Parenting Story, Mom's Life, Tips

5 Manfaat Traveling untuk Anak-anak

|



Traveling dengan anak-anak


Traveling atau jalan-jalan, salah satu aktivitas yang kini mulai susah dipisahkan dari gaya hidup urban. Sumpek sedikit, katanya karena kurang jalan-jalan atau piknik. Sehingga rencana traveling secara berkala hampir pasti masuk ke agenda masing-masing individu atau keluarga.

Destinasi traveling pun bisa jadi beragam. Mulai dari perjalanan jauh ke luar kota, luar pulau bahkan luar negeri. Atau jalan-jalan dalam jarak dekat dalam rangka meng-explore obyek wisata di daerah masing-masing. 

Begitu pun halnya dengan tujuan traveling yang sudah pasti berbeda juga.  Mulai silaturahim dengan sahabat atau keluarga besar, sekedar melepas penat, mencari tantangan baru atau dalam rangka edutrip bersama anak-anak.

Saya dan keluarga termasuk yang suka beralasan, sumpek karena kurang piknik, hehehe. Untuk itu kami berusaha untuk selalu menyisihkan budget traveling bersama anak-anak.  Selain pulang kampung di hari raya, kami mengupayakan pulang kampung kedua ketika libur akhir tahun tiba. Atau jika ada kesempatan, maka berkunjung ke rumah saudara atau teman di luar kota bisa jadi pilihan.

Traveling dengan ank-anak
Taman Suropati, salah satu destinasi jalan-jalan gratis di Jakarta.

Selain itu, edutrip di berbagai obyek wisata di Jakarta yang tak terhitung jumlahnya menjadi agenda bulanan yang sedang  kami rutinkan. Ya, tentu saja memang harus direncanakan dengan seksama. Karena selain faktor waktu, sudah pasti ketersediaan dana menjadi penentunya.


Saya bersyukur tinggal di Jakarta yang memang dirancang dengan berbagai fasilitas dan obyek wisata untuk meng-entertain warganya. Begitu pun halnya dengan alat transportasi publik yang sangat banyak jumlahnya, lebih-lebih sangat terjangkau dari segi biaya. 

Saya kembali bersyukur karena tinggal di daerah yang mudah mengakses aneka alat tranportasi public yang menjadi andalan Jakarta. Sebut saja mau ke Monas, maka commuter line siap mengantarkan kami sampai tempat tujuan dengan biaya 3 ribu perak dari stasiun dekat rumah hingga stasiun Juanda. Atau katakanlah ingin ke Bogor biar bisa dibilang jalan-jalan ke ke luar kota, padahal cuma tetangga. Maka lagi-lagi tak sampai 10 ribu kami sudah bisa menjejakkan kaki di Kota Hujan ini.

Ya, warga ibukota memang sangat terbantu dengan adanya commuter line dan Trans Jakarta. Dengan tarif yang sangat terjangkau, maka kami bisa dengan mudah bepergian ke sutau tempat. Begitu pun halnya dengan aneka obyek wisata yang tersedia. Mulai yang kelas atas atau bertarif mahal, hingga yang gratisan, semuanya ada. 


Fasilitas kota yang seperti ini sayang jika dilewatkan begitu saja. Karena itulah kami rajin menyusun destinasi traveling atau jalan-jalan di akhir pekan atau saat liburan. Biasanya, kami pun memilih tempat-tempat yang ramah anak, dan memungkinkan untuk dijadikan model jalan-jalan bertema family edutrip. Sehingga anak-anak tidak hanya me-refresh suasana, tapi juga menambah pengetahuan sebagai oleh-olehnya.

Traveling dengan anak-anak
Menyaksikan pertunjukan Air Force Show di Halim P.K. Jalan-jalan murah namun banyak manfaat.


Jalan-jalan ke luar negeri masih menjadi salah satu wishlist keluarga kami. Bukan sekedar untuk gengsi, tapi kami yakin bahwa pengalaman bersinggungan langsung dengan orang asing akan memudahkan anak-anak melihat budaya dan tradisi dari penduduk suatu bangsa. Selain itu, kami berharap jika suatu saat dapat menjejakkan kaki ke belahan benua lain. Anak-anak akan mendapatlan berikan perspektif baru tentang model kehidupan, bagaimana orang asing bertahan, dan menunjukkan alternatif profesi di dunia.

Dewasa ini, jalan-jalan sudah tidak lagi melihat usia. Sering saya menemui bayi-bayi berusia mingguan sudah mejeng cantik bersama orang tuanya. Beberapa orang mungkin menganggap hal seperti ini masih tidak biasa. Tapi kenyataannya banyak orang tua yang berhasil melakukannya, dan baik-baik saja. 

Memang, hal seperti ini  tidak bisa dilakukan dengan sembarangan. Butuh kesiapan ekstra, terlebih bagi orang tua. Sehingga tak perlu memaksakan diri atau ikut-ikutan hanya karena alasan biar kekinian.

Kabar gembiranya, traveling memberikan banyak manfaat bagi anak-anak. Eh, bukan hanya anak-anak, tapi buat bayi juga. Nah,  beberapa di antaranya ada di bawah ini.

