Parenting Story, Mom's Life, Tips

Dari Rumah untuk Generasi Doyan Baca

|



Budayakan membaca

Keterampilan membaca yang merupakan salah satu dasar dari pengembangan kemampuan akademis dan non akademis anak, rupanya mulai mendapatkan perhatian dari masyarakat. Kesadaran orang tua untuk berbelanja buku mulai tinggi, begitu pun halnya dengan semakin variatifnya bentuk sumber bacaan  untuk anak.

Sayangnya, sebagian besar masyarakat kita masih menganggap bahwa aktivitas membaca hanya sebatas mengeja dan melafalkan kata. Segera setelah anak mampu membedakan huruf, melafalkannya dan merangkai kata dalam satu kalimat. Maka proses ini dianggap sudah tuntas, dan anak-anak pun tidak lagi mendapatkan haknya untuk didampingi secara jangka panjang.


Kenyataan ini seolah di-aminkan dengan maraknya lembaga bimbingan belajar membaca dan menulis untuk anak usia dini. Zaman sekarang, anak usia 4 tahun sudah didaftarkan kursus calistung. Bahkan, tidak sedikit yang sudah diajarkan materi ini sejak usia yang lebih muda. 

Tentu saja ini tidak jadi masalah jika anak memang memiliki ketertarikan di dalamnya. Masalahnya jika keinginan ini lebih pada obsesi orang tua untuk memiliki anak yang menonjol dalam kemampuan akademis yang paling mendasar. Jika tidak dibarengi dengan pendampingan pada proses selanjutnya, maka dikhawatirkan kemampuan membaca hanya berhenti sampai mengeja dan melafalkan kata. Tanpa gairah untuk mencerna, menarik makna atau menjadikannya sebagai kesenangan.

Sedikit memprihatinkan memang. Apalagi tuntutan penyelenggara pendidikan  formal semakin tinggi terkait kemampuan baca tulis anak sejak usia dini. Beruntung jika orang tua bisa terus men-support anak untuk mengembangkan keterampilan baca tulisnya. Tapi jika tidak, keterampilan ini akan berhenti pada bisa membaca dan menulis saja. Tanpa disertai talenta lain yang bersifat terampil dan bisa dikembangkan.


Menurut salah satu pernyataan yang saya kutip dari laman jendelakita.id, data UNESCO menemukan bahwa kebiasaan membaca masyarakat Indonesia hanya satu dari 1000 orang. Hal ini jugalah yang menyebabkan Indonesia berada pada urutan terendah dalam semua kompetensi tes PIAAC atau Programme for International Assessment Adult Competencies. Sangat memprihatinkan mengingat bimbingan belajar membaca begitu menjamur dan laris diserbu anak-anak pada usia prasekolah. Namun minat baca tak kunjung mengikutinya.

Sebaliknya, negara seperti Finlandia yang model pembelajarannya begitu sederhana dengan waktu belajar yang bisa dibilang singkat. Bahkan usia sekolah benar-benar baru dimulai saat anak genap berusia 7 tahun. Justru menempati urutan pertama dalam daftar negara literasi dunia. Ironisnya, dalam peringkat yang dirilis The World’s Most Literate Nations (WMLN) ini, Indonesia masih harus bersabar pada urutan ke-61. Jauh di bawah Jepang atau bahkan Korea Selatan.

 

Tentu saja hal ini meresahkan, maka kemudian pemerintah mencanangkan Gerakan Literasi  Sekolah. Tapi, apakah benar gerakan ini hanya sebatas di sekolah saja? Bukankah waktu anak lebih banyak dihabiskan di rumah bersama orang tua ketimbang di sekolah dengan guru-gurunya? Bagaimana jika gerakan ini lebih ditekankan di rumah? Tentu saja dengan support seluruh anggota keluarga dan lingkungan sekitar tempat tinggal anak.

Saya sangat mendukung bahwa budaya membaca harus dimulai dari rumah. Seperti halnya keterampilan lain yang biasa orang tua latih dan tumbuh kembangkan pada anak. Keterampilan membaca harus menjadi salah satu bagian terpenting di dalamnya. 


Seperti halnya keterampilan bersosialisai, kemandirian, kehidupan religi dan kemampuan akademis. Kemampuan membaca, atau saya lebih nyaman menyebutnya keterampilan membaca merupakan salah satu fondasi penting bagi diri anak.  Menguasai keterampilan membaca ibarat memiliki kunci pembuka jendela dan pintu ilmu bagi anak. 

Segala hal terkait informasi yang ditangkap, diolah kemudian diserap dalam otak berawal dari keterampilan membaca. Tanpa keterampilan ini, seseorang bisa jadi dianggap “buta” dan memiliki dunia yang gelap. Tak mampu melihat obyek di sekitarnya dan ketinggalan informasi. Maka jangan berharap memiliki generasi yang mampu memahami dan melihat dunia dengan perspektif yang lebih luas.

