelembab sama tabir surya. Memang saya pun nggak mengalokasikan waktu khusus untuk dandan. Pokoknya asal sabet aja skin  care dasar, oles-oles trus tancap gas. Baru akhir-akhir ini setelah DuoNaj lebih mandiri saya mulai sedikit berias. Terutama saat di ajak jalan suami atau kondangan.

Urusan dipanggil Mbak itu belum seberapa dongkolnya dibanding saat harus ke rumah sakit karena dagu Najwa bocor. Saya yang saat itu panik, langsung saja ke salah satu RS Islam terdekat di rumah untuk mencari pertolongaan. Sudah bisa dipastikan saya nggak sempat berdandan dulu. Lha wong Najwa nangis terus dan darahnya udah kemana-mana, yang penting saya bawa dompet, HP sama ATM. 





Baju tetap gamis batik zaman hamil Najwa sama jilbab TPA yang saat itu sudah melekat di badan. Semakin mengenaskan karena saya pakai sandal jepit saja. Saya langsung naik angkot sambil terus memegangi dagu Najwa yang  berdarah. 

Sesampainya di rumah sakit saya langsung menuju IRD dengan harapan cepat mendapatkan pertolongan. Setelah anak dibaringkan dan dibersihkan lukanya, saya disuruh gendong lagi dan ngurus administrasi. Akhirnya saya pun mendaftar dan membuat kartu periksa untuk pasien.

Lama saya menunggu tapi nggak dipanggil-panggil lagi. Padahal pasien setelah saya langsung ditangani. Sedangkan dagu Najwa mulai berdarah lagi. Maka tangisannya pun mulai menjadi-jadi kembali. 

Saya pun langsung menuju ke ruang perawat, saya tanya kenapa anaknya saya nggak ditangani dulu tapi pasien lain. Dia bilang begini, “Maaf, Bu. Yang pakai SURAT MISKIN nunggu dulu, ya. Prosedurnya harus dilengkapi dulu.” Bisa kalian tebak bagaimana reaksi saya? Saya langsung marah. Saya bilang, “Dari mana bapak tahu saya pakai SURAT MISKIN? Bapak nggak tanya saya tadi, cuma suruh bikin kartu periksa saja, kok bisa-bisanya bilang saya pakai SURAT MISKIN?” Petugasnya pun gelagapan. Saya bilang lagi SAYA AKAN BAYAR CASH! Akhirnya dia minta maaf dan Najwa pun langsung dapat penanganan. 

Najwa pas dagunya bocor

MIRIS! Harus segitunyakah dengan rakyat miskin? Duh pengen nagis saya kalau inget kejadian itu. Lha apa iya saya harus dandan cantik pakai perhiasan dulu sebelum ke rumah sakit? (padahal emang nggak punya perhiasan, wkwkwkwk …) Ya, sudahlah. Anggap saja ini pembelajaran. Dan saya berjanji pada diri saya sendiri. Saya nggak ingin membatasi nilai diri dan kemampuan saya hanya karena tampilan luar. Pun saya nggak akan menilai orang lain dari tampilan luarnya. Saya berjanji tidak akan melakukan hal itu pada orang lain.

Sekarang pun, kalau lagi di mall atau di tempat makan yang agak keren dikit gitu (kerennya dikit aja, hehehe …). Pelayannya masih suka melihat dengan ogah-ogahan. Saya sama suami, ma, cuek aja. Yang penting transaksi bisa bayar. Lagian kalau kita lihat-lihat aja juga bukan karena nggak bisa bayar, kan? Mungkin saja nggak cocok atau kurang mahal, wkwkwkwk sombong banget BukNaj, boong yang ini. Saya, ma, belanja di pasar dah seneng orangnya.

Hal serupa kami ajarkan pada anak-anak. Nggak perlu khawatir dengan tampilan luar, bentuk muka atau warna kulit. Yang penting kita harus bersih, rapi dan tidak berbau, baik badan maupun pakaian. Bicara dan tingkah laku sopan, tapi bukan berarti pemalu. Dan yang sangat penting adalah tidak minder, karena penting untuk kami menanamkan kepercayaan diri pada anak di tengah ganasnya Jakarta. 


-DNA-


#ODOP
#day15
#bloggermuslimahindonesia


Bijak Menyikapi Banjir Informasi di Chat Group

|


Berapa banyak Whatsapp Group yang  ada dalam smartphone teman-teman? Lima? Sepuluh? Atau malah puluhan?  Saya sendiri tergabung dalam 15 Whatsapp Group, dan menurut saya angka itu sudah sangat fantastis karena saya tidak bisa aktif hampir di semua grup. Ya, gimana mau aktif, pegang HP saja saya sering rebutan sama anak. Kalau nggak gitu, HP memang lebih banyak saya sembunyikan untuk menghindari bocil yang suka ngiri sama ibunya yang mainan HP.