1. Traveling membantu anak-anak menjadi lebih mudah  beradaptasi dan fleksibel.

Traveling dengan anak-anak
Parent Magazine

Mengajak anak-anak mengunjungi berbagai tempat baru membuat mereka melihat banyak hal ‘normal’ baru. Ya, sesuatu yang seharusnya dianggap ‘normal’ tapi terasa baru bagi mereka. Menghadapi hal semacam ini, anak akan terlatih untuk lebih mudah beradaptasi dengan suasana dan situasi di lingkungan baru. Begitu pun halnya lebih fleksibel dengan budaya dan tradisi di tempat tujuan.

Kemampuan untuk beradapatasi dan fleksibel dengan situasi yang harus dihadapi membuat anak lebih mudah masuk ke lingkungan mana saja. Hal ini juga membuat mereka lebih cepat nyaman dan enggak rewel di tempat baru



2. Traveling memberikan pengalaman nyata, bahwa memiliki kemampuan menggunakan berbagai bahasa adalah hal yang menyenangkan.

Sungguh beruntung bagi orang tua yang dapat memberikan pengalaman traveling ke luar negeri bagi anak-anaknya. Karena secara tidak langsung memberikan kesempatan bagi anak untuk bersinggungan dengan bahasa lokal masyarakatnya. 

Tapi, pengalaman ini tak terbatas pada pengenalan bahasa internasional saja, ya. Karena Indonesia memiliki beragam bahasa daerah yang masing-masing memiliki keunikan. Dan tak salah jika memaparkan anak pada bahasa-bahasa tersebut.

Suatu kali saat kami bepergian ke Bandung, Si Najwa excited sekali dengan orang-orang yang menggunakan Bahasa Sunda. Menurutnya hal semacam itu sangat unik, karena ketika pulang ke Jawa Timur bahasa yang digunakan akan berbeda lagi. Begitu pun halnya ketika bepergian ke daerah di Jakarta yang mayoritas penduduknya asli Betawi, Maka sesuatu yang ‘baru’ akan terdengar lagi di telinga mereka.


Traveling dengan anak-anak
Traveling to India


3. Traveling mengajarkan pada mereka, bahwa perbedaan adalah hal yang biasa.

Mengunjungi tempat-tempat baru, baik di dalam atau luar kota. Apalagi jika ke luar pulau atau keluar negeri. Anak akan menemui banyak perbedaan yang menarik perhatiannya. Tak hanya dari segi bahasa, makanan, budaya, tradisi hingga kondisi sosial ekonomi masyarakat serta lingkungan yang didatangi pasti berbeda.

Pengalaman ini sangat tepat untuk menanamkan pada diri anak, bahwa perbedaan adalah suatu hal yang lumrah. Tidak untuk diperdebatkan, tidak untuk dibeda-bedakan, karena kita sama sebagai makhluk ciptaan Tuhan.


 Perbedaan harus disikapi sebagai suatu keindahan. Sekaligus untuk menanamkan pada anak bahwa kuasa Tuhan sungguh tak terkira besarnya, sehingga mampu menciptakan makhluk dengan segala keunikannya.

4. Traveling mengajarkan anak untuk berani mencoba


Traveling dengan anak
Smart Travel


Memaparkan anak pada tempat baru, mau tak mau membuat anak harus menemui banyak hal baru. Misalnya, jika Teman-teman mengajaknya ke pedesaan, maka anak akan melihat kehidupan petani lengkap dengan sawah dan mungkin bajaknya. 

Pemandangan seperti ini bukan tak mungkin memicu rasa ingin tahu anak untuk mencoba apa yang dilihatnya. Ikut turun ke sawah, memetik sayur dan bermain lumpur akan sangat menyenangkan. Sekaligus memberikan pengalaman nyata tentang profesi petani yang selama ini hanya didengar melalui cerita.

5. Traveling dapat memantik rasa ingin tahu tentang  letak dan kondisi geografis suatu wilayah.


Traveling dengan anak


Kira-kira, apa reaksi anak-anak jika orang tua mengajaknya ke suatu tempat? Ya, pasti mereka bertanya di mana letaknya? Daerahnya seperti apa? Jauh nggak? Naik apa ke sananya? Dan lain sebagainya. 

Sudah beberapa kali kami mengalami ini dengan si kecil di rumah. Setiap kami mengajak mereka ke suatu tempat, selalu saja aneka pertanyaan itu muncul dari mulutnya, terutama Najwa yang sudah lebih besar.

Kami pun mau tak mau mencari informasi terlebih dahulu tentang tempat yang ingin dikunjungi. Dan ide suami untuk membeli atlas Indonesia saya kira sangat brilian. Sangat tepat untuk sekaligus menjelaskan wilayah Indonesia.

Kami pun tak segan menunjukkan di mana letaknya, bagaimana cuaca tempat yang akan dituju, kendaraan yang akan ditumpangi, makanan dan bahasa yang biasa digunakan. Ya, itung-itung geografi lagi, ya. Hehehe.

Meskipun melakukan perjalanan dengan anak-anak selalu menyenangkan dan tentu saja panen manfaat. Tapi kita tidak dapat mengingkari betapa merepotkan aktivitas seperti ini.  Selain butuh persiapan yang mendetil untuk memastikan keamaanan dan kenyamanannya,  dari segi budget pun tak bisa dibuat terlalu seadanya.

Traveling dwngan anak
The Odyseyoline


Untuk sementara, tinggalkan dulu mindset sempurna ala orang tua. Karena dunia anak-anak selalu penuh kejutan yang tak bisa disangka-sangka. Nikmati  dan berdamai dengan seluruh prosesnya. Kekacauan kecil di tengah acara bisa jadi pelajaran sekaligus kenangan yang melekat. Hingga suatu saat baik orang tua maupun anak hanya akan tertawa saat mengingatnya.


