Parenting Story, Mom's Life, Tips

Every Family Has Its Own Rules (II) - Nilai-nilai yang Dapat Ditanamkan dalam Keluarga

|
Having a place to go – is a home. Having someone to love – is a family. Having both – is a blessing ~Donna Hedge

Sumber gambar : Pinterest.com



Saya masih terus diprotes anak-anak, perihal mengapa di rumah kita harus begini sedangkan di rumah temanku nggak? Mengapa jam mainku segini, sedangkan teman-temanku bisa sampai kapan saja? Dan masih banyak lagi pertanyaan-pertanyaan yang terus dilontarkannya.

Seperti yang pernah saya tulis dalam postingan sebelumnya, Every Family Has Its Own Rules (I). Setiap keluarga memang selalu memiliki kebiasaan-kebiasaan yang baik secara langsung maupun tidka langsung menjadi semacam peraturan. Hal tentang pengaturan waktu, bagaimana berinteraksi dengan anggota keluarga yang lain, menumbuhkan kebiasaan baik dari rumah. Sekali lagi saya sangat yakin setiap keluarga memilikinya. Yang pastinya beda dan tak perlu diperdebatkan.

Dalam hal ini, saya dan suami yang kini sedang menumbuhkan kebiasaan baru dalam rumah tangga kami pun berasal dari 2 keluarga yang memiliki banyak perbedaan. Background keluarga, kondisi ekonomi, orang tua yang membesarkan kami dan tekanan yang harus dihadapi ikut memengaruhi kebiasaan-kebiasaan dalam keluarga.

Dalam beberapa hal, keluarga saya jauh lebih “keras” terhadap 4 anak gadisnya. Tapi, dalam hal-hal lain keluarga suami jauh lebih “alot” dalam membuat keputusan-keputusan bersama. Keluarga saya yang hanya terdiri dari 5 orang perempuan setelah papa meninggal. Dengan serta merta menempatkan perempuan sebagai sosok yang harus tangguh, mandiri dan merdeka. Ini sangat bertolak belakang dengan keluarga suami yang bisa dibilang menganut patriarki.

Perbedaan ini kerap kali membuat kami berselisih paham. Untuk itu, penting bagi kami untuk menemukan nilai-nilai dari 2 keluarga yang bersifat positif, yang kemudian dapat diterapkan dalam keluarga kecil kami.

Nah, 4 nilai berikut  kini sedang kami usahakan untuk terus ditanamkan pada anak-anak.


Saling menghormati

Sering kita mendengar, bahwa dari rumahlah seorang anak seharusnya mendapatkan segala hal yang pertama. Salah satunya mengenai pendidikan. Sering juga orang tua meminta anak-anak untuk menghormati mereka. Tapi, sudahkan kita menghormati anak-anak sebagai individu yang butuh diperlakukan sama?

Hormat-menghormati menjadi salah satu nilai utama dalam keluarga. Bagaimana cara kita memperlakukan anak, dengan cara itu pula kita akan diperlakukan anak. Menghormati orang tua bukan hanya perkara, “Kalian kan masih anak-anak, musti hormat sama orang tua.” Bukan, bukan tentang itu saja. Menghormati orang tua adalah tentang bagaimana mereka menghormati individu lain. Sehingga orang tua pun perlu melakukannya pada anak.

Saling menghormati tidak hanya sebatas pada sikap tubuh, atau yang biasa disebut sopan santun. Tapi bagaimana menghargai pendapat, bagaimana bertutur dengan anak, menghormati pilihan-pilihannya dan menempatkannya pada posisi yang sejajar sebagai sesama manusia.

Kami percaya, jika anak dibiasakan saling menghormati dalam keluaraga, maka mereka tidak akan canggung ketika berbaur dalam lingkungan. Ke mana pun anak pergi mereka telah memiliki priinsip bagaimana menempatkan dirinya dan juga orang lain.

Mengucapkan Kata-kata Cinta

Mungkin terdengar kurang familiar dalam keluarga Indonesia. Lain halnya dengan kehidupan keluarga asing yang begitu biasa mengumbar kata-kata cinta dan sayang kepada sesama anggota keluarga. Membiasakan mengucapkan kata-kata cinta menunjukkan seberapa dekat kita dengan keluarga sehingga tak perlu merasa canggung lagi ketika mengucapkannya.

Ketika anak masih kecil, orang tua terbiasa membanjirinya dengan kata-kata tersebut. Tapi, begitu beranjak remaja, mungkin  semakin jarang sehingga terdengar kaku. Sekali lagi, jangan berhenti mengatakannya hanya karena mereka bukan lagi anak-anak. Karena bagaimanapun juga cinta butuh diekspresikan tidak sekedar dirasa. 

Selain itu, membiasakan anak dengan kata-kata cinta menjadi salah satu cara bagi kami untuk mengawal masa-masa pubernya, yang acap kali harus berurusan dengan masalah love. Anak harus tahu bahwa urusan cinta dan I love you tidak sebatas hubungan lawan jenis.  Keluarga adalah cinta yang pertama bagi mereka. Sehingga mereka tak perlu risau ketika tak mendengar kalimat I love you dari remaja lainnya.


Tolong menolong

Keluarga harus menjadi “orang pertama” yang membantu saat anggotanya “jatuh”. Ungkapan ini bukan berarti kita mengabaikan bantuan dari teman atau tetangga. Atau mengabaikan membantu teman dan orang-orang dekat di lingkungan kita. Tapi maksudnya, keluarga adalah orang yang harus pertama tahu dan siap membantu ketika anggota yang lain tertimpa kesusahan.

