Parenting Story, Mom's Life, Tips

Sejarah, Filosofi dan Keunikan Batik Madura

|
Batik Madura





Ngomongin soal batik, teman-teman pasti tahu, kan, bahwa setiap tanggal 2 Oktober  diperingati sebagai  Hari Batik Nasional? Meskipun agak telat sedikit, rasanya masih pantas untuk menikmati euforia Hari Batik tahun ini. Terlebih bagi saya yang sangat gemar menggunakan batik. 

Tapi jangan dipikir daster batik saja ya, koleksi saya. Beberapa rok berbahan Batik Pekalongan menjadi koleksi saya untuk acara baik formal maupun semi casual. Begitu pun vest panjang berbahan Batik Madura terus saya gunakan dengan cara padu padan untuk berbagai kesempatan.

Sebuah Sejarah Semestinya Mampu Mengubah

|
sejarah
Waktu terus bergerak,namun sejarah tetap di tempat dan masanya.

Saya tertegun cukup lama untuk mulai menulis tema Jangan Pernah Melupakan Sejarah yang menjadi challenge hari pertama dari Blogger Muslimah Indonesia. Padahl tema ini lagi nge-hits banget. Tapi nggak tahu kenapa saya malah galau aja pas mau menuliskan kalimat pertama. 

Tapi ... Baiklah, sepertinya saya harus berbagi sedikit pengalaman saya bersama Najwa tentang cerita sejarah bangsa ini dan keluarga kami. Begini kira-kira awal mulanya.😉😉

Kurang lebih satu tahun yang lalu, saat Najwa begitu tertarik dengan buku seri Bapak Bangsa yang sedang say abaca. Tjokroaminoto: Guru Para Pendiri Bangsa, begitulah judul yang tertulis pada cover depan buku bersampul coklat yang selalu kami letakkan di barisan kedua rak buku di rumah kami. Barisan yang menyimpan beberapa nama yang mengisnpirasi dan layak untuk diteladani.

Najwa memang selalu penasaran dengan buku-buku yang say abaca. Terlebih jika saya terlihat serius, tertawa sendiri, atau kuat berlama-lama hanya dengan menyusuri larik-lariknya. Saat itu pun Najwa langsung bertanya, dan ingin tahu buku tersebut berkisah tentang apa.

“Buk, serius amat bacanya, itu buku apa, sih?”

“ Coba Kakak baca judulnya!"

Saya pun memintanya membaca tulisan dengan huruf kapital di bagian cover depan, seraya memberikan bukunya. Najwa nampak kesusahan membaca ejaan lama untuk tulisan Tjokroaminoto yang ditulis besar-besar dengan huruf capital. Tapi kemudian dia mampu melafalkan kalimat “Guru Para Pendiri Bangsa” pada larik berikutnya.  Saya pun berinisiatif membacakannya.

“ Buku ini berjudul, Tjokroaminoto- Guru Para Pendiri Bangsa”.


Najwa tertawa karena merasa lucu dengan nama yang saya sebutkan, kemudian bertanya siapa itu Tjokroaminoto? Bercerita tentang apakah buku tersebut? Begitulah awalnya hingga saya mulai mendongeng tentang Mbah Tjokroaminoto dan sekilas tentang sejarah bangsa ini kepadanya.


Baca juga : Dari Rumah untuk Generasi Doyan Baca

Ya, saya sering menggunakan sebutan “Mbah” untuk menyebut nama-nama pahlawan yang saya kenalkan pada Najwa. Bukan apa-apa, sih, biar kelihatan akrab saja, hehehe. Bisa jadi, Mbah Tjokroaminoto lah yang menyebabkan ide itu meluncur begitu saja di otak saya. Dan Mbah  Tjokroaminoto pulalah yang menjadi pahlawan pertama dalam dongeng pengantar tidur saya untuk anak-anak.


Saya katakan pada Najwa, bahwa buku ini adalah buku cerita sejarah. Tentang negara kita Indonesia, tentang para pendirinya, tentang para pahlawan yang berjuang memerdekakan bangsa kita. Untuk beberapa waktu Najwa terdiam, sebelum akhirnya dia bertanya, apakah Mbah Tjokroaminoto itu juga pahlawan? Pahlawan itu apa? Merdeka itu apa?

Saya pun melanjutkan dengan mengiyakan bahwa Tjokroaminoto adalah pahlawan. Pahlawan yang menjadi guru para pendiri bangsa Indonesia. Sedangkan pahlawan adalah orang-orang yang berjuang untuk merebut kemerdekaan bangsa Indonesia. Dan tentu saja saya melanjutkan tentang apa itu merdeka.


