Parenting Story, Mom's Life, Tips

Mengajak Anak Meneladani Nabi dengan 30 Kisah Bersama Para Nabi

|
30 Kisah Bersama Para Nabi


Dalam keluarga muslim, menumbuhkan karakter islami pada diri anak tentu menjadi family goals yang patut diupayakan, bukan? Salah satunya dengan cara mengajak anak mengenal nabi, untuk kemudian meneladani karakter positif yang melekat pada diri manusia-manusia terpilih tersebut. Tapi, perlu diakui bahwa hal ini bukan perkara yang mudah. Terlebih bagi anak yang masih tergolong muda, karena daya nalar yang masih minim bisa jadi kendala tersendiri ketika anak harus mengambil teladan dari sosok yang belum pernah dijumpainya secara langsung.

Untuk itu, orang tua perlu mempertimbangkan kapan waktu yang tepat untuk mulai mengenalkan anak pada nabi dan karakter positif yang dapat mereka teladani. Perlu diingat, kenabian termasuk dalam konsep abstrak yang bisa dipahami otak manusia dengan keterampilan berpikir tingkat tinggi. Atau dalam hal ini, jika merujuk pada usia anak-anak. Maka pada usia 5 tahun mereka baru mulai mengembangkan kemampuan tersebut.

 

Di samping itu, perlu dipahami juga bahwa untuk menumbuhkan karakter baik pada diri anak tidak bisa disampaikan secara teoriti, yang biasanya bersifat ceramah atau cenderung menggurui. Apalagi kita hidup dengan kids zaman now yang cenderung kritis terhadap hal baru yang mereka pelajari. Orang tua perlu melakukan penetrasi dengan cara-cara yang lebih asyik dan dekat dengan kehidupan sehari-hari. Misalnya melalui dongeng atau buku cerita yang mengulas kisah keseharian nabi yang dibumbui dengan nilai dan karakter positif yang bisa dipetik anak.




30 Kisah Bersama Para Nabi


Buku 30 Kisah Bersama Para Nabi sebagai contohnya. Buku ini mengulas 30 kisah dari para nabi yang sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari. Misalnya pada kisah yang berjudul " Berguru pada Nabi Khidir", yang merupakan kisah pertama dari 30 kisah  dalam buku setebal 154 halaman tersebut.

Di situ diceritakan bagaimana Allah murka kepada Nabi Musa akibat kesombongannya. Sehingga Allah memerintahkan kepadanya untuk berguru kepada Nabi Khidir yang memiliki lebih banyak ilmu. Secara sederhana anak akan memelajari bahwa bersikap sombong bukanlah hal yang terpuji. Karena bagaimana pun juga tidak ada yang sempurna di muka bumi ini. Selalu ada yang melebihi diri kita. Dan jika terus dicari sampai ujungya, maka manusia tidak akan pernah puas. Karena kesempurnaan itu hanya milik Allah.

Baca yang ini juga ya : Menjelaskan Makna Hari Raya Kurban pada Anak

Selain itu, 29 kisah lain seperti, "Ismail, Sabar Memenuhi Perintah Allah", "Nabi Adam yang Genius", "Nabi Sulaiman Penyayang Binatang, hingga kisah "Nabi Yahya, Berani karena Benar" semuanya akan meninggalkan nilai dan teladan tersendiri yang dapat menumbuhkan karakter positif dalam diri anak. Tentu saja dengan pendampingan dari orang tua sebagai fasilitator utama.

Buku karangan Dedeh Sri Ulfah ini sangat  mudah dipahami karena menggunakan kisah sehari-hari yang dialami nabi. selain itu, buku ini juga dilengkapi dengan ilustrasi yang menarik, full color dan dicetak di atas kertas yang tidak mudah sobek. Sehingga dari segi tampilan sangat cocok dan mampu membangkitkan rasa ingin tahu pada anak.

30 Kisah Bersama Para Nabi
Lembar aktivitas dalam buku


30 Kisah Bersama Para Nabi
Lembar aktivitas dalam buku


Tidak hanya itu, setiap judul dalam 30 Kisah Bersama Para Nabi ini juga disertai dengan lembar aktivitas sederhana yang dilengkapi ilustrasi. Tujuannya untuk mengasah daya ingat dan mengembangkan kemampuan berpikir anak. Sehingga memudahkan anak untuk mengambil teladan dan karakter positif dalam setiap cerita.

Tertarik untuk menggunakan 30 Kisah Bersama Para Nabi sebagai media menumbuhkan karakter islami pada diri anak? Langsung saja cek buku terbitan PT. Elex Media Komputindo ini di bagian Children Books, di rak Toko Buku Gramedia terdekat. Atau bisa juga melakukan pemesanan secara online untuk mendapatkan tanda tangan asli langsung dari pengarangnya. Kontaknya ada di sini.

Baca juga: Bagaimana Doa Bisa Terkabul? Begini Cara Najwa Memahaminya. 

Buku ini dapat dibawa pulang atau dikirim langsung ke alamat Teman-teman hanya dengan berinvestasi sebesar 94.800 saja. Sangat murah jika dibandingkan dengan manfaatnya dalam jangka panjang. Bahkan bisa diwariskan dari generasi ke generasi berikutnya. 

30 Kisah Bersama Para Nabi
Jangan lupa cek di Toko Buku Gramedia, ya.


Tunggu apalagi? Yuk, segera ambil double kesempatan untuk mewujudkan family goals dalam keluarga kita. Karena selain iktiar menumbuhkan karakter islami melalui 30 Kisah Bersama Para Nabi, secara tidak langsung kita juga sedang membangun budaya membaca dari rumah.


Selamat Membaca!




Referensi:
https://www.muslimahzone.id/kapan-mengenalkan-anak-kisah-nabi



Ibu Selalu Ada meskipun Tak Mampu Sempurna

|

Tempra Syrup


Jika hari ini saya terlihat sangat menikmati peran  sebagai ibu, tentu saja hal itu tidak datang begitu saja. Proses yang saya lalui lumayan panjang dan berliku. Tak sedikit pula air mata yang saya tumpahkan selama proses ini berlangsung.

Bukan. Bukan karena saya belum siap menjadi ibu. Atau karena saya tidak menyukai anak-anak. Saya menikah saat usia sudah matang untuk ukuran gadis desa. Sebelum menikah pun saya sangat dekat dan senang beraktivitas dengan anak-anak. Tapi setelah melahirkan dan resmi menjadi ibu bagi Najwa, saya merasakan kondisi saya sangat tidak ideal. Jauh dari kata sempurna untuk disebut ibu yang utuh.

