Parenting Story, Mom's Life, Tips

Tips Optimasi Blog (Bagian 1) - Design

|


Desain blog
Pixabay.com


Haluuu, tau-tau udah tanggal 10 aja, ya. Sudah sepertiga hari berjalan di bulan Oktober. Semangat belum kendor, kan? meskipun sudah menuju tanggal tua lagi, hihihi. Nah, daripada mulai dag-dig-dug menghadapi tanggal tua lagi, kita ngomongi optimasi blog aja kali ini. Ya, sapa tau blog-nya bisa jadi sumber penghasilan yang kedua. Lumayan banget, kan? Nggak perlu nunggu tanggal gajian, tapi ada aja pemasukan dari sumber yang lain.

Nah,  mengoptimasi blog sebagai salah satu sumber penghasilan, atau biasa disebut monetizing blog, rupanya bukan hal yang mudah, loh. Ada beberapa hal yang sebaiknya menjadi perhatian teman-teman blogger. Tentu saja hal ini bertujuan untuk menjaga eksistensi atau performa blog yang terus berkelanjutan di masa depan.

Nggak mau, kan, kalau ngeblog cuma buat ikut-ikutan aja.  Saya yakin semua blogger kepengen jadiin blognya sebagai’rumah kedua’. Nggak sekedar buat curhat, tapi juga sharing pengalaman, bermanfaat atauberbagi informasi dan mendokumentasikan kisah perjalanan hidup atau karya yang pernah dibuat. Akur?  *akurinajabiarcepet

Bicara soal optimasi blog, pastinya juga teman-teman sudah tahu bahwa ada banyak komponen untuk mendukungnya menjadi blog yang searchable dan readable. Hal-hal seperti desain blog dan konten menurut saya merupakan dua hal utama dan mendasar yang harus diperhatikan oleh seorang blogger, apalagi pemula seperti saya. Nggak usah deh ngomongin DA/PA dulu, udah konsisten nulis aja bagi saya udah TOP! Tapi, gak ada salahnya ya, kita perhatikan  sesuatu yang bisa  bikin pembaca betah di blog kita.


So, kali ini kita ngomongin tentang desain blog dulu aja, ya. Sesuatu yang pertama kali dilihat pengunjung, tapi memiliki efek besar terhadap kenyamanan mereka untuk berlama-lama atau bahkan kembali lagi ke blog.



desain blog

 


Bicara tentang desain blog, saya berkesempatan mendapatkan ilmunya secara khusus dari Mbak Sintaries, founder Blogger Perempuan Network pada acara Blog Coaching Clinic yang diselenggarakan free untuk member BP Network pada tanggal 2 September lalu. Duh, jadi malu. Kayaknya udah basi banget tapi baru di-share di blog post. Hehehe *tutupmuka. 

Nggak pa pa, ya, yang penting ilmunya nggak basi, kok. Karena jujur, saya sendiri yang hampir 1 tahun aktif ngeblog, baru deh tahu info yanf seperti ini.

Lanjut lagi soal desain blog, ya. Waktu itu Mbak Shinta bilang bahwa desain blog sebaiknya memerhatikan beberapa poin.

1. Orientasi pembaca
2. Orientasi  google
3. Menurunkan Bounce Rate
4. Memperpanjang time on site
5. Branding

Berikut adalah penjelasan untuk setiap poin-poin di atas.


Desain Blog
Pixabay.com


Orientasi Pembaca dan orientasi Google

Setiap blogger pasti punya orientais pembaca masing-masing sesuai dengan niche blog yang dipilih. Kalau saya pribadi dengan blog damaraisyah.com cenderung membidik segmentasi ibu-ibu muda dan produktif, dengan range usia antara 25-40 tahun. 

Tema parenting yang saya bungkus dalam daily activity dan traveling, rupanya mulai menjadi ciri khas tulisan-tulisan saya yang sebagian besar berdasarkan pengalaman pribadi momong dua bocah.

Untuk itu saya memilih desain blog yang minimalis, modern tapi tetap menunjukkan unsur ibu muda saya dengan pemilihan warna watercolor pink di bagian header blog. Ciyehh, ibu muda katanya, hihihi. Untuk background sendiri saya memilih warna putih yang cenderung bersih, dengan font hitam sehingga mudah dibaca. 

Usahakan memilih template yang responsive sehingga mudah di-detect oleh mesin pencari. Dan ini merupakan salah satu solusi agar desain kita memenuhi orientasi  google.

Bersyukurlah Teman-teman yang memiliki blog berplatform Wordpress karena pilihan templatenya sangat beragam, baik gratisan maupun berbayar, lengkap dengan aneka plugin yang bisa dimaksimalkan sesuai kebutuhan masing-masing. 

Saya sendiri sebagai pengguna platform Blogger atau Blogspot, awalnya sempat merasa terlalu terbatas. Namun kemudian saya putuskan membeli template berbayar yang memenuhi kriteria saya. Jika tertarik, Teman-teman bisa mencoba berbelanja di Etsy Shop. Banyak sekali pilihannya dengan harga yang relati terjangkau untuk pemula.