Menumbuhkan calon traveler baru memang bukan perkara mudah. Harus diakui, sangat menarik, menantang sekaligus melelahkan. Tapi percayalah, tak akan ada penyesalan ketika kelak mereka mampu memetik hikmah dari setiap perjalanan.


Kalau menurut pengalaman Teman-teman, apa sih manfaat traveling buat anak-anak? Share, yuk!




Tulisan ini diikutsertakan dalam tantangan One Day One Post Oktober 2017 Blogger Muslimah Indonesia.
#ODOPOKT6



[Resensi] Sirkus Pohon oleh Andrea Hirata

|

Ternyata, hidup ini indah bukan buatan. Kurasa mereka yang selalu mengatakan hidup ini sulitlah, sepilah, tak adillah, segala rupa keluhan, perlu mempertimbangkan profesi baru, sebagai BADUT SIRKUS.

 

Andrea Hirata


Sirkus Pohon, salah satu novel yang berhasil membuat saya duduk selama 6 jam untuk menyelesaikan seluruh bab di dalam buku setebal 383 halaman. Yah, saya tahu ini hal yang basa bagi sebagian orang. Tapi bagi saya ini adalah rekor berkelanjutan setelah sebelum-sebelumnya melakukan hal yang sama pada seri tetralogi Laskar Pelangi karangan Andrea juga.

Membaca buku Andrea, membuat saya tersihir dengan kata-kata. Mabuk, limbung dalam perasaan yang campur aduk dan emosi yang terus dimainkan melalui kisah-kisah pelakonnya. Semuanya terlalu nyata, dekat dan dapat dijumpai di sekitar kita. Begitu lihainya Andrea mengangkat drama kehidupan dan isu sosial yang berkembang di masyarakat. Membungkusnya dalam wujud fiksi yang mampu melambungkan imajinasi pembacanya


" Fiksi, cara terbaik menceritakan fakta." -Andrea Hirata

 


Seperti halnya buku-buku terdahulu Andrea, Novel Sirkus Pohon masih dilatari kehidupan Melayu lengkap dengan tradisi masyarakatnya. Pemberian nama julukan atau gelar  pada orang-orang yang memiliki kebiasaan tertentu. Atau atas pencapaian tertentu entah itu benar-benar bisa dianggap prestasi atau justru hal-hal yang memalukan. Nampaknya tetap menarik bagi Andrea untuk mewakili salah satu kebiasaan orang Melayu selain tentunya duduk berlama-lama di warung kopi sambil membicarakan isu di kampungnya.

Optimisme yang meledak-ledak, kekuatan cinta, kecerdasan yang terbelenggu oleh kemiskinan selalu menjadi ciri khas Andrea Hirata. Ya, 3 hal ini memang sangat manusiawi dan mampu mewakili realita masyarakat kita. Rakyat dari golongan menengah ke bawah, yang tersebar di pelosok-pelosok negeri ini.



Kali ini Andrea mengangkat lika-liku kehidupan sang tokoh sentral utama, Sobrinudin bin Sobirinudin, yang kemudian dipanggil Sobri dan segera berganti lagi m,enjadi 'Hob'. Kan, apa saya bilang? Orang Melayu dalam cerita Andrea selalu suka memberikan panggilan kepada siapa saja. Bahkan Sobri sendiri tak pernah tahu bagaimana asal mulanya nama 'Hob' bisa disandangnya.

Sobri. Miskin, putus sekolah, pengangguran hingga akhirnya harus berkawan dengan penjahat kelas teri di kampungnya. Hidupnya tak terarah, tak memiliki tujuan jangka panjang. Hingga akhirnya dia menemukan cinta dan kecintaan yang kemudian mengubah hidupnya secara keseluruhan.

"Bangun pagi, let's go ...", begitu semboyannya ketika dunia mulai ramah dan memberikan arti bagi kehidupannya. Dedikasi atas kecintaan baru, keinginan untuk memberikan kebanggaan bagi seorang ayah yang tak pernah mengeluh dan cita-cita akan cinta. Ketiganya bagaikan mantra yang membuatnya menjelma menjadi manusia baru.

Tegar dan Tara, dua tokoh sentral kedua. Dalam diri mereka, kita akan diajak bernostalgia dengan Arai.  Sang pecinta sejati, erat menggenggam mimpi-mimpinya, hampir tak pernah mengenal kata putus asa. Ya, Tegar dan Tara akan mengajarkan pada kita mengapa kemiskinan tak perlu ditangisi, perpisahan bukan untuk disesali, bahwa harapanlah yang akan terus menyalakan mimpi-mimpi.


Andrea Hirata


Tidak hanya dari tokoh sentralnya saja, pembaca Sirkus Pohon akan dapat menemukan segala kebaikan dalam diri tokoh-tokoh yang lain. Kebaikan yang sering kali ditutupi sikap sombong, serakah, menang sendiri, gengsi. Bahwa manusia memang tidak dilahirkan dalam kesempurnaan, tapi selalu ada 1 atau 2 kebaikan yang hanya bisa dilihat dengan kebaikan juga.