Bahwa kemerdekaan adalah kebebasan. Saat kita merdeka artinya kita tidak dijajah lagi. Tidak ada yang membatasi ruang gerak kita, tidak ada yang memerintah dengan semau mereka.

Rupanya Najwa lebih tertarik dengan cerita kemerdekaan bangsa kita ketimbang kelanjutan cerita Mbah Tjokroaminoto sendiri. Maka dari situ dia mulai bertanya lagi.

“Memang kita pernah dijajah, Buk?”

Saya kembali mengiyakannya. Dulu sebelum proklamasi kemerdekaan yang biasanya diperingati setiap  tanggal 17 Agustus. Yang biasanya ada panggung hiburan dan lomba-lomba. Negara Ind
onesia dijajah oleh Belanda selama ratusan tahun. Pada saat itu sudah banyak pahlawan seperti halnya Mbah Tjokroaminoto yang berjuang untuk kemerdekaan.

Saya menggambarkan situasi saat penjajahan itu sangat tidak enak. Menderita, susah, ketakutan, karena kita diatur oleh bangsa lain. Makan enak susah, mau jalan-jalan juga nggak seenak zaman sekarang. Enggak semua anak boleh sekolah. Jadi, pada masa penjajahan  hidup sangat tidak bahagia. Kemudian, saya meminta Najwa membayangkannya.

Najwa sedikit ketakutan dan matanya agak memerah. Saya berkata padanya bahwa Najwa enggak perlu takut, karena masa itu telah berlalu dan hanya tinggal sejarah. Tapi kemudian saya terus meyakinkan kepadanya, bahwa sejarah bangsa ini tidak untuk dilupakan begitu saja.  


“ Ingatlah, agar engkau dapat menghargai jasa-jasa pahlawan kita. Ingatlah agar engkau tahu bahwa kemerdekaan ini tidak gratis, harus dibayar dengan perjuangan. Maka tugas orang-orang yang sudah merdeka adalah bekerja keras, belajar dan membawa kemajuan bagi negara ini.”

 

Najwa masih khidmat menyimak saya. Kemudian saya pun mengejutkannya dengan mengatakan bahwa Mbah Buyut Najwa adalah salah satu dari orang-orang yang ikut merebut kemerdekaan.

“Beneran, Buk?”

Ya, Mbah Kakung saya, yang kemudian menjadi Mbah Buyut Najwa adalah seorang pejuang. Sempat direkrut Heiho dan kemudian bergabung dengan TNI-AD pada zaman kemerdekaan. Sedangkan Mbah Kakung suami, yang kemudian juga menjadi Mbah Buyut Najwa juga.  Beliau ikut bergerilya pada tahun 1950-an dan kemudian mendapat tugas memegang Civiel Bestuur Darurat di Banyuwangi.

Mereka adalah pejuang, bersama dengan ribuan pejuang lainnya yang ikut memperjuangkan bahkan mempertahankan kemerdekaan negeri ini. Walaupun tanpa gelar ataupun sebutan sebagai pahlawan.


Sejarah
Sejarah adalah masa lalu sebagai pelajaran meniti masa depan.

Menemukan kebanggaan dari sejarah kakek buyutnya yang ikut berjuang, mata Najwa mulai berbinar-binar. Rasa penasarannya tentang bangsa ini semakin memuncak. Begitu pun halnya dengan semangatnya untuk terus bercita-cita. Ingin menjadi pemberani, enggak mau jadi anak bodoh karena takut dijajah lagi, begitu yang diucapkannya kepada saya.

Bagi saya sendiri, menjadikan cerita sejarah sebagai bagian dari dongeng menjelang tidur hanyalah sebuah upaya untuk mengingatkan diri sendiri.  Bahwa sejarah suatu  bangsa ataupun sejarah dalam setiap keluarga bisa dibilang selalu unik, monumental dan menegaskan jati diri setiap orang. 

Baca juga: Nilai yang Dapat Ditanamkan dalam Keluarga

Ada pelajaran yang selalu diharapkan dapat membentuk karakter penerusnya. Karakter yang terbentuk dalam diri masing-masing individu inilah yang kemudian mengantarkan mereka dalam sebuah cerita baru, sejarah yang akan menuliskan bagaimana dia akan dikenang nantinya.

Sejarah, apapun itu sejarahnya, seharusnya menuntun kita untuk memetik hikmah. Bukan memperdebatkan hal yang sama-sama tidak pernah dialami. Tapi mengambil pelajaran sebagai pengingat agar tak mengulang yang tak perlu terjadi lagi. Tapi melanjutkan yang sudah lebih dulu dimulai.





