Parenting Story, Mom's Life, Tips

Kursus untuk Anak, Yay or Nay?

|

"Mendaftarkan anak untuk mengikuti sebuah kursus bukan sekedar keren-kerenan. Tapi tentang minat dan manfaat yang akan mereka dapatkan"




Minggu yang lumayan melelahkan untuk Najwa. Setelah Sabtu pagi kemarin berenang sampai kurang lebih 4 jam. Minggu pagi ini dia minta masuk kursus lagi. Katanya masih penasaran sama latihan yang terakhir. 

Saya sebenarnya kurang sependapat kalau seminggu harus masuk dua kali. Mengingat semalam kami pergi dan sampai di rumah sudah kemalaman. Dan, pada hari Senin Najwa harus mengikuti tambahan materi calistung di sekolah. Saya sedikit khawatir kalau-kalau kelelahan. Tapi, karena suami meng-aminkan permintaan Najwa. Ya, saya nggak bisa nolak lagi. Dan, pagi ini pun kami pergi ke kolam untuk yang kedua kali di pekan ini. 

Seperti biasa, satu sesi latihan renang yang berdurasi antara 1 hingga 1,5 jam selalu diisi dengan teori singkat dan praktik dengan dua kali istirahat. Rupanya minggu ini hanya ada satu anak lain di kelas Kak Wahyu, pelatih renang Najwa. Otomatis durasi untuk praktik semakin panjang, karena hanya dua anak yang harus dibimbing. 

Najwa adalah murid paling junior di kelas Kak Wahyu. Selain usianya yang paling muda ( 6 tahun akhir bulan ini), Najwa juga baru mempelajari satu jenis gaya. Yaitu gaya Katak. Alhamdulillah, so far, dia nggak merasa minder dengan teman-temannya. 

Sampai hari ini, satu-satunya kursus yang diikuti Najwa hanya renang. Proses sampai akhirnya dia memilih kursus ini pun bisa dibilang panjang. Karena awalnya Najwa sangat takut untuk berenang. Jangankan masuk ke kolam dewasa, kiddie pool aja dia masih minta dipegangi ibu bapaknya. Jadi, sebenarnya kami sangat surprise waktu Najwa minta didaftarkan. Ya, salah satunya berkat nonton Moana juga sih. Sampai akhirnya dia tertarik dan minta dikursuskan.

Baca juga : Tes IQ untuk Anak, YAY or NAY?



Kursus renang hari pertama



Najwa Tidak Tertarik Didaftarkan Kursus Apapun

Sekitar pertengahan Agustus tahun lalu, saat Najwa sudah duduk di TK B. Saya sempat menawarkan beberapa kursus padanya, tapi untuk calistung atau BIMBA memang saya skip sejak awal. Beberapa di antaranya seperti balet, tari kreasi tradisional dan menggambar, bahkan Najwa sudah saya ajak datang ke tempat kursus untuk melihat secara langsung pada jam-jam latihan. Najwa yang sepertinya sedari kecil sangat tertarik dengan balet, ternyata sama sekali tidak ingin mengikuti latihan pada sesi percobaan. Dia pun cenderung menolak, tidak mau masuk, malahan ngambek.

Setelah itu, saya coba mengajaknya ngobrol. Sayaingin tahu saja, sebenarnya dia pengen menambah kegiatan apa sih,  di luar jam belajar sekolah. Jawabannya pun enteng saja, karena ternyata Najwa memilih main di rumah, ketimbang capek-capek les di luar. 

Wow banget kan? Kayaknya si Ibu yang terlalu bersemangat. hehehe...  Tapi saya nggak maksa koq, setelah itupun saya nggak pernah tanya lagi sama Najwa. Terlebih di sekolahnya mulai ada pelajaran tambahan khusus materi calistung. Ya, sudahlah. Saya pikir jangan sampai dia tertekan.


Najwa Menunjukkan Minat Berenang

Sampai akhirnya pada awal tahun 2017, setelah mengajaknya menonton Moana, ceritanya sudah pernah saya tulis di blog post yang lain. Najwa sepertinya sangat terinspirasi dengan Princes Disney yang satu ini, dan dia pun  langsung minta didaftarkan kursus berenang. 

Tadinya saya sempat kurang yakin. Mengingat selama ini Najwa masih sangat takut dengan air. Beberapa kali saya tanya apakah Najwa serius ingin kursus berenang. Dia selalu jawab "IYA" dan menunjukkan minat yang begitu besar.