Hal ini juga yang mengingatkan saya untuk lebih peduli dengan saudara-saudara saya. Nggak lucu kan, setiap hari kita update berita politik atau selebritis tapi lupa menanyakan kabar keluarga sendiri? Apakah mereka sehat dan baik-baik saja, ataukah sedang tertimpa kesusahan?

Menumbuhkan nilai tolong menolong dalam keluarga mau tak mau membuat kita lebih perhatian satu sama lain, bersedia mendengarkan dan memahami perasaan orang lain. 

Saat menumbuhkan nilai ini dalam keluarga, kami memiliki keyakinan bahwa secara tidak langsung kami sedang menyiapkan anak-anak untuk lebih peduli dengan lingkungan dan orang-orang di sekitarnya. Karena keluarga adalah representasi kecil dari komunitas yang harus mereka masuki kelak.

Sumber gambar : Pinterest



Do the best

Dalam hal apapun, kami mendukung mereka untuk melakukan yang terbaik. Kalah, menang, juara atau bukan itu hanya masalah hasil saja. Tapi dalam prosesnya, harus mengerahkan usaha yang terbaik. Dalam hal ini, kami tidak hanya sedang mendorong mereka untuk melakukan sesuatu dengan detil atau nyaris sempurna. Tapi kami sedang mengajarkan tanggung jawab dan konsekuensi  atas pilihan-pilihan yang diambil setiap orang.

Ada tanggung jawab atas semua hal yang telah dipilih, meskipun kerap kali pilihan itu mengandung unsur terpaksa. Begitu pun halnya dengan konsekuensi yang tak dapat dipisahkan. Secara tidak langsung, anak akan lebih cermat dan berhati-hati dalam menentukan apa yang diinginkannya.

Meskipun ada kalanya diperlukan tindakan nekat, tapi tetap saja ada tanggung jawab dan konsekuensi di dalamnya. Tanggung jawab itulah yang membuat setiap hal harus dilakukan dengan sebaik-baiknya.


Memang tak sesederhana saat menulis atau mengucapkannya. Tapi memiliki nilai-nilai yang disepakati untukk terus diterapkan dalam keluarga sudah seperti keharusan. Karena sekali lagi, dari rumahlah seharusnya kita mendapatkan segala hal yang pertama.

Have a good day with your family. Love and respect each other! 


-DNA-




#ODOP
#Day25
#bloggermuslimahindonesia










 

[Review] Menikmati Akhir Pekan dengan Relaksasi Ringan di MOZ5 Salon

|
Kalau misal saya ditanya,  apa wishlist BukNaj setiap weekend di awal bulan? Ya, pasti jawabannya ke salon. Meskipun hanya 1 atau 2 jam, rasanya udah rilex banget begitu pulang ke rumah. Dan tradisi baru ini sepertinya memang kudu saya biasakan agar lebih siap menghadapi kenyataan. (((KENYATAAN))) 

Seperti yang saya bilang, kebiasaan ini adalah tradisi baru buat saya. Karena sebelumnya saya paling malas datang ke salon. Malas antri, takut tempat dan perlengkapannya nggak bersih, khawatir nggak cocok sama produknya, sampai yang paling malesin kalau harus campur antara customer laki-laki dan perempuan. Nggak nyaman banget kalau nggak ada privasi. Toh, sebenarnya perawatan tubuh dan badan memang nggak harus dilakukan di salon. Di rumah pun bisa asalkan memiliki perlengkapannya. 




Tapi entah sejak kapan tepatnya, saya jadi menikmati aktivitas akhir pekan di salon. Itung-itung refreshinglah. Satu bulan sekali, meskipun hanya facial atau creambath, saya usahakan meluangkan waktu pergi ke salon kecantikan. Tradisi baru ini semakin lancar saya lakukan, karena suami pun menyetujuinya. Sehingga saya tak perlu khawatir lagi meninggalkan anak-anak, Karena si bapak sudah siap "jaga gawang".

Gayung bersambut, saya pun menemukan satu salon yang cocok banget sama kebutuhan saya. Jaraknya tidak jauh dari rumah, tempatnya bersih dan nyaman. Dan yang terrpenting khusus untuk pengunjung perempuan alias salon muslimah. Ya, MOZ5 Salon adalah salon pilihan saya tersebut.

Tanpa ragu-ragu, saya pun datang dan melakukan reservasi perawatan yang saya inginkan. Saya masih ingat betul, perawatan pertama yang saya lakukan di MOZ5 Salon adalah facial biasa. Tapi saat itu saya langsung puas dengan hasilnya. Setelah beberapa kali datang dan mencoba beberapa jenis perawatan yang lain, seperti manicure, pedicure, totok mata dan creambath. Saya pun memutuskan mendaftar menjadi member dan tentu saja berbagai keuntungan saya dapatkan setelahnya.

Beberapa teman bertanya, mengapa saya memilih MOZ5 Salon di antara salon-salon muslimah lainnya. Sebenarnya alasan saya simple saja, karena lokasinya paling dekat dengan rumah. Tapi, setelah melakukan perawatan yang pertama, saya pikir tidak hanya masalah lokasi saja. Beberapa poin berikut ini membuat saya semakin untuk mempercayakan perawatan wajah dan tubuh saya di MOZ5 Salon.