Sebuah kejutan juga bagi saya, kali ini Andrea menghadirkan aroma kehidupan politik dalam karyanya. Penuh pencitraan, intrik, dan hal-hal yang irrasional seperti halnya politik dalam dunia nyata. Teman-teman akan dibuat gemas dengan Penasihat Abdul Rapi, atau melihat sosok politikus kita dalam diri Gastori. Namun di akhir nanti, pembaca akan mendapatkan kejutan dari seorang Lelaki Bertopi Fedora. Dan juga Taripol, kawan lama Sobri sekaligus orang yang membuatnya harus mencicipi aroma penjara untuk yang pertama kalinya.

Di babak kedua nanti teman-teman akan melihat betapa Buah Delima begitu maha dahsyat mengubah kehidupan seseorang. Begitu pun juga halnya dengan betapa gilanya menjadikan Pohon Delima sebagai yang diagung-agungkan dalam sebuah kontestasi politik. Edan! Memang begitulah kenyataannya, dalam dunia politk semua hal bisa dijadikan alat.

Sirkus Pohon mengajarkan kita cinta dari berbagai sudut pandang. Cinta kepada yang memang dicintai, cinta kepada yang tak pernah ditemui lagi, cinta pada yang telah meninggalkan luka, cinta sepasang hewan-hewan kecil, cinta akan kekuasaan, cinta pada profesi, cinta pada pengabdian dan cinta-cinta lain yang mungkin bisa kita temui dalam tiap lembar dan larik di dalamnya. Bravo! Andrea mampu menghadirkan Sang Pujangga, dalam segala rupa dan detak kehidupan.

 



Membaca buku ini, saya merasa seperti sedang dibawa ke belahan negeri itu. Seperti halnya buku-buku Andrea yang lain. Penggambaran latar tempat, situasi dan dialek yang kental akan Melayu, membuat pembaca larut. Seolah sedang duduk di salah satu warung kopi di sana. dan menyaksikan potongan fragmen kehidupan tokoh-tokohnya.

The End,  Teman-teman akan  menemukan kenyataan-kenyataan seperti. Usaha tak akan pernah mengingkari hasil, cinta akan menemukan jalannya, dan kebaikan selalu menang. Dan begitulah seharusnya yang berlaku dalam kehidupan. Tapi sayangnya, dunia ini sudah terlalu 'tua' untuk dapat memahami hal-hal demikian. Hingga sering kali kita hanya menemuinya di layar kaca, atau dalam larik-larik cerita.

 

 

Judul : Sirkus Pohon
Penulis  : Andrea Hirata
Penerbit : Bentang Pustaka
Tebal buku : 383 halaman
ISBN : 978-602-291-409-9

Tulisan ini diikutkan tantangan One Day One Post Oktober 2017 Blogger Muslimah Indonesia
#ODOPOK5








Speech Delay dan Speech Disorder - Benarkah Lebih Sering Dialami Anak Laki-laki? (Bagian 1)

|
Speech delay pada anak laki-laki



Belakangan, Najib sering sekali menirukan cara berbicara teman bermain laki-lakinya.  Teman Najib ini atau kita sebut saja Si A,  memang masih susah mengucapkan kata-kata. Hanya beberapa kata saja yang dapat kami mengerti maksudnya dengan jelas, seperti “Jib” yang berarti Najib, “aem” yang berarti maem atau makan, “dah” atau sudah, "Bah" atau Mbah kemudian "Buk" dan "Pak". Selebihnya kami selalu berusaha memahami maksudnya berdasarkan gerak tubuh atau situasinya saja.

Fase di mana dia mulai mengeluarkan suara pun terbilang jauh tertinggal dibanding teman-teman sebayanya. Sehingga saat semestinya anak mulai melatih kata-kata pertamanya, Si A yang sekarang sudah berusia 3,5 tahun baru belajar berbahasa, dan masih suka berteriak atau menjerit ketika ingin menyampaikan maksudnya.

Sebenarnya, sejak Si A ini berusia 1,5 tahun, para tetangga termasuk saya sudah sering mengingatkan orang tuanya untuk lebih sering menstimulasi. Tapi begitu keluarganya bilang nggak ada masalah. Kami lantas tidak berusaha mengingatkan lagi. Kami percaya orang tua dan keluarganya jauh lebih memahami si anak.

Tapi sampai usianya menjelang 3 tahun, tidak ada perkembangan yang berarti yang dapat kami temui. Hingga beberapa bulan berikutnya, salah seorang anggota keluarga menyampaikan bahwa Si A akhirnya menjalani terapi wicara.

Teman Najib ini memang sangat sering bermain ke rumah. Maka dari itu saya lumayan dekat dengan keluarganya. Najib cenderung anteng dan betah berlama-lama dengannya. Mungkin saja karena Si A ini  tidak mau melawan atau ngeyel dengan Najib. Jadi Najib merasa nyaman-nyaman saja bermain dengannya.

Tapi, saya sering curiga jangan-jangan pembawaan Si A yang nggak mau ngeyel ini bisa jadi karena kesulitan untuk menyampaikan maksudnya. Najib yang masih 3 tahun saja pernah mengatakan kalau Si A ini belum bisa ngomong. Begini katanya, “Buk, A itu kan gak isa omong, adi iem aja.” (maksudnya, Buk, Si A ini kan nggak bisa ngomong, jadi diam saja).



speech delay pada anak laki-laki

Saya lumayan kaget pada saat itu. Bagaimana bisa anak umur 3 tahun berpendapat bahwa temannya nggak bisa ngomong? Apakah memang selama bermain Si A ini terlalu diam? Atau, bisa saja Najib pernah mengajaknya berbicara tapi dia tidak merespon balik?