Anggapan seperti itu mungkin memang hanya datang dari alam bawah sadar saya sendiri. Karena kenyataannya tak ada seorang pun yang pernah mengucapkannya, entah kalau di belakang, ya. Hehehe. Di mulai dengan melahirkan secara caesar, gagal  memberikan ASI pertama, dan kemudian tak mampu mengasuh sepenuh waktu karena masih bekerja kantoran. Perasaan-perasaan tak mampu sering kali mengganggu pikiran saya.

Sebenarnya tak ada yang salah dengan semua itu. Melahirkan dengan cara apapun seorang ibu tetaplah ibu. Begitu pun halnya tak ada satu definisi pun yang menyebutkan bahwa seorang ibu adalah ibu rumah tangga. Ibu, ya hanyalah mereka yang mampu membesarkan anak-anaknya dengan curahan kasih sayang dan doa. Bahkan saat si anak bukan dari rahimnya.


Masalahnya, saya bukan tipe orang yang bisa cuek dengan lingkungan sekitar.  Terlebih, saat melihat karakter saya berbeda dengan teman atau perempuan lain yang juga menyandang status sebagai ibu. Bukannya bersikap lembut pada anak, saya merasa terlalu tegas bahkan saat Najwa masih berumur balita.

Sempat berpikir bahwa karakter pengasuhan saya pasti sedikit banyak dipengaruhi oleh pengalaman pengasuhan orang tua. Tapi apa iya saya harus menyalahkan ibu yang saat itu berjuang sebagai single parent? "Ah! Semua ini pasti karena aku kurang cakap mengelola emosi. Sehingga tak maumpu bersikap sebagaimana layaknya ibu kepada anak," begitu batin saya dalam hati kala itu.


Tempra Syrup
Bagi Najib, anak bungsu saya. Saya adalah kekasih dan ciuman pertamanya.

Munculnya Perasaan Inferior


Sering kali muncul perasaan minder dalam diri saya saat melihat ibu lain begitu piawai melakukan perannya. Persis seperti yang sering saya baca dalam buku-buku parenting. Kalau sudah begitu biasanya saya agak uring-uringan karena merasa jauh dari standart itu.

Kadang, perasaan inferior juga muncul saat melihat orang tua yang tidak hanya mengasuh. Tapi sanggup mendidik dalam segala hal. Baik pendidikan moral dan budi pekerti. Agama bahkan berbagai jenis ilmu yang memang mereka kuasai. Saya salut dengan ibu-ibu yang mampu mengawal anak-anaknya dengan model pendidikan homeschooling. Menurut saya mereka tidak hanya hebat, tapi memang begitulah selayaknya seorang ibu sebagai madrasah utama bagi anak-anaknya.

Perasaan-perasaan seperti itu sukses membuat kepercayaan diri saya merosot, dan puncaknya sikap emosional yang sering saya tunjukkan pada anak-anak saya.


Menjadi Ibu Tak Harus Sempurna tapi Harus Memiliki Cinta

 

Hingga akhirnya saya coba berdamai dengan segala kondisi yang ada. Mulai memahami dan menerima keterbatasan yang saya miliki. Sampai memahami karakter dan kondisi psikologis anak. Saya pun sampai pada satu kesimpulan bahwa anak-anak lebih membutuhkan cinta dan kasih sayang saya, ketimbang segala hal yang selama ini memunculkan perasaan inferior. 

Mereka sangat gembira saat bermain bahkan dengan permainan yang asal-asalan dan ala kadarnya. Jauh dari labeling mainan edukatif yang biasanya disematkan untuk permainan orang tua masa kini. Mereka pun tidak mempermasalahkan cara saya bertutur dan mengasuh yang tak selembut ibu peri. Efeknya justru hubungan kami seperti teman sebaya, bukan hanya ibu dan anak.

Kedekatan yang unik ini menyadarkan saya bahwa anak-anak menerima ibunya apa adanya. Mereka tak butuh segala "atribut ibu sempurna". Tak peduli bagaimana saya melahirkan mereka. Yang mereka tahu saya adalah teman terbaiknya. Hingga kapan pun mereka ingin bermain atau sekedar bercerita, maka sayalah orang pertama yang dicarinya.

Kebutuhan seperti itu tidak lain adalah ungkapan cinta. Ya, anak-anak sangat mencintai saya dengan segala keterbatasan yang ada pada diri ibunya. Cinta, adalah mantra ajaib bagi seorang ibu. Bukan kesempurnaan, tapi cinta dan kemauan untuk menerima dan memahami keunikan setiap anggota keluarga.

 



Tempra Syrup
Kemana pun kami selalu bertiga. Kurang lebih seperti Trio Kwek-kwek. Hehehe :)


Mencintai dengan Cara yang Tak Biasa

 

Perasaan dicintai dan dibutuhkan anak-anak, secara perlahan "menggiring" diri menjadi pribadi yang berbeda. Saya lebih banyak bersyukur, lebih mampu mencintai dan bisa berdamai dengan diri sendiri. 

Hal baik seperti itulah yang kemudian membuat saya mampu mencintai anak-anak dengan cara saya sendiri. Beda? Sekilas mungkin sama saja. Tapi saya lebih suka menyebutnya dengan cara yang tak biasa, karena ini adalah cara saya mencintai mereka.

Baca juga: L.O.V.E - How do You Spell Love?


Menjadi teman dekat anak

Mengasuh anak merupakan aktivitas membersamai yang tak berkesudahan. Mulai dari bayi hingga dewasa, saya kira orang tua masih terus mengasuh anak-anaknya. Hanya saja caranya pasti berbeda. Dulu kecil mereka kita timang. Tapi begitu beranjak remaja, mereka tak membutuhkan itu lagi. Mereka butuh teman dekat untuk berbagai segala hal yang dialaminya.

Begitu usia bertambah dewasa, yang mereka butuhkan tidak sekedar teman dekat. Seiring bertambahnya tanggung jawab dan persoalan hidup yang harus mereka hadapi. Maka orang tua adalah tempat berguru pengalaman dan meminta pertimbangan.

Saya yakin dengan memposisikan diri sebagai teman, maka hubungan dengan anak-anak tak lekang oleh zaman. Ketika mereka bertumbuh, saya pun akan menumbuhkan kedewasaan dan kearifan saya sebagai orang tua. Tapi saat mereka masih ana-anak seperti sekarang, saya tidak segan masuk ke dunia yang penuh dengan fantasi yang seringnya tidak masuk akal.

Baca juga: Every Family Has Its Own Rule (1)


Tempra Syrup
See, he likes to kiss me.