1. Terapis yang terlatih

Hal yang utama untuk bisa mendapatkan kepuasan dari pelayanan produk jasa adalah tenaga kerja yang profesional dan terlatih. MOZ5 Salon mempekerjakan perempuan-perempuan muda yang dilatih khusus dan melalui masa training untuk menjadi terapis salonnya. 

Selain itu mereka memiliki SOP mengenai apa dan bagaimana harus melakukan customernya. Mulai dari customer masuk ke ruang perawatan hingga selesai, mereka tahu apa yang harus dilakukan dan ucapkan.

Nggak hanya terampil dalam memijat, mereka juga paham pada titik-titik mana mereka harus memberi tekanan. Selain itu pembawaan mereka ramah dan sopan, sehingga mudah akrab tapi nggak sampai kebablasan.

2. Pilihan produk perawatan yang variatif

Khawatir nggak cocok dengan produk perawatannya? Itu dulu, saat saya belum mengenal salon yang satu ini. Karena di MOZ5 Salon, mereka menyediakan berbagai pilihan produk untuk perawatan wajah dan badan. Kalau saya sudah cocok banget sama produk alami buatan mereka sendiri. 

Misalnya, scrub wajah yang menggunakan bahan dasar gandum. Selain aman dan tidak menimbulkan efek samping, produk perawatan alami/ natural lebih mudah menyesuaikan dengan berbagai jenis kulit yang dimiliki customer. Selain itu, jenis perawatan yang diberikan sangat beragam. Mulai dari ujung kepala hingga kaki, semua bisa dirawat. 

MOZ5 Salon menyediakan produk perawatan alami


Baca juga salah satu lipstik favorit saya: Review Sariayu Duo Lip Color


3. Tempatnya sangat cocok untuk relaksasi

Paling nggak nyaman kalau ke salon trus tempatnay berantakan atau berdebu. Nah, kalau di MOZ5 salon, Temans nggak akan menemukan yang seperti itu. MOZ5 Salon Pondok Kelapa yang biasa saya kunjungi sangat nyaman. Selain bersih, dingin dan tenang. Peralatan dan perlengkapan salonnya pun higienis dan terawat. Jadi, Temans nggak perlu khawatir dipakein handuk kumal atau basah. Semuanya bersih dan tertata rapi di locker khusus perlengkapan.

Peralatan untuk perawatan wajah

Tuang perawatan wajah


4. Aneka promo setiap bulan
Promo selalu menjadi jurus ampuh untuk menarik customer. Begitu pun di MOZ5 Salon, mereka selalu memberikan promo-promo khusus setiap bulannya. Misalnya diBulan Agustus ini mereka menggelar Promo Merah Putih. Beberapa paket perawatan dikemas khusus dalam satu rangkaian dan dibanderol dengan harga yang juga didiskon habis-habisan.

Minggu lalu saya mencoba Promo Merah Putih. Perawatan yang saya dapatkan meliputi facial, totok wajah dan perawatan mata. Semuanya dibanderol dengan harga 199K. Mayan banget, kan? 



5. Keuntungan member

Mendaftar sebagai member adalah salah satu cara untuk mendapatkan berbagai keuntungan yang ditawarkan oleh sebuah perusahaan. Hal serupa dilakukan MOZ5 Salon utnuk menjaga customer-nya tetap loyal. Selain potongan harga untuk semua jenis perawatan. Pemegang kartu membership bisa mendapatkan berbagai voucher khusus. Seperti voucher ulang tahun, voucher up size, voucher potongan biaya perawatan dan voucher berbelanja di merchant-merchant rekanan MOZ5

Jujur, voucher-voucher ini sangat menguntungkan sekaligus berbahaya untuk cashflow BukNaj. Kudu pandai-pandai memilah mana yang harus segera digunakan dan mana yang masih bisa ditunda. Karena setiap voucher memiliki masa kadaluarsa masing-masing.

6. Cabangnya tersebar di beberapa kota

Sedang berada di luar kota trus kepengen perawatan? Tenang, MOZ5 Salon memiliki cabang di beberapa kota. Selain Jabodetabek, MOZ5 salon sudah membuka cabang di Jawa Timur, Jawa Tengah, Kalimantan, Jawa Barat dan Sumatera. Temans tinggal buka web MOZ5 Salon, cek lokasi dan menghubungi nomor telepon yang tertera. Saya sarankan menghubungi dulu, karena info yang saya terima, beberapa cabang sudahtidak beroperasi lagi.

MOZ5 Salon Pondok Kelapa, Jaktim



Selain 6 poin di atas, 1 poin yang sangat penting untuk saya sebagai manajer keuangan adalah faktor harga. Nggak mau kan, budget rumah tangga kebobolan gegara ke salon. Nah, harga yang ditawarkan untuk setiap jenis perawatan tidak terlalu mahal, meskipun juga bukan yang murah. Yang jelas sangat sesuai dengan apa yang customer dapatkan. 

Ada harga ada rupa, begitu biasanya orang bilang. Tapi karena saya selalu mendapatkan potongan membership. Ya, menurut saya nggak mahal dan nggak mengganggu cashflow kebutuhan lain dalam rumah tangga.

Nah, itu tadi salah satu wishlist akhir pekan ala BukNaj. Teman-teman gimana? Suka nyalon juga? 


