Parenting Story, Mom's Life, Tips

Showing posts with label ODOP. Show all posts
Showing posts with label ODOP. Show all posts

Artis Cilik Era 90-an dan Inspirasinya dalam Mengejar Impian

|


Masih ingat dengan video klip lagu anak yang berjudul Yess!? Teman-teman yang seumuran dengan saya mungkin tidak asing lagi dengan lagu ini. Sebuah lagu yang aransemen musiknya terbilang enerjik dengan video klip yang sangat apik di zamannya. Sempat  boom bahkan mengantarkan kedua penyanyinya sebagai idola anak-anak pada masa itu. Iya, siapa lagi jika bukan Eza Yayang dan teman duetnya yang cantik itu?

Kali ini saya ingin menulis tentang teman duet Eza Yayang yang tak lain adalah presenter acara anak Tralala Trilili. Duh, teman-teman mungkin bertanya lagi apa itu acara Tralala Trilili, hehe. Sekali lagi, ini adalah acara anak paling hits di tahun 90-an. Tahun-tahun di mana saya dan teman-teman sebaya sedang senang-senangnya bermain kejar-kejaran atau masak-masakn tanpa perlu rebutan gawai dengan orangtua. Ya gimana mau rebutan, lha wong zaman itu memang gawai termasuk barang langka. Ya kan?

Emotional Conversation with Kiddos

|

Seperti biasa, saya bangun 3 jam lebih awal dari anak-anak. Setelah membuat draft untuk bahan postingan blog pada hari berikutnya, saya bergegas menuju dapur untuk membereskan gelas dan piring kotor bekas makan semalam. Melanjutkannya dengan membereskan rumah yang selalu berantakan karena anak-anak baru berhenti bermain saat jam tidur malam tiba.

Segera saya menuju lemari pendingin untuk mengecek stock sayur dan lauk untuk disajikan sebagai menu sarapan. Tapi kemudian saya baru teringat, Najwa dan Najib sudah pesan ingin makan telur rebus untuk sarapan pagi itu. Kebetulan sekali justru persediaan telur di rumah sedang habis. Maka sambil menunggu toko sembako di dekat rumah buka, saya melanjutkan dengan menyapu lantai dan membereskan cucian untuk dimasukkan ke keranjang setrikaan.

Tepat pukul 5 pagi, saya berangkat membeli telur ke toko yang berjarak 50 meter dari rumah. Dan 10 menit kemudian saya sudah berada di rumah kembali. Begitu masuk dapur, hal pertama yang saya lakukan adalah merebus telur untuk sarapan anak-anak. Sembari menunggu telur matang, saya pun merebus sayur, membuat sambal dan menggoreng ayam untuk menu sarapan yang lain.

15 menit berikutnya telur telah matang, dan tepat saat itu Najwa sudah bangun dan duduk di ruang tengah. Saya pun segera menyiapkan telur dan makanan lainnya di meja makan, mengoles roti dengan coklat sebagai pengisi kotak bekal, mengisi botol air dan menyiapkan seragam Najwa untuk hari itu.

"Kak, sudah waktunya mandi. Ibuk sudah siapkan semuanya." Begitu saya berusaha mengingatkan Najwa untuk segera mandi.

"Sebentar, Buk. Sebentar lagi," sahut Najwa masih di tempat duduknya.

Saya pun melirik jam dinding, memang masih pagi, sih. Masih cukup jika Najwa mau mengulur waktu sampai kurang lebih 15 menit lagi. Saya  beranjak menuju meja kecil di sebelah rak buku yang mulai berjejalan isinya. Sambil menunggu Najwa mandi, saya berpikir masih punya waktu untuk meng-edit draft yang sudah setengah jadi.

Jari-jari saya mulai menyentuh kotak-kotak kecil di atas external keyboard yang tersambung pada laptop. Melanjutkan beberapa kalimat penutup sebelum nantinya meng-edit naskah secara keseluruhan. saat itu juga tiba-tiba mulut Najwa mengajukan satu pertanyaan pada saya.
"Buk, Ibuk tuh sampai kapan, sih, nulis-nulis kayak gitu?"

"Ya, sampai seterusnya, Kak. Karena Ibuk sudah berniat untuk bekerja dengan cara menulis seperti ini."

"Masak setiap hari Ibuk nulis, emang berapa banyak buku yang mau dibuat? Masak mau buat buku terus?"

"Ibuk menulis bukan untuk membuat buku saja, tapi Ibuk juga menulis di blog. Kakak ingat, kan, cerita-cerita yang kapan hari Ibuk bacakan dari laptop Ibuk? Yang ada fotonya Najwa, Ayah, juga Adik?"

