Parenting Story, Mom's Life, Tips

Laptop 2in1 untuk Mendukung Gaya Hidupku sebagai Freelancer

|



laptop 2in1
Pixabay.com

Kalau ditanya apa pekerjaan utama saya, tentu saja profesi ibu rumah tangga yang selalu menjadi jawaban. Karena segala yang saya lakukan di luar kesibukan sebagai full stay at home mom sifatnya hanya sampingan saja., yang biasa saya kerjakan di sela-sela mengurus keperluan suami dan anak-anak.

Freelancer, begitu biasanya saya menggelari diri sendiri. Baik sebagai blogger, content writer atau crafter wanna be , saya belum memutuskan untuk mengerjakannya sepenuh waktu. Meskipun  selalu berusaha total untuk menyelesaikan pekerjaan yang dipercayakan kepada saya.

Menyandang status ibu rumah tangga tanpa menggunakan jasa ART menuntut saya untuk lebih dinamis dan cermat mengatur waktu demi produktifitas kerja. Belum lagi dua anak saya yang memiliki kecenderungan kinestetik sangat susah diajak diam berlama-lama. Di luar pekerjaan rumah, hampir sebagian besar waktu saya gunakan untuk bermain bersama mereka.

Jangan ditanya seberapa banyak waktu yang saya alokasikan untuk menuntaskan pekerjaan freelancer Namanya juga free, jadi suka-suka saya mau dikerjakan kapan dan di mana. Meskipun kerap kali harus berkejaran dengan deadline yang bikin nyut-nyutan kepala.

Ritme pekerjaan yang mengharuskan saya  dinamis, tidak membuang-buang waktu dan bisa bekerja di mana saja mau tak mau membuat saya memerlukan ‘alat tempur‘ yang siap di bawa kemana-mana. Sayangnya kesempatan itu belum juga saya dapatkan hingga sekarang. Karena kondisi laptop yang sekarang saya ajak bekerja sangat tidak memungkinkan.

Selain ukurannya yang besar dan berat, kondisi keyboard bawaan yang tidak berfungsi akibat dimuntahi si kecil mau tak mau membuat saya harus menggunakan external keyboard yang, alamak semakin tak praktis untuk dibawa-bawa.

Sejauh ini , smartphone memang tak pernah lepas dari tangan ketika saya harus beraktivitas di luar. Jika kebetulan saya mendapat job sebagai buzzer, atau harus mengikuti training online berbasis social media, gadget yang satu ini cukup mumpuni untuk diajak bekerja sama.

Anak-anak yang masih kecil, mau tak mau membuat aktivitas saya lebih banyak dengan mereka.

Masalahnya, smartphone satu-satunya yang sekarang menjadi andalan ini sering kali menjadi barang rebutan dengan anak. Biasanya saya memang tegas terkait penggunaan gadget bagi mereka. Tapi ada kalanya saya harus melakukan mediasi, sampai akhirnya menyerahkan barang tersebut dengan berbagai persyaratan. 

Pada saat gadget berpindah tangan seperti itu, rasanya saya seperti sedang membuang-buang waktu. Misalnya saat menunggu si kakak extra kurikuler di sekolah, saya merasa mendapatkan cukup waktu untuk menyelesaikan beberapa draft atau meng-edit calon postingan. 

Tapi apalah daya, satu-satunya gadget yang movable sudah beralih fungsi menjadi pemutar video favorit si adik yang mulai bosan menunggu kakaknya. Saya pun tak enak hati jika berebut paksa di lingkungan anak-anak yang sedang belajar. 



Kadang kala saya pun merasa tidak produktif ketika akhir pekan tiba. Ya, weekend yang sedianya memberikan lebih banyak kebebasan waktu, kadang-kadang  harus saya lewati untuk traveling ke luar kota bersama keluarga.  Sedangkan yang paling sering terjadi adalah menghabiskannya selama seharian dengan meng-explore segala hal yang ada di Jakarta.  