Berikut adalah kunci dalam memilih desain agar memenuhi criteria optimasi pembaca dan Google

  • Clean atau bersih, dengan background warna terang. Kalau bisa, sih, 80% white space
  • Font yang mudah terbaca dan berwarna gelap
  • Responsif atau fast loading
  • Mobile friendly karena sekarang pembaca lebih familiar dengan smartphone untuk membaca
  • Konten di sebelah kiri, side bar di sebelah kanan
  • Hindari musik atau animasi bergerak sebagai latar,  misalnya salju bertaburan diiringi dengan musik.
  • Jangan lupa mencantumkan profile blogger, link social media dan Home, Disclosure serta kriteria postingan. Terutama untuk blog yang ingin di-monetize.


Desain Blog
Pixabay.com


Bounce rate dan Time on site

Untuk bouce rate sendiri  Teman-teman bisa cek di Google Analytics. So, kalian harus pasang GA dulu di blog-nya, barulah bisa cek berapa bounce rate-nya. Patokannya semakin rendah bounce rate, maka semakin baik performa blog. Adapun kisaran rendanya sesuai yang saya tangkap dari penjelasan Kak Shinta, antara 20%-80%. Jika di bawah 20% , kemungkinan ada masalah dengan GA blog kita.

Oh ya, semakin lama pengunjung membaca blog kita dapat berimbas juga pada penurunan prosentase bounce rate. Google sendiri pun menyukai  blog yang memiliki time on site panjang. Untuk itu, blogger harus berusaha membuat pembacanya nyaman. Selain pilihan desain seperti yang sudah saya sebutkan tadi, pastikan konten kita berkualitas. Pada postingan selanjutnya saya akan membahas tentang konten ini.



Desain Blog
Pixabay.com


Branding

Blog  bisa menjadi branding pemiliknya. Begitu pula dengan desain yang dipilih, biasanya mencerminkan karakteristik pemiliknya.  Untuk mem-branding diri melalui blog, beberapa hal berikut ini bisa Teman-teman jadikan acuan:

1. Nama domain adalah nama brand 

Nama domain adalah nama brand. Misal kita membuat blog tentang suatu organisasi, maka nama organisasi sebaiknya dijadikan sebagai nama domain. Untuk personal blog, menggunakan nama pemilik blog sebagai nama domain sepertinya jauh lebih mudah untuk mem-branding diri. 

Tapi, pastikan nama domain hanya terdiri dari maksimal 2 kata, mudah diketik atau diingat, bukan keyword. Setelah nama domain dipilih, usahakan sama atau minimal mirip dengan username  social media pendukung  agar mudah dikenali.

2. Template dan desain blog  
 Template dan desain blog yang khas seperti yang saya sebutkan tadi. Misal, kalau saya memasukkan warna pink dengan font kecil-kecil. Semacam mewakili saya yang girly dan imut-imut *dititimpukpembaca

3. Blog bertema 
Blog bertema atau memiliki niche khusus. Sebenarnya blog seperti ini yang disukai Google, tapi saya pribadi masih susah menghalau godaan nulis tentang lipen dan buku di blog parenting saya. Jadilah lifestyle.

4. Apa adanya dan jadi diri sendiri.

Fiyuh! Selesai juga akhirnya. Saya akui banyak hal yang selama ini saya anggap sepele ternyata sangat memengaruhi performa blog. Itulah mengapa banyak sharing dengan sesama blogger sangat membantu pemula seperti saya. 

Desain blog adalah satu komponen yang pertama kali dilihat oleh pembaca. Oleh sebab itu, memberikan sedikit perhatian dan waktu untuk kembali mengutak-atiknya, saya rasa perlu dilakukan. Memang lumayan wasting time, sih, karena sebenarnya banyak hal menyenangkan dalam mengutak-atik desain blog itu sendiri.

Kalau Teman-teman gimana? Sudah menyediakan waktu untuk utak-atik desain blognya?



Tulisan ini diikutsertakan pada tantangan One Day One Post Oktober 2017 Blogger Muslimah Indonesia.

#ODOPOKT7






5 Manfaat Traveling untuk Anak-anak

|



Traveling dengan anak-anak


Traveling atau jalan-jalan, salah satu aktivitas yang kini mulai susah dipisahkan dari gaya hidup urban. Sumpek sedikit, katanya karena kurang jalan-jalan atau piknik. Sehingga rencana traveling secara berkala hampir pasti masuk ke agenda masing-masing individu atau keluarga.

Destinasi traveling pun bisa jadi beragam. Mulai dari perjalanan jauh ke luar kota, luar pulau bahkan luar negeri. Atau jalan-jalan dalam jarak dekat dalam rangka meng-explore obyek wisata di daerah masing-masing. 

Begitu pun halnya dengan tujuan traveling yang sudah pasti berbeda juga.  Mulai silaturahim dengan sahabat atau keluarga besar, sekedar melepas penat, mencari tantangan baru atau dalam rangka edutrip bersama anak-anak.

Saya dan keluarga termasuk yang suka beralasan, sumpek karena kurang piknik, hehehe. Untuk itu kami berusaha untuk selalu menyisihkan budget traveling bersama anak-anak.  Selain pulang kampung di hari raya, kami mengupayakan pulang kampung kedua ketika libur akhir tahun tiba. Atau jika ada kesempatan, maka berkunjung ke rumah saudara atau teman di luar kota bisa jadi pilihan.

