Parenting Story, Mom's Life, Tips

Showing posts with label Piknik Ala DuoNaj. Show all posts
Showing posts with label Piknik Ala DuoNaj. Show all posts

Piknik Ala DuoNaj #4 - Edutrip ke Dunia Air Tawar dan Dunia Serangga di TMII

|
TMII Jakarta

Sepertinya DuoNaj tak pernah bosan diajak berkunjung ke Taman Mini. Minggu lalu, tepatnya pada tanggal 7 Oktober,  kami sekeluarga kembali melakukan edutrip ke sana. Padahal, kalau tidak salah kami pada tahun 2017 ini kami sudah lima kali mengunjungi tempat wisata kebanggaan Jakarta ini. Entah untuk acara reuni atau piknik yang memang sudah direncanakan, atau secara tidak sengaja mampir setelah dari acara yang lain. Taman Mini biasanya menjadi tempat persinggahan ketika kami harus kelayapan di daerah timur Jakarta.

Kali ini pun sebenarnya kami tak benar-benar merencanakan untuk pergi ke sana. Awalnya suami hanya bercanda dengan ajakannya. Sedangkan saya  sendiri sebenarnya memilih di rumah saja karena pada keesokannya Najwa akan menjalani UTS di sekolah.  Tapi yang namanya DuoNaj memang doyan pikniknya nggak ketulungan. Sekali ayahnya menawarkan satu tempat, tanpa pikir panjang mereka langsung mengiyakan.

Baca juga: Piknik Ala DuoNaj #1 - Nonton Air Force Show

Dunia Air Tawar dan Dunia Serangga yang menjadi destinasi edutrip kali ini. Sebenarnya lagi, saya dan anak-anak juga sudah pernah sekali berkunjung ke sana. Tapi saat itu memang kami hanya bertiga saja. Sehingga kepergian kali ini murni karena menuruti keinginan suami.

TMII Jakarta


Menjelang tengah hari sampailah kami di Taman Mini. Cuaca hari itu lumayan terik, sehingga kami rehat sebentar untuk sekedar mendinginkan kepala dan wajah setelah menerjang jalanan Jakarta yang macet dan panas. Sengaja kami memilih beristirahat di pelataran Museum Tugu Api yang udaranya lebih sejuk karena banyak pohon-pohon besar yang berjejer di sekitarnya.


DUNIA AIR TAWAR

TMII Jakarta


Kami berempat bergegas menuju Dunia Air Tawar karena pengunjung Taman Mini semakin padat. Menjelang jam makan siang, umumnya mereka mencari tempat-tempat yang rindang, seperti di lapangan Tugu Api ini untuk menggelar tikar dan menikmati bekal dari rumah. Maka dari itu, setelah membereskan barang-barang, kami pun segera merapikan tikar sewaan dan meninggalkan tempat tersebut untuk dipakai keluarga lain yang sudah siap dengan pesta kecilnya.

Baca juga: Piknik Ala DuoNaj #2 - Outing Class

Dunia Air Tawar menjadi tujuan pertama sebelum ke Dunia Serangga. Lokasi keduanya sebenarnya hanya bersebelahan, tapi untuk masuk ke Dunia Serangga, pengunjung diharuskan membeli tiket masuk yang berlokasi di loket pembelian tiket Dunia Air Tawar. Harga tiketnya Rp. 25.000,- per orang baik anak-anak maupun dewasa. Oh ya, usia 3 tahun sudah harus membeli tiket orang dewasa.

TMII Jakarta

Harga ini lumayan mahal jika dibandingkan dengan museum lain yang ada di Taman Mini. Tapi jangan khawatir, tiket masuk ke Dunia Air Tawar sudah termasuk gratis ke Dunia Serangga. Jadi pengunjung tak perlu membeli tiket yang berbeda.