Saya sadar tidak dapat menolak kebiasaan ini dalam keluarga kecil yang sedang kami bangun. Karena jalan-jalan merupakan salah satu quality time yang banyak me-refresh hubungan suami istri dan  bounding dengan anak. Tapi sebagai freelancer, saya merasa terlalu sering melewatkan waktu luang karena kendala alat yang tidak menunjang. Maka saat seperti itu saya sering merasa butuh gadget kedua, yang tentu saja harus  dinamis dan bringable untuk menunjang keahlian saya sebagai multitasker.


Laptop 2in1
Pixabay.com

Sempat berpikir untuk membeli tablet sebagai cadangan jikalau harus bekerja di luar. Saya pun masih bimbang, karena kondisi laptop yang sekarang juga sudah saatnya dipensiunkan. Dan tidak bisa saya pungkiri, sebagian besar pekerjaan lebih maksimal jika dikerjakan dengan laptop atau notebook biasa.  Misalnya untuk mendesain atau meng-edit foto, maka fungsi dari keyboard dan mouse tak bisa digantikan oleh layar sentuh yang biasa ada pada tablet.

Tapi begitu berniat untuk membeli laptop biasa, bayangan membawa seperangkat alat dengan bobot yang bisa membuat pundak semakin pegal selalu menjadi kendala. Ya kali harus bawa tas segede gaban cuma buat laptop doang, sudah berat nggak simple pula. Pupus sudah cita-cita ibu rumah tangga tampil trendi saat jadwal traveling tiba.



Laptop 2 in 1 Hadir sebagai Solusi


Laptop 2in1
Intel.co.id

Untungnya teknologi terus berkembang hingga tak terbendung lajunya. Laptop hybrid hadir menjadi solusi bagi gaya hidup freelancer seperti saya. Laptop hybrid atau biasa disebut 2 in 1 merupakan inovasi terbaru laptop yang menggabungkan 2  fungsi dalam 1 perangkat, yaitu notebook dan tablet yang disatukan. Perangkat ini sangat fleksibel, karena bisa digunakan untuk bekerja sekaligus meng-entertain saya, bahkan anak-anak. 

Laptop 2in1 bisa digunakan dalam dua model pengoperasian yang berbeda.  2 in 1 yang bisa dilepas layarnya dapat difungsikan sebagai tablet yang dapat dibawa kemana-mana tanpa memberikan tambahan beban akibat bobot laptop yang berat.  User pun dapat memaksimalkan pekerjaan terlebih jika harus bersinggungan dengan social media.


Sedangkan laptop 2 in 1 yang memiliki fungsi konvertibel, sekilas nampak seperti notebook biasa, tapi jika layarnya dibalik atau diputar, maka tampilannya berubah seperti tablet dan sangat mengesankan jika harus digunakan untuk keperluan meeting atau presentasi di depan klien.

 

Tapi tak perlu khawatir dengan performa 2 in 1 sebagai  laptop atau notebook biasa. Karena bagi sebagian orang, penggunaan laptop dengan keyboard  beserta touchpad atau mouse memang sepertinya tak bisa ditinggalkan. Laptop 2 in 1 hadir tetap dengan  kenyamanan yang biasa user gunakan. So, kalau kata saya, sih, laptop 2in1 yang benar-benar saya butuhkan.



Hal-hal yang Patut Dipertimbangkan sebelum Membeli Laptop 2in1


Laptop 2in1
Intel.co.id


Sebagai  freelancer yang memiliki penghasilan tidak menentu, pembelian perangkat baru untuk menunjang pekerjaan saya benar-benar harus melalui pertimbangan yang matang. Terlebih jika perangkat tersebut bisa dibilang juga masih baru di pasaran.  Jangan sampai membeli suatu perangkat hanya karena tergiur dengan segala kemudahan yang ditawarkan. Tapi sudah semestinya perangkat tersebut memberikan manfaat maksimal.