"Iya, tapi sampai kapan Ibuk mau seperti itu? Coba Ibuk kerjanya pergi ke kantor saja. Jadi kalau pagi Ibuk berangkat kayak Budhe atau Umminya Dinda. Setelah pulang, sampai di rumah sudah nggak kerja lagi. Kita cuma bermain." 

Saya mulai paham arah pembicaraan Najwa. Pasti dia mau saya main terus sama mereka. Karena sebelumnya Najwa sudah menyampaikan keinginannya itu. Pokoknya kalau anak-anak main, ibuk juga harus main. Nggak boleh masak, nggak boleh nyapu apalagi ngetik. Saya pun bernafas dalam-dalam, mencoba tidak terpancing emosi di pagi hari.

"Ibuk nggak punya kantor, Kak. Jadi semuanya dikerjakan dari rumah. Kalau Ibuk kerja di kantor, kakak mau ditinggal Ibuk sampai sore atau malam?"

"Iya, nggak pa pa."

"Terus, Kakak sama siapa di rumah? Kita kan nggak punya, Mbak? akak mau dititipkan di penitipan?"

"Iya, mau. Di sana aku bisa main sepuasnya, kan?"

"Nggak juga, kalau waktunya main ya main, makan harus makan, tidur siang ya harus tidur. Nggak seperti yang Kakak bayangkan. Lagian Ibuk belum nemu tempat penitipan untuk anak sebesar Kakak."

" Yawdah, kita cari Mbak saja."

"Bilang Ayah dulu, kalau yang itu. Eh, tapi, kalau Ibuk kerja di kantor pun, di rumah Ibuk tetap menulis seperti ini. Karena Ibuk sudah terlanjur suka.  Di Kantor kan nggak boleh semaunya sendiri , Kak. Harus bekerja sesuai perintah bosnya. Trus gimana, dong?"

"Aku tuh maunya Ibuk cuma nemenin main aku sama adik, jadi kalau kerja jangan di rumah. Atau pas aku tidur saja."

Ahh, kepala saya rasanya mulai berat. Emosi mulai terpancing, mulut sudah pengen teriak. Tapi masih saya tahan, meskipun cara berbicara mulai terdengar emosional.


"Ibuk tuh tugasnya banyak, Kak. Memang seharusnya Ibuk selalu menemani kalian main, tapi Ibuk harus masak, belanja, menyiapkan bekal kakak, mencuci, menyapu lantai, mengepel, mengantar kakak sekolah, menemani kakak belajar di rumah, mengantar exkul. Belum juga kalau Dek Najib minta main keluar, Ibuk harus menemani juga. Jadi nggak bisa kalau Ibuk harus menemani Kakak main terus. Ada waktunya kita main bareng, ada saatnya juga Kakak harus menemani Adik bermain, sedangkan Ibuk beres-beres rumah, dan kalau masih sempat Ibuk minta waktu menulis sebentar saja."

Nampaknya Najwa nggak mau menerima penjelasan saya. Dia pun mencari cara lain.

"Ya sudah, Ibuk nulisnya malam saja, pas aku, Adik, Ayah sudah tidur semua."

"Biasanya juga gitu, Kak. Kalau badan Ibuk lagi nggak capek.  Sekarang Ibuk nggak kuat tidur malam-malam. Badan Ibuk udah capek, pagi pun Ibuk bangun masih sangat pagi. Kalian aja kalau main sampai malam-malam, Ibuk belum bisa istirahat sebelum kalian tidur."

Najwa diam, lalu saya menambahkan lagi.

"Menurut Kakak, Ibuk harus gimana?"

"Ya sudah, Ibuk boleh menulis, boleh kerjain apa aja di rumah. Tapi kalau aku ngajak main, Ibuk harus main sama aku."

Begitu jawabnya sambil meninggalkan saya menuju kamar mandi. Saya diam, tidak mengiyakan atau menolak permintaannya. Karena saya tahu betul bagaimana sifat Najwa. Dia sangat suka berdebat dengan saya,  kemudian kesal dan menangis kalau kemauannya nggak diikuti. Meskipun ujung-ujungnya baikan lagi.
  

Sepanjang hari saya memikirkan obrolan bersama Najwa tersebut. Menyesal kenapa saya jadi ikut-ikutan ngeyel sama anak-anak. Sempat sedih, goyah, bingung harus bagaimana. Tapi saya belum ingin membahasnya kembali. Saya butuh waktu untuk mengatur emosi. Saya benar-benar tidak menyangka, tiba-tiba saja Najwa tidak mendukung saya sama sekali. Padahal saya yakin betul dialah motivasi saya untuk terus berkarya.

Ya, sudahlah. Nampaknya weekend kali ini saya akan lebih banyak bersantai. Me-refresh semangat, hati, merekonsiliasi hubungan dengan anak-anak, terutama Najwa. Membuat kesepakatan baru dengan mereka dan tentu saja menyusun rencanayang lebih baik.

