Parenting Story, Mom's Life, Tips

Memilih Sekolah Negeri dan Konsekuensi yang Harus Dijalani Orang Tua

|

 "Buk, kata Bu Guruku semua anak tidak boleh takut ke sekolah. Karena di sekolah kita akan bermain dan bersenang-senang."





Sudah 5 hari Najwa melalui masa adaptasi di sekolah barunya.  Selanjutnya KBM langsung aktif dan hampir melewati satu minggu pertama di tahun ajaran 2017/2018. Najwa sangat gembira, begitu setidaknya ekspresi yang dapat saya tangkap darinya. Sepulang dari sekolah, adaa saja cerita baru dari mulutnya. Dia pun nampaknya ingin berlama-lama di sekolah barunya itu. Setiap kali saya datang menjemput, Najwa selalu bilang ingin bermain dulu. Begitulah sampai akhirnya saya tambahkan 30 menit setelah jam belajar selesai untuk digunakannya bermain-main di lingkungan sekolah.


Situasi ini kontras dengan apa yang kami alami sekitar dua hingga sebulan yang lalu. Saya sempat galau memilih sekolah untuk melanjutkan pendidikan dasar Najwa. Antara sekolah swasta, negeri atau homeschooling seperti yang pernah disarankan guru TKnya. 


Seperti yang pernah saya ceritakan sebelumnya, usia Najwa sangat mepet dengan batas minimal usia yang dipersyaratkan pemerintah untuk mendaftarkan diri di sekolah negeri.

Kami pun mencoba mengikutsertakan Najwa dalam Tes Kesiapan Masuk SD yang diselenggarakan di sekolahnya. Dengan harapan mendapatkan opini dari psikolog untuk menentukan langkah selanjutnya. Tetap mendaftar ke SD, balik ke TK lagi, atau cuti panjang di rumah.


Dari hasil tes tersebut, Najwa dinyatakan siap. Maka mantablah kami untuk melanjutkan pendidikannya ke jenjang sekolah dasar.  Kami pun merencanakan mendaftar ke SD yang direkomendasikan beberapa teman. Sadar usia Najwa ada di batas bawah, kami juga mendaftar di SD Swasta sebagai cadangan. 

Baca juga : 5 Tanda si Kecil Siap melanjutkan ke SD


Hari yang dinantikan tiba, 5 Juni adalah hari pertama pendaftaran SD Negeri untuk gelombang 1. Dan sesuai prediksi, nama Najwa tak sempat muncul dalam di web PPDB sekolah dasar. Usianya jauh di bawah pendaftar yang lain. Rata-rata  usia pendaftar 7 tahun ke atas. Bahkan satu anak berusia 8 tahun sukses menduduki peringkat pertama.


Ya,  pendaftaran sekolah dasar negeri memang memakai faktor  usia sebagai persyaratan utama. Jadi, siapa yang usianya cukup, ya dialah yang berhak mendapatkan kursinya.


Najwa sempat kecewa, namun dari awal saya sudah memberikan pengertian. Bahwa kami akan mencoba kembali di gelombang 2. Siapa tahu rezeki Najwa ada di sana. Benar saja, saat kami mendaftar di gelombang 2, nama Najwa sempat berada di urutan ke-20 di SDN pilihan pertama. Meskipun hanya bertahan selama 30 menit saja.

Menit berikutnya nama Najwa telah bergeser ke pilihan kedua.  Itu pun terus bergeser sampai urutan ketiga dari bawah. Tapi kami bersyukur karena pada hari pengumuman nama Najwa masih tetap di urutan yang sama. Alhamdulillah, Najwa di terima di SDN Favorit pilihan kedua.

Mengapa Memilih SD Negeri


Tentu saja kami punya alasan mengapa pada akhirnya memilih SD negeri sebagai salah satu tempat belajar Najwa. Selain karena dekat dengan rumah, jam belajarnya pendek, hari efektif hanya Senin sampai dengan Jumat. Di SD negeri Najwa juga berkesempatan untuk bersinggungan langsung dengan beraneka keragaman.  Mulai dari agama hingga background ekonomi keluarga siswa yang sangat beragam. Anggap saja cara kami yang terakhir ini terlalu ekstrim, tapi kami yakin ada hikmah yang akan Najwa petik dari lingkungan barunya.


Oh ya, ada satu lagi. Gratis!! Mungkin alasan terakhir ini juga patut saya tuliskan. Karena kenyataannya sampai hari ini kami belum mengeluarkan uang sepeser pun untuk biaya pendaftaran Najwa.  Kebutuhan pribadi siswa seperti seragam, sepatu serta alat tulis tentu saja tetap kami sediakan. Tapi itu semua sifatnya juga dibebaskan. Wali murid bebas membeli di pasar atau toko manapun yang menyediakan.