Seolah tak mau menunda lagi, saya pun mendaftarkannya ke sekolah renang yang ada di kolam renang PALEM. Yang berlokasi di Pondok Kelapa, sekitar 15 menit dari rumah. Saking antusiasnya, bahkan Najwa pun nggak mau melewatkan setiap prosesnya. Selain ikut langsung saat mendaftar, dia pun meminta baju renang baru yang lebih panjang. Juga kaca mata renang baru karena yang sebelumnya hanya mainan.




Perlukah Kursus untuk Anak?

Sebelum melanjutkan pada progress renang Najwa, saya ingin menyampaikan pendapat saya tentang kursus untuk anak. Ya, kalau saya ditanya perlu atau tidak? atau YAY or NAY? Jawaban saya pasti YAY atau perlu. Tentu saja selalu ada alasan tersendiri untuk jawaban tersebut. Di antaranya :

Manfaat Kursus untuk Anak
  1. Memasukkan anak ke salah satu jenis kursus keterampilan bisa menjadi media untuk memupuk  minat dan bakatnya. 
  2. Membuka wawasannya tentang aneka jenis keahlian dan keterampilan lain.
  3. Menambah lingkungan pertemanan. 
  4. Mengisi waktu luang terlebih untuk anak-anak yang aktif seperti kedua anak saya.
  5. Memberikan ruang untuk mengaktualisasi diri.

Tapi, di balik jawaban YAY saya, seperti biasa saya memiliki rambu-rambu biar nggak kebablasan. Beberapa di antaranya :

Point Penting Terkait Kursus Anak

  • Saat anak masih berada pada usia dini hingga duduk di bangku sekolah dasar level 3, sebisa mungkin saya menghindari memasukkan mereka ke kursus atau bimbingan mata pelajaran. Saya ingin lebih banyak menstimulus otak kanan anak pada awal kehidupannya. Kecuali kelas 4 ke atas mungkin saya akan menambah bimbingan belajar. Itu pun dengan catatan kalau perlu dan ada permasalahan yang benar-benar tidak dapat kami selesaikan di rumah.  
  • Mendaftarkan anak ke kursus sesuai minatnya. 
  • Tidak memaksa apalagi menuntut anak mencapai prestasi tertentu. Sebisa mungkin kami Ikuti prosesnya, hargai setiap usahanya dan berikan dukungan sekiranya hal tersebut memang benar-benar menjadi minatnya. 
  • Sebisa mungkin tidak mengikuti terlalu banyak kursus atau les. Jika anak yang meminta, kami akan mengusahakan untuk mengajaknya berdiskusi, dan cari tahu apakah hanya ikut-ikutan temannya atau benar-benar minat.
  • Memastikan anak mendapatkan manfaat dari kursus yang diikuti, sekecil apapun itu.

Jadi, kalau bisa kegiatan anak di tempat kursus merupakan selingan atau refreshing di antara padatnya jam sekolah formal. Di samping untuk mengembangkan dan memupuk kecerdasannya yang lain. Yang mungkin tidak terstimulus atau tidak mendapatkan rangsangan selama di sekolah.


Efek Positif Jika Anak Mengikuti Kursus Sesuai Minatnya

Bagi kita orang dewasa, melakukan suatu hal yang sesuai dengan passion atau minat sudah pasti mendatangkan manfaat. Benar bukan? Begitu pun anak-anak. Sejauh ini, banyak hal positif yang dapat kami tangkap dari Najwa. Khususnya terkait dengan kegiatan barunya, yatu berenang. Bisa jadi karena Najwa sudah menemukan keasyikan dan tantangan dari kegiatan ini.

Tapi, menurut saya itu semua tidak terlepas dari minat Najwa secara pribadi. Sejak awal Najwa sudah memilih kegiatan apa yang ingin dipelajarinya dengan cara mengikuti kursus. Yang kemudian kami aminkan dan usahakan untuk memfasilitasinya.

Alhamdulillah, setelah 2 bulan belajar, Najwa sudah bisa berenang. Tentu saja kami ikut bangga dan gembira. Meskipun sebenarnya ekspektasi kami tidak secepat ini. Makanya kami lumayan surprise dengan cara Najwa membangun kepercayaan dirinya.