Mengakui dan Saling Menerima Kekurangan

Kalau dulu saya cenderung menutupi kekurangan pada diri. Kini saya mulai bersikap apa adanya. Saya tak segan untuk mengatakan pada anak dan suami tentang hal-hal yang memang tidak saya kuasai. Misalnya jika mereka meminta makanan tertentu, saya jujur saja bilang, "ibu belum bisa, karena belum belajar. Nanti, setelah ibu belajar, pasti ibu buatkan."

Atau saat mereka mengeluhkan cara berbicara saya yang keras. Saya akan dengan jujur mengakui bahwa gaya berbicara ibu memang seperti ini, keras dan tegas. Tapi dalam hati sebenarnya saya sangat perasa dan mudah memahami perasaan orang lain.

Sebaliknya, saya pun mulai tak segan menerima kekurangan-kekurangan baik pada anak maupun pasangan. Saya paham ada banyak hal yang tidak bisa diubah dengan cepat. Butuh proses dan pemahaman yang tidak sebentar pula. Maka dari itu, saya pun berusaha menerima, karea di sisi lain saya ingin diterima apa adanya.

Baca juga: Emotional Conversation with Kiddos


Bersedia Berproses Bersama

Seperti yang saya sebutkan di atas, bahwa menjadi orang tua  merupakan tanggung jawab yang tak berkesudahan. Tantangan yang dihadapi pun selalu berubah dari waktu ke waktu. Untuk itu saya memilih berproses bersama mereka sehingga dapat mengikuti setiap fase tumbuh kembangnya.

Raga boleh menua, tapi rasa dan pengetahuan seorang ibu sudah semestinya bisa berjalan beriringan dengan zaman anak-anaknya.


Menjadi Diri Sendiri dalam Mencurahkan Cinta dan Perhatian

Jika sebagian besar ibu menyapa anak-anaknya dengan cara, "Halo, sayang. Bagaimana kegiatan hari ini? Capek, nggak? Sini Mama pijitin?" Saya malah seringnya mengatakan seperti ini, " Hai, guys? Udah pada makan belum? Ngomong-ngomong, ada kejadian seru apa hari ini?"  Meskipun dari segi usia mereka masih kanak-kanak, mereka paham betul cara saya itu. Mereka pun langsung berceloteh mulai A sampai Z seolah sedang bercerita pada temannya. 

Cara dan ekspresi setiap ibu memang selalu berbeda. Tapi coba kita rasakan, selalu ada cinta dalam segala hal yang mereka lakukan pada anak-anaknya.

Tempra Syrup
Trio kwek-kwek lagi edutrip ke Museum Air Tawar di TMII.

Menjadi Penolong Pertama

Bagi saya, setelah seorang perempuan mengikrarkan diri sebagai ibu itu artinya harus siap menjadi penolong utama bagi anak-anaknya. Apapun dan bagaimana pun caranya, ibulah yang pertama kali dibutuhkan anak-anak. Bahkan mengenai hal ini pun, Allah telah menunjukkannya melalui hubungan dalam tali pusat dan Air Susu Ibu.

Untuk itu saya pun berusaha menjadi penolong pertama bagi Najwa dan Najib yang tergolong masih kanak-kanak. Masih butuh banyak dibantu dalam segala hal. Tidak hanya untuk kegiatan sehari-hari atau dalam permainan. Untuk urusan sekolah atau kegiatan lain di luar rumah. Ibu, ibu dan ibu, begitulah biasanya anak-anak meminta saya sebagai penolongnya yang pertama.

Itu saja saat kondisi mereka sehat. Saat sakit, saya bukan hanya penolong pertama, tapi benar-benar menjadi ibu peri yang membawa kesembuhan bagi mereka. Untungnya, saya telah belajar banyak hal mengenai penanganan anak sakit sejak kelahiran anak pertama.

Anak-anak memang masih rentan sakit, terlebih panas dan deman yang biasanya muncul akibat respon terhadap gangguan pada tubuh. Misalnya mau flu atau tumbuh gigi. Biasanya selalu diawali panas atau demam ringan sebagai gejala awal. 

Biasanya, saya pun tidak tergesa-gesa memeriksakan anak ke dokter. Sebagai pertolongan pertama, beberapa hal berikut ini selalu saya lakukan pada anak saat demam.


Pertolongan Pertama saat Anak Demam 
1. Periksa suhu tubuh secara berkala dengan termometer. Saya pun terbiasa mencatatnya untuk melihat perkembangannya dari jam ke jam berikutnya. saat suhu masih di bawah 38, saya masih menganggapnya aman. Tapi ketika sudah menyentuh angka 38 atau lebih, maka segera saya memberikan obat. Dan 

2. Mengompres lipatan-lipatan tubuh dengan kompres hangat. Ya, sejak Najwa berusia 1 tahun saya mulai beralih menggunakan kompres hangat karena mempertimbangkan pendapat dari ahli medis. Selain itu, saya tetap memandikan anak-anak bahkan mengajak mereka berendam di bak air hangat dengan maksud membantu menurunkan suhu tubuhnya.

3. Memperbanyak cairan yang masuk ke tubuh anak, terlebih air putih. Cara ini untuk mencegah dehidrasi yang biasanya mengikuti gejala sakit panas atau demam. Untuk itu konsumsi air putih atau minuman dalam bentuk lain harus dijaga agar tubuh tidak sampai kekurangan cairan. Oh ya, kadang-kadang saya juga memberikan sari kurma untuk menjaga trombosit darah tetap stabil. 


Tempra Syrup
Saat kondisi tubuh menurun atau demam, saya pastikan anak banyak mengasup buah-buahan dan air putih.


4. Memakaikan pakaian yang berbahan dingin dan menyerap keringat. Serta mengatur suhu ruangan tetap dingin meskipun juga jangan sampai kedinginan.

5. Memberikan parasetamol untuk membantu menurunkan panas dan menghilangkan nyeri. Untuk jenis parasetamolnya sendiri saya sudah terbiasa memakai Tempra Paracetamol Syrup

Kalau ditanya mengapa memlih Tempra? Alasan pertama karena sudah dipakai turun temurun sejak zaman ibu saya mengobati anak-anaknya.  Setelah itu beralih pada kakak-kakak saya yang memilih Tempra juga untuk pertolongan pertama saat demam bagi anak-anaknya. Saya pun sudah menggunakannya saat baru memiliki anak pertama. Jadi begitu cocok dan tidak ada efek samping, rasanya sudah malas coba-coba obat penurun panas jenis lain.


Tempra Syrup
Tempra Syrup dan Termometer adalah senjata andalan ibu siaga demam.