-DNA-


#ODOP
#Day24
#bloggermuslimahindonesia

Tantrum - Apa dan Bagaimana Menanganinya.

|




Beberapa bulan terakhir, si kecil sering menunjukkan aksi histerisnya pada saya. Nangis kenceng sambil teriak-teriak, badannya kaku dan cenderung melawan, terakhir dia bakalan muntah. Kejadian seperti ini tidak hanya dilakukannya saat di rumah. Bahkan beberapa kali saya harus menghadapinya saat berada di tempat umum. Seperti di pusat perbelanjaan, tempat wisata bahkan saat sedang kegiatan di sekolah Najwa.

Dulu, saat baru memiliki satu anak. Saya sempat malu dan menjadi emosional. Tapi sekarang saya semakin percaya diri menghadapi aksi histeris balita seperti ini. Karena fase-fase seperti ini hampir di alami oleh setiap balita pada rentang usia menjelang 2 hingga 4 tahun.

Tantrum atau bisa juga disebut Temper Tantrum dalam bahasa medik. Fase ini merupakan salah satu tahap tumbuh kembang balita yang unik. Pada tahapan yang sangat sensitif ini, balita cenderung tantrum untuk mengekspresikan kemauannya. Seperti yang kita ketahui, balita cenderung lebih besar kemampuan mengekspresikan perasaannya, ketimbang kemampuannya dalam melakukan keterampilan tertentu.  Inilah salah satu faktor yang mendorong terjadinya tantrum. Sebagai bentuk ekspresi menunjukkan apa yang dirasakannya.

Awalnya, saya mengira semua jenis aksi histeris anak ini sebagai tantrum karena frustasi atas keinginannya mengekspresikan rasa. Sehingga dengan mudahnya saya melakukan ini dan itu untuk menenangkan bahkan menyenangkan hatinya. Hal seperti ini didukung pula oleh orang tua saya yang cenderung tidak tega melihat cucunya menangis sampai muntah. Ya, namanya juga mbah, pasti lebih sayang sama cucunya ketimbang kita anak-anaknya. Berdasarkan pengalaman, sih. Hehehe.

Namun kemudian saya belajar dari berbagai portal perkembangan anak, setidaknya ada 2 jenis tantrum yang perlu disikapi dengan cara yang berbeda.



1. Tantrum Frustasi

Terjadinya tanrum frustasi biasanya dikarenakan keinginannya untuk menambah suatu jenis keterampilan, tapi belum berhasil. Atau ingin melakukan suatu hal, tapi belum mampu. Misalnya dalam aktivitas belajar bersepeda, kemudian si kecil belum berhasil mengayuhnya, maka bisa jadi dia menangis histeris.

Atau saat si kecil ingin memanjat, entah itu tempat tidur, meja atau tangga rumah. Kemampuannya yang memang belum sempurna kerap kali menyebabkan keterbatasan dan berujung frustasi karena nggak kesampaian.

Pada anak-anak yang cenderung berkemauan tinggi, kejadian tantrum akibat frustasi ini bisa jadi berlangsung berkali-kali. Oleh karenanya penanganan yang tepat dan pendampingan serta support dari orang-orang terdekatnya, terutama orang tua tidak dapat diabaikan lagi.

2. Tantrum Manipulatif

Nah, kalau yang ini perlu diwaspadai, dan orang tua harus jeli mengindikasi tanda-tandanya. Pada kejadian tantrum manipulatif, biasanya anak sedang melancarkan aksinya untuk mendapatkan sesuatu. “Ahh … Kalau aku nangis pasti nanti kemauanku dituruti.”  Begitu mungkin yang ada dalam batinnya.

Anak saya berkali-kali melakukan aksi ini. Karena cenderung memiliki pembawaan yang lebih ekspresif namun berkemauan tinggi, penanganan untuk anak kedua yang kebetulan laki-laki jauh lebih sulit dan rentang waktunya lumayan lama. Berbeda dengan anak pertama. Saya belum sempat berkonsultasi mengenai hal ini, apakah jenis kelamin anak memengaruhi tingkat histeris mereka.  Mungkin lain waktu akan saya buat perbandingan di postingan yang lain.

Menangani anak dengan aksi tantrum manipulatif memang lebih menguras energi. Karena pada dasarnya mereka memang sengaja melakukannya untuk mendapatkan sesuatu. So, sudah pasti effort-nya lebih besar ketimbang karena frustasi biasa.
 
Itulah sebabnya, menangani anak dengan 2 jenis tantrum di atas tidak bisa disamakan. Pun, orang tua harus lebih teliti dalam mengindikasi.



1. Penanganan pada kasus tantrum frustasi

Karena pada kasus ini anak cenderung mengekspresikan perasaannya, misal karena tidak mampu melakukan sesuatu. Maka yang dibutuhkannya adalah dukungan dan pendampingan dari orang tua.  Luapan emosi yang cenderung meledak-ledak memberikan kesempatan pada kita untuk menunjukkan, “Aku ada untukmu.” Berikan pelukan, dengarkan curahan hatinya, bantu dengan cara mendukungnya merasa BISA.

Anak saya sering berteriak kemudian menangis saat gagal atau takut melewati seluruh tangga dalam permainan outdoor  Jembatan/ Tangga Pelangi. Faktor motorik yang belum sempurna, ditambah rasa takut jatuh membuatnya merasa frustasi saat tidak mampu menyelesaikan tantangan yang ada dalam permainan.

Saya pun tidak memaksakan anak untuk melalui semua tangga. Tapi dasar namanya anak-anak, rasa penasaran dan ingin seperti teman-temannya membuatnya terus mencoba, meskipun sambil sesekali harus frustasi.