Untuk ukuran anak yang selama ini takut air, apalagi harus masuk ke kolam dewasa. Maka kami patut mengacungkan jempol dengan kemampuannya berenang hari ini. Mungkin begitulah jika sesuatu dilakukan sesuai passion. Semacam ada kekuatan tersendiri yang mampu menggerakkan. Bahkan mengalahkan rasa takut yang selama ini bersembunyi di dalam diri.

Oh ya, kali ini saya lampirkan 6 tips untuk teman-teman sebelum mendaftarkan putra/putrinya ke tempat kursus.  Semoga bermanfaat, ya!


Nah, kalau teman-teman, bagaimana pendapatnya tentang kursus untuk anak? Boleh share, donk ^_^


  






Makaroni Sayur - Jurus Jitu saat DuoNaj GTM Kambuhan

|


Paling geregetan kalau sudah capek-capek masak, belanja tak kurang lima lembar sepuluh ribuan. Eeee ... DuoNaj malah kompakan menolak piring dan kawan-kawannya. Ditambah suami yang paling cuma sekali makan di rumah. Apa iya saya harus bersihin semua yang ada di meja makan? Lha pantesan sudah program apa saja timbangan nggak juga bergeser ke kiri. Rupanya satu program yang terlewat saya lakukan. Menolak menjadi ibu penyayang yang selalu sayang jika makanan tak dihabiskan. Duh ...



Kadang saya merasa dilema. Katanya ibu rumah tangga, tapi yang namanya masak itu super malesnya. Kalau sesekali lagi mood masak, koq ya pas anak-anak lagi beraksi GTM sama ibunya. Sampai akhirnya saya akali, Senin, Selasa, Rabu, saya usahakan masak lengkap mulai sarapan sampai makan malam. Kamis, Jumat biasanya sarapan beli, masak agak siangan, menjelang jam makan siang. Sabtu sama Minggu, saya tanya dulu acara suami. Kalau sudah rencana main keluar, so pasti saya nggak masak. Tapi kalau di rumah saja, saya akan ajak suami masak barengan. Ciee .. sok-sok an romantis, hehehe... Maksud saya sih, biar sesuai selera yang bersangkutan. Jadi makanan pasti ludes tanpa perlu saya bertugas menghabiskan.

Nah, khusus menghadapi DuoNaj yang selera makannya ajaib (maksudnya kalau pas doyan bisa bikin saya kewalahan nyetok logistik, kalau lagi nggak selera dijamin dompet saya nggak berkurang isinya). Saya punya trik tersendiri untuk menyiasatinya. Salah satunya dengan menu andalan yang biasanya sukses dilahap saat selera makan hampir mendekati aksi GTM.

Makaroni/ pasta sebagai pengganti karbohidrat (pixabay)



Selain menyediakan stock sereal sama Pisang Ambon yang belakangan jadi kudapan favorit mereka. Makaroni telah menjadi pengganti bahan makanan utama untuk anak-anak. Mau diolah apa saja, DuoNaj ini selalu lahap memakannya. Awalnya, mereka cuma doyan kalau saya campurkan dengan Sup. Tapi sekarang, dibikin Makaroni Keju atau Schotel pun mereka lahap.

Nah, salah satu olahan makaroni yang paling mereka suka, dan menurut saya sudah mencukupi kebutuhan pengganti makanan utama adalah olahan Makaroni Sayur. Awalnya karena saya nggak mau ribet dan butuh memasak cepat, akhirnya jadi kecanduan bikin sayur ini. Caranya sangat gampang, bahan yang dibutuhkan pun sangat sedikit. 

Sayur kesukaan najib mulai bayi (pixabay)

Bahan-bahannya:
1. Makaroni 2 ons
2. Wortel 2 biji
3. Brokoli 1 bonggol
4. Jagung manis 1 bonggol

Bumbu :
1. Bawang merah1 siung
2. Bawang putih 1 siung
3. Bawang bombay 1/2 siung
4. Merica, gula, garam secukupnya.
 

Cara memasak:
1. Didihkan air, rebus makaroni sampai setengah empuk. Angkat tiriskan
2. Panaskan minyak di wajan, tumis bawang bombay disusul duo bawang yang telah diiris tipis. Tunggu agak layu.
3. Masukkan wortel dalam tumisan bawang, aduk, tunggu layu kembali. Masukkan air secukupnya untuk membantu merebus wortel.
4. Masukkan brokoli dan jagung, aduk sebentar lalu tutup wajan.
5. Setelah semua sayuran setengah empuk, masukkan makaroni rebus. Bumbui dan didihkan kembali hingga matang. Jika ingin sedikit berkuah, teman-teman bisa tambahkan air.
6. Setelah matang, angkat dan siap disantap para balita. 