Kelebihan Tempra Syrup

Selain itu saya lebih memilih paracetamol ketimbang ibuprofen ketika anak mengalami panas atau demam ringan. Karena cara kerja paracetamol sendiri lebih terfokus pada menurunkan demam dan bersifat anti-pirektik pada pusat pengatur suhu di otak. Sehingga proses penurunan suhu tubuh pun biasanya berlangsung secara bertahap.

Sedangkan untuk ibuprofen, para ahli berpendapat obat jenis ini bekerja lebih maksimal ketika ditemukan gejala inflamasi atau peradangan. Dari pengalaman saya, penurunan suhu tubuh cenderung cepat. Tapi jika tubuh penderita tidak siap, justru bisa menggigil karena kaget dengan penurunan suhu yang drastis.


Tempra Syrup
Dosis pemakaian Tempra Syrup.


Untuk Tempra Paracetamol Syrup sendiri selain mengandung paracetamol, kandungan analgetika di dalamnya mampu meningkatkan ambang rasa sakit. Sehingga dapat membantu mengurangi rasa nyeri yang mengikuti gejala panas dan demam pada anak.

Oh ya, Tempra Paracetamol juga sangat aman untuk lambung. Karena pada dasarnya paracetamol sendiri memang bisa dikonsumsi sebelum atau sesudah makan. Meskipun biasanya dianjurkan setelah makan. Sedangkan untuk cara mengonsumsinya tidak perlu dikocok dulu, karena sirup obat Tempra sudah larut 100%  dengan dosis yang tepat sehingga tak perlu khawatir kurang atau lebih. Yang penting selalu perhatikan dosis pemakaian yang ada di kemasannya.

Tempra Syrup
Kandungan produk dan peringatan pemakaian.


Dan yang penting banget, nih. Tempra Syrup bebas alkohol sehingga benar-benar aman. Rasanya pun enak dan tidak pahit, sehingga mudah memberikannya pada anak-anak. Saya pun selalu memiliki persediaan di rumah agar selalu merasa aman karena harus menjadi penolong pertama bagi anak.


6. Yang terakhir, saya akan segera memeriksakan si kecil ke dokter jika panas atau demam tubunya tidak kunjung reda setelah tiga hari pengobatan di rumah.  Tindakan ini harus segera dilakukan karena penangan yang telat pada kasus demam bisa berakibat fatal.

Baca juga: Every Family Has Its Own Rule (2)


Berbekal cinta dan kasih sayang untuk anak-anak, saya merasa lebih utuh sebagai seorang ibu. Karena saya yakin, setiap ibu adalah perwujudan cinta kasih. Oleh sebab itu selalu ada cinta dalam dirinya. Walaupun cara mengekspresikannya bisa jadi berbeda. Karena setiap ibu unik dan melahirkan anak-anak yang juga tak kalah unik.


Tempra Syrup
Anak-anak, masa depan yang menguatkan setiap langkah saya.


Teman-teman yang sudah menjadi ibu pasti tahu bagaimana rasanya, kan? Yuk, berbagi pengalaman menjadi ibu di komentar, ya. Have fun with our own journey as a Mom, Ladies!



Referensi tambahan:
https://hellosehat.com/hidup-sehat/tips-sehat/paracetamol-vs-ibuprofen/
http://www.taisho.co.id/index.php/id/hidden-menu-tempra/89-tempra-syrup



Artikel ini diikutsertakan dalam lomba blog yang diselenggarakan oleh Blogger Perempuan Network dan Tempra.



Harbolnas 2017 dan Kejutan di Bulan Desember

|
Harbolnas 2017
Pexel.com


Desember yang selalu saya nantikan telah tiba. Bukan hanya hujan dan dingin udaranya yang membuat bulan ini menjadi istimewa. Tapi jadwal rutin mudik kedua adalah hal yang paling kami tunggu selama 6 bulan lepas libur hari raya. Yiha!! Can't wait!

Kebetulan saya dan suami sama-sama orang Magetan. Hanya beda kampung, dan itu pun bisa ditempuh dengan sepeda kayuh roda 2. Wajar jika kami berdua menyimpan kerinduan yang sama dengan kota kecil di timur Gunung Lawu ini. Rasa rindu pada orang tua, saudara, teman dan hangatnya tempat peraduan masa kecil selalu memanggil untuk pulang.

Terlebih sekarang, saat kami mulai terjebak dengan rutinitas yang menuntut serba cepat dan praktis. Suasana desa yang sepi serta ritme kehidupan yang terasa lebih lambat sangat sayang jika tak kami cicipi barang sesaat.

Bagi saya pribadi, pulang di bulan Desember seolah membuka kembali kenangan masa kecil yang membentuk pribadi saya hingga hari ini. Tepatnya 27 tahun yang lalu, pada 29 Desember yang basah karena hujan semalam suntuk. Keluarga kami mengalami 2 peristiwa besar yang kemudian mengubah perjalanan hidup dan perjuangan kami sebagai keluarga dengan dominasi perempuan.



29 Desember yang Kelabu 

Malam itu, masih jelas dalam ingatan saya. Saudara dan tetangga menyampaikan kabar bahagia kelahiran adik kami dengan terisak. Bagi saya yang kala itu berusia 6 tahun, hal tersebut sangat janggal. Kabar kelahiran yang sejatinya harus disampaikan dengan sumringah dan penuh tawa, kali ini harus diiringi tangis dan air mata.


Harbolnas 2017
Adik saya paling kanan.

Ternyata malam itu kami tidak hanya mendapatkan seorang adik. Anak perempuan keempat yang dilahirkan mama saya. Tapi kami juga kehilangan papa yang harus lebih dulu bertemu pencipta-Nya. 

Susah untuk menggambarkan kembali betapa kelabu suasana malam itu. Kami hampir tak percaya akan adanya harapan lagi di hari esok. Tapi kemudian mama mengajak kami bangkit. Yakin dengan segala ketentuan yang Allah berikan bagi seluruh hamba-Nya. Dan dengan harapan memberikan masa depan untuk bayi cantik yang tak pernah merasakan sentuhan dari papanya. Maka kami pun berusaha agar Desembernya tak lagi kelabu.


Hadiah Ulang Tahun ke-27

Untuk alasan itu pula, saya berencana memberikan surprise untuk Desembernya yang ke 27 di tanggal 29 nanti. Saya ingin membelikannya android agar kami yang terpisah jarak dan waktu semakin lancar berkomunikasi. Belakangan, adik saya sangat susah dihubungi karena handphone-nya rusak. Waktu dia bilang mau beli lagi pun, bukan android yang dibelinya. Jadi agak susah untuk video call atau berkirim voice message.