Kami pun sangat bersyukur karena Najwa membeli sebagian besar perlengkapan pribadinya dengan uang angpau lebaran. Hihihi … *AnakIbuMemangBaik
Honestly, masalah gratis bukanlah alasan utama dari keputusan kami. Nggak masalah juga kalau sebenarnya ada biaya, asalkan wajar dan masuk akal. Dan memang kami tidak merencanakan sekolah mahal seperti fullday atau yang lainnya. Salah satu pertimbangannya karena saya di rumah, sehingga anak-anak tidak perlu berlama-lama di sekolah. Nanti kalau sudah kelas 6 atau SMP mereka juga bakalan lebih banyak kegiatan di luar.  Jadi, sekarang waktunya puas-puasin di rumah.


Baca juga: Mengajarkan Anak Mengelola Uang Angpau Lebaran


Konsekuensi Memilih SD Negeri


Setiap pilihan pada akhirnya pasti menimbulkan konsekuensi bagi pemilihnya. Begitu pun mengenai pilihan kami untuk melanjutkan pendidikan Najwa di sekolah negeri.  Ada banyak hal yang mungkin tak se-ideal yang kami harapkan. Terlebih bagi saya, yang sudah sejak tahun 2005 bekerja di sekolah swasta.


Masalah fasilitas, aktivitas pendukung, dan model pembelajaran merupakan hal utama yang menarik perhatian. Meskipun pada akhirnya saya mampu berdamai dengan semua itu. Melihat effort sekolah negeri yang terus berbenah, saya rasa semua itu sudah cukup meyakinkan kami untuk menitipkan ank-anak di sana. Dengan guru yang dan seluruh staf yang ramah dan penuh perhatian. Toh, pada akhirnya orang tualah penanggung jawab utama atas perkembangan anak-anak, bukan?


Kami pun semakin kompak untuk mensupport pendidikan Najwa dari rumah. Bukan karena pelajaran dari sekolah kami rasa kurang, tapi untuk melengkapi yang memang tidak dia dapatkan.  Misalnya seperti beberapa hal berikut:


Menambah Materi Pelajaran Agama di Rumah


Seperti yang teman-teman ketahui, muatan agama di sekolah negeri pasti nggak sebanyak di sekolah Islam. Pastinya ini jadi tantangan terbesar buat kami. Terlebih sebelumnya Najwa belajar di TK Islam. Rasanya kami harus bertanggung jawab dengan segala hal berkaitan dengan nilai-nilai keislaman selama di TK. Mulai dengan hal yang berkaitan dengan amalan wajib, sunah bahkan nilai keislaman dalam bermasyarakat.


 Awalnya saya merasa ini bakalan berat. Apakah saya sanggup menjalankan tanggung jawab ini? Tapi kemudian pendapat saya berubah. Bagaimana kalau kami belajar bersama  saja? Sehingga mau tak mau saya pun akan menyempurnakan pelajaran agama saya.


Ini bukan hanya tentang belajar salat dan ngaji, atau menghafal  surat pendek, hadist dan doa-doa. Ini tentang belajar agama secara mendalam. Tentang nilai dan tingkah polah yang diajarkan dalam Islam. Proses ini bisa jadi akan panjang dan lama. Jauh lebih lama dibandingkan jika saya memasukkan Najwa di sekolah Islam. 


Ahh … Tapi tak mengapa. Bukankah seharusnya belajar agama itu sepanjang masa selama usia masih ada?  Bukan berhenti saat sudah tertib beribadah dan hafal ratusan ayat. Berdasarkan keyakinan ini akhirnya kami pun berani melangkah.


Pembiasaan terkait ibadah dan penerapan nilai-nilai kami susun sedemikian rupa untuk dapat diaplikasikan tidak hanya di rumah, tapi di mana saja. Pemahaman akan kehidupan beragama pun seringkali kami sampaikan dalam bentuk cerita, menarik hikmah atas suatu kejadian, bahkan dengan mengamati lingkungan sekitar. Tidak mudah memang, tapi kami berusaha untuk istiqomah.





Mengupayakan Pengalaman Nyata dalam Mendidik


Salah satu bentuknya adalah fieldtrip, edutrip atau apalah biasanya teman-teman bisa menyebutnya. Sejak Najwa masih di bangku TK kami sudah sering melakukan kegiatan ini. Tak sekedar rekreasi untuk melepas penat, beberapa traveling jarak jauh maupun dekat yang kami lakukan bersama keluarga sebisa mungkin kami sisipi dengan muatan edukatif.