Menu ini sebenarnya seperti Sup, sih. Tapi saya sengaja tidak menggunakan kaldu. Terlebih kaldu sapi atau ayam. Tujuannya untuk memberikan rasa segar dan ringan. Sehingga cocok untuk kondisi mulut anak yang sedang tidak berselera.

Terkadang, Makaroni Sayur  saya jadikan menu bekal sekolah Najwa.


Di samping itu, anak-anak saya memang tidak terlalu suka makanan berkuah kaldu. Dalam satu minggu, paling hanya sekali saja membuat sayur dengan kaldu ayam atau daging. Selebihnya mereka lebih suka sayuran bening yang cuma dibumbui duo bawang.

Nah, simple kan? Buat saya yang nggak pinter masak, menu simple seperti ini sudah jadi andalan. Selain cepat, anak-anak pun doyan. Untuk mencukupi kebutuhan nutrisi lainnya, kita bisa siasati di kudapan atau menu pada jam makan lain. Jangan lupa, kita sedang menghadapi anak GTM kambuhan. Nggak perlu terlalu memaksa agar jam makan nggak semakin menakutkan buat mereka.

Selamat memasak! ^_^

[Review] Popatoy - Mainan Edukatif Mendukung Anak Kreatif

|


Kalau dipikir-pikir, punya anak balita itu memang repot, tapi banyak juga keseruannya. Selain masih harus intens mengurus seluruh kebutuhan fisik dan psikisnya. Kayaknya orang tua mesti terlibat semua aktivitasnya. Misalnya saat mereka ingin bermain, anak-anak kelihatan lebih happy saat ortu terlibat dalam permainan mereka. Saya aja kadang ngerasa kayak Trio Kwek-Kwek kalau lagi sama DuoNaj. Saking ke mana-mana selalu bertiga, main pun selalu harus ikutan ,jadi berasa muda pokoknya. Eh ...

Pada prinsipnya, kalau saya sih oke-oke aja. Karena aktivitas bermain bersama mereka lumayan juga buat refreshing. Walaupun nggak jarang juga saya jadi uring-uringan kalau acara bermainnya kelamaan. Maksimal satu jam cukuplah, selebihnya harus saya alihkan dengan kegiatan lain. Atau saya berikan aktivitas yang bisa anak lakukan tanpa orang tua. Misalnya bermain sepeda atau nonton TV. Hehe ... Iya, rumah saya memang belum steril dari TV. Karena anak dan suami nge-fans banget sama Animal Planet. It's okey lah, yang penting udah steril dari sinetron model GGS gitu. So, boleh donk!

Kebetulan nih, kedua anak saya lagi seneng-senengnya bermain menggunting. Kalau Najwa memang sudah lebih terampil dengan motorik halusnya. Sehingga hasilnya pun sudah lumayan membuatnya bangga. Sedangkan si ragil, sebenarnya saya masih ragu-ragu memberikan gunting asli untuknya. Hanya saja karena Najib sudah menolak diberikan gunting mainan, maka kami sepakat memberikan gunting asli. Tapi tetap dalam pengawasan, meskipun hanya sebuah gunting kertas kecil yang tidak terlalu tajam.




Awalnya kami hanya menggunting kertas warna, tanpa membuat pola. Jadi benar-benar hanya membuat potongan-potongan berbagai ukuran. Untuk hasil guntingan Najwa sudah lumayan terpola. Kadang dia membuat aneka bentuk bangun datar atau bunga. Sedangkan Najib masih semaunya. Wajarlah, usainya juga baru menginjak 2,5 tahun pada bulan ini. Tapi keterampilan memegang dan menggerakkan gunting dengan jari-jemarinya sudah terlihat luwes

Kegiatan menggunting hampir setiap hari saya lakukan bersama DuoNaj. Kertas-kertas hasil guntingan itu biasanya saya simpan. Anak-anak senang ketika potongan-potongan kecil aneka warna saya taburkan. Kata mereka seperti pesta ulang tahun. Ya, asyik sih buat mereka. Meskipun buat saya jadi ekstra bersih-bersihnya. Hiks ..