Dunia Air Tawar adalah museum atau wahana rekreasi yang berupa keanekaragaman hayati dari perairan air tawar Indonesia. Wahana yang diresmikan pada tanggal 20 April 1994 ini didominasi akuarium dalam berbagai ukuran, menyesuaikan dengan ukuran dan jenis dari masing-masing ikan yang menghuninya. Menurut keterangan, simulasi dan replika ini sudah dipersiapkan sejak tahun 1992. Sampai pada akhirnya dinyatakan siap untuk menjadi wahana rekreasi, kemudian diresmikan dan dibuka untuk umum 2 tahun berikutnya.

TMII Jakarta

Lokasinya bersebelahan dengan Dunia Serangga dan satu arah dengan keong Mas. Konon, katanya taman biota air tawar ini termasuk salah satu yang terlengkap di dunia dan terbesar di Asia. Sehingga koleksinya sangat banyak, beragam dan disertai berbagai penjelasan di setiap sudut akuariumnya. Hal ini lumayan membantu orang tua untuk memberikan penjelasan secara langsung kepada anak. Tak melulu melihat dari satu akuarium ke akuarium lainnya, kami pun bisa berinteraksi dengan tanya jawab bersama anak.

Baca lagi : Piknik Ala DuoNaj #3: From Sky World to Bird Park

Salah satu koleksi yang sangat menarik minat anak adalah jenis Arapaima yang berukuran raksasa, Cat Fish, Blind Fish, Hiu Gergaji, Dolar Fish, Ikan Buta dan Piranha yang sangat terkenal dari Sunga Amazon, Amerika Serikat.

TMII Jakarta

TMII Jakarta

Selesai mengamati seluruh akuarium, kami pun menggenapkan edutrip ke Dunia Air Tawar dengan merasakan sensaisi bioskop 4 dimensi di sana. Pengunjung dikenakan biaya tambahan sebesar Rp. 15.000, - per orang untuk merasakan pengalaman bersentuhan langsung dengan dunia animasi ikan. Bagi orang tua, sensasi bioskop 4 dimensi ini mungkin biasa saja. Tapi bagi anak-anak seumuran DuoNaj, pengalaman ini sangat menyenangkan karena mereka merasa seperti diajak masuk dan bersentuhan langsung dengan dunia  bawah laut, meskipun hanya dalam bentuk animasi.

TMII Jakarta


TMII Jakarta
Film 4 Dimensi tentang kehidupan bawah laut


DUNIA SERANGGA DAN TAMAN KUPU-KUPU

Puas mengamati seluruh biota air tawar dalam puluhan akuarium dalam berbagai ukuran. Kami pun segera beralih ke museum lain yang ada di sebelahnya. Ya, edutrip pun berlanjut ke Dunia Serangga dan Taman Kupu-kupu. Dulu, dua wahana ini dikenal dengan sebutan Museum Serangga dan Taman Kupu-kupu. tapi sekarang sebutannya diubah menjadi Dunia Serangga dan taman Kupu-kupu. Sedangkan Museum Air Tawar dikenal dengan nama baru Dunia Air Tawar.


Dunia Serangga yang resmi berdiri pada tanggal 20 April 1993 merupakan sebuah wahana untuk memperkenalkan aneka ragam serangga. Baik asal usul habitatnya, cara hhidup dan beragam ciri khas baik bentuk maupun manfaatnya. 

Selama ini, bagi anak-anak pada umumnya seperti halnya DuoNaj, serangga hanyalah salah satu jenis hewan kecil. Dan mereka cenderung menghindari untuk berinteraksi langsung dengan makhluk jenis ini, alasannya kalau nggak geli ya takut digigit. Wajar, dong, karena anak-anak kan tahunya semut, nyamuk, atau lebah yang memang memiliki kecenderungan menggigit. Nah, membawa mereka ke tempat berlibur seperti ini bisa jadi satu cara yang tepat untuk mengenalkan jenis serangga yang lain, dan tentu saja manfaatnya bagi kehidupan ini.


Misalnya kupu-kupu yang membantu penyerbukan bunga, lebah yang menghasilkan madu dan beberapa jenis serangga lain yang memiliki peranan penting bagi ekosistem ini. yaitu sebagai Dekomposer.