Saya coba mendukungnya dengan menunjukkan bagaimana cara yang aman. Bagaimana tangan harus berpegangan disusul kaki melangkah. Menggunakan kaki yang mana sebagai tumpuan, dan melatih konsentrasi dengan melihat setiap tangga yang akan dinaiki. Butuh waktu sampai anak benar-benar bisa melaluinya. Tapi kini, setelah dia mampu melalui semuanya. Anak saya sangat gembira dan selalu berkata, “Aku hebat, kan, Buk?” Tentu saja dua jempol saya berikan untuknya.

Penanganan pada kasus tantrum akibat frustasi bisa jadi lebih mudah. Karena yang dibutuhkan anak adalah dukungan dan perasaan aman dengan kehadiran dari orang-orang terdekatnya.

2. Tantrum Manipulatif

Hem, tarik napas dulu sebelum melanjutkan pada bahasan yang satu ini. Karena hampir satu bulan ini, saya sedang diuji dengan si kecil yang  lumayan sering menunjukkan indikasi tantrum manipulatif. Kok, kayaknya saya sok tau banget si kecil lagi tantrum manipulatif. Ya, karena saya benar-benar mengamatinya. Hal Ini juga yang belakangan lumayan menguras energi dan kesabaran saya, karena si kecil bisa tantrum di mana saja, kapan saja.

Kejadian yang masih anget baru saja saya alami sekitar 2 hari yang lalu. Waktu itu saya dan DuoNaj pergi berbelanja ke salah satu hypermarket di dekat rumah. Saya juga sok gaya-gayaan, biasa belanja di toko sebelah rumah, ee .. ndadak belanja ke hypermarket. Hahaha… kualat BukNaj. Sebenarnya alasan saya berbelanja ke sana karena mau menghabiskan voucher lebaran saja. Pas susunya anak-anak habis, ya sudah, saya bawa DuoNaj belanja tanpa bapaknya.

Balik lagi ke masalah tantrum. Saya ingat betul, waktu itu setelah selesai berbelanja,  si kecil (Najib) minta bermain di Time Zone. Saya dan Najwa menolak karena kami prefer ke tempat bermain yang lain, yang lebih sepi. Najib menolak dan memaksa ke tenpat bermain pilihannya. Saya dan Najwa pun mencoba memberikan pengertian. Meskipun akhirnya nggak merubah situasi. Najib malah menangis dengan kencang, menjerit-jerit sambil berguling-guling di lantai.

Tiba-tiba saya dan Najwa menjadi pusat perhatian bak seleb kenamaan, hehehe. Nggak hanya pengunjung, penjaga tenant sampai security melihat kea rah kami. Ada yang merasa prihatin, nggak sedikit juga yang kelihatan sebal. Ya, wajarlah. Mungkin mereka merasa terganggu dengan jeritan dan suara tangis Najib.

Saya tetap berusaha tenang. Najwa dengan cuek-nya meninggalkan saya dan Najib menuju tempat bermain yang diinginkannya. Tinggallah saya sendiri menghadapi sorotan lampu kamera tatapan orang-orang. Saya coba menenangkannya, memberikan pengertian, memluk, menggendong namun akhirnya ditolak. Dan terakhir saya meninggalkannya.

“Wong edan!” Mungkin begitu pikir orang-orang. Tapi biarlah, karena saya tidak serta merta meninggalkannya menangis. Saya pastikan tempatnya aman, dan saya hanya menjauh beberapa langkah dengan tetap waspada  pada kondisi si kecil. 

Akhirnya Najib batuk-batuk seperti mau muntah, saya sudah waspada dengan mengeluarkan tissue untuk membersihkan. Tapi kemudian dia berdiri dan mengejar saya. Adegan selesai saat dia diam dalam pelukan hangat BukNaj si ratu tega, hehehe.

Biar lebih gamblang, berikut cara menangani bayi tantrum manipulatif  berdasarkan pengalaman saya dengan menerapkan beberapa tips dari para ahli.



  • Pahami kemauan anak, apakah wajar atau tidak. Jika memang wajar dan beralasan untuk dipenuhi, maka jangan langsung menolak. Membiasakan anak menunggu hingga keinginannya terpenuhi adalah salah satu cara untuk mengembangkan sifat sabar dan pengendalian diri.
  • Kenali jenis tangisannya. Jika dia menangis dengan cara dibuat-buat, dikencang-kencangkan dan cenderung histeris tapi sesekali melirik orang tuanya. Maka bisa jadi dia sedang mencari perhatian kita. Hal ini adalah salah satu indikasi tantrum manipulatif.
  • Time out. Ajak anak ke tempat tersendiri. Pisahkan dari teman-temannya jika sedang dalam permainan. Ajak ke kamar jika sedang di rumah. Bawa ke kamar mandi atau tempat yang lebih sepi jika sedang di keramaian. Dalam situasi terpisah, orang tua bisa memberikan pengertian perihal apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan saat marah.
  • Pelukan biasanya berhasil meredakan kemarahan. Sambil berusaha menenangkan dan memberikan kenyamanan pada anak, orang tua dapat membisikkan penjelasan tentang perilakunya.
  • Orang tua tetap tenang. Tahan emosi, tahan keinginan untuk berteriak, maka situasi akan semakin terkontrol. Ingat selalu, amarah akan semakin memperkeruh keadaan.
  • Tinggalkan. Meninggalkan anak dalam kondisi yang dapat diperhitungkan keamanannya dan dalam jarak dekat bisa menjadi semacam sinyal untuk anak. Bahwa apapun yang dilakukannya tidak akan memengaruhi orang tua. Anak akan memahami usahanya sia-sia dan bisa jadi tidak ingin mengulanginya lagi.