Menemukan Produsen Paper Toy

Suatu ketika Najwa minta dibuatkan miniatur rumah dari kertas-kertas yang kami gunting. Saya pun mencoba membuat pola di selembar kertas warna. Kemudian kami gunting dan rekatkan setiap sisi-sisinya dengan lem. Foila! Jadilah sebuah rumah karya kami berdua. Sayangnya bahan yang kami gunakan terlalu tipis, sehingga miniatur rumah yang diinginkan Najwa jadi gampang ambruk, tidak kokoh dan tentu saja kurang menarik baginya.

Menyerah  setelah beberapa kali membuat, tapi masih saja kurang menarik, maka saya coba browsing  olshop penjual mainan kertas gunting lipat. Hingga akhirnya saya menemukan satu produsen penjual mainan edukatif  dengan brand POPATOY. Mainan yang diproduksi pun sangat sesuai dengan kebutuhan kami saat ini, yaitu mainan edukatif berjenis paper toys, sehingga kami bisa menggunting, melipat kemudian menempelnya sesuai tema yang ada dalam gambar.


Nah, kebetulan sekali nih, Popatoy tidak hanya memproduksi mainan kertas yang menarik secara visual, tapi juga terdiri dari 10 tema, yaitu :

1. Tema Anak Muslim
2. Tema Fantasia
3. Tema Gedung Kota
4. Tema Ka’bah
5. Tema Mobil
6. Tema Rumah Desa
7. Tema Rumah Kota
8. Tema Rumah Kue
9. Tema Taman bermain
10. Dan yang terakhir Tema Taman Hewan

Semuanya dicetak full color di atas kertas Art Paper tebal dengan sketsa gambar lucu, khas kartun anak-anak. Lengkap dengan petunjuk atau cara bermain  dan saran bagi orang tua untuk melakukan pendampingan.

Popatoy adalah produk mainan anak yang dapat dimanfaatkan orang tua untuk melatih motorik halus anak melalui kegiatan menggunting, melipat dan menempel. Tak cukup sampai di situ, orang tua dapat menggunakannya untuk menstimulus  kreatifitas, mengembangkan daya imajinasi dan melatih fokus anak. Di samping itu, anak-anak dapat menggunakannya dalam permainan peran atau mengenalkan berbagai bentuk seperti lingkaran, persegi dan segitiga. Menarik, kan? 


Popatoy  digagas oleh seorang perempuan muda, yang saya temukan profilenya melalui grup FB Ibu-Ibu Doyan Bisnis. Anisa Aprilia, penggagas sekaligus pemilik brand Popatoy memang memiliki passion di dunia grafis, game dan animasi semenjak duduk di bangku kuliah. Mengawali bisnis di bidang game animasi, Lia, begitu pebisnis muda ini biasa disapa. Banting stir dan membuat beberapa kali percobaan untuk calon produknya, hingga akhirnya jadilah paper toy sebagai produk yang diproduksi secara masal untuk dipasarkan secara luas. Produk mainan ini kemudian dipasarkan baik secara online maupun offline dengan brand Popatoy, yang berarti Pop Paper Toy.






Popatoy sendiri sangat terjangkau dan mudah didapatkan. Saya sendiri membelinya secara online melalui kontak WA ownernya. Tapi, jika teman-teman berdomisili di daerah Malang, produk mainan ini bisa didapatkan di beberapa mall besar. Dengan harga berkisar antara 13.000 sampai dengan 15.000 per paket/ tema. Sangat terjangkau bukan?

Buat saya dan anak-anak, kami puas membeli setelah membeli mainan ini. Selain bahannya oke, ide dan gambar temanya sangat menarik untuk anak. Hanya saja beberapa tema lumayan rumit bentuknya, sehingga Najwa merasa sedikit kesulitan dan kurang rapi saat menggunting. Sedangkan Najib sudah tentu belum bisa ikut menggunting, maka dari itu saya siasati dengan mengajaknya menempel, menyusun dan bermain peran. Jadi keduanya tetap bisa memanfaatkan permainan ini.

Overall, mainan ini recomended  sebagai alternatif kegiatan bersama anak. Namun perlu diperhatikan, permainan ini sebenarnya diperuntukkan bagi anak usia 4 tahun ke atas. Jadi usahakan tetap mendampingi hingga anak benar-benar mahir dan aman menggunakan gunting. Intinya sih, mainan ini cocok sebagai media interaktif ortu dengan anak.