Misalnya seperti berkunjung  ke museum untuk memperkenalkan sejarah Indonesia. Tamasya ke Kebun Raya Bogor sambil mengenalkan dengan aneka sepsis tumbuhan yang berasal dari berbagai negara. Mengajak anak menggunakan moda transportasi KRL untuk mengajarkannya budaya antri . Termasuk di dalamnya mengenalkan anak tata cara membeli dan menukar  e-ticketing. Bahkan acara pulang kampung pun kami manfaatkan untuk belajar tentang  kehidupan pedesaan. Pergi ke sawah, mandi di sungai dan memberi makan ternak.


Hal-hal seperti ini nyaris tidak mungkin kami dapatkan di sekolah negeri. Karena berdasarkan informasi yang saya dapat dari teman-teman wali murid, aktivitas pengenalan langsung di lapangan memang tidak diagendakan dalam program sekolah.

Baca juga : Piknik Ala DuoNaj #3 - From Sky World to Bird Park



Mengenalkan Bahasa Inggris di Rumah


Saya bahkan baru tahu bahwa anak SD baru mendapatkan pelajaran Bahasa Inggris setelah berada di kelas 6. Tentu saja ini lumayan mengejutkan. Tapi tak apalah, karena hal ini semakin menguatkan tekad saya untuk mengenalkan bahasa Inggris dari rumah. 


Sekali lagi kami akan belajar bersama. Merancang materi yang sekiranya menyenangkan, namun dapat memperkaya keterampilan berbahasa anak-anak.  Bahwa ini tidak akan selalu mudah, saya sangat memahaminya. Tapi saya yakinkan untuk terus mencoba.


Fiuhh!!  Rasanya tugas menjadi orang tua semakin banyak. Padahal ini baru SD kelas 1 pulak, hahaha … Mungkin saya memang terlalu berlebihan, hihihi .. *AmbisiEmak. Tapi mau gimana lagi, menghadapi Najwa yang aktif plus ceriwis nya minta ampun. Emak bapaknya harus pasang kuda-kuda. Sekali dia tanya trus saya jawabnya aoao, bakalan marah-marah nanti si bocah.


Tapi jangan dibayangkan bahwa kami ini orang tua yang super kaku. Nggak banget! Tentu saja kami punya cara untuk mendidik DuoNaj dengan cara-cara yang santai dan tidak menakutkan.  Dan cara-cara ini terus kami kembangkan, bahkan bongkar pasang untuk mencari yang paling pas untuk anak-anak.


Apapun kondisi yang sekarang kami hadapi,  hanya bersyukur cara yang paling tepat untuk menyikapi segalanya. Memang tidak sedikit orang tua yang lebih memilih sekolah swasta dengan segala keunggulannya. Namun tak sedikit pula yang melakukan segala upaya untuk bisa masuk di sekolah pemerintah. 

Untuk kami yang sudah mendapatkan kesempatan itu, hanya berusaha secara maksimal untuk mensupport anak-anak yang bisa dilakukan. Selebihnya, tentu saja berdoa. Ya nggak?


Have fun with your parenthood journey, as always! 😊😊😊😊






Ayam Kecap Tabur Paprika Ala Keluarga DuoNaj

|


Foto: Damaraisyah 2017


Memasak makanan favorit keluarga sebagai hidangan makan sahur selalu saya lakukan untuk menjaga selera makan yang mulai menurun setelah pertengahan bulan ramadan. Ya, sudah seperti kebiasaan, setiap ramadan telah melewati hari ke-15, selera makan kami saat sahur akan menurun drastis. Terlebih suami saya yang sehari-hari memang sangat tahan lapar. Sehingga puasa tanpa makan besar saat sahur bukan menjadi halangan baginya.


Untuk itu, saya berusaha mengakali menu makan sahur dengan menyajikan hidangan yang fresh dan menjadi favorit keluarga. Biasanya jenis masakan yang saya buat yang simple saja, namun saya pastikan baru dimasak satu jam sebelum saya membangunkan suami untuk makan sahur bersama.


Salah satu hidangan favorit itu adalah Ayam Kecap. Tidak seperti Ayam Kecap pada umumnya, irisan paprika yang melengkapi bawang bombai dan jahe dalam masakan, selalu berhasil menarik perhatian dari meja makan. Untuk itu saya selalu memasukkannya sebagai salah satu menu yang tak boleh ditinggalkan selama puasa. Dan kami pun menyebutnya dengan Ayam Kecap Tabur Paprika ala Keluarga DuoNaj.


Memasaknya cepat dan rasanya selalu berhasil membuat kami menjilat sisa bumbu yang masih menempel di sendok atau jari-jari tangan. Bahan dan bumbu pelengkapnya pun sangat minimalis. Nggak percaya, kan? Nih, saya bagi resep dan cara mengolahnya untuk teman-teman..



Resep Ayam Kecap Tabur Paprika Ala Keluarga DuoNaj




Bahan dasar
 
Ayam potong  So Good kemasan 1 kg isi 10 potong. Saya pakai setengahnya.