Harbolnas 2017
Pexel.com


Kebetulan sekali, berbelanja gadget semacam handphone sudah semakin mudah dengan persaingan harga yang juga sangat ketat. Terlebih jika kita berbelanja di laman Lazada Indonesia. Saking banyaknya merk android dan variasi harga. Saya sempat kewalahan memilih mana yang sekiranya cocok d kebutuhan adik saya.

Itu saja masih dalam penjualan dengan harga normal. Belum lagi pas Harbolnas 2017 yang akan digelar mulai 12 hingga 14 Desember nanti. Diskonnya pasti lebih gila-gilaan, belum juga aneka promo lain yang biasanya ditawarkan khusus pada saat momen Harbolnas.


Pantau Terus Harbolnas 2017 dan Rasakan #DiskonMengguncangSemesta


Oh ya, Teman-teman sudah tahu kan, apa itu Harbolnas? Harbolnas atau Hari Belanja Online Nsional pertama kali digelar Lazada Indonesia pada tahun 2012. Lazada Indonesia adalah e-commerce yang pertama kali yang menjadi pelopor event belanja tahunan ini. Pada momen Harbolnas, tidak hanya diskon gede-gedean atau gila-gilaan yang bisa konsumen dapatkan.  Tapi khusus untuk Lazada Indonesia, mereka juga menyediakan program wishlist, flash sale , buy 1 get 1 dan clearance sale. Tinggal kuat-kuatin kitanya aja mantengin  setiap update di laman mereka.

Apalagi konsep tahun ini #DiskonMengguncangSemesta, bisa dibayangin, dong, seberapa banyak diskon yang akan diberikan. Juga program-program yang pastinya bikin konsumen kudu selektif dan benar-benar membuat skala prioritas untuk wishlist yang diinginkan. Setuju, ya?

Selain gadget untuk hadiah ultah adik saya. Sebenarnya saya sudah beberapa kali membuka laman e-commerce ini, khususnya untuk kategori kesehatan dan kecantikan, ehem. Tau diri lah ya, usia sudah gak muda lagi. Kayaknya semakin butuh perawatan dari luar, sama make-up jika diperlukan untuk resepsi atau menemani suami ke sebuah acara.

Atau terkadang produk untuk anak-anak. Mulai fashion sampai mainan. Belanja di Lazada Indonesia memang sudah seperti masuk mall besar. Bedanya kalau di mall yang pegel kaki, kan. Nah, kalau di sini siap-siap aja  diteriakin anak-anak. Karena terlalu betah berlama-lama di depan laptop atau handphone, hehehe.
 

Lazada Pilihanku


Khusus untuk Harbolnas kali ini, karena wishlist utamanya android untuk hadiah ultah adik. Maka brand-brand ternama seperti Samsung, OPPO, Asus dan Lenovo yang akan terus saya pantau. Enaknya nih, buat emak-emak seperti saya yang susah keluar rumah untuk cek perbandingan harga dari beberapa toko penyedia gadget. Belanja di Lazada Indonesia sudah seperti masuk ke ITC aja kalau di Jakarta. Sekali buka lamannya, maka ratusan handphone dari berbagai merk, dengan beragam spesifikasi dan variasi harga terpampang di depan saya.

Saya pun tak perlu repot menenteng barang, sambil menggendong dan menggandeng 2 anak. Karena barang belanjaan akan langsung dikirimkan ke alamat rumah. Jika ada masalah yang tidak diinginkan? Tenang saja, Customer Care siap melayani konsumen selama 24 jam. Dan yang paling penting pedagang yang tergabung di Lazada Indonesia sudah terverifikasi dengan ketat. Sehingga produk yang ditawarkan pun bisa dijamin kualitasnya.

Oh ya, karena saya sudah tergabung sebagai affiliate di Lazada Indonesia, saya pun bisa mendapatkan komisi dari pembelian konsumen yang berasal dari link afiliasi saya.  Lumayan banget, dong. Emak-emak freelancer paling nggak bisa melihat peluang berpenghasilan dianggurin begitu saja, Hehehe, realistis!





Dan kabar gembiranya, Teman-teman pun bisa mendapatkan peluang seperti saya. Caranya pun sangat gampang. Teman-teman cukup mendaftar di link afiliasi berikut ini. Isi data yang diminta, submit, dan tunggu sampai ada approval. Setelah itu Teman-teman bisa langsung mempromosikan link afiliasinya untuk mendapatkan pembeli yang menggunakan link kita. So simple, kan?

Sekarang saya mau siapkan dulu kuota internet. Biar pas Harbolnas 2017  yang tinggal menghitung hari nanti koneksi saya lancar, siap berebut produk berkualitas. Dan yang terpenting, semoga kejutan untuk ultah adik saya benar-benar cocok dan bermanfaat. Hingga Desembernya tak lagi kelabu seperti yang kami janjikan 27 tahun yang lalu.



 



So GOOD CERDIK dan Keasyikan Mendongeng untuk Generasi Z

|
So Good Cerdik

"Dongeng sebelum tidur, ceritakan yang indah biarku terlelap."
Hayo!.. Siapa yang masih ingat penggalan lirik lagu di atas angkat tangannya? Teman-teman yang lahir sebagai generasi milenial pasti tidak asing dengan grup band Indonesia yang menyanyikan lagu tersebut. Setuju, ya? Lagu berjudul "Dongeng Sebelum Tidur" memang sempat hits saat saya masih duduk di bangku SMP, duh jadi ketahuan angkatan berapa, nih. Hehehe. Selain easy listening, lirik-lirik dalam lagu ini memang sangat natural, khas anak-anak pada masanya. Dan memang benar, mendengarkan dongeng adalah satu ritual sebelum tidur yang dimiliki hampir setiap anak pada masa itu.

Saya pun termasuk bagian dari generasi milenial yang beruntung itu. Meskipun hidup dengan ibu sebagai orang tua tunggal. Saya mendapatkan banyak kesempatan mendengarkan dongeng dan cerita-cerita inspiratif darinya. Memori seperti itu sangat membekas bagi saya. Karena dari kisah-kisah yang diperdengarkan ibu, saya tidak hanya menerka-nerka seperti apa masa depan yang ingin saya gapai. Tapi banyak nilai moral dan perjuangan hidup yang membentuk pribadi saya seperti sekarang.


Gadget dan Generasi Z

 

So Good Cerdik
Anak-anak saya izinkan bermain gadget, namun dengan aturan yang disepakati bersama.

Zaman berubah, generasi baru pun terus dilahirkan. Saya dan juga Teman-teman yang sempat berbangga menyebut diri sebagai generasi milenial. Kini harus mempersiapkan diri untuk menyambut generasi baru yang lahir bersamaan dengan internet sebagai salah satu budaya. Ya, generasi ini adalah Generasi Z.  Generasi yang sangat dekat dengan teknologi digital, baik internet maupun gawai.