Eniwei, jika teman-teman tertarik memiliki seluruh atau sebagian tema yang ada di Popatoy, langsung aja kontak ownernya ya. Pemesanan online bisa dilakukan via 
WA : 085755723763, website Popatoy.net  atau ke FB : Lia Popatoy.

Oh ya, sebagian keuntungan dari penjualan Popatoy ini digunakan sebagai donasi program pembinaan remaja masjid di bawah naungan yayasan Al-Muflichun Mubarok, lho. Jadi teman-teman bisa berbelanja sekaligus donasi. Hem ... jadi kepengen beli, kan?

Happy shopping! Have fun with kiddos ya, see  U ! ^_^








[Resensi] Merasa Pintar, Bodoh Saja Tak Punya

|
"Shalatmu dan sebagainya adalah urusanmu dengan Allah, tapi Sarkum yang yatim dan ibunya yang kere mestinya adalah urusan kita semua"

Sejak cover buku ini dipublish di timeline Mas Puthut EA, saya langsung tertarik untuk menjadikannya  salah satu koleksi di rumah. Menurut saya unik, ditambah judulnya menggelitik. saya pikir buku ini pasti asyik. Menyusul kemudian sinopsis yang terus berkelibat, membuat saya tak ragu untuk segera melakukan pemesanan online untuk buku yang bergenre agama ini. 



"Merasa Pintar, Bodoh Saja Tak Punya" merupakan kumpulan dari kisah seorang sufi dari Madura berama Cak Dlahom. Awalnya, kisah-kisah di dalamnya merupakan tulisan berseri di situs web mojok.co. Ditayangkan selama dua kali ramadhan, rutin setiap dua hari sekali menjelang waktu berbuka. 

Sejak pertama kali tayang, pada 17 Juni 2015, cerita Cak Dlahom ini telah mampu menyedot perhatian pembaca situs mojok. Bahkan beberapa judul seperti "Takut Neraka tapi Sudah Terbakar" dan "Cak Dlahom Mengaku Anjing", keduanya telah dibaca hampir empat puluh ribu kali. Sebuah pencapaian yang fantastis yang akhirnya menggerakkan hati tim Mojok untuk mengumpulkan total 30 judul dalam 1 buku yang sangat "renyah", namun syarat pendidikan agama.


"Merasa Pintar, Bodoh Saja Tak Punya" Menggambarkan Realita Kehidupan

Serial Cak Dlahom sendiri berkisah tentang kejadian sehari-hari di sebuah desa di Madura. Cak Dlahom yang menjadi sentra cerita, dikisahkan sebagai seorang duda tua yang hidup sendirian di sebuah gubuk dekat kandang kambing milik Pak Lurah. Dlahom yang sering dianggap kurang waras, aktif menjadi komentator atau penyulut perbincangan bersubstansi ibadah. Dari perbincangan-perbincangan inilah, tetangga Dlahom mulai merenungkan ulang mengenai pemahaman mereka tentang Islam.

Misalnya dalam salah satu kisah yang berjudul "Masuk Islam Dulu, Baru Puasa Ramadhan", Dlahom mempertanyakan keislaman Mat Piti tetangganya, "apa benar kamu islam?" Mau tidak mau kisah ini menyentil sisi lain dalam diri saya tentang pemahaman agama. Saya pun sempat bertanya pada diri sendiri, "saya sudah islam beneran atau belum ya?", begitu gumam saya dalam hati.

Begitu pun dalam kisah "Membakar Surga, Menyiram Neraka" Saya sempat merenungi kembali makna kita sebagai manusia, makhluk Tuhan. Ngaku beragama, tapi apakah benar-benar sudah beribadah? Kita sering terlupa amalan untuk sesama manusia. Tapi tak mau sedikit pun diusik saat beribadah kepada Gusti Allah. Padahal, bukankah Allah memerintahkan keduanya?

Kisah-kisah dalam serial ini sempat membangkitkan emosi. Tanpa terpaksa saya berusaha mengoreksi ulang keislaman yang saya agung-agungkan selama ini. Islam bukan hanya tentang shalat lima waktu, membaca Al Quran, puasa, zakat dan berhaji. Islam juga tak sebatas urusan-urusan kita dengan Allah semata. Ucapan, perilaku, kasih sayang dan cara kita menghargai serta menghormati hak orang lain adalah Islam. Bahkan dicontohkan Rasul dengan sangat indah dan menentramkan. Islam itu indah, namun keindahan itu hanya akan terlihat jika umatnya dapat merepresentasikan Islam dalam kehidupan di dunia, bukan akhirat semata.