Traveling dengan ank-anak
Taman Suropati, salah satu destinasi jalan-jalan gratis di Jakarta.

Selain itu, edutrip di berbagai obyek wisata di Jakarta yang tak terhitung jumlahnya menjadi agenda bulanan yang sedang  kami rutinkan. Ya, tentu saja memang harus direncanakan dengan seksama. Karena selain faktor waktu, sudah pasti ketersediaan dana menjadi penentunya.


Saya bersyukur tinggal di Jakarta yang memang dirancang dengan berbagai fasilitas dan obyek wisata untuk meng-entertain warganya. Begitu pun halnya dengan alat transportasi publik yang sangat banyak jumlahnya, lebih-lebih sangat terjangkau dari segi biaya. 

Saya kembali bersyukur karena tinggal di daerah yang mudah mengakses aneka alat tranportasi public yang menjadi andalan Jakarta. Sebut saja mau ke Monas, maka commuter line siap mengantarkan kami sampai tempat tujuan dengan biaya 3 ribu perak dari stasiun dekat rumah hingga stasiun Juanda. Atau katakanlah ingin ke Bogor biar bisa dibilang jalan-jalan ke ke luar kota, padahal cuma tetangga. Maka lagi-lagi tak sampai 10 ribu kami sudah bisa menjejakkan kaki di Kota Hujan ini.

Ya, warga ibukota memang sangat terbantu dengan adanya commuter line dan Trans Jakarta. Dengan tarif yang sangat terjangkau, maka kami bisa dengan mudah bepergian ke sutau tempat. Begitu pun halnya dengan aneka obyek wisata yang tersedia. Mulai yang kelas atas atau bertarif mahal, hingga yang gratisan, semuanya ada. 


Fasilitas kota yang seperti ini sayang jika dilewatkan begitu saja. Karena itulah kami rajin menyusun destinasi traveling atau jalan-jalan di akhir pekan atau saat liburan. Biasanya, kami pun memilih tempat-tempat yang ramah anak, dan memungkinkan untuk dijadikan model jalan-jalan bertema family edutrip. Sehingga anak-anak tidak hanya me-refresh suasana, tapi juga menambah pengetahuan sebagai oleh-olehnya.

Traveling dengan anak-anak
Menyaksikan pertunjukan Air Force Show di Halim P.K. Jalan-jalan murah namun banyak manfaat.


Jalan-jalan ke luar negeri masih menjadi salah satu wishlist keluarga kami. Bukan sekedar untuk gengsi, tapi kami yakin bahwa pengalaman bersinggungan langsung dengan orang asing akan memudahkan anak-anak melihat budaya dan tradisi dari penduduk suatu bangsa. Selain itu, kami berharap jika suatu saat dapat menjejakkan kaki ke belahan benua lain. Anak-anak akan mendapatlan berikan perspektif baru tentang model kehidupan, bagaimana orang asing bertahan, dan menunjukkan alternatif profesi di dunia.

Dewasa ini, jalan-jalan sudah tidak lagi melihat usia. Sering saya menemui bayi-bayi berusia mingguan sudah mejeng cantik bersama orang tuanya. Beberapa orang mungkin menganggap hal seperti ini masih tidak biasa. Tapi kenyataannya banyak orang tua yang berhasil melakukannya, dan baik-baik saja. 

Memang, hal seperti ini  tidak bisa dilakukan dengan sembarangan. Butuh kesiapan ekstra, terlebih bagi orang tua. Sehingga tak perlu memaksakan diri atau ikut-ikutan hanya karena alasan biar kekinian.

Kabar gembiranya, traveling memberikan banyak manfaat bagi anak-anak. Eh, bukan hanya anak-anak, tapi buat bayi juga. Nah,  beberapa di antaranya ada di bawah ini.

1. Traveling membantu anak-anak menjadi lebih mudah  beradaptasi dan fleksibel.

Traveling dengan anak-anak
Parent Magazine

Mengajak anak-anak mengunjungi berbagai tempat baru membuat mereka melihat banyak hal ‘normal’ baru. Ya, sesuatu yang seharusnya dianggap ‘normal’ tapi terasa baru bagi mereka. Menghadapi hal semacam ini, anak akan terlatih untuk lebih mudah beradaptasi dengan suasana dan situasi di lingkungan baru. Begitu pun halnya lebih fleksibel dengan budaya dan tradisi di tempat tujuan.

Kemampuan untuk beradapatasi dan fleksibel dengan situasi yang harus dihadapi membuat anak lebih mudah masuk ke lingkungan mana saja. Hal ini juga membuat mereka lebih cepat nyaman dan enggak rewel di tempat baru



2. Traveling memberikan pengalaman nyata, bahwa memiliki kemampuan menggunakan berbagai bahasa adalah hal yang menyenangkan.

Sungguh beruntung bagi orang tua yang dapat memberikan pengalaman traveling ke luar negeri bagi anak-anaknya. Karena secara tidak langsung memberikan kesempatan bagi anak untuk bersinggungan dengan bahasa lokal masyarakatnya. 