Tulisan ini diikutsertakan dalam Program One Day One Post Blogger Muslimah Indonesia.

#ODOPOKT1








Menua bersama Kereta Api yang Terus Diremajakan

|



Sebulan sekali setiap akhir pekan, saya dan ibu tak pernah absen dari kereta api Mutiara Selatan. Tujuan kami adalah Stasiun Kereta Api Kiaracondong, Bandung. Dulu, saat saya masih kecil dan almarhum papa masih ada, setiap 2 minggu sekali kami begantian saling mengunjungi. Tentu saja hanya saya yang selalu diajak serta oleh ibu. Sedangkan 2 kakak saya ebih sering ditinggal karena sudah sekolah.

Rutinitas seperti ini kemudian berakhir saat usia saya menjelang 6 tahun. Ibu mengandung anak keempat atau calon adik saya. Karena itu kami cenderung mengurangi perjalanan jauh apalagi dengan intensitas yang bisa dibilang terlalu sering. Sebagai gantinya, papalah yang lebih sering pulang ke Magetan.



Dulu, berkendara kereta tentunya tak senyaman zaman sekarang. Terlebih jika menggunakan kelas ekonomi. Saling berebut tempat duduk bahkan berbagi tempat pijakan berdiri dengan pedagang asongan adalah hal yang biasa. Belum lagi jika harus menahan hasrat buang air. Saya yakin setiap orang yang pernah menjadi pengguna kereta api pada masa itu, rela menunggu hingga sampai di stasiun berikutnya. Karena toilet kereta pun tak urung menjadi sasaran penumpang yang membludak.

Pengalaman berkereta dengan kondisi seperti ini masih terus saya rasakan hingga beberapa tahun berikutnya. Bisa dibilang, kereta api adalah moda transportasi yang sudah menjadi langganan kami sekeluarga. Selain harga tiketnya yang memang sangat terjangkau, lokasi rumah kami memang tidak terlalu jauh dari Stasiun Kereta Api Madiun, salah satu stasiun kelas besar yang melayani rute perjalanan baik jalur utara maupun selatan.

Setiap acara berkunjung ke rumah saudara baik itu yang di Jakarta, Tasikmalaya, Banyuwangi, Jember ataupun Yogyakarta. Maka ritual berburu tiket kereta selalu kami lakukan. Bedanya, pada masa-masa itu berapapun tiket yang kita butuhkan, kita pasti mendapatkannya. Bahkan jika harus membelinya secara mendadak beberapa menit sebelum keberangkatan.

Maka tak mengherankan jika kereta api selalu penuh sesak dan berdesakan. Hal ini mungkin dikarenakan kapasitas tiket penjualan tidak dibatasi sesuai jumlah tempat duduk. Bahkan, calo pun bisa dengan mudah berkeliaran dan memperjual belikan tiket kepada calon penumpang.

Sungguh tidak nyaman, tapi entah mengapa kereta api tetap menjadi primadona. Kondisi  seperti ini semakin parah menjelang liburan atau mudik lebaran sebagai puncaknya. Berebut tiket kereta adalah hal yang tidak dapat dihindarkan. Bahkan menjadi peluang besar bagi calo untuk menaikkan margin keuntungannya. Yang namanya tiket mudik, harga berapapun orang pasti mau membelinya, kan?

Hari berganti tahun berselang. Saya pun menua, namun masih menjadi pengguna setia moda transportasi ini. Bedanya, kali ini saya berkereta untuk urusan pekerjaan. Yang mana seluruh akomodasi bukan lagi menjadi tanggungan saya. Kereta api kelas eksekutif pun mulai  sering saya jelajahi. Jika harus bertugas ke Jakarta, Bima atau Bangunkarta selalu menjadi pilihan. Jika harus ke Bandung, maka Turangga yang selalu mengantarkan.


PT. KAI
Acara jalan-jalan bersama teman juga selalu mengandalkan kereta api.


Saya semakin menikmati kenyamanan berkereta. Tentu saja karena kereta jenis eksekutif yang menjadi tumpangan saya. Itu pun hanya jika mendapatkan akomodasi dari kantor tempat saya bekerja. Selebihnya, jika harus berkereta karena untuk urusan pribadi, maka kembali lagi saya harus siap berdesakan.  Kereta Sri Tanjung, Pasundan, Kahuripan, Gaya Baru atau Matarmaja yang biasanya menjadi saksi bisu  perjalanan.