Serangga sebagai Dekomposer

Seperti halnya anak-anak, sebagai orang tua saya pun baru mengenal istilah dekomposer ini ketika berkunjung ke Dunia Serangga. Dekomposer atau bisa juga disebut sebagai detritivor atau pemakan bangkai. Serangga berperan sebagai dekomposer karena mereka memakan organisme mati dan atau limbah dari organisme lain. Peranan dekomposer ini sangat membantu ekosistem mendapatkan kembali siklus nutrisi dari penguraian bangkai atau limbah-limbah tersebut.

Sistem kerja dekomposer ini dengan memakan atau menguraikan bahan organik untuk kemudian mengubahnya kembali menjadi abentuk anorganik mereka. Misalnya fosfat, amonium dan karbondioksida yang terkandung dalam bangkai atau limbah.


Pengetahuan seperti ini sebenarnya lebih menarik jika dipaparkan pada anak yang sudah lebih besar. Mungkin anak usia SD kelas 3 atau di atasnya  sudah lebih mudah memahaminya. Tapi, dengan penjelasan yang dipermudah, disertai contoh riil hasil kreasi orang tua. Bukan tidak mungkin untuk si pra sekolah dapat memahaminya. setuju, kan?

Menjelang ashar, kami pun mengakhiri acara edutrip kali ini dengan destinasi terakhir Anjungan Jakarta. Karena Najwa ada rencana mengikuti lomba Tari Ondel-ondel pada akhir bulan Oktober ini, maka kami sempatkan mampir sebentar untuk melihat situasi panggung sebagai bekal berlatih di sekolah.

Capek, panas, tapi tak sedikit pun terlihat sebal atau bosan di wajah anak-anak. Kami pun kembali menerjang kemacetan Jakarta dengan membawa segudang manfaat bagi seluruh anggota keluarga. Selain me-refresh semangat, acar jalan-jalan di akhir pekan adalah pilihan tepat untuk memaparkan anak pada pengalaman nyata berdasarkan aneka teori yang sering mereka dengar. Kegiatan seperti ini pastinya akan jadi pengalaman yang mengkristalkan untuk mereka. Benar, kan?















Piknik Ala DuoNaj #3 - From Sky World to Bird Park

|



Edutrip ke Taman Mini sepertinya nggak ada bosannya buat kami sekeluarga. Selain area TMII yang luas dan tidak bisa dituntaskan hanya dengan satu atau dua kali datang. Hadirnya beberapa wahana baru semakin menarik untuk dikunjungi lagi dan lagi. Begitu pun yang saya dan keluarga alami akhir-akhir ini. Setidaknya selama tahun 2017 saja, kami sudah 2 kali ke TMII. 


Sekitar awal tahun lalu, kami sengaja datang untuk melakukan edutrip ke Museum Air Tawar, Museum Serangga, dan Anjungan Provinsi Bali. Nah, pada akhir bulan April yang lalu, kami berkunjung ke Taman Burung. Berhubung anak-anak saya memang sangat suka diajak ke tempat rekreasi semacam kebun binatang. Jadi berkunjung ke Taman Burung bukanlah hal yang membosankan, meskipun sudah beberapa kali dilakukan.


Pagi sekitar pukul 07.00, kami berangkat menuju TMII dengan bekal satu tas ransel. Di dalamnya sudah lengkap mulai camilan, minum hingga makan siang. Memang sudah direncanakan bahwa nanti kami akan makan di sebelah miniatur kepulauan Indonesia. Jadi, bekal ayam bakar dan lalapan pun saya siapkan sejak malam hari sebelum berangkat.


Sengaja berangkat agak pagi agar kami dapat mengunjungi beberapa wahana sekaligus. Selain itu, pada saat kami berkunjung, ternyata bertepatan dengan perayaan ultah TMII. Jadilah harapan kami untuk mendapatkan tempat yang tidak terlalu ramai, justru malah sebaliknya, full pengunjung.