Wish me luck!


Tulisan ini diikutsertakan tantangan One Day One Post Oktober 2017 Blogger Muslimah Indonesia
#ODOPOKT9





Tips Optimasi Blog (Bagian 1) - Design

|


Desain blog
Pixabay.com


Haluuu, tau-tau udah tanggal 10 aja, ya. Sudah sepertiga hari berjalan di bulan Oktober. Semangat belum kendor, kan? meskipun sudah menuju tanggal tua lagi, hihihi. Nah, daripada mulai dag-dig-dug menghadapi tanggal tua lagi, kita ngomongi optimasi blog aja kali ini. Ya, sapa tau blog-nya bisa jadi sumber penghasilan yang kedua. Lumayan banget, kan? Nggak perlu nunggu tanggal gajian, tapi ada aja pemasukan dari sumber yang lain.

Nah,  mengoptimasi blog sebagai salah satu sumber penghasilan, atau biasa disebut monetizing blog, rupanya bukan hal yang mudah, loh. Ada beberapa hal yang sebaiknya menjadi perhatian teman-teman blogger. Tentu saja hal ini bertujuan untuk menjaga eksistensi atau performa blog yang terus berkelanjutan di masa depan.

Nggak mau, kan, kalau ngeblog cuma buat ikut-ikutan aja.  Saya yakin semua blogger kepengen jadiin blognya sebagai’rumah kedua’. Nggak sekedar buat curhat, tapi juga sharing pengalaman, bermanfaat atauberbagi informasi dan mendokumentasikan kisah perjalanan hidup atau karya yang pernah dibuat. Akur?  *akurinajabiarcepet

Bicara soal optimasi blog, pastinya juga teman-teman sudah tahu bahwa ada banyak komponen untuk mendukungnya menjadi blog yang searchable dan readable. Hal-hal seperti desain blog dan konten menurut saya merupakan dua hal utama dan mendasar yang harus diperhatikan oleh seorang blogger, apalagi pemula seperti saya. Nggak usah deh ngomongin DA/PA dulu, udah konsisten nulis aja bagi saya udah TOP! Tapi, gak ada salahnya ya, kita perhatikan  sesuatu yang bisa  bikin pembaca betah di blog kita.


So, kali ini kita ngomongin tentang desain blog dulu aja, ya. Sesuatu yang pertama kali dilihat pengunjung, tapi memiliki efek besar terhadap kenyamanan mereka untuk berlama-lama atau bahkan kembali lagi ke blog.



desain blog

 


Bicara tentang desain blog, saya berkesempatan mendapatkan ilmunya secara khusus dari Mbak Sintaries, founder Blogger Perempuan Network pada acara Blog Coaching Clinic yang diselenggarakan free untuk member BP Network pada tanggal 2 September lalu. Duh, jadi malu. Kayaknya udah basi banget tapi baru di-share di blog post. Hehehe *tutupmuka. 

Nggak pa pa, ya, yang penting ilmunya nggak basi, kok. Karena jujur, saya sendiri yang hampir 1 tahun aktif ngeblog, baru deh tahu info yanf seperti ini.

Lanjut lagi soal desain blog, ya. Waktu itu Mbak Shinta bilang bahwa desain blog sebaiknya memerhatikan beberapa poin.

1. Orientasi pembaca
2. Orientasi  google
3. Menurunkan Bounce Rate
4. Memperpanjang time on site
5. Branding

Berikut adalah penjelasan untuk setiap poin-poin di atas.


Desain Blog
Pixabay.com


Orientasi Pembaca dan orientasi Google

Setiap blogger pasti punya orientais pembaca masing-masing sesuai dengan niche blog yang dipilih. Kalau saya pribadi dengan blog damaraisyah.com cenderung membidik segmentasi ibu-ibu muda dan produktif, dengan range usia antara 25-40 tahun. 

Tema parenting yang saya bungkus dalam daily activity dan traveling, rupanya mulai menjadi ciri khas tulisan-tulisan saya yang sebagian besar berdasarkan pengalaman pribadi momong dua bocah.

Untuk itu saya memilih desain blog yang minimalis, modern tapi tetap menunjukkan unsur ibu muda saya dengan pemilihan warna watercolor pink di bagian header blog. Ciyehh, ibu muda katanya, hihihi. Untuk background sendiri saya memilih warna putih yang cenderung bersih, dengan font hitam sehingga mudah dibaca. 

Usahakan memilih template yang responsive sehingga mudah di-detect oleh mesin pencari. Dan ini merupakan salah satu solusi agar desain kita memenuhi orientasi  google.