Rupanya, cerita saya dan kereta api Indonesia tak berhenti sampai di situ saja. Tahun 2010 saya menikah dan terpaksa harus menjalani hubungan jarak jauh dengan suami. Suami pun dengan serta merta menjadi penumpang setia kereta api jurusan Madiun – Jakarta. Dua kali dalam sebulan di akhir pekan, dia harus mempercepat langkah menuju Stasiun Gambir atau Pasar Senen untuk berebut tiket bahkan tempat duduk di kereta. 

Jika nasib sedang apes, berdiri  berjam-jam hingga terkantuk-kantuk di lorong bordes adalah hal yang biasa. Lebih parah lagi jika harus berbagi tempat di depan toilet kereta. “baunya luar biasa!”, begitu suami sering mengeluhkannya.

Sebenarnya, rasa kurang nyaman berkereta tidak hanya karena gerbong yang selalu penuh sesak dengan penumpang. Namun kondisi stasiun yang tidak steril dari pengunjung turut memberikan kontribuasi besar. Selain penumpang, pedagang asongan, potter, pengantar penumpang, bahkan siapapun bisa dengan leluasa masuk atau tiduran di bangku-bangku di dalam stasiun. Hal ini jugalah yang menyebabkan tingkat keamanannya rendah. Maka pencopet pun bisa dengan leluasa melancarkan aksinya pada masa-masa itu.

Tapi, semua cerita itu hanya akan menjadi kenangan bagi saya ataupun teman-teman pengguna setia moda transportasi kereta api. Kondisi gerbong kereta yang penuh sesak, stasiun yang lebih mirip seperti pasar, atau aksi calo tiket merayu calon penumpang kereta tinggallah cerita saja.



PT. KAI
Sedang menuju Bandung dengan kereta Argo Parahyangan

mudik dengan kereta
Libur akhir tahun 2016, dengan alasan ekonomis kami memilih kereta Gaya Baru untuk pulang ke Magetan.

 

PT. KAI berbenah secara besar-besaran. Bukan menua seperti halnya saya yang terus bertambah usia, tapi menjadi semakin “muda” dengan berbagai peremajaan dan perbaikan di berbagai sektor pelayanan. Sistem pembelian tiket secara online merupakan salah satu pendobrak yang membuat industri perkeretaapian tidak hanya layak dijadikan andalan, tapi juga juara.

Kini, membeli tiket kereta semudah menggoyangkan jempol, karena pelanggan bisa melakukannya secara online dari gadget saja. Sistem ini memang bukanlah hal yang baru. Kalau tidak salah, sejak tahun 2012 atau sebelumnya PT. KAI telah memberlakukan sistem ini secara luas. Tidak terbatas sampai di situ, pembelian tiket secara online pun dapat dilakukan di berbagai merchant yang sudah bekerja sama dengan PT. KAI. Hal ini tidak hanya memudahkan, tapi juga memberikan keleluasaan bagi pelanggan untuk bertransaksi di tempat yang biasa menjadi langganannya.

Di samping itu, identitas seluruh penumpang pun terdata dengan detil. Karena pada saat pembelian tiket, calon penumpang harus menyertakan nomor identitas yang berlaku. Bahkan, sekitar awal tahun ini PT. KAI telah memberlakukan sistem boarding seperti halnya penumpang pesawat terbang. Sehingga calon penumpang lebih tertib dan tepat waktu.

Perbaikan yang terus dilakukan di industri perkeretaapian tentu saja mendapatkan respon yang sangat positif dari pelanggan. Hal itu pulalah yang menjadikan pengguna jasa kereta api meningkat tajam. Tak lagi menjadi primadona, kereta api sudah seperti andalan bagi masyarakat.

Sayangnya, hal ini berimbas pada sulitnya mendapatkan tiket untuk perjalanan yang sifatnya dadakan. Maka tradisi berburu tiket 90 hari sebelum keberangkatan sepertinya menjadi satu agenda khusus yang wajib dicatat para pemburu tiket kereta, seperti halnya saya.

Tidak hanya saat berburu tiket mudik, bahkan untuk bepergian saat hari libur sekolah atau libur nasional pun kita harus merencanakannya sejak jauh-jauh hari. Tengah malam menjelang pergantian tanggal yang terhitung 90 hari dari jadwal keberangkatan, maka para pemburu pun harus siap di depan gadgetnya untuk segera memesan kereta yang diinginkan.