Saya pun kini harus berhadapan langsung dengan dua anak dari generasi z di rumah. Anak-anak yang sangat kritis dan tidak gagap teknologi. Sehingga gadget dan internet bukan lagi hal yang asing bagi mereka. Ya, anak-anak saya memang belum steril dari gadget. Saya akui tidak mudah bagi saya dan suami untuk menjauhkan anak-anak dari gadget, mengingat pekerjaan kami berdua juga tidak bisa lepas dari peralatan elektronik tersebut. 

Selain itu, saya pribadi butuh sesuatu sebagai pengalihan. Karena kami hanya tinggal berempat, otomatis ketika suami sedang keluar kota anak-anak hanya bersama saya. Kadang-kadang saya harus mengejar deadline atau melakukan pekerjaan rumah lainnya. Pada saat seperti itu, saya butuh gadget untuk membuat mereka diam dan tenang. Tanpa perlu saya terus menerus mengikuti aktivitas mereka yang memiliki ritme tinggi.

Kalaupun ada hal yang bisa kami lakukan untuk saat ini adalah membatasi, mengawasi dan mendampingi penggunaannya. Untuk itu pula kami tidak memberikan gadget khusus pada anak-anak, sehingga mereka harus meminjam kepada orang tuanya, khususnya pada saya. Selain itu, biasanya saya selalu memilihkan video, atau games yang akan mereka mainkan. Sehingga saya pun selalu tahu jenis tontonan seperti apa yang mereka lihat.


Dongeng, Cerita dan Anak Kinestetik Auditori


So Good Cerdik
Menonton dongeng melalui gadget lebih menarik dan sangat diminati anak-anak.

Mengasuh dua orang anak yang  memiliki kecenderungan kinestetik auditori. Mau tak mau membuat saya harus banyak mengajaknya beraktivitas. Andaikata saya ingin mereka duduk diam tanpa aktivitas fisik, maka dongeng atau buku cerita adalah senjata yang ampuh untuk digunakan. 

Saya bersyukur kedua anak saya memang sangat suka dibacakan buku cerita, atau diperdengarkan dongeng. Sampai-sampai saya sering kewalahan ketika harus melakukan pekerjaan saya sendiri, sedangkan Najwa dan Najib masih minta didongengi.

Pada kesempatan lain, saya sering "mati gaya", kehabisan ide cerita atau ekspresi yang mendukung acara mendongeng menjadi lebih atraktif. Akibatnya kedua anak saya pun menjadi bosan. Dan rasa bosan inilah yang sering kali membuat mereka berdua mogok untuk dibacakan buku atau diperdengarkan dongeng kembali. Kalau sudah begitu, ujung-ujungnya mereka akan minta gadget untuk bermain atau menonton youtube.


Keseruan Menonton Dongeng dengan Kartu Cerdik


So Good Cerdik
Aplikasi So Good Cerdik yang bisa diunduh via playstore

Nah, kebetulan banget, nih. Buat Teman-teman yang menjadi orang tua dari anak-anak generasi z. Terlebih menyukai aktivitas membaca atau diperdengarkan dongeng. Ada kejutan dari SO GOOD  yang berupa Cerita Digital Interaktif atau CERDIK. So Good Cerdik sendiri adalah aplikasi yang bisa diunduh melalui Google Play, yang menggunakan teknologi AR atau Augmented Reality. Di mana dalam teknologi AR ini benda maya 2 dimensi atau 3 dimensi dapat digabungkan dalam lingkungan nyata 3 dimensi. Selanjutnya, benda maya ini akan diproyeksikan kembali dalam sebuah situasi nyata. Jadi keren banget, dan kelihatan sangat hidup.

Cara memainkan SO Good Cerdik pun sangat mudah. Teman-teman hanya perlu mendownload aplikasi So Good Cerdik melalui smartphone, link-nya di sini. Kemudian scan (pindai) Kartu Cerita  yang didapatkan dari kemasan So Good siap makan.  Nah, begitu gambarnya sudah terproyeksi, maka Teman-teman tinggal tekan "mulai". Dan bersiaplah untuk berpetualang dengan dongeng yang terlihat sangat nyata.


Pilih "mulai" jika ingin menonton dongeng. Atau "resep" jika ingin mengetahui variasi masakan dengan So Good

Pilih judul dongeng sesuai Kartu cerita yang kita miliki

Scan Kartu cerita hingga muncul gambar 3 dimensi

Kartu Cerita So Good sendiri terdiri dari 3 cerita yang masing-masing terbagi dalam 2 bagian. Sedangkan kami kebagian kartu cerita yang berjudul "Lala dan Sing-Sing" part 2. Melihat keseruan dongeng pada bagian 2 ini, otomatis anak-anak ingin membeli So Good lagi karena penasaran dengan cerita pada bagian yang pertama.

So Good Cerdik
Kartu CERDIK yang terdapat dalam kemasan SO GOOD Siap Masak

Menonton Kartu Cerdik ini memang sangat mengasyikkan. Karena dalam satu kesempatan, anak-anak bisa membaca ceritanya, mendengarkan suaranya sehingga seperti diperdengarkan dongeng. Sekaligus menonton setiap adegan dalam cerita, layaknya menonton film.

Anak-anak pun menjadi semakin kritis dan banyak bertanya selama memainkan Kartu Cerdik. Karena tampilannya sangat menarik, maka rasa ingin tahu mereka pun  semakin menjadi-jadi. Kali ini saya kembali kewalahan menjawab seluruh pertanyaannya. Tapi hikmahnya kami pun semakin dekat, hangat dan melewati setiap acara menonton dengan penuh canda dan tawa.

Manfaat Bermain dengan So Good Cerdik

 

So Good Cerdik
Dengan So Good Cerdik, saya merasa lebih tenang saat harus mengalihkan aktivitas mereka dengan gadget.

 

Menggunakan Kartu Cerdik sebagai media menonton dongeng menurut saya bukanlah hal yang keliru. Malahan, saya dan anak-anak bisa dengan segera mengambil manfaatnya.

Bagi anak-anak yang sedang mengembangkan kemampuan berbahasa. Khususnya yang seumuran anak pertama saya si Najib, 3 tahun. Menonton dan mendengar dongeng seperti ini sangat bermanfaat untuk mendukung perkembangan berbahasa dan berbicaranya. Selain mendengar banyak kosakata baru, anak-anak juga mengembangkan daya imajinasi, melatih ekspresi dan intonasi berbicara. Selain itu mereka juga melatih konsentrasi dan pendengaran untuk menyerap informasi yang kemudian dituangkan lagi dalam bentuk peningkatan keterampilan berbahasa.