Tapi, pengalaman ini tak terbatas pada pengenalan bahasa internasional saja, ya. Karena Indonesia memiliki beragam bahasa daerah yang masing-masing memiliki keunikan. Dan tak salah jika memaparkan anak pada bahasa-bahasa tersebut.

Suatu kali saat kami bepergian ke Bandung, Si Najwa excited sekali dengan orang-orang yang menggunakan Bahasa Sunda. Menurutnya hal semacam itu sangat unik, karena ketika pulang ke Jawa Timur bahasa yang digunakan akan berbeda lagi. Begitu pun halnya ketika bepergian ke daerah di Jakarta yang mayoritas penduduknya asli Betawi, Maka sesuatu yang ‘baru’ akan terdengar lagi di telinga mereka.


Traveling dengan anak-anak
Traveling to India


3. Traveling mengajarkan pada mereka, bahwa perbedaan adalah hal yang biasa.

Mengunjungi tempat-tempat baru, baik di dalam atau luar kota. Apalagi jika ke luar pulau atau keluar negeri. Anak akan menemui banyak perbedaan yang menarik perhatiannya. Tak hanya dari segi bahasa, makanan, budaya, tradisi hingga kondisi sosial ekonomi masyarakat serta lingkungan yang didatangi pasti berbeda.

Pengalaman ini sangat tepat untuk menanamkan pada diri anak, bahwa perbedaan adalah suatu hal yang lumrah. Tidak untuk diperdebatkan, tidak untuk dibeda-bedakan, karena kita sama sebagai makhluk ciptaan Tuhan.


 Perbedaan harus disikapi sebagai suatu keindahan. Sekaligus untuk menanamkan pada anak bahwa kuasa Tuhan sungguh tak terkira besarnya, sehingga mampu menciptakan makhluk dengan segala keunikannya.

4. Traveling mengajarkan anak untuk berani mencoba


Traveling dengan anak
Smart Travel


Memaparkan anak pada tempat baru, mau tak mau membuat anak harus menemui banyak hal baru. Misalnya, jika Teman-teman mengajaknya ke pedesaan, maka anak akan melihat kehidupan petani lengkap dengan sawah dan mungkin bajaknya. 

Pemandangan seperti ini bukan tak mungkin memicu rasa ingin tahu anak untuk mencoba apa yang dilihatnya. Ikut turun ke sawah, memetik sayur dan bermain lumpur akan sangat menyenangkan. Sekaligus memberikan pengalaman nyata tentang profesi petani yang selama ini hanya didengar melalui cerita.

5. Traveling dapat memantik rasa ingin tahu tentang  letak dan kondisi geografis suatu wilayah.


Traveling dengan anak


Kira-kira, apa reaksi anak-anak jika orang tua mengajaknya ke suatu tempat? Ya, pasti mereka bertanya di mana letaknya? Daerahnya seperti apa? Jauh nggak? Naik apa ke sananya? Dan lain sebagainya. 

Sudah beberapa kali kami mengalami ini dengan si kecil di rumah. Setiap kami mengajak mereka ke suatu tempat, selalu saja aneka pertanyaan itu muncul dari mulutnya, terutama Najwa yang sudah lebih besar.

Kami pun mau tak mau mencari informasi terlebih dahulu tentang tempat yang ingin dikunjungi. Dan ide suami untuk membeli atlas Indonesia saya kira sangat brilian. Sangat tepat untuk sekaligus menjelaskan wilayah Indonesia.

Kami pun tak segan menunjukkan di mana letaknya, bagaimana cuaca tempat yang akan dituju, kendaraan yang akan ditumpangi, makanan dan bahasa yang biasa digunakan. Ya, itung-itung geografi lagi, ya. Hehehe.

Meskipun melakukan perjalanan dengan anak-anak selalu menyenangkan dan tentu saja panen manfaat. Tapi kita tidak dapat mengingkari betapa merepotkan aktivitas seperti ini.  Selain butuh persiapan yang mendetil untuk memastikan keamaanan dan kenyamanannya,  dari segi budget pun tak bisa dibuat terlalu seadanya.

Traveling dwngan anak
The Odyseyoline


Untuk sementara, tinggalkan dulu mindset sempurna ala orang tua. Karena dunia anak-anak selalu penuh kejutan yang tak bisa disangka-sangka. Nikmati  dan berdamai dengan seluruh prosesnya. Kekacauan kecil di tengah acara bisa jadi pelajaran sekaligus kenangan yang melekat. Hingga suatu saat baik orang tua maupun anak hanya akan tertawa saat mengingatnya.


Menumbuhkan calon traveler baru memang bukan perkara mudah. Harus diakui, sangat menarik, menantang sekaligus melelahkan. Tapi percayalah, tak akan ada penyesalan ketika kelak mereka mampu memetik hikmah dari setiap perjalanan.


Kalau menurut pengalaman Teman-teman, apa sih manfaat traveling buat anak-anak? Share, yuk!