 

mudik dengan kereta api
Mudik lebaran 2017 terpaksa lebih awal karena tidak kebagian tiket menjelang hari H

Itu pun sifatnya masih untung-untungan. Karena 3 kali hari raya saya gagal mendapatkan tiket sesuai jadwal libur hari raya,  meskipun sudah siap sejak sebelum pukul 12 malam. Bisa jadi hal ini dikarenakan tanggal keberangkatan dan stasiun tujuan yang saya pilih memang juga menjadi pilihan ribuan  calon penumpang lainnya. Namun kejadian yang terus berulang seperti ini, dan tidak hanya saya yang mengalami, seharusnya mendapatkan perhatian khusus dari PT. KAI.  

Menurut saya pribadi, sebagai pengguna kereta api sejak zaman anak-anak hingga sekarang menua dan beranak dua. Secara keseluruhan, fasilitas perkeretaapian tidak hanya telah membaik. Namun jauh lebih baik dan layak diberikan penghargaan. 

Mulai dari sistem pembelian tiket,  kebersihan di dalam kereta, kebersihan toilet, keamanan dan kenyamanan baik di stasiun maupun di dalam gerbong kereta. Fasilitas ruang tunggu yang semakin baik meskipun pada hari-hari khusus kerap tidak mampu menampung. Ketersediaan ruang laktasi, maupun SDM PT. KAI . Hampir semuanya mengalami kemajuan yang sangat signifikan. Ya, saya bisa bilang PT. KAI tidak hanya berbenah, tapi berubah secara besar-besaran.


Tapi, kalau boleh sumbang saran sedikit. Saya dan mungkin ribuan calon penumpang yang lainnya masih terus bermimpi mendapatkan tiket kereta semudah mendapatkan tiket pesawat atau bahkan moda transportasi yang lain. Tak perlu berburu sejak 90 hari sebelum keberangkatan, bahkan masih dengan risiko “dikacangin”.
 

Saya terus berharap penambahan jumlah armada kereta sehingga daya angkutnya bisa  lebih besar. Wajar, kan? Mengingat kereta api selalu laris dan diburu. Maka sudah sepantasnya jika armadanya pun terus diupayakan untuk ditambah.

Di samping itu, saya berharap sterilisasi kondisi stasiun dibarengi dengan jumlah potter yang sebanding, dan stand by 24 jam khususnya pada jam-jam kedatangan kereta.  Hal ini dikarenakan saya, dan ratusan penumpang lainnya, terutama ibu-ibu  yang membawa anak kecil atau balita. Sering kali mengalami kesulitan untuk naik ataupun turun dari kereta  karena tidak ada tenaga yang membantu. 

Kalau dulu, kan,  bisa dibantu pengantar. Kalau sekarang jadi lumayan merepotkan terlebih jika turun di stasiun kecil yang tidak memiliki tenaga potter yang stand by 24 jam.

Untuk kebersihan sendiri saya rasa sudah cukup, terlebih untuk bagian dalam gerbong kereta. Hanya saja, untuk masalah toilet memang selalu butuh perhatian lebih. Mengingat penggunanya bukan hanya 1 atau 2 orang, melainkan puluhan. Mungkin intensitas pengecekan dari petugas perlu diperpendek jaraknya. begitu pun pasokan air saya harapkan selalu penuh. Sehingga tak khawatir tak dapat menyentor bekas buang air.

Saya yakin,  sedikit perbaikan lagi akan menjadikan industri perkeretaapian Indonesia semakin juara. Bahkan layak untuk segera disandingkan dengan kereta api di luar negeri sana pada masa depan.  

Fakta bahwa kereta api menjadi salah satu transportasi yang digemari karena murah, anti macet dan nyaman. Akan tak terbantahkan lagi seiring dengan meningkatnya jumlah armada yang dibarengi semakin besarnya daya angkut bahkan pada hari-hari khusus yang biasanya selalu padat.

Ayo berkereta! Ayo naik kereta!



Tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba Karya Tulis KAI di Masa Mendatang.




Cara Aman Merawat Kulit Bayi Tetap Sehat

|
Lactacyd baby
Gambar : Pixabay.com

Pengalaman menangani gangguan kulit pada anak pertama yang begitu  sensitif dengan perubahan suhu udara bisa dibilang tidak mudah. Si Najwa lahir dan tinggal di Magetan yang notabene daerah pegunungan. Langsung terserang biang keringat lumayan parah saat kami sekeluarga memutuskan hijrah ke ibukota. Belum lulus adaptasi dengan lingkungan sosial yang baru, Najwa harus berjuang melawan suhu udara Jakarta yang lebih sering panas ketimbang sejuk.