Begitu pun halnya ketika memutuskan memilih laptop 2in1 sebagai calon pendukung pekerjaan saya. Saya harus tahu betul, tipe seperti apa yang tepat dan memang dibutuhan. Beberapa tips berikut sangat membantu, untuk saya dan juga Teman-teman yang berniat membeli perangkat serupa.




1. Pilih mana, konvertibel atau bisa dilepas?

Dengan profesi yang saya geluti sekarang ini, pilihan 2in1 dengan layar yang bisa dilepas tentu saja paling tepat. Saya belum butuh untuk presentasi atau meeting, tapi kebutuhan saya hanya gadget yang travel friendly. 

2. Prosesor

Prosesor ibarat jantung untuk perangkat seperti  PC atau laptop. Terlebih untuk perangkat model 2in1, performa prosesor tidak bisa di kesampingkan begitu saja. Memilih laptop atau dengan prosesor yang mutakhir harus diutamakan. Maka memilih laptop intel 2in1 adalah sebuah keputusan yang brilliant, mengingat kredibilitas Intel Pentium yang tak perlu diragukan lagi.


3. Ukuran layar

Seperti yang kita ketahui, baik laptop atau notebook maupun tablet memiliki ukuran layar yang beragam. Pemilihannya pun harus disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing user.

Untuk saya, layar berukuran 14 inchi sudah sangat mencukupi kebutuhan. Karena laptop atau tablet bukanlah perangkat vital sebagai pemutar video atau menonton film, maka saya tak butuh yang terlalu besar. Ukuran 14 inchi bisa dibilang sedang. Tak terlalu besar sehingga masih relevan untuk dibawa traveling, namun tak terlalu kecil sehingga ramah dengan penglihatan.

Selain itu, ukuran layar yang lebih besar juga lebih berat dan lebih cepat memakan baterai. Maka dari itu tentukan dulu kebutuhannya untuk apa, barulah buat keputusan yang tepat.

4. Storage

Masalah penyimpanan juga harus mendapatkan perhatian. Laptop 2in1 dilengkapi dengan hard drive atau HDD yang cukup aman untuk menyimpan file dokumen, foto, video dan film. Beberapa laptop 2in1 bahkan dilengkapi solid state drive (SSD) yang memungkinkan mengambil file lebih cepat dan tahan banting tentunya. Tapi seperti biasa, ada harga selalu ada rupa. Paham, kan?


Laptop asus 2in1
Laptop 2in1 yang menjadi wishlist saya. (asus.com)

5. Daya tahan baterai

Karena kebutuhan utama saya untuk digunakan di luar rumah atau sebagai perangkat yang movable. Maka laptop dengan daya tahan baterai yang lebih lama yang saya butuhkan.  Nggak mau, kan, ribet bawa colokan saat sedang jalan-jalan?

Hem, sepertinya saya sudah membuat keputusan yang tepat dengan menjatuhkan pilihan pada laptop 2in1 sebagai penunjang gaya hidup saya sebagai freelancer yang dituntut serba multitasking. Dengan mengadopsi perangkat yang tepat, saya berharap lebih produktif dalam aktivitas yang serba fleksibel .

Teman-teman tertarik dengan laptop 2in1 juga, kan?  







Tips Optimasi Blog (Bagian 1) - Design

|


Desain blog
Pixabay.com


Haluuu, tau-tau udah tanggal 10 aja, ya. Sudah sepertiga hari berjalan di bulan Oktober. Semangat belum kendor, kan? meskipun sudah menuju tanggal tua lagi, hihihi. Nah, daripada mulai dag-dig-dug menghadapi tanggal tua lagi, kita ngomongi optimasi blog aja kali ini. Ya, sapa tau blog-nya bisa jadi sumber penghasilan yang kedua. Lumayan banget, kan? Nggak perlu nunggu tanggal gajian, tapi ada aja pemasukan dari sumber yang lain.