Tulisan ini diikutsertakan dalam tantangan One Day One Post Oktober 2017 Blogger Muslimah Indonesia.
#ODOPOKT6



[Resensi] Sirkus Pohon oleh Andrea Hirata

|

Ternyata, hidup ini indah bukan buatan. Kurasa mereka yang selalu mengatakan hidup ini sulitlah, sepilah, tak adillah, segala rupa keluhan, perlu mempertimbangkan profesi baru, sebagai BADUT SIRKUS.

 

Andrea Hirata


Sirkus Pohon, salah satu novel yang berhasil membuat saya duduk selama 6 jam untuk menyelesaikan seluruh bab di dalam buku setebal 383 halaman. Yah, saya tahu ini hal yang basa bagi sebagian orang. Tapi bagi saya ini adalah rekor berkelanjutan setelah sebelum-sebelumnya melakukan hal yang sama pada seri tetralogi Laskar Pelangi karangan Andrea juga.

Membaca buku Andrea, membuat saya tersihir dengan kata-kata. Mabuk, limbung dalam perasaan yang campur aduk dan emosi yang terus dimainkan melalui kisah-kisah pelakonnya. Semuanya terlalu nyata, dekat dan dapat dijumpai di sekitar kita. Begitu lihainya Andrea mengangkat drama kehidupan dan isu sosial yang berkembang di masyarakat. Membungkusnya dalam wujud fiksi yang mampu melambungkan imajinasi pembacanya


" Fiksi, cara terbaik menceritakan fakta." -Andrea Hirata

 


Seperti halnya buku-buku terdahulu Andrea, Novel Sirkus Pohon masih dilatari kehidupan Melayu lengkap dengan tradisi masyarakatnya. Pemberian nama julukan atau gelar  pada orang-orang yang memiliki kebiasaan tertentu. Atau atas pencapaian tertentu entah itu benar-benar bisa dianggap prestasi atau justru hal-hal yang memalukan. Nampaknya tetap menarik bagi Andrea untuk mewakili salah satu kebiasaan orang Melayu selain tentunya duduk berlama-lama di warung kopi sambil membicarakan isu di kampungnya.

Optimisme yang meledak-ledak, kekuatan cinta, kecerdasan yang terbelenggu oleh kemiskinan selalu menjadi ciri khas Andrea Hirata. Ya, 3 hal ini memang sangat manusiawi dan mampu mewakili realita masyarakat kita. Rakyat dari golongan menengah ke bawah, yang tersebar di pelosok-pelosok negeri ini.



Kali ini Andrea mengangkat lika-liku kehidupan sang tokoh sentral utama, Sobrinudin bin Sobirinudin, yang kemudian dipanggil Sobri dan segera berganti lagi m,enjadi 'Hob'. Kan, apa saya bilang? Orang Melayu dalam cerita Andrea selalu suka memberikan panggilan kepada siapa saja. Bahkan Sobri sendiri tak pernah tahu bagaimana asal mulanya nama 'Hob' bisa disandangnya.

Sobri. Miskin, putus sekolah, pengangguran hingga akhirnya harus berkawan dengan penjahat kelas teri di kampungnya. Hidupnya tak terarah, tak memiliki tujuan jangka panjang. Hingga akhirnya dia menemukan cinta dan kecintaan yang kemudian mengubah hidupnya secara keseluruhan.

"Bangun pagi, let's go ...", begitu semboyannya ketika dunia mulai ramah dan memberikan arti bagi kehidupannya. Dedikasi atas kecintaan baru, keinginan untuk memberikan kebanggaan bagi seorang ayah yang tak pernah mengeluh dan cita-cita akan cinta. Ketiganya bagaikan mantra yang membuatnya menjelma menjadi manusia baru.

Tegar dan Tara, dua tokoh sentral kedua. Dalam diri mereka, kita akan diajak bernostalgia dengan Arai.  Sang pecinta sejati, erat menggenggam mimpi-mimpinya, hampir tak pernah mengenal kata putus asa. Ya, Tegar dan Tara akan mengajarkan pada kita mengapa kemiskinan tak perlu ditangisi, perpisahan bukan untuk disesali, bahwa harapanlah yang akan terus menyalakan mimpi-mimpi.


Andrea Hirata


Tidak hanya dari tokoh sentralnya saja, pembaca Sirkus Pohon akan dapat menemukan segala kebaikan dalam diri tokoh-tokoh yang lain. Kebaikan yang sering kali ditutupi sikap sombong, serakah, menang sendiri, gengsi. Bahwa manusia memang tidak dilahirkan dalam kesempurnaan, tapi selalu ada 1 atau 2 kebaikan yang hanya bisa dilihat dengan kebaikan juga.

Sebuah kejutan juga bagi saya, kali ini Andrea menghadirkan aroma kehidupan politik dalam karyanya. Penuh pencitraan, intrik, dan hal-hal yang irrasional seperti halnya politik dalam dunia nyata. Teman-teman akan dibuat gemas dengan Penasihat Abdul Rapi, atau melihat sosok politikus kita dalam diri Gastori. Namun di akhir nanti, pembaca akan mendapatkan kejutan dari seorang Lelaki Bertopi Fedora. Dan juga Taripol, kawan lama Sobri sekaligus orang yang membuatnya harus mencicipi aroma penjara untuk yang pertama kalinya.