Berbekal pengalaman ini, kami pun memutuskan melahirkan anak kedua di Jakarta. Dengan alasan agar lebih mudah beradaptasi sejak awal. Tapi, teori memang selalu tak seindah kenyataan. Najib yang kami gadang-gadang bakal punya “kulit badak”. Ternyata tak luput juga dari gangguan kulit akibat biang keringat.

Meskipun berjenis kelamin laki-laki, kulit Najib cenderung lebih sensitif dibanding kakaknya. Pernah suatu ketika muncul bentol-bentol merah tanpa kami ketahui penyebabnya. Dan kemudian hilang dengan sendirinya setelah 3 sampai 4 hari tanpa kami obati secara khusus.

Pernah juga beberapa kali mengalami ruam popok saat suhu udara Jakarta sedang meningkat.  Usut punya usut,  hmasalah inipun bukan disebabkan merk diaper yang digunakan. Karena pada saat suhu udara normal, si kecil tak bermasalah dengan diaper jenis apapun yang digunakannya.

Masalah biang keringat ini terus berlanjut hingga si kecil bertambah usia. Beberapa kali saya coba melakukan perawatan dengan bahan-bahan alami. Misalnya dengan merebus Kayu Secang untuk campuran air mandi. Kayu secang yang memiliki zat antibakteri alami, dipercaya mampu mengurangi rasa gatal pada kulit.  Memang akhirnya sembuh, sih. Tapi agak repot juga ketika biang keringat ini kambuh saat bepergian. Kurang praktis lebih tepatnya. Nggak mungkin juga, kan, kalau harus rebus Secang di penginapan?

Kami pun berinisiatif melakukan pemeriksaan ke DSA untuk mengetahui  penyebab pasti gangguan kulit ini secara medis. Dokter pun meng-iyakan bahwa  faktor cuacalah yang menjadi pemicu utama. Kondisi kulit Najib memang sangat sensitif, sehingga sangat mudah mengalami biang keringat atau ruam ketika terpapar panas atau lembab terlalu lama.

Saat itu DSA tidak meresepkan obat apapun untuknya. Oleh karena itu kami teruskan melakukan perawatan sehari-hari seperti biasa. Tapi, tentu saja dengan lebih memerhatikan faktor kebersihan dan kenyamanan kulitnya.

Namun, masalah kembali terjadi sekitar satu bulan yang lalu. Saat itu bagian kulit punggung yang biasa terserang biang keringat nggak hanya beruntusan atau gatal. Tapi terlihat sedikit basah, merah dan si kecil mengeluhkan  perih. Kondisi ini semakin buruk karena area di sekitarnya terasa gatal. Sehingga reflek si kecil selalu ingin menggaruk, tapi juga terus menangis karena kesakitan.

Merawat biang keringat pada bayi
Kondisi punggung Najib saat biang keringat.
Kami tak dapat menunda lagi untuk melakukan pemeriksaan yang kedua.  Kali ini kami kembali membawanya ke DSA yang selama ini memantau tumbuh kembangnya. Diagnosanya pun masih sama. Gangguan kulit ini dikarenakan biang keringat akibat perubahan cuaca. Hanya saja kali ini sudah terinfeksi, sehingga menjadi luka.

Usut punya usut, saya baru sadar bahwa dua hari sebelumnya si kecil tidur siang di lantai dan hanya beralaskan karpet. Berulang kali pula saya melihat si kecil menggosok-gosokkan punggungnya yang gatal pada karpet. Mungkin untuk mendapatkan sensasi seperti digaruk, sehingga membuatnya nyaman.

Tapi karena kondisi kulit sedang sensitif, ditambah kebersihan karpet yang mungkin saya khilaf tidak memerhatikannya. Jadilah rasa nyaman karena sensasi garukan ini menjadi petaka. Ujung-ujungnya biang keringat berbuah infeksi ringan.

Kali ini DSA kembali tidak meresepkan obat atau salep untuk dioleskan. Tapi sebagai gantinya, penggunaan Lactacyd Liquid Baby sangat disarankan. Kami pun bergegas membelinya di apotik terdekat, dan segera mengaplikasikannya secara rutin untuk menjaga kulit bayi tetap sehat.



Cara merawat kulit bayi


Oh, ya, saya pun akhirnya penasaran. Mengapa harus Lactacyd Baby yang digunakan. 

Ternyata, Lactacyd Baby mengandung Lactoserum dan Lactic Acid yang berasal dari ekstrak susu.  Untuk penggunaan harian, produk ini sangat aman untuk bayi dan anak-anak. Baik untuk sabun badan, bahkan untuk merawat kulit kepala. 