Nah,  mengoptimasi blog sebagai salah satu sumber penghasilan, atau biasa disebut monetizing blog, rupanya bukan hal yang mudah, loh. Ada beberapa hal yang sebaiknya menjadi perhatian teman-teman blogger. Tentu saja hal ini bertujuan untuk menjaga eksistensi atau performa blog yang terus berkelanjutan di masa depan.

Nggak mau, kan, kalau ngeblog cuma buat ikut-ikutan aja.  Saya yakin semua blogger kepengen jadiin blognya sebagai’rumah kedua’. Nggak sekedar buat curhat, tapi juga sharing pengalaman, bermanfaat atauberbagi informasi dan mendokumentasikan kisah perjalanan hidup atau karya yang pernah dibuat. Akur?  *akurinajabiarcepet

Bicara soal optimasi blog, pastinya juga teman-teman sudah tahu bahwa ada banyak komponen untuk mendukungnya menjadi blog yang searchable dan readable. Hal-hal seperti desain blog dan konten menurut saya merupakan dua hal utama dan mendasar yang harus diperhatikan oleh seorang blogger, apalagi pemula seperti saya. Nggak usah deh ngomongin DA/PA dulu, udah konsisten nulis aja bagi saya udah TOP! Tapi, gak ada salahnya ya, kita perhatikan  sesuatu yang bisa  bikin pembaca betah di blog kita.


So, kali ini kita ngomongin tentang desain blog dulu aja, ya. Sesuatu yang pertama kali dilihat pengunjung, tapi memiliki efek besar terhadap kenyamanan mereka untuk berlama-lama atau bahkan kembali lagi ke blog.



desain blog

 


Bicara tentang desain blog, saya berkesempatan mendapatkan ilmunya secara khusus dari Mbak Sintaries, founder Blogger Perempuan Network pada acara Blog Coaching Clinic yang diselenggarakan free untuk member BP Network pada tanggal 2 September lalu. Duh, jadi malu. Kayaknya udah basi banget tapi baru di-share di blog post. Hehehe *tutupmuka. 

Nggak pa pa, ya, yang penting ilmunya nggak basi, kok. Karena jujur, saya sendiri yang hampir 1 tahun aktif ngeblog, baru deh tahu info yanf seperti ini.

Lanjut lagi soal desain blog, ya. Waktu itu Mbak Shinta bilang bahwa desain blog sebaiknya memerhatikan beberapa poin.

1. Orientasi pembaca
2. Orientasi  google
3. Menurunkan Bounce Rate
4. Memperpanjang time on site
5. Branding

Berikut adalah penjelasan untuk setiap poin-poin di atas.


Desain Blog
Pixabay.com


Orientasi Pembaca dan orientasi Google

Setiap blogger pasti punya orientais pembaca masing-masing sesuai dengan niche blog yang dipilih. Kalau saya pribadi dengan blog damaraisyah.com cenderung membidik segmentasi ibu-ibu muda dan produktif, dengan range usia antara 25-40 tahun. 

Tema parenting yang saya bungkus dalam daily activity dan traveling, rupanya mulai menjadi ciri khas tulisan-tulisan saya yang sebagian besar berdasarkan pengalaman pribadi momong dua bocah.

Untuk itu saya memilih desain blog yang minimalis, modern tapi tetap menunjukkan unsur ibu muda saya dengan pemilihan warna watercolor pink di bagian header blog. Ciyehh, ibu muda katanya, hihihi. Untuk background sendiri saya memilih warna putih yang cenderung bersih, dengan font hitam sehingga mudah dibaca. 

Usahakan memilih template yang responsive sehingga mudah di-detect oleh mesin pencari. Dan ini merupakan salah satu solusi agar desain kita memenuhi orientasi  google.

Bersyukurlah Teman-teman yang memiliki blog berplatform Wordpress karena pilihan templatenya sangat beragam, baik gratisan maupun berbayar, lengkap dengan aneka plugin yang bisa dimaksimalkan sesuai kebutuhan masing-masing. 