Bahan pelengkap


Paprika merah ¼ biji, buang bijinya kemudian potong memanjang.

Paprika kuning ¼ biji, buang bijinya kemudian potong memanjang.

Daun bawang 3 helai, potong menyilang agak panjang.


Bumbu-bumbu


½ suing bawang bombai, iris tipis setengah lingkaran

3 siung bawang putih, geprek lalu dicacah

1 ruas jahe, iris tipis memanjang seperti korek api

Merica secukupnya

Garam secukupnya

Kecap manis

Saus tiram sesuai selera


Cara mengolah

  1. Cuci bersih ayam potong yang akan dimasak, kemudian tiriskan. 
  2. Balurkan merica dan garam pada seluruh permukaan ayam, kemudian diamkan di dalam kulkas. Untuk mempercepat waktu, biasanya saya melakukan tahap ini pada malam hari sebelum tidur. Sehingga menjelang makan sahur ayam sudah siap diolah. 
  3. Setelah 5-10 menit, goreng sebentar ayam potong dalam minyak panas. Tidak perlu terlalu lama, hanya setngah matang atau ayam sedikit kering di bagian luar. Kurang lebih 5 menit dengan api besar. Angkat kemudian tiriskan. 
  4. Tumis bawang bombai hingga layu, masukkan bawang putih cacah dan jahe. Tumis kembali hingga aromanya tercium sebelum ditambahkan ayam yang sudah digoreng setengah matang. 
  5. Tambahkan garam dan saus tiram ke dalam wajan sesuai selera. 
  6. Tambahkan sedikit air  untuk melunakkan ayam. Sedikit saja, karena kita tidak sedang membuat ayam berkuah. 
  7. Setelah air menyusut, masukkan kecap manis kemudian aduk hingga merata. 
  8. Jangan lupa cicipi sebelum mengakhiri seluruh proses memasak. Jika sudah oke, maka langsung saja tambahkan paprika merah dan kuning sebagai pelengkap. Aduk sebentar, dan diakhiri dengan potongan daun bawang untuk memberikan warna segar dalam makanan.

Jika ayam potong sudah dimarinade sebelumnya (dibaluri merica dan garam, kemudian didiamkan), maka hanya butuh 15 sampai 20 menit untuk mengolah makanan ini. Tapi jangan lupa gunakan api besar saat menggoreng ayam. Juga saat bumbu sudah ditumis dan dimasukkan ayam ke dalamnya. Dengan menyetel kompor pada api besar, maka pematangan ayam lebih cepat, namun tidak akan membuat ayam menjadi lembek atau keempukan.


Selain itu,  kunci sukses dari masakan ini adalah pemilihan jenis ayam yang harus segar dan dagingnya tebal. Dengan begitu rasa yang dihasilkan juga maksimal. Tak lupa pemilihan jenis kecap harus yang tepat. Pilihlah kecap manis yang berwarna hitam kental sehingga cita rasa Ayam Kecap yang dihasilkan lebih nendang.


Ayam Kecap semakin mantap jika disandingkan dengan sambal bawang mentah dan sayur kukus setengah matang favorit keluarga saya. Tentu saja dengan nasi putih pulen dan hangat yang membuat makan sahur menjadi lebih bersemangat.

Foto : Damaraisyah 2017


Selama bulan puasa, saya usahakan untuk menyimpan stok bahan makanan seperti sayur dan buah dalam kulkas. Begitu pun halnya dengan bahan untuk lauk seperti ikan dan ayam. Mau tahu kenapa? Karena BukNaj bisa lemes kalau tiap hari ke pasar sama duo krucil saat puasa. Belum lagi jika mereka lari ke sana kemari saat saya memilih sayur atau bahan lainnya. Bisa berabe ibu bayik teriak-teriak. Hehehe ...


Untuk itu, pemilihan jenis bahannya harus cermat. Misalnya dalam memilih ayam, saya usahakan selalu yang segar. Atau menggunakan ayam potong kemasan yang memiliki standart penyimpanan tinggi dengan metode terkini. 


Ayam Potong So Good terpilih menjadi salah satu “penghuni” di kulkas karena kualitasnya memang sudah saya buktikan. Selain pengemasan dan proses pembekuan yang optimal, ayamnya sangat bersih sehingga tak perlu mencuci terlalu lama.


Dalam satu kemasan berukuran 1 kg, terdapat kurang lebih 10 potongan ayam yang biasa saya olah menjadi beberapa jenis masakan. Untuk keluarga kecil seperti kami, hal ini sangat efisien karena tidak perlu beberapa kali berbelanja. Harganya pun relatif terjangkau.