Fiuh!! Nggak mudah ternyata. Tapi nggak terlalu susah juga asalkan sudah dibiasakan. Cara-cara seperti ini bisa jadi berhasil dalam rentang waktu tertentu. Dan akan lebih cepat jika orang tua kompak melakukannya. Karena, kadang kali antara ayah dan ibu saja sudah tidak kompak. Apalagi jika ada kakek atau neneknya. 

Parenting is a process, parenting is a journey. Tetap semangat dan nggak perlu galau dengan si kecil yang histeris. Good luck! Dan tetap semangat!

-DNA-




#ODOP
#Day23
#bloggermuslimahindonesia

Every Family Has Its Own Rule (I)

|


Azan magrib merupakan penanda, anak-anak harus berhenti bermain, masuk rumah, dan berdiam diri untuk sejenak.  Beribadah, makan malam kemudian dilanjutkan belajar. Boleh mengerjakan PR, belajar materi untuk keesokan hari atau membaca. Apa saja boleh dibaca, yang penting aktivitas yang dilakukan adalah membaca.

Kebiasaan  seperti ini sudah kami terapkan sejak memiliki anak pertama, terus berlanjut hingga hari ini dan secara otomatis menjadi semacam rule dalam keluarga kami. Peraturan semacam ini memang bisa jadi tidak selalu ketat, situasional. Misalnya saat weekend dan kami harus bepergian, bisa jadi waktu magrib kami masih berada di jalanan, di dalam alat transportasi atau bahkan terjebak dalam suatu acara.

Hal di atas hanyalah satu dari sekian rule yang tanpa sengaja disepakati bersama oleh seluruh anggota keluarga. Kebiasaan lain seperti mengembalikan barang ke tempatnya setelah dipakai. Mematikan kran air, meletakkan baju kotor di keranjang cucian. Semua itu hanyalah kebiasaan sehari-hari yang sangat sepele, namun entah mengapa tiba-tiba saja menjadi semacam rule yang dijalankan dan dipatuhi bersama.

Tapi, meskipun secara tidak langsung sudah disepakati. Ada kalanya anak-anak protes dan membanding-bandingkan dengan keluarga lain. Misalnya jika ada teman-temannya yang masih bermain di luar rumah selepas magrib. Mereka bakalan protes pada kami, orang tuanya. Saya, tentu saja tidak bergeming dengan rengekannya. Karena meskipun tidak ketat, tapi situasional. Tapi bukan juga berarti longgar. Harus melihat situasi dan kondisinya.


Saya yakin setiap orang tua dan keluarga, punya alasan tersendiri untuk memperbolehkan ini dan itu pada anak-anaknya. Mereka pun pasti memiliki pertimbangan terkait A, B atau C yang mereka terapkan pada anak-anaknya. Hal mengenai pembiasaan, pembentukan karakter dan cara pandang setiap keluarga juga pasti berbeda. Apalagi prioritas, tujuan dan cita-cita masa depan.

Sudah pasti setiap keluarga berkeinginan memiliki anak-anak yang sehat, baik, berkarakter kuat  dan hal-hal positif lainnya. Tapi dalam penjabarannya, pengambilan langkah pertama, problem solving dan perspektif hidup setiap keluarga juga sudah pasti berbeda. Ya, mau bagaimana lagi. Individu yang menjalankannya pun juga berbeda. Nggak mungkin diseragamkan meskipun tujuannya secara garis besar sama.

Mengenai menerapkan pembiasaan ini pun saya sempat kewalahan jika harus berdebat dengan anak. Belum lagi jika mereka melihat keluarga lain yang semuanya “serba longgar” juga baik-baik saja. Kenapa kita tidak?

Alasan saya pun kadang sepele saja, hanya agar anak-anak memiliki kebiasaan yang positif, tertib diri dan kemudian mandiri. “Ibuk, kan nggak bisa terus-menerus mendampingi kalian. Kalau kalian sudah mempunya kebiasaan, maka kalian akan lebih mudah pas dewasa nanti. “ Cuma gitu aja alasannya.

Pernah juga si kakak protes mengapa harus membaca setiap hari. Padahal teman-temannya tidak selalu membaca di rumah. Toh, mereka tetap pintar? Tarik nafas dulu sebelum jawab, hehehe … 

Kembali lagi, karena membaca adalah kebiasaan baik yang sedang kami terapkan dalam keluarga. Tidak hanya anak-anak, orang tua pun tak luput dari kebiasaan ini. Apa sih tujuannya? Membuka wawasankah? Atau menambah pengetahuan? Ya, itu tujuan yang lebih serius. Tapi untuk levelnya anak-anak, kebiasaan membaca kami tujukan untuk menumbuhkan rasa SUKA. Jika sudah suka, mana bisa mereka meninggalkannya? Ya, kan? Baru kemudian mereka akan merasakan setiap manfaat dari kebiasaan itu.