 Naik Skylift (lagi)





Sesampainya di TMII, suami  langsung mengajak naik Skylift. Sebenarnya saya dan anak-anak menolak. Karena masih pagi, kami lebih memilih jalan kaki dulu menuju Taman Burung, yang bisa dibilang areanya masih sangat jauh dari pintu gerbang utama. Tapi, dengan pertimbangan antrian belum padat, suami memaksa tetap naik Skylift dulu. Ya sudahlah, akhirnya kami ho oh saja. Daripada si ayah ngambek, bisa berabe tuh kalau ATMnya disimpen rapat, hehe …





Benar saja,  loket Skylift masih sangat sepi. Kami tak perlu mengantri bahkan untuk memilih gerbong berwarna pink yang Najwa inginkan.  Meskipun bukan kali pertama, bahkan entah sudah berapa kali. Ternyata suami masih saja ngeri. Saat Skylift mulai  meluncur ke udara, tak habis-habis dia berdoa, wajahnya pun nampak tegang. “Oalah, Yah, Ayah. Orang Ayah aja takut, ngapain ngajak kita-kita?” celetukan Najwa kontan saja membuat kami tertawa kompak. Hahaha ...


Selesai tes nyali di Skylift, kami langsung berjalan kembali ke arah Taman Burung. Meskipun masih pagi, panasnya sudah sangat menyengat. Anak-anak pun mulai rewel minta gendong kami berdua. Sedangkan trem yang kami harapkan bisa mengantar sampai lokasi yang diinginkan, tak juga muncul bersama gerbong terbukanya.


Di luar perkiraan kami, ternyata wahana Sky World yang beberapa waktu lalu Najwa pelajari melalui Majalah Bobo terletak tidak  jauh dari statsiun Skylift. Saya dan Najwa sudah pasti sangat tertarik untuk ke sana. Tapi, kami perlu persetujuan anggota edutrip yang lain. Yaitu Mbah Uti, Ayah dan Najib yang sepertinya sudah mulai ngantuk.


Untungnya semua mengiyakan. Maka kami pun bergegas membeli tiket yang harganya lumayan mahal juga. Hem … Semakin penasaran apa saja fasilitas yang ditawarkan di dalamnya. Oh ya, Sky World ini masih dalam tahap renovasi ya, Temans. Jadi memang masih belum full fasilitasnya. Hanya saja ada satu wahana yang benar-benar menarik untuk dikunjungi kembali. DuoNaj saja girang nggak karuan, apalagi ibu bapaknya, hihihi …



Mampir ke Sky World.




Begitu masuk pintu yang didesain seperti pintu pesawat luar angkasa. Kami langsung disambut dengan replica baju astronot yang bisa dipakai untuk berfoto. Tapi kami sengaja melewatkan yang satu ini. Dan langsung saja masuk untuk melihat apa saja yang dipamerkan di dalam. 


Ada berbagai foto peninggalan sejarah masa lalu. Kondisi alam, langit, dan kehidupan masyarakatnya, lengkap dengan penjelasan di setiap foto. Sayangnya, untuk DuoNaj hal ini masih terlalu “berat”. Sehingga mereka malah rewel saat dijelaskan. 


Akhirnya kami pun melewatkan beberapa hal menarik. Seperti gambaran kehidupan di Mars, mencoba teropong bintang, dan melihat berbagai penjelasan tentang susunan planet di tata surya. Segera kami menuju ruang tempat dipamerkannya replika roket, satelit dan baju-baju astronot.






Tak lama di ruang tempat replika roket, satelit dan pakaian astronot. Kami pun bergegas ke area replika Indo Trek. Kami pun berfoto ala-ala pemain Star-Trek. Sayangnya nggak bisa lama, karena sekarang giliran Najwa yang rewel pengen segera menonton gambar 5 Dimensi. Padahal, dalam hati kami agak khawatir mereka histeris. Karena beberapa anak sudah menangis dan minta keluar dari ruang pertunjukan.