Sedangkan pada anak yang baru mengembangkan kemampuan membaca, seperti halnya Najwa. Jenis cerita pendek seperti ini sangat menyenangkan untuk diikuti. Selain mudah dan tidak rumit, anak dapat mengembangkan kemampuan membaca yang tidak sebatas melafalkan kata. Tapi juga menyerap informasi, menyimpulkan sebuah permasalahan dan menemukan solusi.


So Good Cerdik

Tidak hanya anak-anak, saya pun sebagai orang tua mendapatkan manfaat dari permainan Kartu Cerdik ini. Karena dalam setiap dongeng atau cerita yang ditampilkan, tak lupa selalu diselipkan nilai positif atau pesan moral untuk anak. Cara ini memudahkan saya untuk mengingatkan kembali pada anak-anak mengenai nasihat serta karakter positif yang sering kami temukan dalam berbagai bahan bacaan. Selain itu, saya pun dapat menggiring mereka untuk menemukan pesan kebaikan dalam setiap cerita, tanpa perlu mengurui, apalagi memaksakan pendapat.

Kartu Cerita dan aplikasi So Good Cerdik ini juga sangat membantu saya untuk memberikan tontonan yang aman melalui gadget. Karena seperti yang saya bilang tadi, anak-anak saya memang belum steril dari gadget. Oleh karena itu saya butuh lebih banyak konten yang mendidik dan ramah anak untuk memberikan rasa aman dan nyaman saat harus memberikan gadget pada mereka.

Di samping itu, momen tertawa, bertanya, berdiskusi  dan bercengkerama selama menonton Kartu Cerdik bersama anak merupakan quality time dan bonding yang baik pada masa awal kehidupan mereka, yang  saya yakin akan sangat kami rindukan suatu hari nanti. Karena masa kanak-kanak ini tidak akan berlangsung lama, dan segera setelah mereka beranjak remaja, maka anak-anak generasi z ini akan  sibuk dengan "dunia" mereka sendiri.

Ah, tiba-tiba saja saya menjadi melankolis saat membayangkan saat itu segera tiba. Mata saya pun mulai basah dan berharap mereka tidak dewasa terlalu cepat.

Oh ya, dalam aplikasi So Good Cerdik ini, kita juga akan mendapatkan variasi resep So Good, loh! Jadi paket komplit banget, kan. Anaknya happy, ibunya pun nggak kalah senang karena mendapatkan aneka variasi resep berbahan dasar So Good Siap Masak.

Variasi menu dengan bahan dasar So Good Siap Masak
Makanan olahan seperti So Good memang sangat cocok untuk anak. Karena empuk sehingga mudah dikunyah, selain itu rasanya gurih dan sangat membangkitkan selera. Biasanya saya selalu memiliki stok So Good Chicken Nugget original di dalam kulkas. Untuk saat darurat ketika kehabisan bahan makanan lain. Atau ketika butuh menyiapkan makanan dalam waktu singkat. Misalnya untuk bekal atau camilan.

So Good Cerdik
So Good Chicken Nugget original kesukaan anak-anak saya.

Nah, buat Teman-teman yang ingin menonton dongeng dengan aplikasi serupa. Langsung saja belanja So Good Siap Masak untuk mendapatkan Kartu Ceritanya. Jangan lupa unduh juga aplikasinya, dan bersiaplah merasakan keasyikan mendongeng untuk generasi z yang ada di rumah. Have fun!



*Postingan ini diikutsertakan dalam KEBxSOGOOD blog competition



Muslimah Digital - Berdaya tanpa Terjerumus Arus Perubahan

|
Perempuan Digital

Sebuah penelitian menyatakan, 69% orang di Indonesia mencari informasi di internet. 48% wanita Indonesia mengakses internet lebih dari sekali dalam sehari. 61% wanita pengguna internet ingin bekerja. Namun, hanya 56% pria yang mengizinkan istrinya full bekerja. (Google UKM).


Internet, teknologi yang memungkinkan terwujudnya dunia baru bagi peradaban umat manusia. Sebuah dunia yang pada awalnya dirasa sangat tidak masuk akal, tapi kini telah merajai, merasuki setiap sendi kehidupan manusia.

Dunia maya adalah produk dari teknologi digital. Dunia yang diciptakan dari perangkat komunikasi, penyimpan memori dan pengolah data. Dunia yang mempertemukan orang-orang dari berbagai belahan bumi yang berbeda melalui seperangkat teknologi berbasis internet. 

Kini, dunia maya telah menjadi dunia kedua. Seperti halnya dalam dunia nyata, dunia maya menawarkan kesempatan untuk bersosialisasi, berpenghasilan, menuntut ilmu, bertetangga, bahkan berselisih paham. Kehadiran dunia maya berkontribusi besar bagi kemajuan peradaban manusia. Begitu banyak kesempatan dan peluang-peluang baru terbuka dengan hanya mengoperasikan seperangkat mesin atau bahkan semudah dalam genggaman. 

Bagi saya, dunia maya ibarat angin segar. Banyak sekali kesempatan yang saya dapatkan setelah mengikrarkan diri menjadi salah satu penghuni di dunia maya ini. Kesempatan memperluas pertemanan melalui jejaring media sosial merupakan titik awalnya. Bermula dari jejaring sosial yang terus menggurita, dati situlah saya banyak mendapatkan peluang pekerjaan, berpenghasilan, berilmu dan kemudian saling menebar manfaat.

 

Perempuan Digital
Blogger Muslimah Indonesia, salah satu komunitas yang mewadahi aktivitas perempuan digital  (Foto : Dokumentasi Blogger Muslimah Indonesia)
Mungkin, Teman-teman pun pernah mendengar istilah Perempuan Digital. Mereka adalah kaum perempuan yang berkecimpung di dunia digital. Memberdayakan diri melalui seperangkat alat berbasis teknologi. 

Dalam komunitas dunia maya, tentu tidak susah menemukan sosok-sosok perempuan seperti ini. Karena kenyataannya hampir 50% dari perempuan di Indonesia telah mengakses internet, bahkan lebih dari satu kali dalam sehari. Saya dan mungkin juga Teman-teman yang membaca artikel ini adalah salah satu di antaranya. Meskipun ada yang menjadi pembeda, karena tidak semuanya 
memberdayakan diri sebagai perempuan digital. Mungkin hanya user biasa atau sekedar mengikuti arus perubahan saja.