Buku "Merasa Pintar, Bodoh Saja Tak Punya" menjadi angin segar bagi saya. Di tengah hiruk pikuk perdebatan tentang kafir dan muslim. Cerita-cerita di dalamnya menjadi penyejuk kala resah melanda. Mengapa harus khawatir dikafirkan? Sedangkan Allah Yang Maha Menentukan segalanya. Tak perlu menyombongkan diri sebagai muslim yang paling taat berbekal ayat-ayat. Kalau tetanggamu saja masih menderita dan saudaramu masih terlunta. Apalagi ayat-ayatnya modal potongan dari sosial media, mak jleb! Malu dibuatnya.

Seluruh setting cerita dalam serial ini berlatar belakang Ramadhan, sesuai dengan situasi saat cerita ini tayang. Saking menarik dan ditunggunya serial ini, dalam salah satu diskusi di Kaskus, serial ini disebut "cerpen Ramadhan" 

Saya sangat merekomendasikan buku ini untuk siapa saja yang ingin menyegarkan pemahamannya tentang Islam. Bahasanya ringan, blak-blakan, khas humor sufi, namun syarat makna dan pendidikan.

Tentang Penulis

Rusdi Mathari, salah satu penulis yang aktif menulis di situs Mojok.co, telah lama malang melintang dengan karier kepenulisannya. Pernah menjadi wartawan, redaktur majalah, redaktur pelaksana koran dan berita, hingga menjadi redaktur eksekutif di salah satu portal berita. Beberapa penghargaan untuk penulisan terbaik berhasil diraihnya, termasuk salah satunya menjadi peserta crash program untuk reportase investigasi.  Salah satu judul buku yang ditulisnya dan menggelitik juga adalah Aleppo. Layak bersanding dengan buku "Merasa Pintar Bodoh Saja Tak Punya" di rak buku koleksi teman-teman.

Jika teman-teman berminat mendapatkan buku serupa. Pembelian online bisa dilakukan melalui web Mojok Store, atau melalui facebook Buku Mojok dan twitter @BukuMojok. Saya yakin, teman-teman tidak akan kecewa. Buku ini kaya ilmu meskipun ditampilkan secara sederhana. Nggak keminter apalagi minteri.

Judul : Merasa Pintar Bodoh Saja Tak Punya
Penulis : Rusdi Mathari
Penerbit : Buku Mojok
Genre : Agama
Tebal buku : 226 halaman
Harga : Rp. 60.000
Cetakan pertama : September 2016


Belajar Gengsi dari Asnawi (Sarjana Penjual Gorengan)

|
Indonesia patut bangga. Saat sebagian besar anak muda merasa GENGSI dengan gadget model lama, atau model fashion yang sudah bukan trend-nya. Pemuda asal Bangka ini justru melupakan GENGSInya untuk berjualan gorengan di antara kesibukannya menimba ilmu di bangku kuliah.

Ya, jika grup band Gigi punya 11 Januari, maka Asnawi punya 11 Februari sebagai hari bersejarahnya. Resmi menjadi Sarjana Ekonomi dengan IPK 3,39 dari Universitas Muhammadiyah Yogyakarta. Dia tidak hanya membuktikan bahwa semua orang berhak mengubah nasibnya. Bahwa siapapun bisa sukses asal ada kemauan. Bahwa masih banyak generasi kita yang bermental pejuang. Suatu sikap mental yang mulai luntur, bahkan butuh usaha yang tak sedikit untuk mengupayakannya.

Sumber gambar : Hipwee

Perjalanan Asnawi, Sarjana Penjual Gorengan.

Sempat putus sekolah selepas menamatkan pendidikan di jenjang menengah pertama. Asnawi tak gentar untuk kembali ke bangku SMA saat usianya tak semuda teman-temannya. Di bangku SMA inilah niatnya untuk mencicipi pendidikan di Kota Pelajar mulai tumbuh.  Berkat program pertukaran pelajar yang diikutinya pada tahun 2010. 

Berbekal kemauan dan komitmen yang tinggi dan disiplin diri. Asnawi sangat lihai membagi waktu antara berbelanja kebutuhan berdagang, kuliah, menjajakan gorengannya, belajar dan tak lupa ibadah. Saya kira manajemen waktunya sangat ketat, padat namun tebukti membawa manfaat. 