Atas nama masa depan yang lebih baik, maka sudah sepantasnya jika orang tua menyadari pentingnya menjadi supporter  utama gerakan literasi anak. Mengambil porsi besar dalam perkembangan keterampilan membaca anak  saya rasa bukan hal yang berlebihan. Terlebih jika kita diberikan kemampuan.

Berikan resep terbaik agar anak “doyan” bahkan “lahap mengunyah” aneka sumber bacaan yang nanti ditemuinya. Untuk itu, mulailah dengan hal-hal sederhana yang tanpa disadari memberikan efek yang membahagiakan. 

Saya sendiri dan suami sudah berkomitmen mengambil tanggung jawab tersebut.  Menyadari sepenuhnya bahwa budaya membaca harus dimulai sedini mungkin, dan dari komunitas yang paling kecil yaitu keluarga. Untuk itu, kami pun mengambil tempat dalam 3 hal sebagai supporter literasi anak. Apa sajakah itu?


Budayakan membaca



Menjadi teladan

Bisa saja, suatu saat nanti guru atau tokoh idola yang nantinya menginspirasi minat baca anak. Tapi tunggu dulu, hal itu hanya akan terjadi nanti, setelah anak memiliki dunianya sendiri. Sebelum semua itu terjadi, maka orang tualah yang harus menjadi dunia dan panutannya. Hal ini pun berlaku dalam hal menumbuhkan budaya membaca. Tanpa memberikan teladan yang berarti, bagaimana mungkin seorang anak bisa mengetahui seperti apa aktivitas membaca bisa memberi arti bagi kehidupan mereka.

Penting bagi orang tua untuk memberikan teladan, bahwa membaca adalah salah satu aktivitas rutin seperti halnya beraneka ragam aktivitas harian yang lain. Tunjukkan pula kesenangan-kesenangan yang bisa didapat dari membaca. Tak hanya dari segi ilmu atau informasi, tapi penting bagi anak untuk bisa melihat perasaan senang, santai, rileks yang bisa ditimbulkan dari aktivitas ini.

Dari sini anak akan melihat bahwa membaca adalah hal yang menyenangkan, bukan sebaliknya membosankan apalagi menakutkan. Bukan tidak mungkin juga ketertarikan anak terhadap aktivitas ini dimulai dari kesenangan dan kegembiraan kecil yang orang tua tunjukkan. Karena pada level awal, anak belum mampu mengambil hikmah yang lebih dalam terkait manfaat membaca. Maka ekspresi positif dari orang tua adalah sumbangan besar untuk menarik minat serupa.

Menjadi teladan bagi anak bisa dimulai bahkan sejak si kecil masih ada dalam kandungan. Karena menurut penelitian, anak-anak yang terbiasa dibacakan buku semenjak dalam kandungan memiliki kemampuan literasi yang lebih baik, begitu pun dengan kemampuannya menangkap informasi dan berbahasa. Hal ini tentu saja bisa terjadi  jika minat membaca dilakukan dalam proses yang terus berulang.


Menjadi fasilitator

Selain menjadi teladan, memfasilitasi minat baca anak tentu saja tidak dapat di kesampingkan. Selain menyediakan sumber bacaan yang berkualitas, orang tua bisa menjadikan toko buku atau perpustkaan sebagai salah satu destinasi jalan-jalan.

Tak cukup sampai di situ, hadiah ulang tahun atau reward untuk anak pun bisa diarahkan dengan membeli buku atau bahan bacaan yang relevan. Tapi, sebaiknya perhatikan jenis bacaan yang akan diberikan pada anak. 3 poin berikut ini mungkin bisa orang tua coba.

1. Memilih jenis buku atau sumber bacaan dengan konten sesuai untuk usia anak. 

Untuk balita atau usia yang lebih kecil, buku-buku bergambar dengan aneka warna tentu saja jauh lebih menarik perhatian. Anak-anak pada usia ini belum terlalu memerhatikan tulisan, sehingga tampilan visual yang menjadi daya tarik utama. 

Usahakan juga memilih yang bahannya ramah anak. Orang tua bisa membeli soft book atau buku bantal jika si kecil masih dalam rentang usia 0- 2 tahun. Pada rentang usia ini anak masih suka menggigit dan merobek, sehingga soft book jauh lebih aman untuk  mereka.

Selanjutnya, buku berjenis busy book dapat dijadikan pilihan. Anak-anak pada usia batita cenderung aktif dan memiliki rasa ingin tahu yang tinggi. Buku berjenis busy book dapat memuaskan rasa ingin tahu mereka. Selain itu bisa juga sebagai pengalihan ketika orang tua butuh membiarkan anak beraktivitas sendiri tanpa pendampingan.