Bersyukurlah kita yang memiliki kesempatan, dibarengi kemauan dan kemampuan untuk mengambil peluang dalam dunia maya yang terus menggeliat. Meskipun dibatasi dengan kodrat, perempuan di masa kini tetap dapat "bergerak" dengan lincah, mengaktualisasi diri bahkan berkarya dalam ruang dan waktu yang tak terbatas.

Muslimah, Blog dan Dunia Maya


Perempuan Digital
Blog sebagai rumah digital.


Selain media sosial, blogging adalah salah satu media yang paling diminati kaum hawa. Kedua media ini sangat tepat dan cocok untuk mengaktualisasi diri, meng-upgrade keterampilan, membranding diri dan sarana promosi digital yang lain. Selain mudah dan dapat diaplikasikan di mana saja, media seperti blog dapat menjadi sarana menuangkan uneg-uneg. Mengeluarkan gagasan atau ide dan kreatifitas yang selama ini hanya ada di kepala.

Blog dan aktivitas menulis merupakan terapi yang tepat untuk kaum perempuan yang cenderung  memainkan hati ketimbang akal, sehingga terkesan lebih sensitif dibanding pria. Selain itu, aktivitas menulis juga dapat mewadahi jatah 20 ribu kata per hari yang dimiliki perempuan. Seperti yang kita tahu, jika jatah ini tidak disalurkan atau dibiarkan terbungkam, biasanya akan membawa efek yang kurang menyenangkan. Hehehe, itu murni pengalaman saya, sih.

 Baca juga: Resolusi sebagai Momblogger

Bagi saya pribadi, aktivitas blogging memang berawal dari kebutuhan untuk mengaktualisasi diri. Tapi dalam perjalanan yang hampir satu tahun ini, saya mendapatkan kebahagiaan lain dalam bentuk memberi manfaat kepada pembaca. Memang ada banyak blog post yang mengangkat tema pengalaman pribadi sebagai bahan tulisan. Tapi di situlah saya menemukan kebahagiaan, ketika apa yang kita alami dan  bagikan memberi manfaat untuk Teman-teman yang berada dalam kondisi serupa.

Keberadaan manusia di bumi ini memang diperintahkan untuk sebaik-baiknya memberi manfaat. Maka sekecil apapun yang bisa kita lakukan, ada baiknya dapat diambil manfaatnya bagi orang-orang di sekitar kita. Begitu setidaknya yang saya pelajari sebagai muslimah.


Menyadari ruang gerak sebagai perempuan yang begitu terbatas. Saya pun membulatkan tekat untuk memasuki dunia lain yang tak mengenal batasan. Maka dunia maya adalah dunia lain saya. Sedangkan blog adalah rumah kedua yang berada di dunia maya.

Keputusan semacam ini nampaknya juga diminati sebagian besar perempuan yang bersinggungan langsung dengan dunia digital. Terlebih peluang berpenghasilan dari blog atau media sosial sudah mulai dapat diperhitungkan. Maka bergaul di dunia maya tak lagi sebatas untuk bersosialisasi atau berkomunitas saja.  

Blog mulai beralih fungsi menjadi media penyimpan portofolio dan karya. Blog juga menjadi alat branding diri selain media sosial. Dan yang paling penting, blog pada akhirnya memberikan manfaat baik secara materi maupun non materi bagi pemiliknya. Harapannya juga bagi siapapun yang membacanya.

Berdaya tanpa Perlu terjerumus Arus Perubahan

 

Perempuan Digital
Gambar : Pexel.com

Ibarat dua mata pisau, dibalik semua sisi positif selalu ada hal-hal negatif di tengah derasnya arus perubahan. Pergeseran hidup yang terus mengarah pada segala hal yang berbau digital dan teknologi, tentu saja membawa dampak negatif yang perlu diwaspadai. Dunia maya dengan teknologi digital yang memungkinkan segala hal dapat dilihat orang, mau tak mau menuntut kita untuk cerdas dalam pergaulan.

Bagaimana memilah dan memilih hal yang dirasa perlu dan tidak untuk diunggah di dunia maya. Menentukan jenis dan batasan-batasan dalam pertemanan. Bahkan selektif dan dapat membedakan kerja sama yang menguntungkan atau justru sebaliknya.

Baca juga: Lebih Dekat dengan Wuri Nugraeni - Blogger, Copywriter, Reporter dan Editor

Berbagai kasus dan masalah yang timbul akibat penyalahgunaan internet sepertinya tak hanya isapan jempol belaka. Pertumbuhan teknologi digital di negara ini dan mungkin juga di negara-negara lainnya selalu dibarengi dengan pertumbuhan oknum-oknum tak bertanggung jawab. Bermacam-macam kasus di negeri ini berawal dari penyalahgunaan fungsi teknologi. Begitu pun bergesernya budaya masyarakat yang semakin konsumtif dan hedonisme, saya yakin dunia maya turut menyumbang besar di dalamnya.

Itulah sebabnya, budaya literasi mulai merambah dunia digital. Pengguna atau user dianggap harus melek digital. Mampu memaksimalkan manfaatnya tanpa perlu terjerumus dalam arus perubahan zaman. Khususnya bagi kita kaum muslimah, karena godaan di dunia maya sangat besar dan sangat berpeluang memicu konflik jika tidak ditanggapi dengan arif.

 

Untuk itu, perlu rasanya bagi saya dan Teman-teman sesama muslimah lebih "cerdas" dan selektif dalam bergaul di dunia maya. Mampu memanfaatkan setiap peluang yang ditawarkan untuk melakukan hal-hal yang positif dan  produktif. Tegas dan berani menolak untuk setiap hal yang mengarah pada kerusakan.

Hal ini tidak hanya yang berkaitan dengan penawaran kerja sama. Tapi dalam pertemanan, penyebaran berita, pembuatan konten baik di blog maupun media sosial. Bahkan dalam mengikuti majelis ilmu secara online, atau melalui parangkat digital pun ada rambu-rambunya. Bersosialisai dan memilih komunitas pun tak bisa sembarangan.

Bagi blogger seperti saya pun, ada begitu banyak grup yang menawarkan berbagai peluang ilmu dan pekerjaan. Tapi sekali lagi, pastikan kita selektif dan memilih yang cocok dengan personality kita. Sehingga tidak hanya dalam kehidupan nyata, dalam dunia maya pun kita mendapatkan manfaat, ketenangan dan ilmu yang membawa keselamatan.

Mari menjadi muslimah yang berdaya. Muslimah digital yang melek literasi dan kokoh di tengah terjangan arus perubahan.


"Tulisan ini diikutkan dalam postingan tematik Blogger Muslimah Indonesia "

 









Custom Post Signature

Custom Post Signature