Di babak kedua nanti teman-teman akan melihat betapa Buah Delima begitu maha dahsyat mengubah kehidupan seseorang. Begitu pun juga halnya dengan betapa gilanya menjadikan Pohon Delima sebagai yang diagung-agungkan dalam sebuah kontestasi politik. Edan! Memang begitulah kenyataannya, dalam dunia politk semua hal bisa dijadikan alat.

Sirkus Pohon mengajarkan kita cinta dari berbagai sudut pandang. Cinta kepada yang memang dicintai, cinta kepada yang tak pernah ditemui lagi, cinta pada yang telah meninggalkan luka, cinta sepasang hewan-hewan kecil, cinta akan kekuasaan, cinta pada profesi, cinta pada pengabdian dan cinta-cinta lain yang mungkin bisa kita temui dalam tiap lembar dan larik di dalamnya. Bravo! Andrea mampu menghadirkan Sang Pujangga, dalam segala rupa dan detak kehidupan.

 



Membaca buku ini, saya merasa seperti sedang dibawa ke belahan negeri itu. Seperti halnya buku-buku Andrea yang lain. Penggambaran latar tempat, situasi dan dialek yang kental akan Melayu, membuat pembaca larut. Seolah sedang duduk di salah satu warung kopi di sana. dan menyaksikan potongan fragmen kehidupan tokoh-tokohnya.

The End,  Teman-teman akan  menemukan kenyataan-kenyataan seperti. Usaha tak akan pernah mengingkari hasil, cinta akan menemukan jalannya, dan kebaikan selalu menang. Dan begitulah seharusnya yang berlaku dalam kehidupan. Tapi sayangnya, dunia ini sudah terlalu 'tua' untuk dapat memahami hal-hal demikian. Hingga sering kali kita hanya menemuinya di layar kaca, atau dalam larik-larik cerita.

 

 

Judul : Sirkus Pohon
Penulis  : Andrea Hirata
Penerbit : Bentang Pustaka
Tebal buku : 383 halaman
ISBN : 978-602-291-409-9

Tulisan ini diikutkan tantangan One Day One Post Oktober 2017 Blogger Muslimah Indonesia
#ODOPOK5








Speech Delay dan Speech Disorder - Benarkah Lebih Sering Dialami Anak Laki-laki? (Bagian 1)

|
Speech delay pada anak laki-laki



Belakangan, Najib sering sekali menirukan cara berbicara teman bermain laki-lakinya.  Teman Najib ini atau kita sebut saja Si A,  memang masih susah mengucapkan kata-kata. Hanya beberapa kata saja yang dapat kami mengerti maksudnya dengan jelas, seperti “Jib” yang berarti Najib, “aem” yang berarti maem atau makan, “dah” atau sudah, "Bah" atau Mbah kemudian "Buk" dan "Pak". Selebihnya kami selalu berusaha memahami maksudnya berdasarkan gerak tubuh atau situasinya saja.

Fase di mana dia mulai mengeluarkan suara pun terbilang jauh tertinggal dibanding teman-teman sebayanya. Sehingga saat semestinya anak mulai melatih kata-kata pertamanya, Si A yang sekarang sudah berusia 3,5 tahun baru belajar berbahasa, dan masih suka berteriak atau menjerit ketika ingin menyampaikan maksudnya.

Sebenarnya, sejak Si A ini berusia 1,5 tahun, para tetangga termasuk saya sudah sering mengingatkan orang tuanya untuk lebih sering menstimulasi. Tapi begitu keluarganya bilang nggak ada masalah. Kami lantas tidak berusaha mengingatkan lagi. Kami percaya orang tua dan keluarganya jauh lebih memahami si anak.

Tapi sampai usianya menjelang 3 tahun, tidak ada perkembangan yang berarti yang dapat kami temui. Hingga beberapa bulan berikutnya, salah seorang anggota keluarga menyampaikan bahwa Si A akhirnya menjalani terapi wicara.

Teman Najib ini memang sangat sering bermain ke rumah. Maka dari itu saya lumayan dekat dengan keluarganya. Najib cenderung anteng dan betah berlama-lama dengannya. Mungkin saja karena Si A ini  tidak mau melawan atau ngeyel dengan Najib. Jadi Najib merasa nyaman-nyaman saja bermain dengannya.

Tapi, saya sering curiga jangan-jangan pembawaan Si A yang nggak mau ngeyel ini bisa jadi karena kesulitan untuk menyampaikan maksudnya. Najib yang masih 3 tahun saja pernah mengatakan kalau Si A ini belum bisa ngomong. Begini katanya, “Buk, A itu kan gak isa omong, adi iem aja.” (maksudnya, Buk, Si A ini kan nggak bisa ngomong, jadi diam saja).



speech delay pada anak laki-laki

Saya lumayan kaget pada saat itu. Bagaimana bisa anak umur 3 tahun berpendapat bahwa temannya nggak bisa ngomong? Apakah memang selama bermain Si A ini terlalu diam? Atau, bisa saja Najib pernah mengajaknya berbicara tapi dia tidak merespon balik?