Cara penggunaannya pun sangat mudah. Kocok ringan sebelum digunakan. Untuk anak-anak, cukup digunakan seperti penggunaan sabun cair biasa. Sedangkan untuk penggunaan pada bayi. Cukup melarutkan sekitar 5 ml cairan Lactacyd Baby dengan air mandi pada wadah yang biasa digunakan. Setelah digosok dengan lembut pada kulitnya, kemudian bilas dengan air bersih seperti biasa.


Lactacyd baby
Cara pemakaian Lactacyd Baby

Kandungan alami dari ekstrak susu serta formulasinya yang mengandung pH seimbang sangat sesuai dengan kebutuhan kulit bayi. Selain itu, produk ini telah teruji secara dermatologi sehingga dapat digunakan setiap hari. Bahkan dianjurkan penggunaan  2 kali dalam sehari pada saat kulit sedang mengalami gangguan.


Selain itu, Lactacyd Baby merupakan brand internasional yang sudah sangat terpercaya untuk menjaga kulit bayi untuk iritasi ringan. Perihal ini pun saya mendapatkan testimoninya dari kakak-kakak saya yang sudah lebih dulu menggunakan pada bayi-bayi mereka. Dan mereka pun menyatakan puas dengan hasilnya.

Merawat biang keringat pada bayi
Kondisi kulit Najib setelah memakain Lactacyd Baby


Pengalaman serupa kini sedang saya alami. Kondisi kulit Najib berangsur-angsur membaik. Meskipun masih meninggalkan bekas noda, tapi setidaknya kami tak perlu khawatir lagi ketika mengalami gangguan kulit serupa. Karena telah menemukan rahasianya agar kulit bayi tetap sehat.

Di samping penggunaan Lactacyd Baby sebagai skin care harian. Kami pun memberikan perhatian ekstra terhadap kondisi kulit anak-anak dengan melakukan beberapa cara berikut:


Mencegah biang keringat pada bayi


Nah, mudah bukan? Cara ini bisa diterapkan setiap hari, nggak perlu menunggu hingga si kecil terserang biang keringat, ruam popok atau bahkan mengalami infeksi. Dan, jangan lupa gunakan baby skin care yang telah teruji secara klinis aman, dan terpercaya sebagai salah satu rahasia merawat kulit bayi tetap sehat.

Keep healthy and happy, ya!






Ayam Geprek Ala BukNaj

|


Resep Ayam Geprek


Sabtu pagi sengaja bermalas-malasan di depan lappy. Setelah blogwalking, balas WA, cek FIGjuga FB. Iseng-iseng saya mampir ke JTT. Pada tahu, kan? Just Try and Taste, food blog yang legend banget itu. Kalau nggak salah, saya mulai follow blog ini pada tahun 2013. Dulu cuma suka baca-baca saja, karena masih minim semangat untuk mempraktikkan resep-resepnya. Tapi sekarang kesempatan mulai ada. Sebenarnya, sih, lebih tepat disebut kepepet butuh masak buat bekal Najwa. Jadi ambil positifnya saja, kepepet yang jadi kesempatan untuk belajar hal baru.

Resep pertama yang saya coba dari JTT adalah Fudgy Brownies. Saya ingat banget rasanya super nyoklat. Duh,  malah jadi kepikiran mau praktik lagi. Setelah itu saya nyoba bikin Puding Roti Tawar, Nastar sama Putri Salju. Sayangnya, selama ini sifatnya selalu coba-coba. Jadi nggak ada greget mendokumentasikan karya.

Baru hari ini belajar ala-ala food blogger gitu. Mulai tahap awal menyiapkan bahan, saya sudah berniat untuk mendokumentasikannya. Ya, itung-itung buat dokumentasi pribadi aja, sih. Biar nggak lupa kapan pertama kali nyobain resep ini dan itu.


Mata saya pun tertuju pada resep Ayam Geprek di blog JTT. Merah cabainya, ketemu ayamnya yang crispy, kayaknya bakalan sedep untuk menu makan siang. Ditambah lalapan timun, kemangi, kacang panjang dan terong. Pasti tambah segar, pas banget sebagai pengisi perut di tengah cuaca Jakarta yang super panas.

Tanpa berpikir panjang, saya pun langsung mematikan lappy, berganti pakaian dan berangkat belanja ke warung dekat rumah. Tujuan utamanya membeli ayam dan lalapan, karena untuk bumbu yang lainnya saya sudah siap di rumah. Etdah gayanya siap, hehehe. Karena bumbunya memang minimalis dan simple banget, itu sebabnya ready di rumah dan  saya pun tertarik untuk mencoba.