15 Grup tadi baru di Whatssapp saja, ya. Bagaimana jika temans juga aktif di aplikasi chatting yang lain. Bisa jadi, puluhan grup ada dalam smartphone kita. Memang sih, kita jadi sangat terbantu dengan adanya grup-grup seperti itu. Selain alur komunikasi menjadi lebih mudah, ringkas dan cepat. Aneka informasi terkini pun akan dengan segera ter-update dalam genggaman. Apa yang sedang trend dihari itu, maka dalam hitungan menit semua informasi tersebar melalui grup-grup tersebut. Bahkan bisa jadi info yang sama tersebar secara berulang. 


 
Sumber gambar: Aura.co.id


Ya, memang update informasi sangat penting untuk dilakukan mengingat dunia kita semakin dinamis. Masalahnya, tidak semua info yang tersebar selalu benar adanya. Untung kalau si penyebar membaca dulu isi pesan tersebut secara menyeluruh. Kalau hanya tertarik karena judulnya yang viral, tanpa memahami kesesuaian isi dan judulnya. Bukannya bisa berabe, tuh?

Itu baru masalah judul saja, ya. Belum menyangkut keakuratan data. Banyak info-info disebar tanpa memerhatikan kebenarannya. Duh, lelah … BukNaj sama message begituan. Kadang pun kejadian yang disebar sudah “basi”, sudah diklarifikasi kebenarannya, eee … masih di-share sana-sini pula. Maksud hati biar kelihatan update, nggak taunya e e, malah ketauan telat info dan asal –asalan. 

Syukur-syukur kalau pembaca yang lain sudah mengetahui klarifikasi atas berita tersebut. Kalau belum? Kemudian di-sharelagi dan lagi?  Apa nggak jadi “racun” yang dengan cepat menyebar di sana-sini?

So, Temans. Please be aware with what we share.  Baca … Baca … Baca. Baca dan pahami benar berita tersebut. Masuk akal or not? Udah basi atau benar-benar lagi boom? Jangan karena viral saja kita dengan mudah meng-klik tombol share.


Usahakan juga mencari pembanding mengenai berita serupa. Dari berbagai sumber tersebut, Temans akan bisa membandingkan kebenarannya. Kalau memang beberapa situs menayangkan informasi serupa, boleh jadi memang benar. Tapi kalau tidak, atau mungkin berita di situs lain justru kontra, maka sebaiknya klarifikasi dulu.

Kalau memungkinkan, coba cari side opinion dari orang yang expert di bidangnya. Misalnya berita tentang kasus hukum.  Jangan sampai, ya, kita yang nggak paham hukum ikut-ikutan nulis soal pasal-pasal pidana. Apalagi menjadikan berita yang ditulis oleh orang yang bukan pakar hukum atau setidaknya belajar hukum sebagai panutan. Bisa jadi mereka cuma googling aja, bukan memelajari secara mendalam. Begitu pun halnya berita tentang kesehatan, terlebih agama. 

Yang lebih penting lagi adalah TAHAN. Tahan tangan kita untuk nggak asal komen sebelum baca. Tahan tangan kita untuk nggak asal share sebelum pahami beritanya. Tahan emosi akibat judul-judul yang viral. Kita nggak perlu merasa nggak update karena nggak nge-share begituan, kok. Apalagi Cuma karena pengen jadi tenar di dunia maya. Please, donk. Hidup ini kenyataan.

So, sekali lagi. Yuk! Lebih bijak menyikapi banjir informasi di dunia maya. Pilah dan pilih. Cek dan ricek. Dan yang terpenting adalah cerdas bersosialisasi di dunia maya. Baik di sosial media maupun di aneka grup chatting yang ter-install di smartphone kita. Jangan sampai teknologi menjadi pendukung perpecahan, permusuhan. Tapi sebaliknya menyokong kemajuan umat manusia.



-DNA


#ODOP
#day13
#bloggermuslimahindonesia

[Review] Ngemil Enak dan Sehat dengan Segenggam Granola

|


Punya kerjaan model diburu deadline mau nggak mau membuat saya harus begadang. Meskipun nggak sering-sering banget, tapi pasti ada jadwalnya dalam setiap minggu. Apalagi kalau kerjaannya masih harus disambi momong sama urusan yang wahid yaitu ngerjain perintilan ibu rumah tangga. Lembur dan begadang sudah pasti nggak bisa dihindari kalau mau kerja sampingan tetap jalan.