Jujur, berdasarkan pengamatan saya sebagai orang tua yang juga sedang mengasuh anak sepantaran dengan Si A. Tahap perkembangan bahasanya memang jauh tertinggal dari teman-temannya. Tapi saya berusaha berbaik sangka, bisa jadi karena Si A memang sedang mengembangkan kemampuan lainnya., atau bersifat pendiam. Saya yakin setiap anak memang unik, begitu pun dengan grafik tumbuh kembangnya yang bisa jadi tidak selalu sama. 


Sempat Khawatir dengan Perkembangan Berbahasa Najib

Saya sendiri sempat merasakan kekhawatiran dengan perkembangan bahasa pada Najib. Pengalaman mengasuh  Najwa terus terang membuat saya was-was. Karena pada usia yang lebih muda, Najwa sudah sangat terampil berbahasa. Seingat saya, menjelang ulang tahun yang pertama Najwa sudah bisa menjawab pertanyaan dengan baik dan tidak melalui masa cadel.

Speech delay pada anak
Ulang tahun Najwa yang pertama. Masih merangkak tapi sudah cerewet.
Berbeda dengan Najib yang sampai menjelang ulang tahun kedua masih kurang jelas ucapannya. Sudah banyak ngomong, sih. Dan ketika diajak berbicara atau ditanya dia sudah merespon dengan tepat. Hanya pengucapannya yang masih tidak jelas.
Neneknya sempat khawatir sampai menyarankan untuk mengikuti terapi. Tapi, saya pun berpikir Najib baik-baik saja, seperti halnya ibu Si A.  Dan saya pastikan terus menstimulasi dan memantau perkembangannya.

Perkembangan Berbahasa Najwa dan  Najib pada Usia yang Sama

Saya merasa keyakinan saya ini juga tidak asal-asalan, atau untuk menenangkan hati saja. Saat itu saya banyak mencari  informasi tentang tumbuh kembang balita baik anak laki-laki maupun perempuan. Maksud saya untuk membandingkan, karena saya melihat tumbuh kembang Najwa dan Najib cenderung berkebalikan.

Najib usia 15 bulan. Sudah suka gowes sepeda kakaknya, tapi masih belum banyak ngomong.

Pada usia 1 tahun Najwa sudah terampil berbahasa, tapi belum bisa berjalan. Sedangkan Najib sudah lebih dulu berjalan, sedangkan saat usianya lewat 15 bulan dia baru banyak ngomong meskipun belum jelas kata per kata.

Sampai hari ini, saat usia Najwa 6,5 tahun dan Najib 3 tahun, perkembangan motorik kasar Najib jauh di atas Najwa pada usia yang sama. Begitu pun halnya, keterampilan berbahasa Najwa melejit, jauh di atas Najib pada usia yang sama.


Berkaca pada 2 hal tersebut, saya pun menyimpulkan sendiri, bahwa bisa jadi grafik tumbuh kembang keduanya memang unik dan berbeda. Tapi, saya pastikan bahwa keduanya berada pada batas normal pola tumbuh kembang umum, sesuai batas usianya.

Setelah melihat kasus Najib, Si A dan mendengarkan curhat beberapa orang tua yang mengeluhkan anak laki-lakinya yang cenderung telat mengembangkan kemampuan berbicara atau berbahasa. Saya kemudian berpikir apa benar bahwa kasus speech delay lebih banyak dialami anak laki-laki? Pertanyaan inilah yang kemudian mengantarkan saya pada berbagai bahan bacaan tentang speech delay dan speech disorder pada anak.


anak terlambat bicara


Apa itu Speech Delay dan Speech Disorder?

Speech Delay dan Speech Disorder, meskipun keduanya terdengar mirip dan sama-sama diasumsikan sebagai kasus keterterlambatan bicara pada anak. Sebenarnya kedua hal tersebut berbeda. Dalam salah satu artikel yang saya baca, speech delay merupakan istilah dari keterlambatan berbicara, sedangkan speech disorder adalah gangguan berbahasa.

Berbicara dan berbahasa adalah 2 hal yang berbeda. Berbicara merupakan kemampuan untuk mengeluarkan suara, sedangkan berbahasa lebih berkaitan pada arti kata dibanding suara yang dikeluarkan. Seorang anak terindikasi mengalami keterlambatan berbahasa ketika perkembangannya mengalami urutan yang sama, tapi terlambat. Sedangkan gangguan berbahasa bisa diindikasi ketika perkembangan berbahasa anak tidak sesuai dengan polanya. 

 

 

Pola di sini tentu saja mengacu pada pola tumbuh kembang anak sesuai rentang usia yang digunakan secara umum. Sedangkan masalah keterlambatan berbahasa (berbicara) sendiri, umumnya lebih sering dialami anak-anak pada usia prasekolah.


gangguan berbicara pada anak
theconversation.com

Apakah benar speech delay lebih sering dialami anak laki-laki?

Menurut salah satu penelitian,  bayi yang terpapar hormon testoteron tinggi semasa janin riskan mengalami keterlambatan dalam perkembangan berbahasa. Pernyataan ini didasarkan pada salah satu penelitian yang dilakukan dengan mengukur testoteron dalam darah tali pusat dari 700 lebih bayi yang baru lahir. Kemudian dilanjutkan dengan pemeriksaan pada perkembangan bahasa mereka pada tahun pertama, kedua dan ketiga.