Terus sesuaikan konten buku atau sumber bacaan dengan rentang usia anak. Saya pribadi prefer untuk memilih buku-buku yang penuh warna dan minim tulisan untuk menarik minat baca anak-anak. Buku bergenre fiksi menjadi pilihan utama karena dapat memantik daya imajinasinya. Tapi sesekali tambahkan juga koleksi nonfiksi untuk menunjukkan fakta-fakta penting yang ada di dunia.
 
2. Baca terlebih dahulu sebelum diberikan 

Selalu dan penting sekali untuk dilakukan oleh orang tua adalah membaca terlebih dahulu buku atau sumber bacaan lain yang akan diberikan pada anak. Karena bisa jadi konten yang disajikan kurang sesuai dengan tahapan yang orang tua rencanakan untuk anak.  Minimal, orang tua sudah siap menjelaskan jika mendapati bagian-bagian yang dirasa akan menimbulkan pertanyaan dari anak.

Kebanyakan buku-buku yang berkualitas memang telah memiliki standart tinggi dan diseleksi secara ketat. Tapi kita enggak pernah tahu kan, kalau belum membaca langsung. Paling tidak carilah resensi atau referensi terkait buku yang akan diberikan untuk memastikan keamanan dan kecocokannya.

3. Tidak harus selalu buku baru

"Buku lama akan terasa baru bagi siapapun yang baru pertama kali memiliki dan membacanya". Saya dan suami selalu menekankan hal ini kepada anak-anak. Begitu pun halnya ketika kami berniat membelikan buku untuk mereka. Kami tak segan mengajak mereka membeli buku second atau bekas di pasar atau pada kenalan.

Pernah suatu ketika saat usia anak pertama saya, Najwa, baru 4 tahun. Kami mengajaknya ke daerah Pasar Senen untuk berburu buku bekas. Terdesak oleh kebutuhan bahan bacaan yang telah habis di rumah, ditambah budget yang sangat pas-pasan kala itu. Kami pun tidak segan mengunjungi beberap[a toko yang menjual buku second berkualitas.

Untungnya Najwa langsung bisa beradaptasi dengan lapak yang kami kunjungi. Dengan riangnya dia membolak-balikkan buku yang diinginkan dan memilih sekitar 6 buku yang patut kami acungkan jempol atas pilihannya. Buku-buku itu sampai sekarang masih sering dibacanya, meskipun sekarang giliran adik yang jadi pemiliknya.

Membeli buku bekas berkualitas merupakan solusi untuk tetap menjaga ketersediaan bahan bacaan meskipun dengan budget pas-pasan.

Selain menjadi fasilitator dari segi materiil (menyediakan bahan bacaan), penting juga bagi orang tua untuk dapat memberikan sesuatu secara moril. Membacakan buku secara merupakan salah satu aktivitas yang sangat urgent untuk dilakukan bersama anak. Kebiasaan ini menunjukkan orang tua “ada” dan mendukung hal positif yang sedang ingin ditumbuhkan.

Seperti yang sudah sering disampaikan para pakar psikologis, kegiatan membaca bersama anak juga dapat merekatkan bonding. Selain juga qulity time yang sangat mudah dan murah bersama keluarga. Ada beberapa cara yang dianggap efektif untuk membacakan buku pada anak, terlebih bagi mereka yang masih berusia kanak-kanak. Untuk yang satu ini, saya akan coba menuliskannya di postingan yang lain. Tunggu, ya.

Menjadi supporter

Menyadari bahwa budaya membaca adalah proses yang harus ditumbuhkan secara terus-menerus. Maka, perlu rasanya kehadiran supporter yang dengan senang hati dan tanpa lelah memberikan dorongan dan apresiasi agar budaya ini mengakar dalam diri anak.

Memang sebagian anak sudah merasa cukup dengan diberikan teladan dan difasilitasi. Tapi, apa salahnya jika orang tua melengkapi dengan memposisikan diri sebagai supporter anak, karena secara tidak langsung hal ini akan memotivasi diri kita sendiri.

Menyadari bahwa budaya membaca merupakan salah satu hal vital dalam kemampuan literasi yang tidak sebatas mengeja huruf dan melafalkan kata. Tentu orang tua setuju bahwa proses ini tidak bisa terjadi secara instan. 

Membaca adalah memahami informasi, menarik makna, mengimplementasikan dalam kehidupan.  Maka dari itu implikasi dari keluarga yang memiliki budaya membaca adalah terciptanya hubungan yang open minded dalam keluarga. Begitu yang disampaikan oleh seorang Psikolog, Henny Wahyu W. dalam sebuah opini yang ditulisnya.

 

Dalam keluarga literat, budaya membaca mengiringnya tumbuhnya sikap saling menghargai perkembangan dan keunikan satu sama lain. Tidak mengekang namun memahami tata aturan yang disepakati bersama untuk tujuan kebaikan. Semua ini bisa memang bisa  didapat dalam proses yang panjang dan tidak berkesudahan. Tapi peracayalah, menjadikan rumah sebagai tempat pertama pembentuk budaya membaca adalah keputusan yang tepat. Karena “makanan” yang tepat dan berasal dari “tangan-tangan” yang tepatlah yang nantinya membuat generasi kita "doyan" membaca.