Nah, di sini saya bagi resep Ayam Geprek ala BukNaj, alias saya. Lah! ngapain pakai istilah ala BukNaj? Simple aja, sih. Karena resep ini sudah saya modifikasi sesuai kemauan saya tapi atas saran si empunya blog juga, sih. Ada beberapa bahan yang saya skip dengan maksud lebih praktis. Hehehe, ketahuan , kan? Sebenarnya, sih, karena saya malas berlama-lama di dapur. Karena panas bin malas.

Buat Temans yang kepengen resep aslinya, sila buka di link berikut ya.


Resep Ayam Geprek ala BukNaj

Bahan

½ ekor ayam negeri, potong jadi 2 atau 3.

Bumbu

1. 2 bungkus tepung bumbu serbaguna.
2. Cabai merah keriting sesuai selera
3. Cabai rawit merah sesuai selera
4. 1 siung bawan putih
5. 2 sendok makan terasi yang sudah digoreng sangria/ dipanggang
6. Garam secukupnya
7. Gula merah secukupnya.
8. Jeruk nipis
9. Jeruk limau
10. Minyak untuk menggoreng ayam

Bahan pelengkap

1. Aneka macam sayuran mentah untuk lalap, sesuai selera
2. Nasi putih
Cara  memasak

1. Cuci bersih ayam negeri yang sudah dipotong menjadi 2 atau 3 bagian. Pada bilasan terakhir, baluri dengan air jeruk nipis untuk menghilangkan bau amis.

Resep Ayam Geprek

2. Tiriskan ayam dan sisihkan.
3. Siapkan 2 wadah untuk tepung serbaguna. 1 wadah untuk balura/ adonan basah, sedangkan wadah yang lain untuk tepung kering.
4. Tuang adonana/baluran basah pada ayam, ratakan hingga seluruh bagian ayam tertutup adonan.


Resep Ayam Geprek

5. Gulingkan ayam yang sudah dibaluri dengan adonan basah pada tepung kering.

Resep Ayam Geprek

6. Panaskan minyak goreng, usahakan minyak yang digunakan agak banyak, sehingga ayam terendam dalam penggorengan.
7. Masukkan ayam yang telah dibaluri tadi ke dalam minyak yang sudah panas.
8. Goreng hingga kuning kecoklatan atau sesuai selera. Angkat dan tiriskan.
9. Siapkan bahan untuk sambal korek. Cabai merah keriting, cabai rawit merah, bawang putih, garam, gula merah, terasi. Haluskan menggunakan coek dan uleg-an.


Resep Sambal Korek

10. Panaskan kembali minyak bekas menggoreng ayam. Setelah benar-benar panas, ambil sedikit lalu siramkan ke atas sambal korek yang telah halus. Nanti akan terdengar suara cess… Cara ini akan membuat sambal menjadi setengah matang dan aromanya semakin merebak.
11. Ambil ayam yang sudah digoreng, letakkan di atas sambal korek lalu geprek/ penyet hingga ayam tercampur pada sambal.


Resep Ayam Geprek

12.Garnish dengan kemangi dan jeruk limau untuk menambah aroma segar, sekaligus sebagai lalapan. Sedangkan jeruk limau bisa diperas di atas sambal sebelum atau sesudah ayam digeprek.


Gampang banget, kan? Iya, donk, karena resep Ayam Geprek ini sudah benar-benar saya sederhanakan. Penggunaan tepung serbaguna telah memangkas waktu untuk mempersipkan bumbu halus. Secara otomatis, bahan yang digunakan pun menjadi lebih minimalis.

Sedangkan penggunaan jeruk limau, terasi dan gula merah. Sifatnya suka-suka saja, sesuai selera masing-masing. Kalau keluarga saya memang terasi minded, jadi susah mau skip bahan yang ini.

Hidangan Ayam Geprek ini sangat cepat disiapkannya. Tidak lebih dari 30 menit untuk menyajikannya hingga sampai di meja makan. Soal rasanya, hem,… mantap! Cocok banget sama lidah kami yang doyan sambal plus lalapan. Ditambah nasi putih hangat, ayam satu coek langsung kandas, hanya tersisa tulangnya saja.

Resep Ayam Geprek


Teman-teman juga pasti pernah berkreasi dengan ayam, kan? Boleh, dong, sharing resepnya. Happy cooking!


-DNA-

Custom Post Signature

Custom Post Signature