Nah, itu tadi resep favorit keluarga saya. Mengolahnya cepat, rasanya nikmat dan yang pasti sukses menggugah selera. Teman-teman bisa melihat aneka resep kreasi Ayam Potong SO GOOD di sini ya. Atau jika ingin berkreasi dengan SO GOOD siap makan, resepnya pun banyak tersedia di sini. Happy cooking, Ladies!



3 Permasalahan Kulit Akibat Pola Hidup yang Tak Seimbang

|

Coba penyesalan itu datangnya di awal, nggak akan ada orang yang nangis sesenggukan di depan cermin gara-gara mukanya beruntusan.  Apalagi penyesalan itu biasanya untuk hal-hal yang “enak” di awal, tapi “nggak enak” banget pada akhirnya. Ya, iyalah, kalau udah nggak enak di awal, siapa juga yang mau coba-coba. Ya, nggak sih?

Ceritanya saya mau tsurhat, nih. Barangkali nantinya pengalaman saya ini bakal bermanfaat buat teman-teman juga. Jadi gini ceritanya, pasca libur lebaran selama kurang lebih satu bulan ini, kulit wajah saya sukses beruntusan, gatal dan nggak enak banget buat dilihat, apalagi dielus. 
Padahal, beberapa bulan terakhir saya lagi seneng-senengnya sama pipi yang kenyal, kulit yang bersih dan segar. Nggak berubah jadi putih sih, karena memang dari sononya warna kulit saya sudah gelap. Ditambah saya nggak pakai produk pemutih instan. Tapi jadi seger aja, nggak kusam trus komedo plus pori-pori terlihat lebih bersahabat. 
Kalau ditanya produk perawatan wajah apa yang saya pakai. Sebenarnya sih produk lokal aja, pembersih dan penyegar zaman ibu-ibu kita. Ditambah pelembab dan krim malam dari salah satu produk kosmetik yang saya beli secara online. Lain kali akan saya tulis reviewnya di sini.

Baca juga :  Kulit Wajah Segar, Cerah dan Kencang dengan Face Peeling dan Peel Off Mask Mustika Ratu
Tapi, saya sadar betul bahwa pola hidup yang mulai seimbanglah yang banyak membantu regenerasi kulit wajah.  Sejak resolusi awal tahun 2017 lalu saya ikrarkan. Sebisa mungkin saya meluangkan waktu untuk komit melakukan perubahan-perubahan ke arah yang lebih baik pada diri saya. Salah satunya dalam hal kesehatan dan pola hidup seimbang.
Stretching ringan di sela-sela kesibukan rumah tangga. Konsumsi air putih tidak kurang dari 2,5 liter per hari. Memperbanyak serat baik dalam bentuk sayur atau buah dalam setiap porsi makan. Dan yang paling penting istirahat cukup, kurangi kebiasaan begadang dan marah-marah. Hehe … Maksudnya lebih rileks menghadapi anak-anak. Lebih  berdamai dengan diri sendiri dan segala keterbatasannya. Merdeka! Hihihi …

Baca juga: Berdamai dengan Diri Sendiri 

Efek yang mulai terasa dari kebiasaan baik ini adalah tubuh yang terasa mulai ringan. Sakit kepala dan tegang di bagian leher semakin berkurang. Dan belakangan, saya mulai senang berlama-lama di depan cermin untuk mengamati bekas jerawat di pipi kanan yang mulai memudar. Pipi pun rasanya lebih kenyal.
Apalagi selama Ramadan, pola makan yang teratur dan waktu yang terbatas membuat saya tak sempat mengunyah camilan di luar makanan utama. Hikmahnya saya hanya fokus pada protein, serat dan vitamin yang berasal dari sayur dan buah. Serta konsumsi air putih lebih optimal karena tidak tersisa waktu untuk mengonsumsi aneka jenis minuman lainnya. FYI, selama Ramadan saya berhasil mengonsumsi 3 liter air per harinya. Angka yang tidak pernah bisa saya capai saat hari biasa.
Namun begitu lebaran tiba, aneka camilan dan kuliner khas “ndeso” membuat saya tak bisa berhenti mengunyah. “Ahh … nggak setiap hari ini,” begitu saya berkelakar. Mulai opor, sayur lodeh, rendang, bakso, es buah sampai camilan manis lainnya sukses masuk ke perut. Saya masih mencoba untuk boosting asupan sayur dengan mengonsumsi pecel. Tapi ya sama saja, lha wong lauknya gorengan 5 biji. Belum kalau ada yang nawarin penutup jenang campur plus kolak pisangnya. Duh, nggak tahan saya. Kapan lagi kalau nggak pas mudik ke Magetan?
Tubuh saya memang nggak bisa dibohongi begitu saja. Begitu ada asupan yang kurang, atau justru berlebihan, “alarm” tubuh akan langsung berbunyi. Contohnya ya gangguan kesehatan dan kulit seperti yang saya sebutkan di atas tadi. Sedangkan yang lebih parah adalah kenaikan berat badan. Selama puasa berat badan saya normal cenderung turun. Begitu lebaran,  Mak! Bergeserlah jarum timbangan ke arah kanan.
Tapi yang paling terasa memang di bagian kulit wajah. Memang perubahan cuaca antara Magetan dan Jakarta lumayan signifikan. Di Magetan sangat sulit untuk bisa berkeringat, karena anginnya dingin dan kering, tapi matahari bersinar terang. Kondisi ini membuat kulit terasa kering dan mbesisik kalau orang Jawa bilang. Tapi tetap ya, faktor dari dalam lebih mendominasi. 