Sebagai muslim, tentunya teman-teman juga setuju, ya, bahwa perintah membaca adalah wahyu yang pertama turun untuk umat Nabi Muhammad SAW. Cukup dengan memahami makna Iqra’, maka kita akan menyadari betapa pentingnya menumbuhkan budaya membaca bagi setiap generasi yang menjadi pembawa peradaban baru di muka bumi ini.

Semangat membaca dan salam literasi!

-DNA-


Tulisan ini diikutkan dalam program Postingan Tematik (PosTem) yang diselenggarakan oleh Blogger Muslimah Indonesia.

#PostingTematik
#BloggerMuslimahIndonesia

Menjelaskan Makna Hari Raya Kurban pada Anak

|


pixabay.com
Pixabay.com

“Buk, mengapa kalau hari raya Iduladha itu banyak binatang yang disembelih?.” Begitu tanya Najwa kemarin.

“Karena, pada hari raya Iduladha, umat muslim seperti kita diperintahkan Allah untuk berkurban,” jawab saya padanya.

“Ohh, kalau nggak punya duit buat beli kambing atau sapi, gimana, dong?,” tanyanya lagi.

“Ya, nggak pa pa, karena perintah ini wajib bagi yang mampu berkurban. Yang punya uang untuk membeli hewan kurban. Atau memiliki kambing peliharaan sendiri, yang diikhlaskan untuk berkurban.”

“Ooo … Berarti kalau nggak punya duit nggak pa pa, ya, nggak kurban?”

“Iya, tapi kalau betul-betul nggak punya uang, loh. Bukan karena uangnya dipakai untuk berfoya-foya atau beli-beli yang nggak penting. Jadi harus diutamakan dulu mana yang penting mana yang enggak. Biar uangnya bisa buat berkurban. “ 

Pertanyaan Najwa bakalan semakin banyak, BukNaj harus siapkan kuda-kuda. Ya, kalau bisa jawab, kalau nggak? Harus cari alasan yang masuk akal. Hehehe …

“Trus kenapa kurbannya cuma setahun sekali? Pas Idul Adha aja.?."

Nah,ini  saatnya ibuk mendongeng. Sini-sini, yang mau dengerin boleh bergabung juga. Hehehe.

Menjelaskan masalah agama bisa jadi tugas terberat bagi saya sebagai orang tua. Alasannya cuma satu, karena saya belum pandai dan  masih belajar. Sayangnya waktu nggak bisa ditunda lagi. Karena saat rasa ingin tahu anak muncul, saat itu sebenarnya adalah kesempatan yang tepat untuk memberikan pemahaman-pemahaman ringan pada mereka.

Seperti mengenai Iduladha, Najwa selalu excited menyambutnya. Alasannya pun simple saja, karena banyak sapi dan kambing di sekitar rumah.  Pemandangan seperti ini memang langka buat kami yang tinggal di kota. Jarang ketemu si embek kecuali rajin nonton Animal Planet atau berkunjung ke kebun binatang.


Entah karena memang rasa ingin tahunya yang terus bertambah? Atau karena mendapatkan penjelasan di sekolah perihal hari raya kurban? Yang jelas, pertanyaan mengenai Iduladha semakin lancar meluncur dari mulut kecilnya. Dan itu pertanda ibu harus semakin rajin membaca.

Menjelaskan makna ibadah dalam hari-hari besar keagamaan bisa jadi mudah jika kita berbicara kepada anak-anak yang lebih besar. Tapi sedikit menantang, karena harus memberikan pemahaman ini kepada anak 1 SD, yang belum juga genap 7 tahun dan memiliki daya imajinasi yang lumayan ajaib. Penjelasan yang diberikan harus sederhana, kalau tidak siap menjawab, orang tua jadi sangat kelihatan bodoh di depannya. *tutupmuka. Akhirnya, saya pun memulai dengan  makna berkurban.  

Makna berkurban

www.pixabay.com
Pixabay.com


Sebelumnya saya bertanya pada Najwa, apa keistimewaan Iduladha? Najwa bilang, Iduladha itu menyenangkan karena libur, banyak kambing dan sapi, lalu banyak orang makan enak pakai lauk daging kurban yang dibagi-bagi.

Saya pun mengiyakan pendapatnya. Karena benar, Iduladha itu memang sangat menyenangkan, banyak daging dibagi-bagikan dan ini menjadi kesempatan yang tepat untuk memberikan pengalaman nyata pada anak tentang semangat berbagi.

Namun kemudian saya tambahkan sedikit informasi padanya. Bahwa sebenarnya Iduladha atau hari raya kurban merupakan wujud ketaatan dan kepasrahan kita pada perintah Allah, seperti yang telah dicontohkan Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail. 