Jujur, berdasarkan pengamatan saya sebagai orang tua yang juga sedang mengasuh anak sepantaran dengan Si A. Tahap perkembangan bahasanya memang jauh tertinggal dari teman-temannya. Tapi saya berusaha berbaik sangka, bisa jadi karena Si A memang sedang mengembangkan kemampuan lainnya., atau bersifat pendiam. Saya yakin setiap anak memang unik, begitu pun dengan grafik tumbuh kembangnya yang bisa jadi tidak selalu sama. 


Sempat Khawatir dengan Perkembangan Berbahasa Najib

Saya sendiri sempat merasakan kekhawatiran dengan perkembangan bahasa pada Najib. Pengalaman mengasuh  Najwa terus terang membuat saya was-was. Karena pada usia yang lebih muda, Najwa sudah sangat terampil berbahasa. Seingat saya, menjelang ulang tahun yang pertama Najwa sudah bisa menjawab pertanyaan dengan baik dan tidak melalui masa cadel.

Speech delay pada anak
Ulang tahun Najwa yang pertama. Masih merangkak tapi sudah cerewet.
Berbeda dengan Najib yang sampai menjelang ulang tahun kedua masih kurang jelas ucapannya. Sudah banyak ngomong, sih. Dan ketika diajak berbicara atau ditanya dia sudah merespon dengan tepat. Hanya pengucapannya yang masih tidak jelas.
Neneknya sempat khawatir sampai menyarankan untuk mengikuti terapi. Tapi, saya pun berpikir Najib baik-baik saja, seperti halnya ibu Si A.  Dan saya pastikan terus menstimulasi dan memantau perkembangannya.

Perkembangan Berbahasa Najwa dan  Najib pada Usia yang Sama

Saya merasa keyakinan saya ini juga tidak asal-asalan, atau untuk menenangkan hati saja. Saat itu saya banyak mencari  informasi tentang tumbuh kembang balita baik anak laki-laki maupun perempuan. Maksud saya untuk membandingkan, karena saya melihat tumbuh kembang Najwa dan Najib cenderung berkebalikan.

Najib usia 15 bulan. Sudah suka gowes sepeda kakaknya, tapi masih belum banyak ngomong.

Pada usia 1 tahun Najwa sudah terampil berbahasa, tapi belum bisa berjalan. Sedangkan Najib sudah lebih dulu berjalan, sedangkan saat usianya lewat 15 bulan dia baru banyak ngomong meskipun belum jelas kata per kata.

Sampai hari ini, saat usia Najwa 6,5 tahun dan Najib 3 tahun, perkembangan motorik kasar Najib jauh di atas Najwa pada usia yang sama. Begitu pun halnya, keterampilan berbahasa Najwa melejit, jauh di atas Najib pada usia yang sama.


Berkaca pada 2 hal tersebut, saya pun menyimpulkan sendiri, bahwa bisa jadi grafik tumbuh kembang keduanya memang unik dan berbeda. Tapi, saya pastikan bahwa keduanya berada pada batas normal pola tumbuh kembang umum, sesuai batas usianya.

Setelah melihat kasus Najib, Si A dan mendengarkan curhat beberapa orang tua yang mengeluhkan anak laki-lakinya yang cenderung telat mengembangkan kemampuan berbicara atau berbahasa. Saya kemudian berpikir apa benar bahwa kasus speech delay lebih banyak dialami anak laki-laki? Pertanyaan inilah yang kemudian mengantarkan saya pada berbagai bahan bacaan tentang speech delay dan speech disorder pada anak.


anak terlambat bicara


Apa itu Speech Delay dan Speech Disorder?

Speech Delay dan Speech Disorder, meskipun keduanya terdengar mirip dan sama-sama diasumsikan sebagai kasus keterterlambatan bicara pada anak. Sebenarnya kedua hal tersebut berbeda. Dalam salah satu artikel yang saya baca, speech delay merupakan istilah dari keterlambatan berbicara, sedangkan speech disorder adalah gangguan berbahasa.

Berbicara dan berbahasa adalah 2 hal yang berbeda. Berbicara merupakan kemampuan untuk mengeluarkan suara, sedangkan berbahasa lebih berkaitan pada arti kata dibanding suara yang dikeluarkan. Seorang anak terindikasi mengalami keterlambatan berbahasa ketika perkembangannya mengalami urutan yang sama, tapi terlambat. Sedangkan gangguan berbahasa bisa diindikasi ketika perkembangan berbahasa anak tidak sesuai dengan polanya. 

 

 

Pola di sini tentu saja mengacu pada pola tumbuh kembang anak sesuai rentang usia yang digunakan secara umum. Sedangkan masalah keterlambatan berbahasa (berbicara) sendiri, umumnya lebih sering dialami anak-anak pada usia prasekolah.


gangguan berbicara pada anak
theconversation.com

Apakah benar speech delay lebih sering dialami anak laki-laki?

Menurut salah satu penelitian,  bayi yang terpapar hormon testoteron tinggi semasa janin riskan mengalami keterlambatan dalam perkembangan berbahasa. Pernyataan ini didasarkan pada salah satu penelitian yang dilakukan dengan mengukur testoteron dalam darah tali pusat dari 700 lebih bayi yang baru lahir. Kemudian dilanjutkan dengan pemeriksaan pada perkembangan bahasa mereka pada tahun pertama, kedua dan ketiga.