Saya sendiri sebagai pengguna platform Blogger atau Blogspot, awalnya sempat merasa terlalu terbatas. Namun kemudian saya putuskan membeli template berbayar yang memenuhi kriteria saya. Jika tertarik, Teman-teman bisa mencoba berbelanja di Etsy Shop. Banyak sekali pilihannya dengan harga yang relati terjangkau untuk pemula.

Berikut adalah kunci dalam memilih desain agar memenuhi criteria optimasi pembaca dan Google

  • Clean atau bersih, dengan background warna terang. Kalau bisa, sih, 80% white space
  • Font yang mudah terbaca dan berwarna gelap
  • Responsif atau fast loading
  • Mobile friendly karena sekarang pembaca lebih familiar dengan smartphone untuk membaca
  • Konten di sebelah kiri, side bar di sebelah kanan
  • Hindari musik atau animasi bergerak sebagai latar,  misalnya salju bertaburan diiringi dengan musik.
  • Jangan lupa mencantumkan profile blogger, link social media dan Home, Disclosure serta kriteria postingan. Terutama untuk blog yang ingin di-monetize.


Desain Blog
Pixabay.com


Bounce rate dan Time on site

Untuk bouce rate sendiri  Teman-teman bisa cek di Google Analytics. So, kalian harus pasang GA dulu di blog-nya, barulah bisa cek berapa bounce rate-nya. Patokannya semakin rendah bounce rate, maka semakin baik performa blog. Adapun kisaran rendanya sesuai yang saya tangkap dari penjelasan Kak Shinta, antara 20%-80%. Jika di bawah 20% , kemungkinan ada masalah dengan GA blog kita.

Oh ya, semakin lama pengunjung membaca blog kita dapat berimbas juga pada penurunan prosentase bounce rate. Google sendiri pun menyukai  blog yang memiliki time on site panjang. Untuk itu, blogger harus berusaha membuat pembacanya nyaman. Selain pilihan desain seperti yang sudah saya sebutkan tadi, pastikan konten kita berkualitas. Pada postingan selanjutnya saya akan membahas tentang konten ini.



Desain Blog
Pixabay.com


Branding

Blog  bisa menjadi branding pemiliknya. Begitu pula dengan desain yang dipilih, biasanya mencerminkan karakteristik pemiliknya.  Untuk mem-branding diri melalui blog, beberapa hal berikut ini bisa Teman-teman jadikan acuan:

1. Nama domain adalah nama brand 

Nama domain adalah nama brand. Misal kita membuat blog tentang suatu organisasi, maka nama organisasi sebaiknya dijadikan sebagai nama domain. Untuk personal blog, menggunakan nama pemilik blog sebagai nama domain sepertinya jauh lebih mudah untuk mem-branding diri. 

Tapi, pastikan nama domain hanya terdiri dari maksimal 2 kata, mudah diketik atau diingat, bukan keyword. Setelah nama domain dipilih, usahakan sama atau minimal mirip dengan username  social media pendukung  agar mudah dikenali.

2. Template dan desain blog  
 Template dan desain blog yang khas seperti yang saya sebutkan tadi. Misal, kalau saya memasukkan warna pink dengan font kecil-kecil. Semacam mewakili saya yang girly dan imut-imut *dititimpukpembaca

3. Blog bertema 
Blog bertema atau memiliki niche khusus. Sebenarnya blog seperti ini yang disukai Google, tapi saya pribadi masih susah menghalau godaan nulis tentang lipen dan buku di blog parenting saya. Jadilah lifestyle.

4. Apa adanya dan jadi diri sendiri.

Fiyuh! Selesai juga akhirnya. Saya akui banyak hal yang selama ini saya anggap sepele ternyata sangat memengaruhi performa blog. Itulah mengapa banyak sharing dengan sesama blogger sangat membantu pemula seperti saya. 

Desain blog adalah satu komponen yang pertama kali dilihat oleh pembaca. Oleh sebab itu, memberikan sedikit perhatian dan waktu untuk kembali mengutak-atiknya, saya rasa perlu dilakukan. Memang lumayan wasting time, sih, karena sebenarnya banyak hal menyenangkan dalam mengutak-atik desain blog itu sendiri.