Dulu, Allah memerintahkan Nabi Ibrahim untuk mengurbankan putranya, yaitu Nabi Ismail. Karena rasa cinta dan ketaatan yang besar kepada Tuhan, Nabi Ibrahim pun menjalankan apa yang diperintahkan-Nya. Begitu pun halnya dengan Nabi Ismail yang dengan ikhlas dan pasrah bersedia menjadi kurban. Karena ketaatan, kepasrahan dan keikhlasan keduanya, maka Allah mengganti Nabi Ismail dengan domba untuk dikurbankan. Teladan inilah yang kemudian terus dilakukan umat Islam pada hari raya Iduladha.

Ketaatan, keikhlasan dan kecintaan pada Allah inilah yang sebisa mungkin ditekankan pada anak. Tentu saja dengan bahasa yang sederhana. Dan, jika perlu tambahkan contoh-contoh perilaku yang dapat mewakili keteladanan nabi dalam kehidupan sehari-hari.


www.academicindonesia.com

Bagaimana agar bisa berkurban?

Anak perlu tahu, bagaimana agar umat muslim bisa menunaikan ibadah kurban. Salah satunya harus mampu. Saya berkali-kali menekankan pada Najwa, bahwa “mampu” tidak selalu “kaya raya”. Karena banyak juga orang-orang yang kesehariannya terlihat biasa saja, tapi mereka rutin berkurban setiap tahunnya.

Intinya adalah niat dan usaha untuk berkurban. Salah satu caranya dengan berhemat, sehingga uang yang biasanya digunakan untuk membeli barang-barang yang tidak terlalu penting bisa ditabung untuk membeli hewan kurban. Selain itu, bekerja keras untuk mendapatkan rezeki yang halal. 

Anak-anak harus ditunjukkan pada kenyataan, bahwa  hewan kurban tidak bisa datang begitu saja. Perlu usaha dan kerja keras untuk meraih rezeki sehingga bisa membeli hewan kurban. Selebihnya, harus cermat mengatur keuangan sehingga niat berkurban semakin lancar.

Apakah kita boleh berkurban dengan ayam?

www.pixabay.com
pixabay.com


Nah, kan, mulai muncul pertanyaan ajaibnya.  Saya pun menjelaskan bahwa hewan yang  disyariatkan atau dibolehkan untuk berkurban adalah hewan ternak. Seperti sapi, domba, kambing, unta dan jenis-jenisnya. Jadi, tidak benar jika kita berkurban dengan ikan atau ayam. Untuk menguatkan penjelasan ini, saya pun mengajak Najwa membaca QS Al. Hajj : 34.

Di samping semua penjelasan itu, penting rasanya untuk menanamkan pada anak-anak tentang semangat berbagi daging kurban. Berikan pemahaman kepada mereka, perihal siapa saja yang dapat menerima daging kurban. Misalnya orang miskin dan kurang mampu, karena tidak setiap hari mereka bisa membeli daging untuk lauk. Jangan lupa informasikan juga bahwa orang yang berkurban dan panitia kurban juga boleh menerima daging kurban.

Setelah menerima beberapa penjelasan di atas, anak saya sebenarnya masih bertanya beberapa hal. Seperti, apakah sapi yang disembelih menangis dan kesakitan? Apakah orang tua sapi sedih? Kalau dilanjutkan pertanyaannya semakin ajaib dan saya pun kelihatan semakin konyol dengan jawaban-jawaban saya yang juga ikut ajaib, kikiki.

Setidaknya, sebagai orang tua kita harus siap melayani rasa ingin tahu anak. Karena dari momen seperti itulah kedekatan dan kepercayaan mereka semakin terjalin kuat. Hikmahnya pun kita jadi berusaha lebih banyak belajar, biar nggak terlalu malu-maluin di depan anak.

Saya yakin teman-teman juga pernah menghadapi pertanyaan serupa. Entah dari anak, keponakan atau murid-muridnya. Usahakan selalu menjelaskan dengan bahasa sederhana dan tidak terlalu njelimet. Berikan mereka pemahaman yang membekas di hati dan ingatannya, sehingga makna berkurban bisa dipahami dengan mudah. 


Selain itu usahakan untuk mengaitkannya dengan kehidupan sehari-hari. Sehingga nilai-nilai ketaatan, keikhlasan dan semangat berbagi tidak hanya terjadi saat Iduladha tiba, tapi berlaku dalam kehidupan sehari-hari.

Selamat Hari raya Idul Adha, semoga kita senantiasa menjadi insan yang taat.