 

Hasil penelitian menujukkan anak laki-laki dengan paparan kadar testoteron tinggi cenderung mengalami keterlambatan berbahasa atau berbicara. Sedangkan salah satu fakta menyebutkan bahwa janin laki-laki memiliki sirkulasi testoteron hingga 10 kali lebih tinggi dibanding janin perempuan.

Namun, efek sebaliknya ditemukan pada anak perempuan. Anak-anak perempuan yang mendapatkan paparan testoteron tinggi semasa dalam kandungan mengalami penurunan resiko speech delay. (Sumber: Kompas.com)

 

Selain itu, ada perbedaan pada perkembangan otak anak laki-laki dan perempuan.  Pada anak laki-laki, bagian otak yang mengontrol gerakan dan koordinasi tumbuh lebih cepat. Bagian ini biasa disebut cerebellum. Sedangkan pada anak perempuan, bagian otak yang mengontrol panca indra bisa dibilang lebih sensitif ketimbang anak laki-laki.

Tapi, perbedaan jenis kelamin sebenarnya tidak selalu mengindikasi tumbuh kembang anak. Karena pada dasarnya stimulasi yang diberikan orang-orang di sekitar anak akan sangat menunjang. begitu pun halnya dengan kemampuan berbicara. Anak laki-laki maupun perempuan yang sering mendapatkan stimulus, misalnya diajak berbicara atau bercerita. Cenderung tidak mengalami gangguan bicara atau berbahasa.

Berikut adalah beberapa poin yang dapat dijadikan patokan perkembangan bahasa anak usia 0 hingga 3 tahun.


gangguan berbicara pada anak

1. Usia 0 tahun / lahir : menangis

2. Usia 2 - 3 bulan 
Menangis dengan cara berbeda dalam berbagai kondisi, mengeluarkan suara sebagai respon kepada orang tua

3. Usia 3 - 4 bulan : mengoceh tidak beraturan

4. Usia 5 - 6 bulan
Mengoceh dengan pola berulang, "mama", "papa", "tata"

5. Usia 6-11 bulan
Mengoceh dengan cara meniruklan suara orang di sekitarnya, sering kali diikuti mimik wajah yang berubah-ubah.

6. Usia 12 bulan
Mengucapkan 1 - 2 kata, mampu mengenali nama, memahami beberapa bunyi dan kata, memahami instruksi singkat dari orang-orang di sekitarnya.

7. Usia 18 bulan
Dapat menggunakan 5 - 20 kata termasuk menyebutkan nama.

8. Sampai usia 2 tahun

Dapat mengucapkan kalimat pendek dan sederhana yang terdiri dari 2 kata. Seperti "minta makan", "Adik mau", dan sebagainya. Perbedaharaan katanya semakin banyak, bisa melambaikan tangan sambil mengucapkan "da.." atau " bye..". Menirukan suara hewan, menggunakan kata "apa" untuk bertanya, dan "tidak" atau "nggak" untuk menolak.

 9. Sampai usia 3 tahun

Dapat mengenali dan menyebutkan bagian tubuhnya. Menyebut diri sendiri dengan kata, saya, aku atau menyebutkan namanya. Dapat mengkombinasikan kata hingga sekitar 450 kata. Dapat merangkai kalimat sederhana. Mampu mencocokkan warna. Bisa membedakan'besar' dan 'kecil'. Menyukai cerita dan dapat menceritakan kembali.

(Sumber : Ibu dan Balita, mommies daily, nakitagrid.id)

Berdasarkan poin-poin di atas, bisa jadi anak-anak mengalami perkembangan yang lebih cepat, atau sedikit lebih lambat. Tapi, saya tetap berpatokan pada progress yang terukur dari hasil pengamatan langsung. Selama ada perkembangan dan keterlambatannya tidak terlalu jauh, saya rasa masih normal. Keterlambatan yang tidak terlalu signifikan bisa jadi disebabkan oleh sifat bawaan anak maupun pola interaksi dengan lingkungannya.

Jika memang ada gangguan, maka  tugas orang tua untuk mengamati lebih dalam. Apa poenyebab dan gejala yang mulai ditunjukkan. Selanjutnya, mari kita tanya diri sendiri, sudahkah memberikan stimulasi yang tepat dan berkesinambungan? Karena nggak bisa dipungkiri, ya. Stimulasi dari orang tua atau orang-orang di sekitar anaklah yang dapat merangsang kemampuan psikomotorik dan bahasanya. Tanpa adanya rangsangan, susah bagi otak anak untuk mengembangkan kemampuan berpikir. Padahal otak bayi berkembang sangat cepat pada masa-masa awal kehidupannya. Benar bukan?

Pada postingan kedua tentang tema speech delay nanti, saya akan membahas tentang penyebab, gejala dan stimulasi yang tepat. Jadi, jangan lupa mampir lagi ya. 😉😉



Tulisan ini diikutsertakan dalam tantangan One Day One Post Oktober 2017 Blogger Muslimah Indonesia.
#ODOPOKT4


Invoice Pertama dari Ngeblog

|



Memonetize blog bagi pemula

Istilah monetizing blog sepertinya sudah tidak asing lagi di telinga teman-teman. Ya, menjadikan blog sebagai sumber penghasilan tambahan, atau bahkan utama rupanya sudah bukan hal yang baru lagi. Dan ternyata peluangnya sangat menggiurkan.