Seru dan Mendebarkan, DuoNaj Ketagihan ke Bioskop 5 Dimensi


Tiba giliran kami untuk masuk ke bioskop 5 dimensi. Kali ini Mbah Uti menolak untuk ikut bersama kami. Agak khawatir goncangan dan teriakan di dalam menyebabkan vertigonya kambuh kembali. Maka Mbah Uti lebih memilih duduk di sebelah kolam renang anak sambil menikmati camilan dan minuman yang kami bawa dari rumah.



Di dalam bioskop, kami segera mengatur strategi agar ketika DuoNaj rewel lebih mudah untuk membawanya keluar. 4 Kursi paling belakang dan dekat pintu keluarlah yang menjadi pilihannya.  Maka segera setelah duduk dan mengikat diri ke kursi, kami pun memakai kacamata 5 dimensi dan siap bertualang.


Perjalanan fantasi ala luar angkasa kali ini memang sangat mendebarkan. Menarik, sekaligus menantang dan mengasyikkan. Beberapa kali kami dikejutkan dengan atraksi jatuh dari pesawat, tabrakan dengan kereta, melewati kawah panas, dan masih banyak lagi yang membuat kami berteriak dengan kompak bersama belasan pengunjung yang lainnya. Di luar dugaan kami, ternyata DuoNaj sangat menikmatinya, bahkan nggak mau diajak keluar. 


Wahana Sky World ini lumayan lengkap juga. Selain wisata luar angkasa yang menjadi daya tarik utamanya. Di bagian lain terdapat simulasi luar angkasa, kiddie pool, dan beberapa arena bermain yang lain.  Karena waktu yang terbatas untuk segera menuju Taman Burung. Maka kami pun tak sempat menyambanginya satu-persatu. Jadilah rencana ke Sky World tahap 2 sudah ada dalam agenda edutrip keluarga.


Setelah istirahat dan puas berfoto-foto di sana, kami pun melanjutkan perjalanan menuju Taman Burung yamg sebenarnya menjadi destinasi utama.


Makan Siang di Pinggir Danau


Berjalan menyusuri anjungan Aceh yang terletak berseberangan dengan Sky World. Membawa kami ke danau buatan dan replika kepulauan Indonesia. Kami pun tak mau melewatkan untuk makan siang di sana. Setelah menyewa tikar, kami  bersiap membuka ransel dan mengeluarkan lalapan dan sambal terasi sebagai pendamping ayam bakar. 




Rupanya bukan orang tua saja yang kelaparan. DuoNaj dengan lahapnya menghabiskan dua bungkus nasi jatah mereka tanpa banyak bicara. “Enak banget, kapan-kapan kita maem di sini lagi ya.?” Begitu kata Najwa diikuti anggukan dari adiknya.


Bercengkrama dengan Kakak Tua






Masih lumayan jauh jarak yang harus kami tempuh menuju Taman Burung. Dan rupanya kami memang sedang tidak berjodoh dengan trem keliling. Jadilah kami berjalan sampai di pintu masuk taman. Segera kami membeli tiket yang ternyata sedang ada program diskon. Beli 1 bisa dipakai untuk 2 pengunjung. Lumayan banget pokoknya.  




Karena edutrip ini sudah direncanakan sejak beberapa hari sebelumnya. Jadilah saya dan suami sudah banyak membahas burung dan segala macamnya dengan anak-anak. Cara ini sangat efektif untuk menarik minat mereka, dan memberikan kesan yang mendalam sebagai salah satu bentuk memasukkan materi melalui pengalaman nyata.




DuoNaj begitu terkesan dengan Kakak Tua Jambul Kuning yang terus-terusan menirukan suara mereka. Atau burung Merak yang sukses mematok hp ayahnya hingga jatuh ke tanah. Belum lagi seekor Elang yang dengan sigap melarikan diri saat hendak diajak berfoto oleh Najib. Dan masih banyak lagi yang membuat mereka berdua terkagum-kagum dengan kehidupan yang selama ini mereka tonton dari layar kaca.  Di rumah, kami memang lebih sering menonton Animal Planet ketimbang ratusan channel lainnya.