Kulit Wajah Kusam Tak Bersinar

Sumber gambar : feminina(dot)com

Belum sampai glowing maksimal, tapi saya merasakan kulit wajah  lebih segar saat mulai berkomitmen merubah pola hidup. Terutama perihal asupan dan menjaga kecukupan waktu istirahat. Belakangan waktu berlibur yang sangat sempit membuat kami lebih banyak mobile ke tempat saudara dan teman. Malam hari pun lebih banyak untuk ngobrol dan jalan-jalan keluar dengan saudara dan keponakan. 

Akibatnya jam istirahat memang sangat kurang. Apalagi acara keluarga padat setiap harinya. Hari ini ngapaian di rumah mertua, besok sudah ada acara di rumah orang tua saya. Hampir begitu setiap hari sehingga untuk mendapatkan tidur berkualitas pun sangat sulit. Sekali lagi sayang kalau nggak dimanfaatkan sebaik-baiknya. Kapan lagi bisa kumpul sama saudara?
Seperti biasa begitu tidak mendapatkan cukup tidur atau kelelahan, lingkaran hitam di bawah mata mulai nampak. Kali ini disusul dengan tampilan wajah yang mulai kusam dan terlihat layu, lelah. Saya pikir ini hanya sementara, setelah jam biologis kembali normal semuanya akan pulih dengan cepat.
Tapi, ternyata nggak semudah yang saya pikirkan, karena kondisi serupa masih terjadi pada kulit saya hingga hari ini. 


Daerah “T” Kembali Berminyak, tapi Kering di Bagian Pipi

Sumber gambar: Bintangt(dot)com

Salah satu yang paling bikin bete adalah minyak di wajah. Terutama di daerah “T” yang sangat mengganggu hasil akhir riasan. Saya paling sebal kalau habis pakai bedak, trus menumpuk di daerah hidung dan dahi karena area di situ lebih berminyak.
Setelah berbulan-bulan terlepas dari tampilan seperti itu, saya kembali harus menghadapinya. Kali ini ditambah kulit bagian pipi yang lebih kering dan sedikit bersisik. Untuk sementara waktu saya memilih meninggalkan bedak tabur. Daripada harus keluar rumah dengan wajah belang-belang. Bedak nggak nempel di bagian kulit yang kering tapi menumpuk di area “T”. 


Komedo dan Jerawat Datang Bebarengan

Sumber gambar: Dokter sehat(dot)com

Dua ini yang paling tak diundang. Eee lha kok malah datang bebarengan. Hidung terasa kasar dan jerawat kecil-kecil berwarna putih mulai muncul di pipi dan dagu. Huff! … Bete banget saya sama yang dua ini. Kalau jerawat sudah keluar, itu artinya sudah harus segera berbenah. Karena bagi saya, pemulihan setelah berjerawat bisa jadi tidak mudah. Saya sudah terlalu akrab dengan masalah kulit ini sejak di bangku kuliah.
Nggak ada alasan lagi untuk menunda. Harus segera kembali ke pola hidup yang selama 6 bulan sangat membantu memperbaiki kondisi kesehatan dan kulit saya. Untuk sementara saya menghindari begadang yang secara otomatis memengaruhi produktivitas dalam menulis. Tapi tak apalah, hanya sementara saja sampai semua berjalan normal. Saat libur sekolah usai maka saya akan lebih leluasa beraktivitas di siang hari.
Asupan air putih kembali 3 liter per hari, rutin membersihkan wajah pada pagi dan malam hari. Mengaplikasikan masker dan peeling dua kali dalam seminggu, pelembab dan serum wajah nggak boleh lupa lagi. Dan yang terpenting kembali membatasi minyak dan gula dalam makanan. Sebagai gantinya, sayur dan buah sudah mulai memenuhi isi kulkas dan meja makan.

Stay healthy and happy ya, Temans! Cheating sih boleh, asal jangan kebablasan kayak saya. Ingat selalu pemulihannya butuh kerja ekstra. Ya kan? Ya kan? ...







