Satu setengah bulan menjelang kelahiran anak kedua, suami memutuskan untuk keluar dari tempat kerjanya. Saya ingat betul, pagi itu 1 September 2014 ketika ia menyampaikan sudah tidak lagi bekerja di tempat lama, dan pada hari yang sama ia memutuskan memulai segalanya dari awal. Sebagai istri, saya sempat merasa risau dan was-was. Apalagi kami akan segera memiliki anak kedua yang berarti akan bertambah pula tanggung jawab untuk memenuhi kebutuhan keluarga.
Tapi, saya mantap mendukung keputusannya. Saya sangat yakin keputusan ini tidak diambil dengan serta merta. Tapi telah dipikirkan dengan matang dan ada rencana besar yang mungkin telah disusunnya.