 

Hasil penelitian menujukkan anak laki-laki dengan paparan kadar testoteron tinggi cenderung mengalami keterlambatan berbahasa atau berbicara. Sedangkan salah satu fakta menyebutkan bahwa janin laki-laki memiliki sirkulasi testoteron hingga 10 kali lebih tinggi dibanding janin perempuan.

Namun, efek sebaliknya ditemukan pada anak perempuan. Anak-anak perempuan yang mendapatkan paparan testoteron tinggi semasa dalam kandungan mengalami penurunan resiko speech delay. (Sumber: Kompas.com)

 

Selain itu, ada perbedaan pada perkembangan otak anak laki-laki dan perempuan.  Pada anak laki-laki, bagian otak yang mengontrol gerakan dan koordinasi tumbuh lebih cepat. Bagian ini biasa disebut cerebellum. Sedangkan pada anak perempuan, bagian otak yang mengontrol panca indra bisa dibilang lebih sensitif ketimbang anak laki-laki.

Tapi, perbedaan jenis kelamin sebenarnya tidak selalu mengindikasi tumbuh kembang anak. Karena pada dasarnya stimulasi yang diberikan orang-orang di sekitar anak akan sangat menunjang. begitu pun halnya dengan kemampuan berbicara. Anak laki-laki maupun perempuan yang sering mendapatkan stimulus, misalnya diajak berbicara atau bercerita. Cenderung tidak mengalami gangguan bicara atau berbahasa.

Berikut adalah beberapa poin yang dapat dijadikan patokan perkembangan bahasa anak usia 0 hingga 3 tahun.


gangguan berbicara pada anak

1. Usia 0 tahun / lahir : menangis

2. Usia 2 - 3 bulan 
Menangis dengan cara berbeda dalam berbagai kondisi, mengeluarkan suara sebagai respon kepada orang tua

3. Usia 3 - 4 bulan : mengoceh tidak beraturan

4. Usia 5 - 6 bulan
Mengoceh dengan pola berulang, "mama", "papa", "tata"

5. Usia 6-11 bulan
Mengoceh dengan cara meniruklan suara orang di sekitarnya, sering kali diikuti mimik wajah yang berubah-ubah.

6. Usia 12 bulan
Mengucapkan 1 - 2 kata, mampu mengenali nama, memahami beberapa bunyi dan kata, memahami instruksi singkat dari orang-orang di sekitarnya.

7. Usia 18 bulan
Dapat menggunakan 5 - 20 kata termasuk menyebutkan nama.

8. Sampai usia 2 tahun

Dapat mengucapkan kalimat pendek dan sederhana yang terdiri dari 2 kata. Seperti "minta makan", "Adik mau", dan sebagainya. Perbedaharaan katanya semakin banyak, bisa melambaikan tangan sambil mengucapkan "da.." atau " bye..". Menirukan suara hewan, menggunakan kata "apa" untuk bertanya, dan "tidak" atau "nggak" untuk menolak.

 9. Sampai usia 3 tahun

Dapat mengenali dan menyebutkan bagian tubuhnya. Menyebut diri sendiri dengan kata, saya, aku atau menyebutkan namanya. Dapat mengkombinasikan kata hingga sekitar 450 kata. Dapat merangkai kalimat sederhana. Mampu mencocokkan warna. Bisa membedakan'besar' dan 'kecil'. Menyukai cerita dan dapat menceritakan kembali.

(Sumber : Ibu dan Balita, mommies daily, nakitagrid.id)

Berdasarkan poin-poin di atas, bisa jadi anak-anak mengalami perkembangan yang lebih cepat, atau sedikit lebih lambat. Tapi, saya tetap berpatokan pada progress yang terukur dari hasil pengamatan langsung. Selama ada perkembangan dan keterlambatannya tidak terlalu jauh, saya rasa masih normal. Keterlambatan yang tidak terlalu signifikan bisa jadi disebabkan oleh sifat bawaan anak maupun pola interaksi dengan lingkungannya.

Jika memang ada gangguan, maka  tugas orang tua untuk mengamati lebih dalam. Apa poenyebab dan gejala yang mulai ditunjukkan. Selanjutnya, mari kita tanya diri sendiri, sudahkah memberikan stimulasi yang tepat dan berkesinambungan? Karena nggak bisa dipungkiri, ya. Stimulasi dari orang tua atau orang-orang di sekitar anaklah yang dapat merangsang kemampuan psikomotorik dan bahasanya. Tanpa adanya rangsangan, susah bagi otak anak untuk mengembangkan kemampuan berpikir. Padahal otak bayi berkembang sangat cepat pada masa-masa awal kehidupannya. Benar bukan?

Pada postingan kedua tentang tema speech delay nanti, saya akan membahas tentang penyebab, gejala dan stimulasi yang tepat. Jadi, jangan lupa mampir lagi ya. 😉😉



Tulisan ini diikutsertakan dalam tantangan One Day One Post Oktober 2017 Blogger Muslimah Indonesia.
#ODOPOKT4


Custom Post Signature

Custom Post Signature