Tidak hanya jalan-jalan dalam skala lokal, banyak teman-teman blogger yang sudah melangkahkan kakinya di berbagai belahan bumi ini berkat memaksimalkan peluang penghasilan dari blog. Dan itu baru satu dari sekian jenis bentuk penghasilan dari blog. Gadget, voucher belanja, produk hingga yang selalu menggiurkan adalah  fresh money yang ditransferkan ke rekening kita.

Untuk mendapatkan penghasilan dari blog pun ada berbagai cara. Mulai dari memenangi lomba blog, yang tentu saja membuat seorang blogger harus bersaing dengan kompetitor lainnya. Menerima content placement di blog kita. Membuat artikel sponsored post, product review bahkan afilliasi dengan brand tertentu.

Peluang yang saya sebutkan tadi tentunya hanyalah sebagian. Bagi blogger yang sudah professional, atau memiliki jam terbang. Masih banyak peluang lain yang bisa diraih. Tentu saja hal seperti ini harus diimbangi dengan kemampuan yang terus di-upgrade. Karena kesempatan itu hanya bisa diraih jika ada kemampuan, dan satu lagi kemauan.

Tidak munafik, saya pun suka ngiler dengan peluang penghasilan ini. Sebagai full stay at home mom, saya merasa butuh mendapatkan pengalihan dari rutinitas mengasuh yang ritmenya sangat padat. Juga dari pekerjaan rumah yang membosankan dan tak ada habisnya.

Hampir 1 tahun hingga saya menemukan kesenangan baru di dunia blogging. Sebelumnya, saya telah memulainya dengan menulis di portal berita online dan menerima job penulisan artikel baik dari teman maupun kenalan agensi.


Saya akui, saya adalah tipe ibu rumah tangga yang tidak tahan untuk tidak menghasilkan. Tentu saja mengasuh dan mengerjakan pekerjaan rumah tangga juga bisa dibilang menghasilkan. Meskipun dalam bentuk lain dan tak bisa dinilai secara materi. Tapi, mau bagaimana lagi. Mata saya masih suka hijau kalau melihat peluang yang dapat menghasilkan materi. Lebih-lebih jika peluang tersebut  bisa dijadikan sampingan, di sela-sela melakukan tugas rumah tangga. Kesempatan, dong!


Memonetize Blog bagi blogger pemula
Gambar: Lovely Blog Academy


Awalnya, saya sama sekali tidak ingin tergesa-gesa menerima job dari blog. Tau dirilah, blog saya masih acak adul dan inkonsisten. DA maupun PA masih rendah, begitu pun halnya dengan PV dan follower saya. Belum menjual, kira-kira begitu lebih tepatnya.

Pernah beberapa kali mendapatkan hadiah produk dari campaign social media. Pernah juga mendapatkan hadiah fresh money dari lomba blog. Yang paling sering, sih, mendapat produk gratis untuk kemudian saya review di blog saya.  Tentu saja saya sudah senang saat mendapatkannya. Karena sekali lagi, saya belum percaya diri untuk memonetize blog.

Tapi, terkadang peluang itu memang tak bisa disangka-sangka. Suatu hari, di akhir bulan Agustus kemarin tepatnya. Sebuah email masuk ke inbox saya. Karena saat itu saya sedang dalam kondisi penuh deadline lomba di akhir bulan, maka saya pun tidak segera membukanya.

Beberapa saat kemudian, masuklah sebuah pesan singkat di Whatsapp saya. Seseorang memperkenalkan diri dari sebuah agensi yang bergerak di bidang marketing online. Si Masnya itu menyampaikan bahwa baru saja mengirimkan penawaran kerja sama ke email saya. Dia pun ingin segera mendapatkan jawaban, maka dari itu dilanjutkan dengan mengirmkan WA.

Hal ini seperti ini bisa dibilang kejutan. Bagaimana tidak, penawaran seperti ini baru yang pertama kali saya terima dari agensi luar. Biasanya saya selalu mendapatkannya dari teman atau mengandalkan kenalan.

Segera saya membuka email dan mengecek penawarannya. Setelah itu, saya mengirimkan WA kepada si pengirim email dengan maksud minta waktu beberapa saat untuk mempertimbangkan. Saya pun segera meng-inbox mentor blogging saya. Siapa lagi kalau bukan Mbak Widyanti Yuliandari untuk mendapatkan wejangan. Saya ceritakan skema penawaran yang masuk ke email. Lalu segera meminta saran  bagaimana sebaiknya saya harus menjawab. Apakah harus langsung diterima?


Menghasilkan uang dari blog bagi blogger pemula
Memiliki mentor  tidak hanya untuk belajar secara teknis, tapi sangat penting untuk mendengar sharing pengalamannya.


Mbak Wid yang sudah jauh lebih berpengalaman menyarankan untuk ngobrol dulu dan nego santai. Ya, pokoknya anggap saja penawaran pertama ini sebagai pengalaman. Kalau akhirnmya deal, tentunya harus sama-sama menguntungkan. Kalau pun belum berjodoh, ya anggap saja memang belum waktunya.

Berbekal hasil konsultasi dengan Mbak Wid, saya pun mengirimkan pesan balasan pada si Mas dari agensi. Ngobrol ringan, santai, meskipun ujung-ujungnya saya nawar juga, hehehe. Nawar alus istilahnya, maklumlah, masih anak bawang. Tapi akhirnya deal setelah beberapa kali berbalas WA.