Kalau Teman-teman gimana? Sudah menyediakan waktu untuk utak-atik desain blognya?



Tulisan ini diikutsertakan pada tantangan One Day One Post Oktober 2017 Blogger Muslimah Indonesia.

#ODOPOKT7






5 Manfaat Traveling untuk Anak-anak

|



Traveling dengan anak-anak


Traveling atau jalan-jalan, salah satu aktivitas yang kini mulai susah dipisahkan dari gaya hidup urban. Sumpek sedikit, katanya karena kurang jalan-jalan atau piknik. Sehingga rencana traveling secara berkala hampir pasti masuk ke agenda masing-masing individu atau keluarga.

Destinasi traveling pun bisa jadi beragam. Mulai dari perjalanan jauh ke luar kota, luar pulau bahkan luar negeri. Atau jalan-jalan dalam jarak dekat dalam rangka meng-explore obyek wisata di daerah masing-masing. 

Begitu pun halnya dengan tujuan traveling yang sudah pasti berbeda juga.  Mulai silaturahim dengan sahabat atau keluarga besar, sekedar melepas penat, mencari tantangan baru atau dalam rangka edutrip bersama anak-anak.

Saya dan keluarga termasuk yang suka beralasan, sumpek karena kurang piknik, hehehe. Untuk itu kami berusaha untuk selalu menyisihkan budget traveling bersama anak-anak.  Selain pulang kampung di hari raya, kami mengupayakan pulang kampung kedua ketika libur akhir tahun tiba. Atau jika ada kesempatan, maka berkunjung ke rumah saudara atau teman di luar kota bisa jadi pilihan.

Traveling dengan ank-anak
Taman Suropati, salah satu destinasi jalan-jalan gratis di Jakarta.

Selain itu, edutrip di berbagai obyek wisata di Jakarta yang tak terhitung jumlahnya menjadi agenda bulanan yang sedang  kami rutinkan. Ya, tentu saja memang harus direncanakan dengan seksama. Karena selain faktor waktu, sudah pasti ketersediaan dana menjadi penentunya.


Saya bersyukur tinggal di Jakarta yang memang dirancang dengan berbagai fasilitas dan obyek wisata untuk meng-entertain warganya. Begitu pun halnya dengan alat transportasi publik yang sangat banyak jumlahnya, lebih-lebih sangat terjangkau dari segi biaya. 

Saya kembali bersyukur karena tinggal di daerah yang mudah mengakses aneka alat tranportasi public yang menjadi andalan Jakarta. Sebut saja mau ke Monas, maka commuter line siap mengantarkan kami sampai tempat tujuan dengan biaya 3 ribu perak dari stasiun dekat rumah hingga stasiun Juanda. Atau katakanlah ingin ke Bogor biar bisa dibilang jalan-jalan ke ke luar kota, padahal cuma tetangga. Maka lagi-lagi tak sampai 10 ribu kami sudah bisa menjejakkan kaki di Kota Hujan ini.

Ya, warga ibukota memang sangat terbantu dengan adanya commuter line dan Trans Jakarta. Dengan tarif yang sangat terjangkau, maka kami bisa dengan mudah bepergian ke sutau tempat. Begitu pun halnya dengan aneka obyek wisata yang tersedia. Mulai yang kelas atas atau bertarif mahal, hingga yang gratisan, semuanya ada. 


Fasilitas kota yang seperti ini sayang jika dilewatkan begitu saja. Karena itulah kami rajin menyusun destinasi traveling atau jalan-jalan di akhir pekan atau saat liburan. Biasanya, kami pun memilih tempat-tempat yang ramah anak, dan memungkinkan untuk dijadikan model jalan-jalan bertema family edutrip. Sehingga anak-anak tidak hanya me-refresh suasana, tapi juga menambah pengetahuan sebagai oleh-olehnya.