Bersyukurlah Teman-teman yang memiliki blog berplatform Wordpress karena pilihan templatenya sangat beragam, baik gratisan maupun berbayar, lengkap dengan aneka plugin yang bisa dimaksimalkan sesuai kebutuhan masing-masing. 

Saya sendiri sebagai pengguna platform Blogger atau Blogspot, awalnya sempat merasa terlalu terbatas. Namun kemudian saya putuskan membeli template berbayar yang memenuhi kriteria saya. Jika tertarik, Teman-teman bisa mencoba berbelanja di Etsy Shop. Banyak sekali pilihannya dengan harga yang relati terjangkau untuk pemula.

Berikut adalah kunci dalam memilih desain agar memenuhi criteria optimasi pembaca dan Google

  • Clean atau bersih, dengan background warna terang. Kalau bisa, sih, 80% white space
  • Font yang mudah terbaca dan berwarna gelap
  • Responsif atau fast loading
  • Mobile friendly karena sekarang pembaca lebih familiar dengan smartphone untuk membaca
  • Konten di sebelah kiri, side bar di sebelah kanan
  • Hindari musik atau animasi bergerak sebagai latar,  misalnya salju bertaburan diiringi dengan musik.
  • Jangan lupa mencantumkan profile blogger, link social media dan Home, Disclosure serta kriteria postingan. Terutama untuk blog yang ingin di-monetize.


Desain Blog
Pixabay.com


Bounce rate dan Time on site

Untuk bouce rate sendiri  Teman-teman bisa cek di Google Analytics. So, kalian harus pasang GA dulu di blog-nya, barulah bisa cek berapa bounce rate-nya. Patokannya semakin rendah bounce rate, maka semakin baik performa blog. Adapun kisaran rendanya sesuai yang saya tangkap dari penjelasan Kak Shinta, antara 20%-80%. Jika di bawah 20% , kemungkinan ada masalah dengan GA blog kita.

Oh ya, semakin lama pengunjung membaca blog kita dapat berimbas juga pada penurunan prosentase bounce rate. Google sendiri pun menyukai  blog yang memiliki time on site panjang. Untuk itu, blogger harus berusaha membuat pembacanya nyaman. Selain pilihan desain seperti yang sudah saya sebutkan tadi, pastikan konten kita berkualitas. Pada postingan selanjutnya saya akan membahas tentang konten ini.



Desain Blog
Pixabay.com


Branding

Blog  bisa menjadi branding pemiliknya. Begitu pula dengan desain yang dipilih, biasanya mencerminkan karakteristik pemiliknya.  Untuk mem-branding diri melalui blog, beberapa hal berikut ini bisa Teman-teman jadikan acuan:

1. Nama domain adalah nama brand 

Nama domain adalah nama brand. Misal kita membuat blog tentang suatu organisasi, maka nama organisasi sebaiknya dijadikan sebagai nama domain. Untuk personal blog, menggunakan nama pemilik blog sebagai nama domain sepertinya jauh lebih mudah untuk mem-branding diri. 

Tapi, pastikan nama domain hanya terdiri dari maksimal 2 kata, mudah diketik atau diingat, bukan keyword. Setelah nama domain dipilih, usahakan sama atau minimal mirip dengan username  social media pendukung  agar mudah dikenali.

2. Template dan desain blog  
 Template dan desain blog yang khas seperti yang saya sebutkan tadi. Misal, kalau saya memasukkan warna pink dengan font kecil-kecil. Semacam mewakili saya yang girly dan imut-imut *dititimpukpembaca

3. Blog bertema 
Blog bertema atau memiliki niche khusus. Sebenarnya blog seperti ini yang disukai Google, tapi saya pribadi masih susah menghalau godaan nulis tentang lipen dan buku di blog parenting saya. Jadilah lifestyle.

4. Apa adanya dan jadi diri sendiri.

Fiyuh! Selesai juga akhirnya. Saya akui banyak hal yang selama ini saya anggap sepele ternyata sangat memengaruhi performa blog. Itulah mengapa banyak sharing dengan sesama blogger sangat membantu pemula seperti saya. 

Desain blog adalah satu komponen yang pertama kali dilihat oleh pembaca. Oleh sebab itu, memberikan sedikit perhatian dan waktu untuk kembali mengutak-atiknya, saya rasa perlu dilakukan. Memang lumayan wasting time, sih, karena sebenarnya banyak hal menyenangkan dalam mengutak-atik desain blog itu sendiri.

Kalau Teman-teman gimana? Sudah menyediakan waktu untuk utak-atik desain blognya?



Tulisan ini diikutsertakan pada tantangan One Day One Post Oktober 2017 Blogger Muslimah Indonesia.