Nah, kalau saya boleh berbagi cerita, beberapa hal di bawah ini yang menjadi bahan obrolan saya dengan Si  Mas.



1.  Cari tahu lebih dalam tentang agensi yang menawarkan. 

Ya, meskipun saya masih pemula, saya nggak mau asal-asalan terima pekerjaan. Bukan sok , ya, tapi hati-hati saja. Jadi setelah saya mendengarkan penjelasan dari Mas agensi, saya langsung searching sana-sini tentang agensi tersebut.  Bergerak di bidang apa dan bagaimana reputasinya di kalangan blogger.

2. Cari tahu produk seperti apa yang harus ditawarkan.

Saat itu si Mas tidak langsung menjelaskan siapa kliennya, karena menurutnya nama klien baru akan dibuka setelah ada kesepakatan. Tapi, dia menyampaikan bahwa produk yang harus saya tawarkan adalah produk jasa. Dan jenis artikel yang akan di-posting di tempat saya bertema jalan-jalan. Khususnya dengan keluarga. 

Cocok! Begitu pikir saya. Karena blog saya bertema lifestyle dan lebih dominan parenting. Maka saya berpikir tema ini bisa masuk dengan niche blog saya sehingga ada banyak internal link yang bisa saya masukkan.

3. Skema kerja sama

Pastikan kita mendapatkan penjelasan yang sejelas-jelasnya tentang skema kerjasama yang ditawarkan. Apa yang harus kita lakukan? Siapa yang membuat artikel? Apa keywoard-nya? Bolehkah meng-edit naskah dari klien? Bolehkah memasukkan internal link? Kapan harus posting? Berapa kali share? Di social media apa? Pokoknya sedetil-detilnya, deh, apalagi kalau kita masih pemula.

4. Negotiable

Pada saat itu Si Mas Agensi langsung memberikan harga, sih. Dan sebenarnya harga itu sudah lumayan buat saya. Tapi saya sengaja memanfaatkan kesempatan itu untuk menguji nyali dengan menawar. 

Akhirnya, dengan alasan yang masuk akal banget, tawaran saya memang ditolak, tapi harga yang diberikan pun bukan dalam jumlah yang rendah. Bisa dibilang sesuailah.

Begitulah akhirnya hingga kami deal, dan 2 jam berikutnya artikel sudah saya posting di blog, lengkap dengan backlink yang diinginkan. Saya pun tak segan untuk beberapa kali share link dari klien di social media saya. Karena kalau saya pikir nggak ada ruginya juga. Toh, perusahaannya juga bergengsi, bukan abal-abal.

Komunikasi dengan Mas Agensi pun berlanjut melalui WA. Sehari setelah saya mengirimkan link postingan saya, dia langsung mengirimkan invoice untuk diisi dengan data pribadi saya. Lebih tepatnya,nomor rekening saya. Dengan perasaan gembira, saya pun segera membalasnya meskipun mundur 2 hari karena tepar. Kikikiki. Ini bukan bermaksud nolak rezeki, loh.



Seminggu berikutnya, Si Mas kembali mengirimkan WA kepada saya. Saat itu isinya hanya ucapan terima kasih, permintaan maaf jika ada yang kurang berkenan dan screenshot  bukti transfer ke rekening saya. Alhamdulillah! Akhirnya cair juga invoice pertama.  Segera saya membalas pesannya, mengucapkan terima kasih dan meminta maaf juga jika ada yang kurang menyenangkan.

Sebenarnya, dalam proses pengerjaan artikel di blog, saya beberapa kali mengalami kendala. Baik dari segi teknis maupun nonteknis. Tapi saya bersyukur, semuanya selesai tepat waktu. Terus terang, di awal saya sempat menyampaikan kendala terkait postingan tersebut. Tapi dengan sabarnya Si Mas memberikan waktu dan dapat memakluminya.

Intinya ya terbuka saja dengan kemampuan kita, tapi nggak perlu terlalu merendah. Pokoknya sesuai kemampuan sajalah. Kalau memang ada hal-hal yang tidak mampu, ya sampaikan saja. Daripada berlagak bisa tapi malah mengecewakan di belakang. Tapi, kalau kita merasa dapat memelajarinya dalam waktu cepat. Ya, it’s ok. Sekali lagi, yang penting sesuaikan dengan kemampuan sendiri.


Kira-kira begitulah pengalaman invoice pertama saya dari dunia blogging. Terus terang saya sangat menikmati setiap prosesnya yang sebenarnya biasa saja, sih. Tapi karena saya lebay, ya, jadi gimana gitu. Antara seneng sama agak-agak grogi gitu, hehehe.

Yang pasti, pengalaman seperti ini menguatkan tekad saya untuk terus menggali potensi di dunia blogging. Sekali lagi saya nggak mau munafik, profesi sebagai blogger memang terllihat sangat menggiurkan. Tapi jangan lupa, harus dibarengi dengan kemampuan dan etika yang menjadi faktor penentu utama untuk mampu bertahan.

Teman-teman, pasti sudah sering mendapatkan invoice, kan? Yuk, ah, sharing pengalamannya.


Happy blogging!






Tulisan ini diikutsertakan program One Day One Post Oktober 2017 Blogger Muslimah Indonesia
#ODOPOKT3










Custom Post Signature

Custom Post Signature