-DNA-



#ODOP
#Day30
#bloggermuslimahindonesia


Kebun Binatang sebagai Alternatif Tempat Wisata di Bali

|


harimau bali-zoocom.jpg
Sumber gambar : Bali-Zoo.com
Wisata ke Bali biasanya identik dengan mengunjungi pantai-pantai cantik dan segala aktivitas yang ditawarkan di sana. Benar, kan? Kalau untuk yang baru pertama kali ke Bali, sih, nggak masalah. Tapi sebagian orang merasa bosan, terlebih jika mereka mengajak anak-anak.  Pengennya pergi ke tempat yang bisa refreshing sekaligus mengedukasi.  Apalagi buat kami sekeluarga yang jadi fans beratnya Animal Planet. Kayaknya ada yang kurang kalau berkunjung ke suatu kota tanpa mengunjungi koleksi satwanya.
Nah, kebetulan banget nih, kabar baik buat saya dan juga teman-teman yang  merasa bosan dengan pantai di Bali, dan menginginkan destinasi wisata yang berbeda dan sangat cocok untuk anak. Mengunjungi kebun bintang saat mengunjungi Bali mungkin bisa menjadi alternatif tempat wisata buat kita-kita. Salah satunya adalah Bali Zoo. Bali Zoo merupakan salah satu kebun binatang terbaik di Asia-Pasifik. Maka tak ada salahnya jika liburan kali ini, Temans  coba Judul jalan-jalan ke kebun binatang di Bali .
Mungkin dalam benak Temans langsung terpikir malas untuk berkunjung ke kebun binatang karena memang sudah sering atau terlihat tidak ada yang istimewa dari mengunjunginya. Eit, tunggu dulu. Karena Bali Zoo adalah kebun binatang yang menyajikan sesuatu yang berbeda. Lain dari kebun binatang yang biasa kita kunjungi di beberapa kota.
Salah satu yang  menjadi pembeda adalah  karena tujuan utama dari Bali Zoo sendiri adalah untuk melestarikan satwa yang hampir punah, dan tentu saja menjadi destinasi wisata yang menarik dan memberikan pengalaman yang tak terlupakan. 
Area wisata yang berlokasi di Jl. Raya Singapadu Banjar Seseh Sukawati Batuan Sukawati Gianyar Bali. Di area 3,5 ha ini dihuni oleh lebih dari 450 jenis satwa langka. Diantaranya ada Jalak Bali, Merak, Kasuari, Elang, harimau Sumatra, singa afrika, singa, rusa , onta, kanguru, dll. Semua satwa berada di dalam kandang sesuai dengan habitatnya masing-masing.

Nah, mau tahu kan, ada apa saja yang menarik di Bali Zoo?

gajah bali beritadaerahcoid.jpg
Sumber gambar : Beritadaerah.co.id
Ada banyak kegiatan yang bisa Temans dan keluarga lakukan di Judul Bali Zoo.
Seperti berenang dan bermain air di Miniapolis Jungle waterplay, berfoto di Animal encounters, melihat pertunjukan binatang di animal show, petting zoo, elephant safari, dll. Melihat arena yang di sediakan,  tentunya Temans  sudah menebak jika Bali Zoo merupakan tempat wisata di Bali yang cocok untuk keluarga. Setuju, kan?

Miniapolis Jungle Waterplay
Miniapolis Jungle Waterplay merupakan arena untuk bermain air. Pengunjung tak perlu khawatir jika mengajak anak-anak. Karena arena ini memang didesain khusus untuk anak-anak. Si kecil pastinya sangat senang jika bermain air disini, karena terdapat banyak seluncuran dan juga ember besar yang akan menemani mereka  bermain.
Miniapolis jungle waterplay ini gratis bagi pengunjung  karena sudah termasuk tiket masuk ke Bali Zoo.


Animal Encounter

id.pinterest.combalizoo animal encounters.jpg
Sumber gambar: id.pinterest.com/balizoo
Animal Encounter adalah arena foto bersama dengan satwa/binatang yang ada di Bali Zoo. Seperti berfoto dengan burung, gajah, ular, anak singa dan macan, juga berfoto dengan beruang, bisa Temans dan si kecil lakukan di sini, menyenangkan, bukan?
Asyiknya lagi, it is free, Temans  tak perlu mengeluarkan biaya lagi saat akan berfoto, karena semua sudah termasuk ke dalam tiket masuk. Kita cukup mengumpulkan keberanian dan berpose dengan latar yang sudah pasti instagramable ini.

Animal Show
Animal show adalah sebuah atraksi atau pertunjukkan binatang di Bali Zoo. Pertunjukan ini akan dipandu oleh seorang  pemandu dan satwa yang akan saling mempertontonkan kebolehannya.

Petting Zoo
kebun binatang bali saybalitourcom.jpg
Sumber gambar: saybalitour.com
Berbeda dengan kebun binatang lainnya, di Bali Zoo pengunjung diperbolehkan untuk bermain dan memberi makan binatang-binatang yang ada, tentunya bukan sembarangan makanan yang bisa diberikan. Dan Judul anak-anak pasti akan menyukainya. Seperti memberi makan langsung rusa, gajah, dan juga bermain-main dengan kelinci yang lucu.
Nah, Temans pasti penasaran kan, berapa kocek yang harus dirogoh untuk menikmati seluruh petualangan tadi? Sini-sini, duduk yang manis biar BukNaj bisikin.