Traveling dengan anak-anak
Menyaksikan pertunjukan Air Force Show di Halim P.K. Jalan-jalan murah namun banyak manfaat.


Jalan-jalan ke luar negeri masih menjadi salah satu wishlist keluarga kami. Bukan sekedar untuk gengsi, tapi kami yakin bahwa pengalaman bersinggungan langsung dengan orang asing akan memudahkan anak-anak melihat budaya dan tradisi dari penduduk suatu bangsa. Selain itu, kami berharap jika suatu saat dapat menjejakkan kaki ke belahan benua lain. Anak-anak akan mendapatlan berikan perspektif baru tentang model kehidupan, bagaimana orang asing bertahan, dan menunjukkan alternatif profesi di dunia.

Dewasa ini, jalan-jalan sudah tidak lagi melihat usia. Sering saya menemui bayi-bayi berusia mingguan sudah mejeng cantik bersama orang tuanya. Beberapa orang mungkin menganggap hal seperti ini masih tidak biasa. Tapi kenyataannya banyak orang tua yang berhasil melakukannya, dan baik-baik saja. 

Memang, hal seperti ini  tidak bisa dilakukan dengan sembarangan. Butuh kesiapan ekstra, terlebih bagi orang tua. Sehingga tak perlu memaksakan diri atau ikut-ikutan hanya karena alasan biar kekinian.

Kabar gembiranya, traveling memberikan banyak manfaat bagi anak-anak. Eh, bukan hanya anak-anak, tapi buat bayi juga. Nah,  beberapa di antaranya ada di bawah ini.

1. Traveling membantu anak-anak menjadi lebih mudah  beradaptasi dan fleksibel.

Traveling dengan anak-anak
Parent Magazine

Mengajak anak-anak mengunjungi berbagai tempat baru membuat mereka melihat banyak hal ‘normal’ baru. Ya, sesuatu yang seharusnya dianggap ‘normal’ tapi terasa baru bagi mereka. Menghadapi hal semacam ini, anak akan terlatih untuk lebih mudah beradaptasi dengan suasana dan situasi di lingkungan baru. Begitu pun halnya lebih fleksibel dengan budaya dan tradisi di tempat tujuan.

Kemampuan untuk beradapatasi dan fleksibel dengan situasi yang harus dihadapi membuat anak lebih mudah masuk ke lingkungan mana saja. Hal ini juga membuat mereka lebih cepat nyaman dan enggak rewel di tempat baru



2. Traveling memberikan pengalaman nyata, bahwa memiliki kemampuan menggunakan berbagai bahasa adalah hal yang menyenangkan.

Sungguh beruntung bagi orang tua yang dapat memberikan pengalaman traveling ke luar negeri bagi anak-anaknya. Karena secara tidak langsung memberikan kesempatan bagi anak untuk bersinggungan dengan bahasa lokal masyarakatnya. 

Tapi, pengalaman ini tak terbatas pada pengenalan bahasa internasional saja, ya. Karena Indonesia memiliki beragam bahasa daerah yang masing-masing memiliki keunikan. Dan tak salah jika memaparkan anak pada bahasa-bahasa tersebut.

Suatu kali saat kami bepergian ke Bandung, Si Najwa excited sekali dengan orang-orang yang menggunakan Bahasa Sunda. Menurutnya hal semacam itu sangat unik, karena ketika pulang ke Jawa Timur bahasa yang digunakan akan berbeda lagi. Begitu pun halnya ketika bepergian ke daerah di Jakarta yang mayoritas penduduknya asli Betawi, Maka sesuatu yang ‘baru’ akan terdengar lagi di telinga mereka.


Traveling dengan anak-anak
Traveling to India


3. Traveling mengajarkan pada mereka, bahwa perbedaan adalah hal yang biasa.

Mengunjungi tempat-tempat baru, baik di dalam atau luar kota. Apalagi jika ke luar pulau atau keluar negeri. Anak akan menemui banyak perbedaan yang menarik perhatiannya. Tak hanya dari segi bahasa, makanan, budaya, tradisi hingga kondisi sosial ekonomi masyarakat serta lingkungan yang didatangi pasti berbeda.