Mengajarkan Anak Cara Mengalokasikan Uang Angpau Lebaran

|
Lebaran benar-benar membawa berkah bagi anak-anak. Eh, tapi bukan berarti kita-kita yang udah nggak imut ini nggak ikutan dapat berkahnya, loh. Cuma beda aja jenis keberkahannya. Kalau anak-anak kan lebih riil bentuknya, hehehe ... Matre banget saya. 

Ya, apalagi kalau bukan uang angpau lebaran. Hampir semua anak menunggunya. Kalau sudah ramadan, yang ditunggu pasti lebaran dan amplop warna-warni berisi lembaran uang baru, kan? Sudah tradisi, dan hampir setiap anak menyukainya. 




Saking kepengennya bikin anak-anak semakin senang. Ibu saya sampai bela-belain bikin tas kain mungil buat 4 cucu perempuannya yang masih kanak-kanak. Semacam ada keyakinan cucu-cucunya ini bakalan repot kalau harus salaman sambil menggenggam amplop-amplop itu. Jadi, setiap habis salim, dapat amplop, langsung deh, cuss … Masuk ke tas kain mungil yang terselempang di pundak. So, mereka bisa bebas banget nyemil ini itu tanpa harus pegang-pegang amplop.


Hikmahnya juga anak-anak gak harus setor ke orang tuanya buat bantuin nyimpen. Mereka bisa simpan sendiri dan tentunya “lebih aman” dari intervensi  ibu-ibu macam saya. Yang suka khilaf pinjam duit anaknya, hihi … *tutupmuka


Lebaran ini tahun ke-6 buat Najwa, sedangkan Najib baru dua kali eksis ikut silaturahmi dari rumah ke rumah. Ya, karena lebaran pertamanya harus dilalui dengan sakit dan sempat opname di Yogya. Jadi saya sedikit protektif dan nggak mengajaknya keluar untuk bertemu orang-orang pada waktu itu.


Tahun-tahun sebelumnya, Najwa selalu menyerahkan uang angpaunya untuk disimpan saya. Biasanya, saya akan tabung atau belikan benda yang sedang diinginkannya. Misalnya dua tahun yang lalu saya belikan sepeda mini roda dua warna pink yang sekarang jadi kesayangannya. Lumayan sih, waktu itu kami hanya menambah 100 ribu sama ongkos bajaj dari Jatinegara sampai rumah. Selebihnya dibeli dengan uang angpaunya.


Pernah juga kami membantu menyimpan sementara. Untuk kemudian dibelikan sepatu, mainan atau digunakan sebagai uang saku saat liburan akhir tahun yang biasanya selalu rutin kami lakukan.


Beda dengan tahun ini. Karena Najwa sendiri yang menyimpan, dan dia sudah mulai paham dengan kepemilikan. Najwa nggak mau lagi saya atur-atur. Misalnya saya bantu simpan atau tabungkan di rekening saya. Dia langsung buka sendiri amplopnya, keluarkan isinya dan tumpuk sesuai pecahan yang sama. Setelah saya bantu hitung, dia langsung simpan di dalam tas dan lemarinya. Hahaha … Semacam ingin menyembunyikan dari saya.


Ayah Najwa yang melihat tingkah menggemaskan anak perempuannya langsung saja bersikap reaktif. Menanyakan akan digunakan untuk apa uang yang dimilikinya. Najwa bilang mau dipakai beli baju princess, beli mainan yang banyak dan buat jajan. Oh, No!! Baju princess buat apa to, Nduk? 😌


Kemudian kami tanya, apakah barang-barang itu memang penting dan dibutuhkan? Tentu saja Najwa paham pertanyaan kami, maka dari itu dia tidak benar-benar menjawabnya. Sebagai gantinya, dia berkata seperti ini, “Tapi aku kepengen, kan ini duitku sendiri, ya terserah aku, donk!”


Si ayah tak mau terlalu lama berkompromi dengan jawaban anaknya, dan langsung menegaskan bahwa barang-barang itu kurang penting. Karena baju baru lebaran saja sebagian belum dipakai. Lebaran ini memang Najwa dapat beberapa stel baju dari budhe-budhe dan tantenya. Mainan juga masih banyak, jajan apalagi. Jadi, mau tidak mau kami mengintervensi peruntukan uang lebaran yang tidak sedikit itu.


Sebagai gantinya, kami memberikan ide bagaimana jika dibelikan seragam sekolah saja. Oh ya, sekedar info bahwa Najwa sudah diterima di SD Negeri dekat rumah. Lumayan mepet umurnya, tapi lolos juga di gelombang kedua meskipun urutannya sudah mepet bawah.