Harga Tiket Masuk Bali Zoo Park 2017
Harga tiket masuk Bali Zoo Park, Rp 110.000 / 1 orang dewasa dan Anak-Anak Rp 85.000 / Anak usia 2 – 12 tahun. Harga tiket masuk ini hanya berlakuk untuk WNI, dan sudah include  seluruh aktivitas bermain seperti di Miniapolis Jungle Waterplay, keliling kebun binatang, menonton pertunjukan burung (bird show) dan Animal Encounter.
Yuhui!! Mayan banget, nih. Bisa jadi salah satu wishlist liburan bareng sama keluarga. Refreshingnya dapet, tapi edukasinya juga nggak ketinggalan. So, jangan lupa mampir ke Bali Zoo, ya. Salah satu destinasi wajib buat wisata edukasi bersama anak dan keluarga.
Happy travelling!

4 Things for Happier Couple

|


Kehidupan rumah tangga


Ada yang bilang, hidup lebih bahagia setelah menikah. Meskipun kita nggak bisa menolak asam garamnya, karena nggak semua hal dalam hidup ini manis-manis saja. Apalagi terlalu banyak bergaul dengan yang manis-manis sangat berpotensi diabet, buahaya kalau nggak diimbangi sama yang asem, asin, pedes atau malahan tawar.

Tapi, beneran nggak, sih? Kalau perkawinan membuat hidup seseorang menjadi lebih happy? Khususnya bagi pasngan yang menjalaninya. Masak iya kita yang nikah orang lain yang jadi bahagia? Meskipun bisa juga orang lain ikut happy. Misalnya keluarga kedua pasangan, saudara atau teman. Orang-orang yang ada di sekitar kita pasti turut merasakan kebahagiaan yang sedang kita alami. Tapi jangan lupa, pasanganlah yang memiliki tanggung jawab mempertahankan atau membuat kehidupan pernikahan lebih bahagia. Orang-orang di sekitarnya hanyalah supporter saja.

Menghabiskan sisa usia bersama orang yang tidak kita kenal sebelumnya, dengan background keluarga yang pasti berbeda. Bisa jadi terasa indah dan mudah di awal untuk melihat segala perbedaan sebagai keunikan. Tapi kemudian,  perjalanan yang panjang, berliku dan naik turun. Acap kali membuat pasangan harus pandai menjaga “stamina” dalam pernikahan. Sehingga rumah tangga bertahan dalam kondisi bahagia. Bahkan idealnya semakin bahagia dari waktu ke waktu, bukan sebaliknya.

Bicara soal pernikahan yang bahagia, semua itu pasti tidak lepas dari usaha. Nggak ada sesuatu yang bisa datang begitu saja, semua perlu diusahakan. Terlebih jika sudah menyangkut kehidupan pernikahan yang tidak hanya melibatkan individu per individu. Tapi, ada anak, orang tua dan 2 keluarga besar.

That’s why jangan pernah merasa lelah untuk mengusahakannya. Kecuali sudah benar-benar tidak bisa dipertahankan. Just let it go and maybe you’ll happier. But, try and try before you make any decisions.

Usia pernikahan saya belum lama, masih jauh dari panggang. Dan seperti halnya pasangan lain, saya pun merasakan naik turun dalam kehidupan pernikahan. Ada kalanya datang lelah, kita hanya butuh “istirahat” sejenak dengan ego masing-masing. Bukan berhenti  dan menyerah sebelum kalah dalam "peperangan".
Untuk itu, saya pun rajin mencari tahu apa yang bisa dilakukan untuk menambah kebahagiaan sebagai pasangan. Nggak usah yang muluk-muluk, saya nggak mungkin ngarep suami jadi romantis. Karena udah dari sono-nya dia kaku dan lumayan formal. Tapi, bukan berarti kita tidak dapat menambah kehangatan rumah tangga karena sifat asli satu sama lain. Menurut the expert, 4 cara sederhana berikut ini bisa jadi sangat mungkin dilakukan bagi siapa saja.


Kehidupan rumah tangga



Bercanda dan tertawa bersama

Orang  bilang banyak bercanda dan tertawa membuat wajah awet muda. Pikiran lebih rilex, santai karena mendapat hiburan gratis. Begitu pun halnya jika Temans rajin melakukannya bersama pasangan. Cerita tentang kekonyolan yang dilakukan bersama, nostalgia masa lalu saat pertama kali berkenalan, atau humor segar lainnya yang bisa dibagi bersama pasangan. Tapi ingat, jangan sampai kebablasan dan malah menimbulkan pertengkaran, ya.