Pengalaman ini sangat tepat untuk menanamkan pada diri anak, bahwa perbedaan adalah suatu hal yang lumrah. Tidak untuk diperdebatkan, tidak untuk dibeda-bedakan, karena kita sama sebagai makhluk ciptaan Tuhan.


 Perbedaan harus disikapi sebagai suatu keindahan. Sekaligus untuk menanamkan pada anak bahwa kuasa Tuhan sungguh tak terkira besarnya, sehingga mampu menciptakan makhluk dengan segala keunikannya.

4. Traveling mengajarkan anak untuk berani mencoba


Traveling dengan anak
Smart Travel


Memaparkan anak pada tempat baru, mau tak mau membuat anak harus menemui banyak hal baru. Misalnya, jika Teman-teman mengajaknya ke pedesaan, maka anak akan melihat kehidupan petani lengkap dengan sawah dan mungkin bajaknya. 

Pemandangan seperti ini bukan tak mungkin memicu rasa ingin tahu anak untuk mencoba apa yang dilihatnya. Ikut turun ke sawah, memetik sayur dan bermain lumpur akan sangat menyenangkan. Sekaligus memberikan pengalaman nyata tentang profesi petani yang selama ini hanya didengar melalui cerita.

5. Traveling dapat memantik rasa ingin tahu tentang  letak dan kondisi geografis suatu wilayah.


Traveling dengan anak


Kira-kira, apa reaksi anak-anak jika orang tua mengajaknya ke suatu tempat? Ya, pasti mereka bertanya di mana letaknya? Daerahnya seperti apa? Jauh nggak? Naik apa ke sananya? Dan lain sebagainya. 

Sudah beberapa kali kami mengalami ini dengan si kecil di rumah. Setiap kami mengajak mereka ke suatu tempat, selalu saja aneka pertanyaan itu muncul dari mulutnya, terutama Najwa yang sudah lebih besar.

Kami pun mau tak mau mencari informasi terlebih dahulu tentang tempat yang ingin dikunjungi. Dan ide suami untuk membeli atlas Indonesia saya kira sangat brilian. Sangat tepat untuk sekaligus menjelaskan wilayah Indonesia.

Kami pun tak segan menunjukkan di mana letaknya, bagaimana cuaca tempat yang akan dituju, kendaraan yang akan ditumpangi, makanan dan bahasa yang biasa digunakan. Ya, itung-itung geografi lagi, ya. Hehehe.

Meskipun melakukan perjalanan dengan anak-anak selalu menyenangkan dan tentu saja panen manfaat. Tapi kita tidak dapat mengingkari betapa merepotkan aktivitas seperti ini.  Selain butuh persiapan yang mendetil untuk memastikan keamaanan dan kenyamanannya,  dari segi budget pun tak bisa dibuat terlalu seadanya.

Traveling dwngan anak
The Odyseyoline


Untuk sementara, tinggalkan dulu mindset sempurna ala orang tua. Karena dunia anak-anak selalu penuh kejutan yang tak bisa disangka-sangka. Nikmati  dan berdamai dengan seluruh prosesnya. Kekacauan kecil di tengah acara bisa jadi pelajaran sekaligus kenangan yang melekat. Hingga suatu saat baik orang tua maupun anak hanya akan tertawa saat mengingatnya.


Menumbuhkan calon traveler baru memang bukan perkara mudah. Harus diakui, sangat menarik, menantang sekaligus melelahkan. Tapi percayalah, tak akan ada penyesalan ketika kelak mereka mampu memetik hikmah dari setiap perjalanan.


Kalau menurut pengalaman Teman-teman, apa sih manfaat traveling buat anak-anak? Share, yuk!




Tulisan ini diikutsertakan dalam tantangan One Day One Post Oktober 2017 Blogger Muslimah Indonesia.
#ODOPOKT6



Custom Post Signature

Custom Post Signature