Nah, kalau pas harus lembur atau begadang gitu, susah banget rasanya kalau nggak ngemil. Mungkin faktor kebiasaan saja, sih. Karena nggak semua orang wajib ngemil saat begadang. Tapi kalau saya pribadi, jujur susah kalau nggak ngemil saat lembur sendiri di tengah sunyinya malam. Hiiii ....  Hehehe...

Dulu, zaman masih muda, ciyeh … Zaman-zaman kuliah, saya suka beli makanan ringan yang kiloan itu buat temen ngerjain tugas. Hidup masih terlalu susah waktu itu, ngemil sekilo pun badan nggak pernah melar. Paling pol berat badan cuma sampai angka 47 kg. Ya, gimana nggak kurus, makannya aja jarang lengkap sehari 3 kali. 2 kali makan besar sudah alhamdulillah.

Tapi begitu nikah trus hamil, saya mulai nggak bersahabat sama timbangan. Gampang banget naiknya. Sebaliknya, mau nurunin sekilo aja susahnya warbiasak.

Bersyukur sekarang ini banyak alternatif camilan sehat. Selain buah dan salad sayur, biji-bijian macam granola ,menjadi salah satu penyelamat kala mulut pengen mengunyah tapi ngeri lihat timbangan. Granola sendiri diklaim rendah kalori, tinggi protein, fiber, gluten free dan kaya omega 3.  Selain sudah pasti enak dan natural.



Serat tinggi pada granola memberikan manfaat  melancarkan pencernaan, mencegah sembelit, membantu mengontrol kadar gula darah, membantu menurunkan kadar kolesterol, dan membuat kenyang lebih lama.

Sedangkan omega 3 dalam granola sangat bermanfaat untuk kesehatan otak. Selain itu granola juga diklaim kaya akan vitamin dan sumber mineral penting untuk tubuh.

Mengonsumsi granola sudah menjadi gaya hidup sehat bagi sebagian masyarakat. Selain dikonsumsi sebagai camilan dalam bentuk granola asli seperti yang biasa saya lakukan. Granola dapat disajikan dalam bentuk snack bar dengan sedikit diolah.

Atau, jika ingin yang lebih kekinian.  Kita dapat menjadikannya sebagai alternatif sajian sarapan. Overnight Oatmeal mix Granola misalnya. Makanan ini sangat cocok untuk temans yang harus beraktivitas sejak pagi. Karena dapat disiapkan semalam sebelumnya. Sehingga pada pagi harinya tinggal dikeluarkan dari kulkas dan siap disantap.

Cara menyajikannya pun sederhana. Hanya dengan menuangkan oatmeal dan granola dalam mug kaca, kemudian siram dengan susu murni hingga terendam seluruhnya. Tutup rapat kemudian simpan semalaman dalam lemari pendingin. Keesokannya,  Overnight Oatmeal bisa langsung disantap begitu saja. Atau ditambahkan buah sesuai selera. Selain lebih mantap, rasanya pun lebih segar. Pokoknya wenak!



Seiring peningkatan kebutuhan masyarakat akan konsumsi granola, khususnya di daerah perkotaan. Maka nggak heran, ya, kalau distributor atau agen penyedia granola semakin banyak. Nah, untuk yang satu ini kita harus lebih selektif dan waspada. Bukan apa-apa, kadang khawatir aja kalau kualitas biji-bijiannya kurang terjamin. Atau ngeri aja kalau kemasannya kurang higienis.

Karena itu, saya memilih granola dari Mola Granola yang sudah terbukti dibuat dari biji-biji pilihan. Kemasannya yang higienis juga menjamin produk ini aman untuk dikonsumsi siapa saja. Mola Granola bahkan memiliki 3 varian rasa untuk memanjakan lidah konsumennya. Original Flavour, Green Tea Flavour dan Chocolate Flavour.  Ketiganya enak, dan crispy crunchy. Pokoknya cocok banget buat cemilan.



Nah, untuk penyajiannya sendiri saya lebih suka di cemil biasa, atau di mix sama buah plus yoghurt. Untungnya bukan cuma saya yang suka. Suami sama anak-anak pun enjoy banget ngemil biji-bijian yang ini. So, sekarang saya nggak worry lagi kalau lagi begadang. Karena granola dari Mola Granola siap menjadi teman mengejar deadline emak-emak.

Pengen nyobain juga? Teman-teman bisa langsung buka di lapaknya @molagranola_jakarta atau langsung saja ke kontaknya 0877-8115-0250. Jangan lupa cek promo apa aja yang sedang ditawarkan. Ok? Happy cemal-cemil everyone !


-DNA-

#ODOP
#day14
#bloggermuslimahindonesia

Custom Post Signature

Custom Post Signature