Masih berbekal impian yang suci, Asnawi berencana untuk melanjutkan pendidikannya hingga ke jenjang S-2 ke luar negeri. Meskipun untuk saat ini dia ingin pulang kampung dulu. Berharap bisa bekerja di daerah asalnya dan membantu usaha orang tua. Sembari mencari peluang untuk mendapatkan beasiswa S-2. 

Ulet, berkemauan dan tak kenal gengsi. Maka tak salah jika kita aminkan cita-citanya menjadi presiden di tanah pertiwi. Amin.. Karena semua berawal dari MIMPI. Bahkan saat sebagian orang mulai ragu dengan mimpi-mimpinya, Asnawi berani mengucapkan impian ini.


GENGSI Tak Membuat Hidupmu BerGENGSI

Belajar dari pengalaman Asnawi, atau Asnawi-Asnawi lain di seluruh penjuru negeri ini. Saya merasa perlu untuk mengingatkan diri saya sendiri, bahwa gengsi tak dapat membeli apapun, terlebih mimpi-mimpi masa kecil saya. Gengsi tidak akan membuat hidup saya lebih bergengsi. 

Ya, saya juga manusia biasa yang sering khilaf. Sering kali saya nggak mau yang inilah, itulah. Alasannya ecek-ecek banget. GENGSI! Saat sudah berkepala tiga dan beranak dua pun, saya masih sering menjadikan gengsi sebagai alasan yang paling klasik. *tutupmuka. Nauzubillah, semoga anak-anak tidak menurun sifat buruk saya.


Menumbuhkan Mental Pejuang pada Anak

Sebenarnya, semenjak kecil saya sudah dididik jauh dari sikap gengsi. Dibesarkan seorang ibu single parent dengan 4 orang anak. Bekerja membantu ibu saya menggoreng tempe, tahu dan heci (bakwan sayur) sejak kelas 6 SD. Saya merasa mulai kebal dengan budaya gengsi.

Namun begitulah mengapa Tuhan membekali manusia dengan akal dan nafsu. Ada saatnya nafsu mengalahkan akal sehat saya. Ketika merasakan hidup sedikit membaik, penghasilan lumayan dan cukup untuk sedikit merubah gaya. Maka saya pun berpikir mampu membeli gengsi. Satu bentuk kebodohan yang tak ingin saya ulangi.

Kini, tak ubahnya orang tua dulu mendidik. Saya pun bertekad menjauhkan anak-anak dari budaya GENGSI.  Bersyukur kemauan ini di-aminkan oleh suami. Sehingga kami tak perlu berkompromi satu sama lain. Menumbuhkan mental pejuang pada anak-anak menjadi sangat penting di tengah gempuran  hedonisme, budaya konsumtif dan pencitraan yang tak kunjung berhenti.

Anak harus dilatih menghadapi kehidupan yang sesungguhnya di luar sana. (Gamar : Pixabay)


Kami merasa sadar sebagai orang tua masih fakir ilmu, jauh dari sempurna. Tapi bersama anak-anaklah kami belajar. Banyak hal ingin kami tanamkan, ajarkan dan tumbuh kembangkan pada anak. Tapi untuk urusan sikap mental, kami sadar harus menjadi prioritas.

Pembentukan mental anak bukan hanya dasar, namun juga modal bagi  untuk terjun dan survive dalam kehidupan yang sesungguhnya, yaitu lingkungan masyarakat luas. Bagaimana mereka harus menghadapi masalah, menyikapi perbedaan, menyelesaikan konflik, menerima kekalahan, memaknai kemenangan dan mensyukuri nikmat dari Tuhan.

Sikap-sikap dasar yang kami pun sebagai orang tua masih jauh dari panggang. Kami pun masih sering terbawa arus emosi, egois, frustasi, kurang kompromi. Yang nyata-nyata sama sekali tak menguntungkan untuk diikuti. Jadi menjauhkan anak-anak dari kebiasaan itu sungguh tantangan berat yang kami hadapi.

Masa depan tak dapat ditebak. Tugas orang tua menyiapkan anak untuk menghadapinya. ( Gambar : Pixabay)


Jadi berbahagialah teman-teman yang telah memiliki cukup 'modal' untuk putra-putrinya. Saya yakin, kita semua BISA karena TERBIASA. Dan MAMPU karena MAU BERUSAHA.

Selamat berjuang di medan laga kehidupan! ^_^





Custom Post Signature

Custom Post Signature