Balik lagi ke ide beli seragam. Tentu saja Najwa menolak, dan beranggapan membeli seragam adalah tugas ayah ibunya, tentunya bukan dengan uang yang dia punya. Nah, ini nih. Jawaban kayak gini sudah saya duga bakalan keluar dari mulut mungilnya. So, si Ayah langsung mengambil inisiatif mengajaknya berdiskusi. Digelarlah rapat kecil keluarga, jiah … *kibasjilbab


Memberi Pengertian pada Anak






Kami pun memulai dengan menanyakan pada Najwa berapa jumlah uang yang diterima. Setelah najwa menyebutkan angkanya, kami mulai mengkonversi dengan kebutuhan yang mungkin dipenuhinya dengan uang tersebut.  Najwa masih berkilah, bahwa uang Najwa ya untuk Najwa. Kalau kebutuhan Najwa ya Ayah yang harusnya belikan. 


Kemudian secara bergantian kami menyampaikan, bahwa dalam keluarga kami tidak ada istilah uangku ya uangku. Ayah, ibu atau bahkan adik tak boleh ikut memiliki. Pemahaman seperti itu tidak berlaku untuk keluarga kecil kami. Terlebih menyangkut kepemilikan uang.


Mengapa? Karena kami sedang membiasakan anak-anak untuk mensupport satu sama lain. Tidak bersikap pelit dan harus saling membantu saat ada yang memiliki rezeki tambahan.  Caranya? Ya dengan menggunakan uang yang dimiliki untuk memenuhi kebutuhan pribadinya, sehingga meringankan pengeluaran keluarga. Kami menekankan pada kata dibutuhkan, bukan diinginkan. Karena seringkali barang-barang yang dibeli sebenarnya tak terlalu dibutuhkan. Hanya karena azas ingin atau tergoda dengan barang lucu berwarna pink hula-hula. Hahaha …kalau itu penyakit ibunya.


Membuat Skala Prioritas Berdasarkan Kebutuhan




Selanjutnya, kami pun mengajak Najwa mendata barang-barang yang dibutuhkannya. Selain seragam sekolah SD, ternyata Najwa harus membeli sepatu baru, terkait peraturan sekolah yang mewajibkan siswa-siswinya memakai sepatu dengan model khusus. 


Budget sepatu ini sebenarnya tidak masuk dalam daftar kebutuhan tahun ajaran baru. Karena kami tidak merencanakan perlengkapan sekolah baru di luar buku, peralatan tulis dan seragam. Tapi, apa mau dikata. Peraturan tetaplah peraturan yang harus ditaati oleh siswanya. So, sepatu baru mendapat prioritas kedua setelah seragam. Disusul kemudian alat tulis dan buku. 



Mengalokasikan Sebagian Kecil untuk Keinginannya





Nah, untuk membuat Najwa tetap senang. Kami menyetujui sebagian uang dialokasikan untuk membeli barang kesenangannya, dengan catatan harus bermanfaat. Dari sekian banyak list keinginan yang disampaikannya, Najwa memilih mainan ketimbang baju princess atau aksesories lucu. Tentu saja kami mengiyakan, karena mainan yang dipilihnya adalah Lego Block. Sangat cocok untuk melatih kesabaran, ketelitian, imajinasi dan sarana yang pas untuk berkegiatan bersama kami, orang tuanya.


Ternyata setelah seluruh pos-pos kebutuhan pribadinya terpenuhi, uang lebaran Najwa masih tersisa sekian ratus ribu. Tentu saja dia sangat girang karena berpikir akan menghabiskannya untuk jajan atau membeli apapun yang diinginkan. 

Eits … Tapi hal itu tidak berlangsung lama. Segera kami ingatkan tentang rencana berkunjung ke Sky World untuk yang kedua kalinya. Juga rencana menginap pada liburan sekolah semester pertama.

Najwa berbinar mendengar kami mengingatkan kembali tentang rencana-rencananya. Dan dia pun setuju untuk menyimpan sisa uang lebaran yang masih dimilikinya.


Akhirnya, seluruh uang itu tetap menjadi hak Najwa tanpa kami kurangi jumlahnya. Hanya saja kami ikut membantu mengarahkan peruntukannya. Najwa pun mulai memahami dan tidak keberatan dengan semua yang telah disepakati.


Kini, dengan bangga Najwa bisa berkata bahwa perlengkapan sekolahnya yang baru dibeli dengan uangnya sendiri.  Tentu saja hal ini sangat positif untuknya. Karena dia menjadi lebih semangat dan antusias untuk segera kembali ke sekolah. Lebih tepatnya ke sekolah barunya.


Mungkin kami terlalu konvensional sebagai orang tua. Tapi begitulah kami belajar  dari berbagai momen penting bersama anak. Bukankah tak ada satupun sekolah menjadi orang tua? Dan tak ada satu teori pun yang memberi garansi pasti berhasil untuk diterapkan dalam sebuah keluarga?  Maka bereksperimen adalah cara yang tak bisa kami hindari untuk menemukan formula yang tepat.






Custom Post Signature

Custom Post Signature