Edutrip Sebagai Sarana Belajar dalam Dunia Nyata




Momen edutrip ke Taman Burung bukan hanya untuk bersenang-senang, refreshing bagi kami orang tua. Tapi juga menjadi sarana edukasi dalam kehidupan nyata. Di situ kami berkesempatan menjelaskan betapa besarnya Kuasa Allah dengan segala penciptaannya


Dari contoh burung saja, DuoNaj sudah bisa ditunjukkan betapa Allah menciptakan segala hal dengan penuh kesempurnaan. Aneka burung dengan berbagai warna, bentuk paruh dan kaki dan kelebihannya. Tak ubahnya manusia dengan segala kelebihan yang seharusnya disadari dan memberikan keistimewaan pada dirinya.


Kami juga berkesempatan menjelaskan berbagai tingkah burung yang seolah merasa terkekang dalam sangkarnya. Bahwa seharusnya burung-burung tersebut hidup dan terbang bebas di angkasa. Namun karena harus menjaga keselamatannya dari pemburu. Dan untuk kepentingan lain semisal penelitian atau pendidikan. Maka burung-burung ini harus menderita di dalam sangkar.


Kesempatan ini kami manfaatkan untuk mengajarkan pada anak-anak untuk mencintai,merawat dan melindungi sesama ciptaan Allah. Menyedihkan bukan, jika ketika mereka dewasa nanti jumlahnya semakin berkurang? Anak-anak harus dijelaskan sedini mungkin betapa pentingnya mencintai dan melindungi sesamanya.


Setelah kelelahan mengelilingi 2 kubah raksasa, kami pun memutuskan untuk mengakhiri edutrip kali ini. Menumpang trem yang kebetulan lewat di depan Taman Burung, kami segera saja naik bersama beberapa pengunjung lain untuk menuju pintu depan TMII.


Capek berat, tapi terbayar lunas dengan antusiasme dan wajah ceria anak-anak.  Kami pun pulang dan menantikan jadwal ke TMII selanjutnya. 


Oh ya, di bagian akhir ini saya tambahkan info harga tiket masuknya ya.


-          Tiket masuk TMII Rp. 10.000,-/orang

-          Tiket Skylift Rp.40.000,-/orang (balita 3 tahun ke atas).

-          Tiket masuk Sky World Rp.60.000,-/orang

-          Tiket masuk Taman Burung Rp.10.000,-/orang (balita 3 tahun ke atas).

-          Tiket term Rp.10.000/orang untuk tiga kali naik term yang berbeda (balita 3 tahun ke atas).


Nah, kalau Temans. Wahana apa yang pernah dikunjungi di TMII? Share yuk, biar jadi rekomendasi tambahan buat DuoNaj.  


















Piknik Ala DuoNaj #2 - Outing Class di Kebun Wisata Pasirmukti

|
Halo,Temans! Sudah hampir 2 minggu sejak postingan Piknik Ala DuoNaj #1. Sekarang saatnya BukNaj lanjut lagi dengan #2. Nah, kali ini BukNaj ingin berbagi cerita tentang outing class di sekolah Najwa, yang dilakukan sekitar pertengahan bulan ini. Tepatnya tanggal 12 April 2017, pas hari Rabu menjelang long weekend peringatan Paskah yang lalu.


Tahun lalu, saat Najwa masih duduk di bangku kelas A, Sekolah Al Faizin juga melakukan rihlah serupa. Tapi pada waktu itu acaranya rekreasi ke Taman Safari Bogor. Kali ini, sekolah mengambil konsep yang berbeda, maka outbond menjadi pilihannya.


Pagi-pagi, sekitar pukul 07.00, BukNaj bersama duo mautnya, yaitu Najwa dan Najib, plus Mbah Uti Mama yang kebetulan lagi holiday di Jakarta. Berangkat menuju tempat berkumpul yang sudah ditentukan pihak sekolah. Kami pun tidak terlalu tergesa, karena sudah sejak pagi mempersiapkan perlengkapan yang butuh untuk dibawa.


Sesampainya di tempat berkumpul, saya langsung absen dan mengambil jatah goodie bag. Sedangkan DuoNaj dan Utinya hanya menunggu di dekat bis 2, di mana kami mendapatkan jatah tempat duduk untuk berempat.