Memang tidak mudah menerapkan kebiasaan yang diharapkan menjadi rule dalam keluarga. Selain protes dari anak-anak, orang lain pun kerap mencibir, memandang sebelah mata. Sok-sokan banget, mungkin begitu batin mereka. Tapi, ya biarlah, karena tidak semua hal perlu kita dengarkan. Menutup telinga dan memakai kacamata kuda, kadang kala perlu dilakukan. Apalagi jika ini menyangkut apa yang diyakini baik untuk masa depan. Anggap saja cibiran itu sebagai supporter yang terus menyemangati kita untuk bergerak. Akur? Akurin, deh. 

Untuk itu semua maka, yuklah! Saling menghormati dan menghargai apa-apa yang diterapkan dalam sebuah keluarga patut kita perhatikan. Biarkan keluarga lain berbeda, begitupun sebaliknya bebaskan keluarga kita berjalan dengan apa yang kita yakini baik. Toh , semuanya memiliki tujuan masing-masing.selebihnya asal tidak mengganggu kepentingan umum, biarkan setiap keluarga berkembang dengan aturan dan kebiasaan yang mereka sepakati.

Di postingan kedua nanti saya akan berbagi sedikit, peraturan dasar dalam keluarga kami  yang bisa dibilang masih newbie.Ya, sekedar berbagi saja, syukur-syukur jika nantinya bermanfaat. Hehehe ... Stay happy


-DNA-


#ODOP
#Day22
#bloggermuslimahindonesia

Dear Ibu Hamil dengan Morning Sickness: Stay Strong 'cos You're Not Alone

|
Membaca status teman facebook yang nampaknya harus mendapat komentar negatif terkait morning sickness yang sedang dialaminya. Jujur, saya merasa prihatin. Bukan, bukan karena saya tidak pernah mendapatkan komentar sejenis, tapi justru karena saya pun tak luput dari serangan sejenis. Komentar yang melemahkan secara psikologis. Dibanding-bandingkan dengan mereka yang nggak harus berteman dengan morning sickness pada saat hamil.





Beneran, ya, sakitnya tuh dalem banget kalau kita dibilang nggak strong, malas, manja atau banyak alasan cuma karena mengalami morning sickness. Apalagi kalau ngomongnya sekarang, di zaman yang super milenial, di mana informasi kesehatan bisa diakses siapa saja. Apa iya, masih mau ngasih komentar negatif padahal sudah jelas kondisi tubuh setiap wanita berbeda. Begitu pun proses pembentukan hormon dan masalah kehamilan yang mungkin dialaminya.

Flashback 7 tahun yang lalu, saat sedang menjalani kehamilan anak pertama. Saya teler parah. Nggak cuma pusing atau mual, tapi muntah-muntah hebat. Apa saja yang saya masukkan ke mulut, dalam hitungan menit keluar kembali tanpa permisi. Sikat gigi saat pagi hari adalah musuh terbesar, padahal sebelum hamil  rutinitas ini tak pernah saya tinggalkan.  Bedak, lipstik, apalagi parfum tak pernah saya sentuh. Pokoknya semua yang berbau saya nggak sanggup untuk memakainya. Suami saya aja saya larang pakai wewangian, untungnya kami bertemu hanya sekali dalam sebulan.

Trimester awal, pas mabok-maboknya. Saya suka mengonsumsi ronde atau wedang jahe.

Hamil anak kedua nggak jauh berbeda. Tetap mual dan muntah. Meskipun nggak separah yang pertama, tapi nafsu makan sangat rendah, sehingga sempat mengalami berat ibu dan janin di bawah normal.  Meskipun begitu, saya sangat bersyukur karena hanya selama trimester pertama mengalami gejala morning sickness. Mentok-mentoknya saat usia kandungan genap 4 bulan sudah benar-benar sehat. Saya nggak bisa membayangkan yang mengalaminya sampai hampir 9 bulan. Atau bahkan sampai melahirkan.  Ini sudah cukup membuktikan bahwa kondisi tubuh ibu hamil memang tidak bisa disamaratakan.

Begitu pun jika ada statement yang mengatakan bahwa ibu-ibu yang mengalami morning sickness itu lemah, manja atau nggak mandiri. Hei, saya ini strong banget, loh! Nggak percaya? Sampai sudah hamil 9 bulan saja saya masih naik motor dan kemana-mana sendirian. Periksa dokter pun juga sering saya lakukan sendiri. Ngantor, tugas keluar kota? Semua masih saya lakukan selama hamil.

Pas hamil anak kedua juga nggak jauh berbeda, karena saya tidak menggunakan jasa ART.  Momong Najwa dan seluruh pekerjaan rumah tangga saya kerjakan sendiri.  Mengantar dan menemani Najwa di PAUD yang jaraknya tidak dekat dari rumah juga masih saya lakukan. Saat itu pun saya masih berbisnis online kecil-kecilan. Jadi jangan salah, tidak semua ibu yang mengalami morning sickness itu karena lemah, manja atau tidak mandiri.

Trimester akhir kehamilan masih aktif bekerja

Sebaliknya juga, tidak semua ibu yang cenderung anteng, kalem atau bahkan manja pasti mengalami morning sickness. Menurut saya sifat ibu dan gejala morning sickness yang dialami tidak ada hubungannya. Meskipun dalam salah satu artikel medis yang saya baca, gejala ini bisa dipengaruhi oleh faktor genetis dalam keluarga.

Lalu, sebenarnya apa saja yang menyebabkan gejala ini bisa terjadi bagi sebagian wanita hamil?