#ODOPOKT7






5 Manfaat Traveling untuk Anak-anak

|



Traveling dengan anak-anak


Traveling atau jalan-jalan, salah satu aktivitas yang kini mulai susah dipisahkan dari gaya hidup urban. Sumpek sedikit, katanya karena kurang jalan-jalan atau piknik. Sehingga rencana traveling secara berkala hampir pasti masuk ke agenda masing-masing individu atau keluarga.

Destinasi traveling pun bisa jadi beragam. Mulai dari perjalanan jauh ke luar kota, luar pulau bahkan luar negeri. Atau jalan-jalan dalam jarak dekat dalam rangka meng-explore obyek wisata di daerah masing-masing. 

Begitu pun halnya dengan tujuan traveling yang sudah pasti berbeda juga.  Mulai silaturahim dengan sahabat atau keluarga besar, sekedar melepas penat, mencari tantangan baru atau dalam rangka edutrip bersama anak-anak.

Saya dan keluarga termasuk yang suka beralasan, sumpek karena kurang piknik, hehehe. Untuk itu kami berusaha untuk selalu menyisihkan budget traveling bersama anak-anak.  Selain pulang kampung di hari raya, kami mengupayakan pulang kampung kedua ketika libur akhir tahun tiba. Atau jika ada kesempatan, maka berkunjung ke rumah saudara atau teman di luar kota bisa jadi pilihan.

Traveling dengan ank-anak
Taman Suropati, salah satu destinasi jalan-jalan gratis di Jakarta.

Selain itu, edutrip di berbagai obyek wisata di Jakarta yang tak terhitung jumlahnya menjadi agenda bulanan yang sedang  kami rutinkan. Ya, tentu saja memang harus direncanakan dengan seksama. Karena selain faktor waktu, sudah pasti ketersediaan dana menjadi penentunya.


Saya bersyukur tinggal di Jakarta yang memang dirancang dengan berbagai fasilitas dan obyek wisata untuk meng-entertain warganya. Begitu pun halnya dengan alat transportasi publik yang sangat banyak jumlahnya, lebih-lebih sangat terjangkau dari segi biaya. 

Saya kembali bersyukur karena tinggal di daerah yang mudah mengakses aneka alat tranportasi public yang menjadi andalan Jakarta. Sebut saja mau ke Monas, maka commuter line siap mengantarkan kami sampai tempat tujuan dengan biaya 3 ribu perak dari stasiun dekat rumah hingga stasiun Juanda. Atau katakanlah ingin ke Bogor biar bisa dibilang jalan-jalan ke ke luar kota, padahal cuma tetangga. Maka lagi-lagi tak sampai 10 ribu kami sudah bisa menjejakkan kaki di Kota Hujan ini.

Ya, warga ibukota memang sangat terbantu dengan adanya commuter line dan Trans Jakarta. Dengan tarif yang sangat terjangkau, maka kami bisa dengan mudah bepergian ke sutau tempat. Begitu pun halnya dengan aneka obyek wisata yang tersedia. Mulai yang kelas atas atau bertarif mahal, hingga yang gratisan, semuanya ada. 


Fasilitas kota yang seperti ini sayang jika dilewatkan begitu saja. Karena itulah kami rajin menyusun destinasi traveling atau jalan-jalan di akhir pekan atau saat liburan. Biasanya, kami pun memilih tempat-tempat yang ramah anak, dan memungkinkan untuk dijadikan model jalan-jalan bertema family edutrip. Sehingga anak-anak tidak hanya me-refresh suasana, tapi juga menambah pengetahuan sebagai oleh-olehnya.

Traveling dengan anak-anak
Menyaksikan pertunjukan Air Force Show di Halim P.K. Jalan-jalan murah namun banyak manfaat.


Jalan-jalan ke luar negeri masih menjadi salah satu wishlist keluarga kami. Bukan sekedar untuk gengsi, tapi kami yakin bahwa pengalaman bersinggungan langsung dengan orang asing akan memudahkan anak-anak melihat budaya dan tradisi dari penduduk suatu bangsa. Selain itu, kami berharap jika suatu saat dapat menjejakkan kaki ke belahan benua lain. Anak-anak akan mendapatlan berikan perspektif baru tentang model kehidupan, bagaimana orang asing bertahan, dan menunjukkan alternatif profesi di dunia.

Dewasa ini, jalan-jalan sudah tidak lagi melihat usia. Sering saya menemui bayi-bayi berusia mingguan sudah mejeng cantik bersama orang tuanya. Beberapa orang mungkin menganggap hal seperti ini masih tidak biasa. Tapi kenyataannya banyak orang tua yang berhasil melakukannya, dan baik-baik saja. 