Saya pribadi dan suami punya banyak cerita “konyol” sejak awal mula berkenalan.  Terdengar biasa bagi orang lain. Tapi untuk kami, semua itu sangat istimewa. Saat sedang berdua, kami sering kembali ke masa-masa itu, saat cinta masih menimbulkan debaran yang luar biasa. Kikiki. Tak banyak kisah romantis yang kami miliki. Tapi cerita-cerita lucu yang selalu membuat kami tertawa bersama seolah menjadi penyegaran dan perekat kembali saat muncul celah yang tak diinginkan.

Nggak percaya? Coba saja.


Kehidupan rumah tangga



Lakukan kebaikan kecil untuk pasangan

Melakukan suatu kebaikan untuk seseorang memberikan efek bahagia bagi keduanya, terlebih bagi yang melakukan. Temans sering mendengar istilah taker dan giver, bukan? Giver adalah orang yang mendapatkan manfaat lebih banyak dari apa yang dilakukannya. Dalam hal ini kepuasan batin dan kebahagiaan.

Begitu pun halnya dengan pasangan. Berlomba-lomba menjadi giver adalah salah satu cara untuk menambah kebahagiaan satu sama lain. Bukan tentang berlian, permata, atau extraordinary holiday, tapi perhatian. 

Hal-hal sesederhana membuatkan kopi pada pagi hari, mencium kening pasangan, memijat pundaknya saat lelah atau mendoakan kebaikan untuknya adalah sesuatu yang “biasa”, tapi jika dilakukan dengan tulus akan berimbas luar biasa. 



Tentang berhubungan intim

Ehem … Sekali-kali ngomongin area dewasa, hehehe. Ya, dong. Namanya juga marriage life, demi relationship goal yang sebenar-benarnya, bolehlah sesekali nyenggol area ini.

Dalam salah satu sumber bacaan yang saya pelajari, studi kasus menemukan kehidupan pernikahan yang lebih bahagia bagi mereka yang rutin berhubungan intim dengan pasangannya. Rutin tidak perlu diartikan setiap hari, ya. Atau malahan 3 kali sehari, emangnya minum obat kali, ye. Hahaha … Hush!! Rutin bisa jadi berkala, sesuai kesepakatan masing.

Beberapa pasangan yang mengaku berhubungan intim rutin 3 atau bahkan hanya  2 kali dalam seminggu, terlihat lebih bahagia dibanding yang  setiap hari melakukan tapi minggu berikutnya sama sekali tak bersentuhan. Well, masalah ini sebenarnya lumayan sensitif, karena kebiasaan setiap orang pasti berbeda. Intinya rutin ajalah.

Kehidupan sex yang sehat sangat berpengaruh terhadap  keharmonisan dan kebahagiaan pernikahan. Sudah fitrahnya bahwa manusia dikaruniai syahwat yang minta disalurkan. Untuk itulah pernikahan menyelamatkan manusia dari perzinahan asalkan dilakukan dengan cara yang tepat dan tidak melanggar ketentuan agama dan negara.

Dalam berhubungan intim, ada komunikasi yang sangat mendalam antara pasangan.  Bahkan romantisme atau pujian mesra yang tak pernah ditunjukkan di depan khalayak, bisa jadi mem-bludak saat kita hanya berdua dengan pasangan. Cara ini dipercaya bisa terus merekatkan janji-janji pernikahan dan menguatkan komitmen untuk terus melalui ujian dalam kehidupan.

Ya, setidaknya itu yang dikatakan para ahli. Benar atau tidaknya, coba tanya kata hati dan pasangan masing-masing. Hehehe.




Kencan 

Nggak usah bayangin candle light dinner di restoran mahal, nanti kalau nggak kejadian malah ngambek di pojokan. Hehehe, saya banget itu. Ngemil kacang sambil nonton film berdua juga bisa disebut dating. Atau duduk di beranda sambil berdiskusi ditemani segelas teh atau kopi. Intinya selalu sediakan waktu untuk berdua, ngobrol, curhat atau apa sajalah yang penting hanya dilakukan berdua.  Suasananya akan terasa berbeda jika dibandingkan saat bersama anak-anak.  Karena saat berdua, kita lebih bebas dan mudah mengekspresikan perasaan pada pasangan.

Ya … Ya … Ya, pastinya Temans punya cara lain yang selama ini biasa dilakukan bersama pasangan. Pasti, dong! Nah, beruntunglah kita-kita yang sudah menemukan cara-cara tersebut. Tapi ingat, sesekali bolehlah ada variasi, modifikasi. Ecieh, ayak motor aja dimodifikasi. Hehehe. Ya apalah itu istilahnya. Intinya biar nggak bosen, biar awet dan nambah bahagianya. Bukankah itu salah satu tujuan sebuah pernikahan?

Nah, yang punya kebiasaan lain, bolehlah share di komen. Biar BukNaj ini nggak sampai kehabisan ide. Ok, ya? Semoga bermanfaat!


-DNA-


#ODOP
#Day26
#bloggermuslimahindonesia






Custom Post Signature

Custom Post Signature