Menurut DSOG saya, gejala mual muntah atau biasa disebut morning sickness ( karena biasanya terjadi pada pagi hari, meskipun banyak juga yang mengalaminya sepanjang hari) merupakan salah satu gejala alami bagi wanita hamil. Untuk penyebab pastinya memang belum diketahui, tapi para ahli meyakini faktor perubahan hormon dalam tubuhlah yang paling berpotensi.

Misalnya, pesatnya peningkatan hormone HCG pada trimester pertama kehamilan. Ini ,mengapa banyak wanita yang mengalami mual hebat hanya pada trimester awal saja, karena morning sickness memang biasanya terjadi saat HCG sedang tinggi. Maka nggak perlu heran juga, jika pada kasus kehamilan kembar gejala morning sickness bisa jadi lebih berat. Itu karena kadar HCG jauh lebih besar.

Selain HCG, hormone lain yain yang diduga menimbulkan mual dan muntah pada kehamilan adalah hormon estrogen. Teman-teman pasti sudah akrab dengan nama hormon yang atu ini. Ya, peningkatan jumlah estrogen dalam tubuh juga diklaim menyebabkan munculnya mual dan muntah pada ibu hamil.

Disamping faktor hormonal, meningkatnya sensititivitas wanita hamil bisa jadi menyebabkan kepekaan terhadap bau dan aroma. Didukung dengan saluran pencernaan yang biasanya juga menjadi lebih sensitif pada trimester awal. Keduanya dapat memicu gejala morning sickness menjadi lebih parah.

Katanya, sih, faktor psikologis juga ikut memberi  andil pada kondisi wanita hamil. Bisa jadi karena stress atau terlalu banyak pikiran. Bahkan kesiapan seorang wanita untuk menjadi ibu juga dapat memengaruhi kondisi psikologisnya.Hem ... menurut saya masuk akal banget.

Tapi percayalah, semua akan baik-baik saja jika mendapat penanganan yang tepat. Saat hamil pertama, karena belum meiliki pengalaman, tentu saja saya sangat khawatir. Hingga akhirnya menerapkan beberapa tips yang kemusdian membantu mengurangi gejala morning sickness. Saya bilang mengurangi, bukan menghilangkan, ya. Toh, kenyataannya saya tetap mual dan muntah, hanya saja tidak sampai dehidrasi atau lemas.

Nah, kalau boleh, saya akan bagi sedikit tipsnya di sini. Boleh ya? Ya iyalah, lha wong blog saya sendiri, hehehe …



  1. Mengindari jenis makanan pencetus mual. Misalnya yang berminyak, berlemak, pedas, dan jujur saya nggak suka asam saat awal kehamilan. Karena menurut saya semakin memperparah rasa mual dalam mulut. Saya baru mengonsumsi rujak atau apalah yang asam-asam itu saat berada di trimester kedua.
  2. Makanan dengan aroma menyengat. Ini bisa jadi tergantung pada sensitivitas penciuman masing-masing.  Karena aroma yang keras dapat memicu gejala mual muntah.
  3. Makan dalam porsi kecil namun sering. Saya usahakan tetap dan terus makan meskipun semuanya berakhir muntah. Sehingga mengakalinya dengan makan dalam porsi kecil namun berulang.
  4.  Camilan buah dan biskuit sangat dianjurkan oleh bidan maupun dokter.
  5. Memperbanyak sayuran segar sehingga kondisi pencernaan lebih terjaga.
  6. Mengonsumsi air putih dalam jumlah cukup sehingga mencegah terjadinya dehidrasi akibat muntah.
  7. Mengonsumsi minuman jahe yang sangat membantu menghilangkan mual dan menghangatkan perut.
  8. Minum jus untuk memberikan aroma berbeda pada mulut, selain juga kandungan nutrisinya yang sangat bermanfaat.
  9.  Menenangkan diri  dan melakukan aktivitas kesenangan untuk memunculkan rasa bahagia.
  10. Berkonsultasi dengan dokter jika merasa ada suplemen yang diresepkan memperburuk rasa mual.

Kembali lagi, kondisi tubuh setiap ibu hamil berbeda, sehingga gejala dan penanganannya pun bisa jadi berbeda. Beberapa teman saya sempat harus opname karena lemas bahkan sampai pingsan. Ada juga yang mengalami dehidrasi dan kurang darah. Jika muncul gejala seperti itu, tentu saja tenaga medis yang harus dijadikan rujukan. Sedangkan tips di atas sifatnya untuk membantu mengurangi keluhan morning sickness dengan kondisi tubuh masih dalam ambang normal atau aman.


Well,  gejala apapun yang dialami setiap wanita, kehamilan tetap saja akan menjadi sebuah momen yang membahagiakan, mengehebatkan, membanggakan dan bersejarah. Maka membantu wanita hamil menjalani masa-masa yang berat adalah tugas kita yang mengenalnya, khususnya sesama wanita. Bukan malah jadi komentator negatif yang dapat memperburuk kondisi psikologisnya. Heh! Ngana udah pernah hamil belom? Gak care banget, sih. 

So, be happy mom and don’t care sama yang suka nyinyirin, ya, dear. Usahakan saja yang terbaik untuk janin kita. Ini badan, badan kita. Kita yang tahu bagaimana rasanya. Nggak perlu berkecil hati karena nggak jadi ibu hamil yang ngebo,  karena hamil dengan gejala morning sickness tidak selalu mengindikasi kekuatan tubuh seseorang atau kondisi janin yang kelak dilahirkan.

Keep happy! 



-DNA-


#ODOP
#Day21
#bloggermuslimahindonesia


Custom Post Signature

Custom Post Signature