Memang, hal seperti ini  tidak bisa dilakukan dengan sembarangan. Butuh kesiapan ekstra, terlebih bagi orang tua. Sehingga tak perlu memaksakan diri atau ikut-ikutan hanya karena alasan biar kekinian.

Kabar gembiranya, traveling memberikan banyak manfaat bagi anak-anak. Eh, bukan hanya anak-anak, tapi buat bayi juga. Nah,  beberapa di antaranya ada di bawah ini.

1. Traveling membantu anak-anak menjadi lebih mudah  beradaptasi dan fleksibel.

Traveling dengan anak-anak
Parent Magazine

Mengajak anak-anak mengunjungi berbagai tempat baru membuat mereka melihat banyak hal ‘normal’ baru. Ya, sesuatu yang seharusnya dianggap ‘normal’ tapi terasa baru bagi mereka. Menghadapi hal semacam ini, anak akan terlatih untuk lebih mudah beradaptasi dengan suasana dan situasi di lingkungan baru. Begitu pun halnya lebih fleksibel dengan budaya dan tradisi di tempat tujuan.

Kemampuan untuk beradapatasi dan fleksibel dengan situasi yang harus dihadapi membuat anak lebih mudah masuk ke lingkungan mana saja. Hal ini juga membuat mereka lebih cepat nyaman dan enggak rewel di tempat baru



2. Traveling memberikan pengalaman nyata, bahwa memiliki kemampuan menggunakan berbagai bahasa adalah hal yang menyenangkan.

Sungguh beruntung bagi orang tua yang dapat memberikan pengalaman traveling ke luar negeri bagi anak-anaknya. Karena secara tidak langsung memberikan kesempatan bagi anak untuk bersinggungan dengan bahasa lokal masyarakatnya. 

Tapi, pengalaman ini tak terbatas pada pengenalan bahasa internasional saja, ya. Karena Indonesia memiliki beragam bahasa daerah yang masing-masing memiliki keunikan. Dan tak salah jika memaparkan anak pada bahasa-bahasa tersebut.

Suatu kali saat kami bepergian ke Bandung, Si Najwa excited sekali dengan orang-orang yang menggunakan Bahasa Sunda. Menurutnya hal semacam itu sangat unik, karena ketika pulang ke Jawa Timur bahasa yang digunakan akan berbeda lagi. Begitu pun halnya ketika bepergian ke daerah di Jakarta yang mayoritas penduduknya asli Betawi, Maka sesuatu yang ‘baru’ akan terdengar lagi di telinga mereka.


Traveling dengan anak-anak
Traveling to India


3. Traveling mengajarkan pada mereka, bahwa perbedaan adalah hal yang biasa.

Mengunjungi tempat-tempat baru, baik di dalam atau luar kota. Apalagi jika ke luar pulau atau keluar negeri. Anak akan menemui banyak perbedaan yang menarik perhatiannya. Tak hanya dari segi bahasa, makanan, budaya, tradisi hingga kondisi sosial ekonomi masyarakat serta lingkungan yang didatangi pasti berbeda.

Pengalaman ini sangat tepat untuk menanamkan pada diri anak, bahwa perbedaan adalah suatu hal yang lumrah. Tidak untuk diperdebatkan, tidak untuk dibeda-bedakan, karena kita sama sebagai makhluk ciptaan Tuhan.


 Perbedaan harus disikapi sebagai suatu keindahan. Sekaligus untuk menanamkan pada anak bahwa kuasa Tuhan sungguh tak terkira besarnya, sehingga mampu menciptakan makhluk dengan segala keunikannya.

4. Traveling mengajarkan anak untuk berani mencoba


Traveling dengan anak
Smart Travel


Memaparkan anak pada tempat baru, mau tak mau membuat anak harus menemui banyak hal baru. Misalnya, jika Teman-teman mengajaknya ke pedesaan, maka anak akan melihat kehidupan petani lengkap dengan sawah dan mungkin bajaknya. 

Pemandangan seperti ini bukan tak mungkin memicu rasa ingin tahu anak untuk mencoba apa yang dilihatnya. Ikut turun ke sawah, memetik sayur dan bermain lumpur akan sangat menyenangkan. Sekaligus memberikan pengalaman nyata tentang profesi petani yang selama ini hanya didengar melalui cerita.

5. Traveling dapat memantik rasa ingin tahu tentang  letak dan kondisi geografis suatu wilayah.


Traveling dengan anak


Kira-kira, apa reaksi anak-anak jika orang tua mengajaknya ke suatu tempat? Ya, pasti mereka bertanya di mana letaknya? Daerahnya seperti apa? Jauh nggak? Naik apa ke sananya? Dan lain sebagainya. 