Si Najib yang memang kepengen banget naik bis, sudah tak sabar untuk segera masuk dan menuju tempat duduknya. Sudah agak lama sejak Najib selalu bilang, “Naik bis Buk, naik, bis.” Begitu katanya tiap kali melihat gambar bis di buku atau di TV.


Tepat pukul 07.30, bis pun melaju menuju Kota Hujan. Oh ya, lokasi outbond kali ini di Kebun Wisata Pasirmukti, yang terletak di desa Pasirmukti, Citeurep, Bogor. 


Selama perjalanan, baik Najib, Najwa maupun anak-anak lainnya. Mereka sangat excited dengan suara klakson bis yang fenomenal itu. Berkali-kali mereka bilang, “Om tolelot, Om…”  Persis riuhnya suasana jalan raya setahun yang lalu,  saat kami dalam perjalanan mudik ke Magetan.

Satu Setengah jam Kemudian ...



 

Sekitar 1 jam 30 menit, kami sampai di lokasi yang dituju. Areanya sangat luas, hijau, tapi udaranya tidak terasa dingin, meskipun terletak di daerah Bogor dan dekat dengan pegunungan.


Anak-anak segera menuju tempat yang disediakan untuk beristirahat dan mendapatkan pengarahan dari pemandu outbond. Kami pun disambut dengan snack dan welcome drink yang berupa sirup markisa, yang buahnya diambil dari kebun buah di Pasirmukti. Sedangkan Teh Manis hangat disediakan bagi yang kurang suka minuman dingin.


Sekitar 30 menit beristirahat sambil mendengarkan pengarahan dari Kakak-kakak pemandu . Sebagian orang tua pun memanfaatkannya untuk membuka potluck untuk  sarapan kedua, pergi ke kamar mandi, atau sekedar berjalan keliling untuk melihat lokasinya seperti yang saya lakukan.


Awalnya saya agak khawatir, karena beberapa area sangat licin dan berlumpur. Bukan takut anak-anak kotor, tapi saya khawatir mereka terpeleset. Di area kamar mandi pun sama halnya, sangat licin dan berlumut di beberapa tempat. 



Kesenangan Pun, Dimulai 


Tepat pukul 09.30, kegiatan pun dimulai. Anak-anak dibagi menjadi 2 kelompok, putra dan putri. Karena Najib saya daftarkan untuk mengikuti seluruh kegiatan outbond. Maka Najwa dan Najib berada dalam dua kelompok yang berbeda. Saya sih, oke-oke saja. Sampai setelah permainan yang pertama, saya baru sadar harusnya bilang, “tidak”. Pengen tahu kan, kenapa harusnya saya bilang tidak? Saya lanjut dulu ceritanya.


Permainan pertama untuk kelompok putra adalah menghias topi  bambu atau biasa disebut "Capil" Anak-anak tentu saja senang, meskipun menggambar di Capil tak semudah yang mereka bayangkan. Hasilnya? Mayoritas dari mereka membuat lukisan abstrak tak beraturan. Khas anak-anak.


Begitu pun halnya dengan Najib, dia malah mencampur semua warna yang disediakan. Hahaha … Ya namanya juga bocil 2 tahunan. Saya biarkan saja agar dia berkreasi sesukanya.







Di tengah permainan, saya tinggalkan Najib sebentar untuk melihat Najwa. Saya naik tangga berbatu, melewati kolam ikan yang super licin, melewati taman dan menyeberang lewat jembatan batu. Dan saya capek super sesampainya di lokasi tempat permainan Najwa, yaitu menangkap ikan. Bahkan saya terlewat karena saking jauhnya, sehingga tak bisa mengambil gambar.



Dalam bayangan saya, lokasi antara satu permainan dan yang lainnya tidak sejauh ini. Sehingga saya bisa kesana dan kemari untuk mengambil gambar keduanya. OMG! Ternyata alamak jauhnya. Saya langsung kebayang betapa capeknya anak-anak nanti. Dan inilah yang menjadi alasan bagi saya, seharusnya saya bilang “tidak” saat DuoNaj dipisah dalam dua kelompok yang berbeda. Karena bisa bengkak kaki Emak.