Sudah beberapa kali kami mengalami ini dengan si kecil di rumah. Setiap kami mengajak mereka ke suatu tempat, selalu saja aneka pertanyaan itu muncul dari mulutnya, terutama Najwa yang sudah lebih besar.

Kami pun mau tak mau mencari informasi terlebih dahulu tentang tempat yang ingin dikunjungi. Dan ide suami untuk membeli atlas Indonesia saya kira sangat brilian. Sangat tepat untuk sekaligus menjelaskan wilayah Indonesia.

Kami pun tak segan menunjukkan di mana letaknya, bagaimana cuaca tempat yang akan dituju, kendaraan yang akan ditumpangi, makanan dan bahasa yang biasa digunakan. Ya, itung-itung geografi lagi, ya. Hehehe.

Meskipun melakukan perjalanan dengan anak-anak selalu menyenangkan dan tentu saja panen manfaat. Tapi kita tidak dapat mengingkari betapa merepotkan aktivitas seperti ini.  Selain butuh persiapan yang mendetil untuk memastikan keamaanan dan kenyamanannya,  dari segi budget pun tak bisa dibuat terlalu seadanya.

Traveling dwngan anak
The Odyseyoline


Untuk sementara, tinggalkan dulu mindset sempurna ala orang tua. Karena dunia anak-anak selalu penuh kejutan yang tak bisa disangka-sangka. Nikmati  dan berdamai dengan seluruh prosesnya. Kekacauan kecil di tengah acara bisa jadi pelajaran sekaligus kenangan yang melekat. Hingga suatu saat baik orang tua maupun anak hanya akan tertawa saat mengingatnya.


Menumbuhkan calon traveler baru memang bukan perkara mudah. Harus diakui, sangat menarik, menantang sekaligus melelahkan. Tapi percayalah, tak akan ada penyesalan ketika kelak mereka mampu memetik hikmah dari setiap perjalanan.


Kalau menurut pengalaman Teman-teman, apa sih manfaat traveling buat anak-anak? Share, yuk!




Tulisan ini diikutsertakan dalam tantangan One Day One Post Oktober 2017 Blogger Muslimah Indonesia.
#ODOPOKT6



[Resensi] Sirkus Pohon oleh Andrea Hirata

|

Ternyata, hidup ini indah bukan buatan. Kurasa mereka yang selalu mengatakan hidup ini sulitlah, sepilah, tak adillah, segala rupa keluhan, perlu mempertimbangkan profesi baru, sebagai BADUT SIRKUS.

 

Andrea Hirata


Sirkus Pohon, salah satu novel yang berhasil membuat saya duduk selama 6 jam untuk menyelesaikan seluruh bab di dalam buku setebal 383 halaman. Yah, saya tahu ini hal yang basa bagi sebagian orang. Tapi bagi saya ini adalah rekor berkelanjutan setelah sebelum-sebelumnya melakukan hal yang sama pada seri tetralogi Laskar Pelangi karangan Andrea juga.

Membaca buku Andrea, membuat saya tersihir dengan kata-kata. Mabuk, limbung dalam perasaan yang campur aduk dan emosi yang terus dimainkan melalui kisah-kisah pelakonnya. Semuanya terlalu nyata, dekat dan dapat dijumpai di sekitar kita. Begitu lihainya Andrea mengangkat drama kehidupan dan isu sosial yang berkembang di masyarakat. Membungkusnya dalam wujud fiksi yang mampu melambungkan imajinasi pembacanya


" Fiksi, cara terbaik menceritakan fakta." -Andrea Hirata

 


Seperti halnya buku-buku terdahulu Andrea, Novel Sirkus Pohon masih dilatari kehidupan Melayu lengkap dengan tradisi masyarakatnya. Pemberian nama julukan atau gelar  pada orang-orang yang memiliki kebiasaan tertentu. Atau atas pencapaian tertentu entah itu benar-benar bisa dianggap prestasi atau justru hal-hal yang memalukan. Nampaknya tetap menarik bagi Andrea untuk mewakili salah satu kebiasaan orang Melayu selain tentunya duduk berlama-lama di warung kopi sambil membicarakan isu di kampungnya.

Optimisme yang meledak-ledak, kekuatan cinta, kecerdasan yang terbelenggu oleh kemiskinan selalu menjadi ciri khas Andrea Hirata. Ya, 3 hal ini memang sangat manusiawi dan mampu mewakili realita masyarakat kita. Rakyat dari golongan menengah ke bawah, yang tersebar di pelosok-pelosok negeri ini.



Kali ini Andrea mengangkat lika-liku kehidupan sang tokoh sentral utama, Sobrinudin bin Sobirinudin, yang kemudian dipanggil Sobri dan segera berganti lagi m,enjadi 'Hob'. Kan, apa saya bilang? Orang Melayu dalam cerita Andrea selalu suka memberikan panggilan kepada siapa saja. Bahkan Sobri sendiri tak pernah tahu bagaimana asal mulanya nama 'Hob' bisa disandangnya.

Sobri. Miskin, putus sekolah, pengangguran hingga akhirnya harus berkawan dengan penjahat kelas teri di kampungnya. Hidupnya tak terarah, tak memiliki tujuan jangka panjang. Hingga akhirnya dia menemukan cinta dan kecintaan yang kemudian mengubah hidupnya secara keseluruhan.

"Bangun pagi, let's go ...", begitu semboyannya ketika dunia mulai ramah dan memberikan arti bagi kehidupannya. Dedikasi atas kecintaan baru, keinginan untuk memberikan kebanggaan bagi seorang ayah yang tak pernah mengeluh dan cita-cita akan cinta. Ketiganya bagaikan mantra yang membuatnya menjelma menjadi manusia baru.

Tegar dan Tara, dua tokoh sentral kedua. Dalam diri mereka, kita akan diajak bernostalgia dengan Arai.  Sang pecinta sejati, erat menggenggam mimpi-mimpinya, hampir tak pernah mengenal kata putus asa. Ya, Tegar dan Tara akan mengajarkan pada kita mengapa kemiskinan tak perlu ditangisi, perpisahan bukan untuk disesali, bahwa harapanlah yang akan terus menyalakan mimpi-mimpi.


Andrea Hirata


Tidak hanya dari tokoh sentralnya saja, pembaca Sirkus Pohon akan dapat menemukan segala kebaikan dalam diri tokoh-tokoh yang lain. Kebaikan yang sering kali ditutupi sikap sombong, serakah, menang sendiri, gengsi. Bahwa manusia memang tidak dilahirkan dalam kesempurnaan, tapi selalu ada 1 atau 2 kebaikan yang hanya bisa dilihat dengan kebaikan juga.

Sebuah kejutan juga bagi saya, kali ini Andrea menghadirkan aroma kehidupan politik dalam karyanya. Penuh pencitraan, intrik, dan hal-hal yang irrasional seperti halnya politik dalam dunia nyata. Teman-teman akan dibuat gemas dengan Penasihat Abdul Rapi, atau melihat sosok politikus kita dalam diri Gastori. Namun di akhir nanti, pembaca akan mendapatkan kejutan dari seorang Lelaki Bertopi Fedora. Dan juga Taripol, kawan lama Sobri sekaligus orang yang membuatnya harus mencicipi aroma penjara untuk yang pertama kalinya.

Di babak kedua nanti teman-teman akan melihat betapa Buah Delima begitu maha dahsyat mengubah kehidupan seseorang. Begitu pun juga halnya dengan betapa gilanya menjadikan Pohon Delima sebagai yang diagung-agungkan dalam sebuah kontestasi politik. Edan! Memang begitulah kenyataannya, dalam dunia politk semua hal bisa dijadikan alat.

Sirkus Pohon mengajarkan kita cinta dari berbagai sudut pandang. Cinta kepada yang memang dicintai, cinta kepada yang tak pernah ditemui lagi, cinta pada yang telah meninggalkan luka, cinta sepasang hewan-hewan kecil, cinta akan kekuasaan, cinta pada profesi, cinta pada pengabdian dan cinta-cinta lain yang mungkin bisa kita temui dalam tiap lembar dan larik di dalamnya. Bravo! Andrea mampu menghadirkan Sang Pujangga, dalam segala rupa dan detak kehidupan.

 



Membaca buku ini, saya merasa seperti sedang dibawa ke belahan negeri itu. Seperti halnya buku-buku Andrea yang lain. Penggambaran latar tempat, situasi dan dialek yang kental akan Melayu, membuat pembaca larut. Seolah sedang duduk di salah satu warung kopi di sana. dan menyaksikan potongan fragmen kehidupan tokoh-tokohnya.

The End,  Teman-teman akan  menemukan kenyataan-kenyataan seperti. Usaha tak akan pernah mengingkari hasil, cinta akan menemukan jalannya, dan kebaikan selalu menang. Dan begitulah seharusnya yang berlaku dalam kehidupan. Tapi sayangnya, dunia ini sudah terlalu 'tua' untuk dapat memahami hal-hal demikian. Hingga sering kali kita hanya menemuinya di layar kaca, atau dalam larik-larik cerita.

 

 

Judul : Sirkus Pohon
Penulis  : Andrea Hirata
Penerbit : Bentang Pustaka
Tebal buku : 383 halaman
ISBN : 978-602-291-409-9

Tulisan ini diikutkan tantangan One Day One Post Oktober 2017 Blogger Muslimah Indonesia
#ODOPOK5








Custom Post Signature

Custom Post Signature