Kegiatan terus berlanjut, dan lokasi keduanya selalu berjauhan. Saya sampai lelah, dan terbayang anak-anak pun sangat lelah. Area outbond Pasirmukti memang sangat luas, tapi saya tidak membayangkan mereka akan mengatur lokasi permainan terlalu berjauhan satu dan yang lainnya. Kalau anak-anak SMA sih mungkin oke-oke saja. Lah, kalau anak TK ya lumayan banget capeknya.


Oh ya, berikut ini kegiatan yang diikuti anak-anak:

1. MelukisC

2. Menangkap ikan

3. Menanam tanaman

4. Memberi makan bebek

5. Memetik sayur

6. Menyiram tanaman

7. Membajak sawah

8. Menanam padi

9. Memberi makan kelinci







Untuk usia anak-anak, permainan yang ditawarkan menurut saya terlalu banyak. Mengapa? Karena lokasinya yang terlalu berjauhan dan medan yang tidak mudah. Naik turun tangga berbatu dan curam, melewati tanah licin dan berlumpur, dan waktunya sudah terlalu siang. Sehingga panasnya sangat menyengat.


Beberapa permainan juga tidak memenuhi ekspektasi kami. Saya dan anak-anak maksudnya. Karena sebelum outbond, terlebih dulu saya membuka website Pasirmukti. Dan sepertinya, kami terlalu tinggi ber-ekspektasi.


Misalnya, saat memberi makan kelinci. Dalam bayangan kami, kelinci-kelinci itu dilepas dalam kandang besar sehingga anak-anak bisa melihat kelinci berlarian dalam jumlah banyak. Ternyata, kelinci hanya ditempatkan dalam kandang kecil dan berjumlah beberapa ekor saja. Itu pun banyak yang tidur sehingga tidak ada interaksi dengan pengunjung.


Kami juga membayangkan akan memberi susu anak kambing. Tapi ternyata kambing yang ada dilepas bebas dan jumlahnya hanya beberapa. Sehingga susah bagi anak-anak untuk memegangnya. 


Karena berkejaran dengan waktu, setiap permainan pun dilakukan dengan tergesa. Ya,karena untuk mencapai lokasi yang lainnya juga tidak sebentar. Dan setiap sampai di satu lokasi, anak-anak butuh istirahat untuk minum dan melemaskan otot-otot kaki. Menurut saya sih, anak hanya melakukan permainan, tapi kurang mendapatkan muatan pesan moral di dalamnya.


Overall, anak-anak senang meskipun ada beberapa permainan yang tidak semua anak mau melakukannya. Capek? Sudah pastilah. Tapi begitu masuk di permainan menanam padi, saya rasa semua rasa lelah itu hilang seketika. Karena memang sangat menyenangkan.


Oh ya, kebetulan TK Al Faizin mendapatkan jatah waktu menanam padi bersamaan dengan Sekolah Internasional Perancis. Sehingga area menanam sangat penuh dan ramai saat itu.

Bagi DuoNaj, khususnya Najib. Permainan membajak sawah merupakan favoritnya. Sedangkan Najwa, menanam padi yang paling disukainya.





Mari Pulang Marilah Pulang


Kami pun pulang ke Jakarta dengan sangat lelah, meskipun tak menyurutkan semangat anak-anak untuk terus bernyanyi selama perjalanan. Sedikit terlambat sampai di rumah, karena terjebak macet di daerah Jatinegara. Tapi, tepat pukul 17.30, kami pun kembali menginjakkan kaki di Rumah Matahari. Rumah tempat Najwa dan Najib membesarkan seluruh mimpi-mimpinya.


Nah, Temans! Apa cerita jalan-jalan kalian bulan ini? Sharing, Yuk. Buat tambahan referensi.




Custom Post Signature

Custom Post Signature